
Probolinggo
Genta
Mereka memutuskan untuk berangkat menuju kaki gunung Bromo sore ini, karena mereka telah menyewa penginapan di sana untuk singgah sebelum dan setelah perjalanan ke Bromo.
"Beneran bisa lepas kunci nih jeep nya Mar?" tanyanya ke Damar yang tengah menyetir.
"Iya, itu temannya papa, jadi santai aja." jawab Damar sambil terus menatap ke depan.
"Cadaaasss..gaaasss.. kalau gitu !" sahutnya dengan lantang sambil merengkuh kepala Prisha yang sedang memakan keripik ke dalam pelukannya.
"Iihh mas aahhh..aku lagi makan!" protes Prisha yang membuatnya semakin gemas dan menangkup pipi Prisha dengan kedua tangannya yang langsung membuat perempuan itu mendelik ke arahnya.
"Kalian itu kenapa nggak pacaran aja sih?" tanya Berlian tanpa basa-basi sambil menoleh ke belakang menatap dirinya dan juga Prisha yang duduk di kursi tengah.
Prisha tampak gugup, sedangkan dirinya malah santai saja dengan pertanyaan itu.
"Besok kalau udah jadian aku kabarin, kalau perlu sih aku nikahin sekalian." ucapnya sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya sambil menatap Prisha dengan wajah merona.
Kemudian tangannya bergerak mengacak-acak rambut di puncak kepala Prisha sambil terkekeh.
Akhirnya mereka tiba di penginapan setelah hampir 2 jam perjalanan dari kontrakan Berlian.
"Nanti boboknya sama mbak Ganis, sama mbak Lian dulu ya. Soalnya cuma ambil dua kamar. Jadi ditahan dulu kalau mau bobok sambil peluk aku." ucapnya yang berhasil membuat Prisha kembali merona.
"Mas iihh..siapa juga yang mau peluk mas lagi?! Ngarep !" ucapan Prisha malah langsung membuatnya tergelak.
Rengganis
Jam 8 malam mereka sudah masuk ke kamar dan merebahkan diri, karena nanti sekitar pukul 3 pagi mereka harus bangun kembali untuk persiapan pendakian Bromo melihat matahari terbit.
__ADS_1
Dirinya melihat Berlian yang menatap lekat wajah Prisha yang pastinya membuat perempuan itu tampak bingung dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Dek, kamu suka nggak sih sama Genta?" Pertanyaan Berlian langsung membuat Prisha membelalakan mata, pasalnya sudah dua kali di hari yang sama Berlian bertanya hal seperti itu.
"Mbak Lian ih, apa sih?" jawab Prisha malu-malu dan wajah putih itu tampak memerah.
"Aku tuh geregetan sama kalian berdua, udah jelas saling sayang tapi malah jalan sama yang lain. Konsep hidup cinta kalian itu gimana sih? Pusing gue!"
Dirinya langsung tergelak saat mendengar mulut Berlian yang memang sangat cablak itu.
"Lian ih, kamu itu jangan gituin anak orang. Nanti Prisha nangis lho.." ucapnya mencoba menengahi dan juga memancing jawaban Prisha sebenarnya.
"Aku kenal Mas Genta itu udah dari lahir mbak, udah sama kayak umur aku sekarang ini. Menuju ke 19 tahun. Jadi ya gimana nggak sayang, kan udah seperti saudara kandung." jelas Prisha sambil mengunyah cokelat, entah untuk menghangatkan badan atau karena lebih merasa gugup.
Berlian pun tampak mencibir,
"Nggak..nggak gitu kalau layaknya kakak adik kandung itu bukan seperti itu."
"Emang seperti apa kalau kakak adik kandung?" tanya Prisha polos.
"Ya kamu kan punya adik cowok kan, emang kamu sering gitu peluk-pelukan sepanjang waktu?Bahkan peluk-pelukan mesra pas tidur?" cerocos Lian lagi yang mampu membuat Prisha kembali menelan saliva.
"Mesra gimana? Ahh..biasa aja, itu perasaan Mbak Lian aja." ucap Prisha sambil tersenyum datar.
"Aku dulu juga ngiranya Mas Genta sama Mbak Ganis itu saling suka, karena kalau jalan gandengan, kadang pelukan juga. Tapi nyatanya nggak." jelas Prisha yang langsung membuatnya terperanjat dan bangun dari posisinya yang tadinya berbaring.
Dirinya langsung tergelak bahkan terbahak keras,
"Aku..? Sama aku? Kamu kira aku suka sama Genta?" gelaknya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Prisha pun tampak mengangguk pelan sambil menatapnya canggung yang membuat dirinya kembali tertawa keras.
__ADS_1
"Waahh gila, aku aja nggak pernah kepikiran suka sama Genta !" ucapnya masih sambil tergelak. Berlian juga tampak terkekeh mendengar ucapan Prisha yang tampak polos.
"Seganteng-ganteng Genta, sepintar-pintarnya Genta, dan sepopulernya Genta di Fakultas Kedokteran ataupun di kampus, aku nggak ada sama sekali main hati sama Genta dek."
"Aku emang lebih nempel sama Genta, sama Anjas juga. Kalau Lian lebih nempel sama Damar. Itu karena aku lebih dulu kenal sama Genta dan Anjas, sedangkan Lian teman SMP si Damar. Jadi kita dekat, kalau sampai peluk-pelukan pun juga nggak ada setrumnya yang mendebarkan jiwa dan raga." jelasnya sambil terkekeh dan merangkul bahu Prisha yang juga tampak ikut terkekeh sekarang.
"Jangan-jangan kamu pernah cemburu sama Ganis ya dek?" tanya Berlian sambil menunjuk ke arah Prisha.
Prisha pun hanya memberikan cengiran ke arah mereka berdua yang masih tampak tersenyum lebar.
"Genta itu sayang sama kamu udah dari jaman kamu balita katanya. Aku aja sampai bingung, emang ada gitu jatuh cinta dari masa balita?" ucap Ganis sambil mengernyitkan wajah seakan tak percaya.
"Bapak sama ibu Mas Genta yang susah mbak, karena kita itu beda keyakinan." jawab Prisha pelan.
"Kamu yakin, Genta nggak yakin gitu? Atau sebaliknya?" seloroh Lian sambil terkekeh.
"Kan kalian itu hampir sama keyakinannya, nggak apa-apa lah. Kecuali kalau sama Lian, baru jauh." jelas Ganis sambil menunjuk kening Berlian.
"Nahh benar itu, lagian aku juga nggak mau kalau sama Genta, kalaupun seiman, walaupun dia digilai banyak wanita di luar sana." timpal Berlian yang membuatnya tergelak.
"Tante Ara sama Om Arya itu susah untuk masalah seperti itu mbak. Ya gini deh, kalau aku sampai jadian sama Mas Genta, berarti kita bakal sampai ke jenjang serius. Karena keluarga kita sudah saling dekat, aku sama Mas Genta udah saling tahu banget baik buruknya."
"Om Arya itu memegang komitmen, tidak boleh ada dua nahkoda dalam satu kapal. Sulit mbak." jelasnya yang membuatnya dan Berlian pun mengangguk-anggukkan kepala.
"Ya nggak harus ada dua nahkoda juga sih." celetuk Berlian yang membuat Prisha menggelengkan kepala.
"Nggak..aku nggak bisa juga kalau suruh ngalah. Aku juga nggak mau. Cuma ayah pernah bilang, kalaupun sampai harus dapat yang nggak jauh beda, aku juga tetap harus berpegang teguh sama prisipku. Untuk masalah anak mau ikut siapa, ya bisa saling dibicarakan dulu, aku nggak boleh egois juga."
"Tohh, nanti seiring berjalannya waktu, anak akan bisa memilih sendiri mau kemana. Yang penting sama-sama mengajarkan cinta kasih ke anak. Itu pondasi utama yang mutlak. Ayah sama mama lebih bisa terbuka, tapi kalau tante Ara sama Om Arya itu kuat banget masalah hal itu." jelas Prisha kembali sambil menghela napas panjang.
"Definisi LDR yang sesungguhnya adalah masalah seperti ini nih. Ruwet mbundet dan sangat membuat mumet." ucapnya sambil mengelus punggung Prisha.
__ADS_1
......................