A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Hampir Kehilangan


__ADS_3

Yogyakarta


Clara


Kotak makan siang untuk suaminya telah siap di atas meja dapur. Tangannya meraih kunci mobil, tas, dan bekal makan siang itu, lalu berjalan keluar menuju mobilnya.


"Siang bu, nggak saya antar saja bu?" sopir pribadinya menghampirinya saat dirinya hendak masuk ke dalam mobil.


"Nggak usah pak, saya bawa sendiri aja. Oh iya, nanti nggak usah jemput bapak ya. Biar sekalian saya saja." ucapnya pada sopir yang juga merangkap pekerja di rumahnya.


Entah kenapa hari ini ia ingin sekali menemui suaminya di kantor dan menemani suaminya hingga jam pulang kantor.


Bibirnya tersenyum geli, usianya sudah tak lagi muda, bahkan mereka sudah menjadi eyang. Namun terkadang keromantisan mereka di masa muda selalu mereka berdua lakukan hingga sekarang, mungkin hal itu yang membuat hubungannya dengan Arya sangat harmonis.


Keningnya mengernyit saat melihat suasana di depan kantor suaminya.


"Ini kenapa ramai banget.." gumamnya sendiri sembari menepikan mobil.


Saat hendak memarkirkan mobilnya di area yang kosong, tiba-tiba mobil ambulans menyerobot masuk terlebih dahulu. Dengan terpaksa ia hanya menepikan dan memarkirkan mobilnya di parkiran pinggir jalan.


Matanya seketika membulat saat melihat suaminya dibopong oleh beberapa karyawan dan hendak dimasukkan ke dalam mobil.


"Ridwan..! Ini bapak kenapa?!" matanya menangkap ada luka di bagian perut dan dada suaminya yang tampak bersimbah darah.


"Ibu temanin bapak dulu aja, nanti saya jelasin di rumah sakit bu." salah satu karyawannya itu mencoba menenangkannya.


"Kamu bawa mobil saya ya, saya mau ikut ambulans." pintanya sembari memberikan kunci mobilnya.


Namun lagi-lagi matanya menangkap ada kejanggalan, seorang karyawan wanita yang baru bekerja di kantornya tampak menangis saat Arya dimasukkan ke dalam ambulans.


Tangannya menggenggam tangan suaminya yang tengah terbaring lemah, namun masih dalam keadaan sadar.


"Yang, kenapa kok bisa seperti ini?" tanyanya dengan suara lirih sambil bersusah payah bersuara di dalam tangisnya.

__ADS_1


Petugas medis di ambulans pun masih bekerja menutup luka di bagian dada suaminya yang terlihat masih mengeluarkan darah.


Tapi pria yang sudah ada di hidupnya dari remaja hingga saat ini malah melempar senyum kepadanya, namun belum bisa menjawab pertanyaannya.


Sesampainya di rumah sakit, anak sulungnya tengah menunggunya di depan IGD. Ambulan itu memang milik rumah sakit Genta bekerja dan memang rumah sakit itu yang paling dekat dengan kantor mereka.


"Bapak..! Ibu, bapak kenapa ini?!" tak menunggu lama, Genta sendiri yang membuka pintu ambulans itu saat telah berhenti. Sebelum ke sini, ia juga sudah menghubungi putranya lewat telepon.


Karyawannya menjelaskan kronologi kejadian sembari menunggu Arya yang masih diperiksa oleh putranya.


"Jadi pelakunya, suami dari karyawan baru tadi?" Ridwan menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana bu? Mau kita tempuh jalur hukum atau bagaimana?" Ridwan kembali bertanya padanya.


"Nanti saya bicarakan dulu sama keluarga ya, sama bapak juga kalau bapak sudah membaik." jawabnya tenang sambil tersenyum tipis.


Tak lama Genta menyibak tirai dengan tergesa dan berbicara serius pada perawatnya.


"Siapkan ruang operasi sekarang ya." suara Genta membuatnya terdiam menatap putranya itu.


Ardhana


Ia berlari secepat mungkin menyusuri setiap lorong rumah sakit yang biasanya dirasa tak sejauh ini.


Dengan tergopoh-gopoh ia berlari ke arah adiknya masih dengan baju operasinya. Selesai operasi, perawatnya menyampaikan kabar yang ditinggalkan oleh Genta.


"Dek, Arya kenapa?" seketika Clara langsung memeluknya sambil terisak.


"Aku siap-siap dulu om, titip ibu." ia pun hanya menganggukkan kepalanya sambil mengatur deru napasnya.


Saat ini sudah ada Prisha dan juga Greesa yang berada di ruang tunggu operasi. Ia memilih tifak masuk ke ruangan operasi, karena ingin menenangkan Clara.


"Mas, Arya akan baik-baik aja kan mas?" entah sudah ke berapa kali adiknya menanyakan hal ini padanya, sudah ketiga kalinya mungkin.

__ADS_1


"Dokter akan berusaha sebaik mungkin di dalam dek, di sana juga ada Genta, kamu yang tenang." jawabnya lagi sambil mengusap punggung adiknya.


Prisha daritadi menggenggam erat tangan mertuanya dan juga mencoba menenangkan Clara.


"Kita bawa dalam doa aja Ra dan kamu harus percaya ada Genta juga di dalam." ucap istrinya dengan pelan sambil menatap Clara yang masih tak berhenti menangis.


Setelah 2,5 jam lebih akhirnya Genta keluar dari kamar operasi, sambil membuka penutup kepala. Saat hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba suara teriakan Naras memecah suasana di ruangan itu.


"Mas..! Bapak kenapa?!" Naras langsung menghambur ke pelukan Genta sambil menangis.


"Bapak nggak apa-apa kan mas?!" Namun Genta masih tetap diam sambil menatap adiknya itu.


"Mas..! Mas jangan diam aja..! Bapak nggak apa-apa kan mas?"


Genta menghela napasnya,


"Operasinya lancar, tapi bapak masih kritis. Darahnya keluar banyak banget dan hampir kena paru-paru. Kita tunggu sampai bapak sadar dulu." jelas keponakannya itu sambil kembali merengkuh Naras.


Genta


Ia merasa kasihan pada adiknya, sebulan lagi adiknya akan melaksanakan pernikahan, namun bapaknya malah mengalami kejadian tak terduga.


"Bapak cepetan bangun, cepetan sembuh. Naras bentar lagi mau nikah lho pak. Bapak kan janji mau gendong Naras sebelum nikah, kalau bapak nggak sembuh, siapa nanti yang gendong Naras?" gumam adiknya sambil terisak dan merengkuh tangan bapaknya.


Air matanya langsung menetes, namun ia langsung menghapusnya. Bagaimanapun ia tidak mau menambah sedih adik dan juga ibunya saat ini. Tangannya mengelus puncak kepala adiknya dengan lembut.


"Kita keluar dulu ya, kasihan ibu di luar." pintanya pelan masih sambil mengelus kepala Naras.


Ia mendudukkan dirinya sejenak di kursi ruang tunggu itu. Memijat pangkal hidungnya, rasanya saat ini ia sangat lelah.


Baru setahun ia bekerja di sini, bapaknya datang seakan memberikan tugas ujian padanya untuk diselesaikan dengan sebaik-baiknya.


Prisha menghampirinya dan mengelus punggungnya,

__ADS_1


"Diminum dulu mas, daritadi mas belum minum." istrinya menyodorkan segelas teh hangat padanya sambil tersenyum tipis.


......................


__ADS_2