A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Probolinggo Bersama Yang Tersayang


__ADS_3

Probolinggo


Genta


Setelah 6,5 jam melaju dengan santai akhirnya mereka tiba di Probolinggo. Saat ini paha kirinya terasa kebas karena dijadikan bantalan kepala Prisha yang tengah tertidur lelap.


Rengganis juga tampak terlelap di depan, begitu pun Damar yang merebahkan tubuh di jok belakang.


"Jadi ke Bromo nih kita?" tanya Anjas yang masih melajukan mobil dan menatap jalan di depan.


"Jadi lah, udah jauh-jauh ke sini nggak sekalian ke Bromo, rugi amat." jawabnya sembari menatap pemandangan di luar jendelanya.


"Tahu gitu bawa jeep punya bapakmu Ta, lumayan nggak usah sewa jeep di sananya." timpal Anjas kemudian menguap.


"Aku kan kemarin udah nawarin, mau bawa ini apa jeep? Pada minta ini, katanya bisa 7 seater. Jadi lebih longgar. Ya udah aku bawa ini." sahutnya yang membuat Anjas terkekeh.


"Ya soalnya bawa cewek-cewek ini, apalagi bawa adek sayang itu. Belum nanti kalau Lian ikutan. Mana cukup, emang mau pangku-pangkuan?!" timpal Anjas yang membuat mereka berdua.


"Enyaakk...enyaakk..enyaakk itu kalau masalah pangku memangku.." ucapnya masih tergelak.


"Haduuhh, ini cewek juga nggak bangun-bangun sih. Mana nyendernya makin lama makin nempel ke tengah lagi. Untung iman aku kuat, ya Tuhan..!" gumamnya sembari mengusap wajahnya kasar.


Anjas semakin terbahak mendengar ocehannya,


"Tapi lama-lama abang juga nggak tahan kalau gini terus dek, pening kepala abang nih! Nyut-nyutan..!" timpal Anjas yang kembali membuatnya tertawa.


Tangannya mengelus pelan pipi Prisha agar perempuan itu bangun.


"Dek..bangun yukk..!" gumamnya yang mendapat respon gerakan dari Prisha.


Perempuan itu mulai mengerjap-ngerjapkan mata dan menatapnya, kemudian tersenyum.


"Bangun dulu yukk..kaki aku kebas ini.." pintanya pelan yang membuat Prisha langsung bangkit dari posisinya kemudian duduk.


Prisha tampak melihat pemandangan di luar jendela, sesekali menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian menatapnya.


"Ini kita sampai mana sih?" tanya Prisha bingung.


"Sampai Yogya lagi dek, putar balik kita. Kamu tidur terus sihh, jadi pulang aja." jawab Anjas, sontak membuat Prisha mendaratkan cubitan di lengan Anjas.


"Mas Anjas ihh..." gumamnya sambil terkekeh.


"Kita udah masuk Probolinggo ini, menuju tengah kotanya.."jelasnya sambil sesekali mengelus pahanya yang masih sedikit kebas.


Namun Prisha malah kembali bersandar pada bahunya dan memeluknya dari samping dan hal itu malah membuatnya terdiam beberapa detik untuk mengatur degup jantungnya kembali.


"Mas, aku laper.." ucap Prisha manja sambil sesekali mengecup bahunya.


"Ya Tuhan, anak ini kenapa malah gelendotan seperti ini sih.." batinnya sambil melirik ke arah perempuan yang seakan tidak berdosa telah mempermainkan ritme jantungnya dari awal berangkat.

__ADS_1


"Iya..habis ini makan. Mau makan apa?" tanyanya lembut sembari mengelus rambut Prisha.


"Apa aja aku sih, yang penting makan."cengir Prisha yang membuatnya gemas. Seandainya di sini tidak ada sahabat-sahabatnya, bisa runtuh juga benteng pertahanannya kalau Prisha selalu seperti ini terhadap dirinya.


Dirinya mengerti kalau Anjas daritadi melirik tingkah mereka berdua dari spion tengah. Sekarang matanya dan Anjas beradu pandang di kaca spion dan saling melempar senyum penuh makna.


"Ehmm..ehmm.." dehem Anjas pelan.


"Kita cari soto aja gimana? Aku pengin cari yang anget-anget, tapi selain wanita. Aku lagi mau jadi anak baik dulu sekarang, anak soleh." ucap Anjas yang langsung membuatya menoyor kepala sahabatnya itu.


"Bukannya udah soleh terus tiap cari yang anget-anget? Kan pakai sarung terus, jadi soleh kan." timpal Damar tiba-tiba dari belakangnya.


Dirinya dan Anjas yang mengerti maksud arah dan tujuan ucapan Damar langsung tergelak,


"Edaaannnn!"


Namun, Prisha yang masih memeluknya juga ikut terkekeh pelan. Alisnya langsung bertaut dan menunduk menatap wajah Prisha yang bersandar padanya.


"Emang ngerti?" tanyanya pelan.


"Ya ngerti lah mas ! Emang aku anak kecil yang nggak ngerti apa-apa?" jawab Prisha sambil menatapnya.


Dirinya pun menghela napasnya, karena ia sadar kalau gadis kecilnya itu adalah tipe perempuan yang pandai bergaul dan berteman dengan banyak lelaki.


................


Genta


"Haduh enaknya..." ucap Anjas setelah menghabiskan satu mangkok soto hingga tandas.


"Kita beneran tidur di kontrakan Lian ini?" tanyanya sambil menatap Rengganis yang masih menikmati makanan.


Rengganis pun mengangguk,


"Iya, teman-temannya katanya ada acara di Malang sampai senin. Jadi kontrakannya kosong." jelas Rengganis yang membuatnya pun mengangguk.


drrttt..drtt..drttt..


Handphone nya yang diletakkan di atas meja, tepat di sebelah tangan Prisha terlihat ada panggilan masuk.


"Iya halo mbok, ada apa?" sapanya ke seseorang di seberang sana.


"Oh gitu, yaudah kalau orangnya mau nunggu nggak masalah. Habis ini aku kabarin bapak dulu, buat manggilin tukang buat pasang ac nya dulu."


"Iya, DP aja dulu jangan suruh bayar semuanya. Nanti kabarin aja kalau udah transfer DP nya, biar aku cek."


"Makasih ya mbok." pungkasnya sambil mengakhiri panggilan itu.


Anjas dan Damar tampak menatap ke arahnya,

__ADS_1


"Gilaaa, udah dokter, pengusaha lagi. Gimana nggak cewek pada nempel?" celoteh Damar.


"Pengusaha opo (apa) ? Saya hanya karyawan Bapak Ararya." jawabnya sambil terkekeh.


"Itu semua kos punya bapak kamu, kamu yang pegang Ta?" tanya Anjas sambil menatapnya.


"Ya selama Naras belum bisa dipercaya buat pegang, ya aku dulu yang pegang semuanya. Tapi, udah ada bagian masing-masing." jelasnya sambil meminum teh hangatnya.


"Terus perusahaan bapak kamu apa kabarnya itu?" tanya Damar sambil setengah berdesis karena kepedasan sambal.


"Ya kalau Naras jadi masuk arsitek, ya dipegang Naras. Tapi kalau nggak ya dikelola anaknya Om Banyu, tapi aku masih ikut andil saham di sana." ceritanya lagi.


Anjas tampak menghela napas,


"Susah sih emang kalau nggak ada nerusin bisnis orangtua. Papa aku sendiri udah jelas nggak ada yang bakal nerusin law firm nya, secara anak-anaknya nggak ada yang mau masuk di dunia hukum." cerita Anjas sambil menyandarkan punggung di tembok.


"Adik kamu nggak jadi masuk hukum emang?" tanya Damar sambil menatap Anjas dan disambut gelengan kepala oleh Anjas.


"Lhah, adiknya kan milih jadi dokter gigi.." timpalnya sambil terkekeh.


"Oh iya? Seriusan? Di mana?" tanya Damar beruntutan.


Anjas pun mengangguk sambil tertawa kecil,


"Jakarta. Awalnya papaku juga udah ngerayu biar tetap mau ngambil hukum, tapi ya apa daya orang anaknya nggak mau. Daripada dipaksa berhenti di tengah jalan kan?"


"Lagian kok ya kamu bisa tertarik di kedokteran sih Njas? Padahal papamu pengacara, mama kamu jaksa." giliran Rengganis yang angkat suara.


"Ya kamu sendiri juga kenapa?"


"Ya kalau aku kan setidaknya eyang aku ada yang dokter. Jadi aku tertarik dari kecil. Damar juga ibunya perawat senior, jadi ada tertarik di dunia kesehatan wajar lah.. Lha, kalian berdua ini?" jelas Ganis sambil menatap Anjas dan dirinya.


Anjas pun terkekeh,


"Karena aku pernah kehilangan seseorang yang aku sayangi karena kecelakaan. Penanganannya saat itu terlalu lama, padahal udah lama di jalan juga."


Rengganis pun mengangguk-anggukkan kepala. Ia pun tahu kenapa Anjas selalu sigap dan cepat setiap menangani korban kecelakaan di IGD.


"Lha kamu apa coba?" selidik Rengganis sambil menatapnya yang membuatnya langsung menautkan alisnya. Perasaan dulu dirinya telah menceritakan alasannya masuk kedokteran ke sahabat perempuannya itu.


"Kan udah pernah cerita.." jawabnya singkat.


"Aku lupa, ceritain lagi dong.." pinta Ganis sambil tersenyum penuh arti ke arahnya.


Ia mengerti saat ini Ganis ingin dirinya mengatakan alasannya itu, karena ada Prisha di sampingnya saat ini.


Bibirnya pun tersenyum,


"Karena gadis kecilku pernah mengalami trauma karena kecerobohannya sendiri dan bekas traumanya itu kebuka lagi di depan mata aku sendiri." jelasnya.

__ADS_1


Prisha langsung menoleh dan menatap dirinya, kemudian tersenyum tipis. Namun dirinya berusaha tidak membalas tatapan Prisha dan memilih tetap menatap sahabat-sahabatnya.


......................


__ADS_2