
Yogyakarta
Clara
Dirinya tergelak mendengar pertanyaan kakaknya yang menjadikan dirinya mengerti bahwa kakaknya benar-benar tidak tahu alasan sebenarnya ia dan juga Rendra tidak bisa bersama.
Tangannya menyusut air matanya yang mengalir di sudut matanya karena terlalu lama tertawa. Matanya menatap suaminya yang juga ikut terkekeh saat ini.
Namun, kakaknya dan juga Greesa malah melongo menatap dirinya yang masih mencoba mengatur napas setelah terbahak.
"Jadi selama ini Rendra nggak cerita, alasannya apa?" tanyanya balik sambil terkekeh.
Kakaknya menggelengkan kepala dan masih menatap lekat wajahnya.
"Ya karena aku nggak bisa aja. Aku sukanya kan sama dia, jadi aku udah membatasi hati aku buat Rendra. Jadi bukan karena masalah keyakinan sih sebenarnya, ya walaupun itu juga bisa jadi alasan, tapi bukan mutlak." jelasnya masih sambil tersenyum lebar.
"Aku emang selama ini paling nggak bisa kalau masalah keyakinan, tapi ya karena itu Rendra, ya aku melunak. Kalau aku sama Sakha dulu emang nggak bisa, kalau itu jelas nggak bisa aku. Tapi kalau sama Rendra masih bisa diperjuangkan, ya walaupun berat juga pastinya." ucapnya lagi lalu kembali terkekeh.
"Ya ampun dek, padahal Rendra sampai segitunya lho dulu pas Arya masih di London. Rela nemenin kamu gereja." gumam kakaknya sambil menggelengkan kepala.
Jarinya langsung menunjuk ke arah kakaknya itu,
"Hei, aku juga gitu! Aku sebenarnya secara tidak langsung mencoba sama Rendra juga. Jadi habis nemenin aku ke gereja, terus aku nemenin dia kebaktian. Hampir enam bulan lho aku mencoba, tapi susah mas, aku nggak sanggup." lanjutnya mencoba menceritakan semuanya yang terjadi.
"Terus lama-lama kamu lepasin Rendra?" tanya Greesa sambil terus menatapnya.
"Iya, ya pelan-pelan aku comblangin dia ke ini itu kan? Walaupun baliknya tetap ke aku lagi. Tapi jangan salah, dia tahu semuanya itu." ucapnya sambil menunjuk suaminya.
"Aku nggak cerita sama mas, karena aku nggak enak aja, secara Rendra sering curhat sama kamu. Makanya aku kira Rendra cerita semuanya, ternyata nggak. Jadi aku simpen sendiri, sampai akhirnya kalian melakukan grebek massal di hari ulang tahunku itu." sambungnya lagi kemudian tergelak.
Suaminya tampak terkekeh-kekeh,
"Jahat ya aku sama Clara ke Rendra. Ya,tapi gimana lagi, dianya maunya sama aku. Aku juga udah nggak mau ngalah lagi. Gila aja, aku udah kesalip dua pria. Mau kesalip Rendra juga, siap perang dunia aja aku mah.." gelak Arya yang membuat kakaknya pun ikut tertawa.
"Tapi aku kena karmanya Rendra ini berarti. Genta malah suka sama Prisha." timpalnya sambil terkekeh.
__ADS_1
"Gila..pelik amat kisah kalian. Ayahnya nggak dapat ibunya, malah anaknya yang saling jatuh cinta. Kalau dijadiin judul sinetron itu bisa jadi Ibuku Mantan Calon Kekasih Ayah Mertuaku. Ehh gimana sih? Bener kan?" seloroh Greesa yang membuat mereka semua terbahak.
Bahkan Arya sampai terpingkal-pingkal memegangi perutnya sambil menyusut air mata.
"Edaaaann..edaaannn..." gumam kakaknya yang masih terpingkal-pingkal.
"Tapi tetap aku yang menang banyak, secara anakku yang cowok." ucap suaminya seraya menyombongkan diri.
Kakaknya pun mengangguk-anggukkan kepala sambil menunjuk suaminya, "Bener itu..bener banget..!"
"Tapi ya biarin aja dulu lah. Selama ini aku selalu nutupin di depan Genta, kalau aku udah tahu sebenarnya. Bahkan pernah Genta pulang wajahnya udah ditekuk, pasti habis berantem sama Prisha. Tapi, aku bilang di depan dia, ngapain cemburu sama pacar adik sendiri." ceritanya kemudian meneguk segelas air untuk membasahi tenggorokannya.
"Jadi ya biarin aja mereka gimana dulu. Kita pura-pura aja nggak tahu sampai dia sendiri yang cerita."
"Aku nggak apa-apa sih mas kalau Genta dapat Prisha. Walaupun ada perbedaan, tapi karena itu Prisha, anaknya Rendra, Asa dan juga mendiang Ayu, makanya aku melunak. Bagaimanapun Prisha udah kita anggap anak sendiri juga kan?" sambungnya dengan tangan bersedekap di atas meja.
"Tapi masalah untuk menjalani perbedaan itu berat atau nggak, ya itu masalah mereka sendiri. Kalau mereka bisa ya bagus, tapi kalau mereka sampai luntur salah satu, ya aku nggak setuju. Makanya biar mereka yang mikir sendiri." Suaminya pun meneruskan pemikirannya yang selama ini selalu mereka bicarakan.
"Boleh beda, tapi sama Prisha. Boleh sama Prisha, tapi tetap pegang prinsip masing-masing. Nahkodanya ada dua, ya itu yang mereka perlu pikirkan. Siapa yang jadi nahkoda utama buat anak-anak mereka. Makanya aku biarin aja dulu mereka, kalau udah kelihatan jalan jauh, baru aku tanyain." sambung Arya lagi sembari menunjuk kakaknya yang tengah mengangguk-anggukkan kepala.
"Kalau nggak mau pusing dan susah yaudah nggak usaha jalan aja mereka berdua. Gitu kan maksud kalian? Semua ada konsekuensinya." timpal kakaknya yang mendapat persetujuannya dan juga Arya.
................
Bromo
Genta
"Dingin dek?" tanyanya saat melihat Prisha dengan wajah sedikit pucat. Padahal sudah memakai jaket cukup tebal dan juga sarung tangan.
Maklum saat ini mereka masih menunggu matahari terbit di area Penanjakan 1 yang memiliki terpaan angin yang paling kencang dan dingin.
Prisha pun mengangguk dan menatapnya. Tatapan Prisha membuat hatinya langsung luluh.
"Mau dipeluk? Sini.." tawarnya sambil merentangkan tangannya.
__ADS_1
Anjas dan Rengganis sedang asyik berfoto, walaupun suasana masih tampak gelap dan belum ada pemandangan bagus menurutnya.
Sedangkan Damar mengantarkan Berlian untuk menunaikan ibadah sholat subuh di sebuah balai kecil yang letaknya tak jauh dari situ.
Kini Prisha sudah berada di pelukannya sambil tetap berdiri di titik awal mereka datang, agar bisa mendapatkan spot foto terbaik.
"Udah lumayan kan? Sini tangannya.." tanyanya sambil merengkuh telapak tangan Prisha untuk bertaut dengan telapak tangannya.
Dagunya pun bersandar pada puncak kepala Prisha yang tingginya tepat sedagunya.
Saat ini pasti orang-orang yang melihatnya mengira mereka adalah sepasang kekasih, padahal masih belum ada kejelasan di antara mereka saat ini.
Anjas
Bibirnya mencibir ke arah dua insan yang tengah memadu kasih dengan memanfaatkan cuaca yang ada.
"Kan?! Bromo jadinya udah panas, bukan lagi dingin kalau gitu." ucapnya ke Ganis sambil menunjuk Genta dengan dagunya.
Rengganis tampak terkekeh,
"Foto Njas, foto..!" pinta Ganis untuk mengambil dua insan yang sedang berada di pusaran asmara itu.
Bibirnya tersenyum saat berhasil mengabadikan momen secara diam-diam antara Genta dengan Prisha.
Sahabatnya itu memang kelihatan sangat menyayangi Prisha, berbeda saat Genta bersama mantan atau perempuan lain.
Prisha
Saat yang ditunggu-tunggu pun datang, matahari terbit dengan indahnya di hadapan mereka. Setelah berfoto bersama sahabat-sahabat Genta, ia meminta Anjas untuk mengambil foto dirinya berdua dengan Genta dengan kamera yang Anjas bawa.
Kemudian tangannya kembali mengambil handphone nya kemudian ber-selfie dengan Genta dengan berbagai gaya.
Dan tak disangka, Genta yang masih memeluknya dari belakang, langsung mencium pipinya yang membuatnya mematung sejenak.
"Foto dong.." bisikan Genta di telinganya, langsung membuyarkan pikirannya.
__ADS_1
Tangannya pun kembali menekan lingkaran berwarna putih untuk mengambil pose mereka yang terakhir, yang sangat begitu mesra. Entah apa jadinya kalau foto ini sampai diketahui kedua orangtuanya ataupun orangtua Genta.
......................