A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Dia Masa Depanku !


__ADS_3

Yogyakarta


Genta


Mulutnya terus menguap saat jaga malam kali ini. Tangannya meraih handphone di sakunya, lalu membaca beberapa pesan yang belum sempat ia baca dari tadi sejak ia datang ke sini.


Saat ini ia berjaga di stase IGD rumah sakit milik kampusnya, bersama dengan dua teman Koas lainnya. Bibirnya langsung tersenyum saat mendapat sebuah pesan dari gadis kecilnya.


Prisha Nismara


Aku ada acara di kampus sampai malam juga mas, dijemput sama teman aku, Randy. Kamu mau aku beliin makanan? Nanti aku tak mampir ke rumah sakit kalau kamu mau.


Pesan itu dikirim dua jam yang lalu, sekitar pukul 7 malam dan baru ia buka sekarang. Saat jarinya ingin membalas pesan itu, tiba-tiba ada teriakan pasien darurat kecelakaan yang masuk.


"Dok, ada yang kecelakaan!" teriak salah satu perawat di IGD itu.


Tangannya langsung memasukkan kembali handphone nya ke dalam saku jasnya. Dengan langkah tergesa ia langsung menuju ke tirai nomor 3, di mana pasien itu diletakkan. Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menatap pasien yang sudah berlumuran darah.


Matanya seketika membelalak ketika mendapati pasien yang berbaring itu adalah Prisha.


"Prisha !" teriaknya seketika langsung membuat semua perawat dan teman koas yang berjaga malam itu menoleh ke arahnya.


Matanya langsung menatap seseorang lelaki yang mengantarkan Prisha saat ini.


"Kamu siapa? Ini bagaimana ceritanya?" tanyanya dengan raut wajah tegang.


"Saya Randy dok, kami tadi jadi korban tabrak lari dari arah berlawanan, Prisha terpental ke depan motor. Mobilnya kabur dok." jelas lelaki yang bernama Randy itu.


"Kamu nggak apa-apa? Kamu juga harus diperiksa." ucapnya saat melihat ada memar di dahi Randy dan luka di bagian tangan.


"Dokter Amar, tolong bantu saya ya. Saya mau telepon keluarganya Prisha dulu."


"Sus, tolong bantu dokter Amar sebentar ya. Bersihkan lukanya dulu. Periksa tanda vitalnya."


"Sus, tolong bantu dokter Nisya periksa mas Randy ini."


Ucapnya ke semua rekan-rekan yang bertugas ke IGD. Prisha masih belum sadarkan diri, hal itu semakin membuat dirinya panik.


"Om, Prisha kecelakaan. Sekarang di IGD tempat saya. Cepat ke sini ya om." ucapnya ke Om Narendra, lalu mengakhiri panggilan dan kembali menghampiri Prisha.


Saat membuka tirai, Prisha sudah tampak siuman, namun masih sangat lemah.


"Vitalnya masih bagus." ucap dokter Amar.


"Tapi luka sobeknya di dahi, terutama di perut cukup lebar dok." ucap perawat itu sembari membersihkan luka menganga itu.

__ADS_1


Pikirannya kembali melayang ke kejadian 9 tahun lalu, dimana Prisha mengalami trauma abdomen di bagian lambung.


"Kita periksa abdomennya dulu, tolong alatnya ya sus.."


"Dek, apa yang kamu rasain sekarang?" tanyanya pelan sambil mengelus rambut Prisha.


"Ma..as..aku pusing..mual.." ucap Prisha lirih.


"Pusing sekarang?" tanyanya memperjelas.


"Pindai CT aja Ta, takut kalau ada apa-apa. Kamu kenal dia?" tanya Amar kepadanya, yang diirigi anggukkannya.


"Dia masa depanku.." jawabnya, seketika membuat Amar menautkan alis sambil menatapnya.


"Udah kita urus dia sekarang, sambil nunggu papanya datang." jawabnya mengalihkan pembicaraan.


Alat usg menari-nari di atas perut Prisha, mencoba mencari sesuatu apabila ada kejanggalan dan memang benar terjadi.


"Ada pendarahan ini di bagian limpa, tapi tidak terlalu parah kelihatannya. Tapi tetap harus laparotomi kelihatannya." ucapnya ke Amar yang juga ikut memperhatikan layar.


"Sus, tolong panggil dokter bedah yang jaga malam ini ya." ucapnya ke perawat yang daritadi menanganinya.


Ia keluar menuju meja untuk mengambil pulpen, tak lama Om Rendra dan Om Ardhana tiba dengan napas yang tersengal karena habis berlari.


"Genta, mana Prisha? Bagaimana bisa? Dia ke sini sama siapa?" tanya Om Rendra beruntutan.


"Luka sobek di dahi dan perut lagi. Om mau lihat pake alat? Sini biar aku tunjukin. Aku curiga ada pendarahan bagian limpa."


Kemudian ia kembali menempelkan alat usg di perut Prisha.


"Ini om, bener nggak?" tanyanya sambil menatap om Ardhana yang menatap layar dengan teliti.


Om Ardhana pun mengangguk,


"Coba lihat lagi bagian lain." pinta Om Ardhana, kemudian ia menuruti perintah om nya yang merupakan ahli bedah umum di rumah sakit sebelah.


"Iya, dia pendarahan di limpa. Terus apa lagi?" tanya Om Ardahana kembali sambil menatapnya, sedangkan Om Rendra tampak sibuk mengelus rambut Prisha yang masih lemas.


"Dia bilangnya pusing, aku sama dokter Amar minta pindai CT aja, takutnya kenapa-kenapa." jelasnya yang membuat kedua om nya itu mengangguk.


"Aku urus pasien lain ya Ta, aku tinggal dulu. Permisi dok.." ucap Amar seraya keluar dan tersenyum.


"Mana dokter bedahmu yang jaga?" tanya om Ardhana.


"Baru jalan turun dari ruang operasi om."

__ADS_1


"Terus tadi Prisha datang sama siapa? Bagaimana ceritanya?" giliran Om Rendra yang bertanya padanya saat ini.


Ia menelan salivanya,


"Tadi datang sama temannya, namanya Randy. Dia memar di dahi, sama luka di tangan. Baru ditangani di sebelah sana. Mereka korban tabrak lari kata Randy. Prisha terpental ke depan motor. Mobilnya kabur nggak tahu kemana."


Om Rendra tampak menghela napas , lalu berjalan membuka tirai.


"Aku lihat Randy dulu sebentar."


Kemudian dokter bedahnya pun datang dan menatap om Ardhana.


"Lhoh, ini siapa? Anak kamu?" tanya dokter Pras yang usianya sekitaran om Ardhana juga.


"Bukan mas, ponakan saya ini, anaknya Rendra." jawab Om Ardhana sambil tersenyum.


"Oalah, terus gimana Genta, udah kamu periksa?"


"Sudah dok, ada pendarahan di bagian limpa, kalau luka di dahi sama perut sudah saya jahit tadi. Dan harus pindai CT dulu, soalnya bilangnya pusing." jelasnya yang membuat dokter Pras mengangguk.


Krreeek..


Dokter Pras meneliti jahitan yang ia kerjakan sambil mengangguk-anggukkan kepala,


"Bagus, rapi kok.."


Bagaimana tidak rapi, ia berjuang cukup keras untuk belajar menjahit dengan rapi dan cepat. Di samping ia belajar langsung saat di rumah sakit, ia juga belajar di rumah dengan peralatan hecting yang ia miliki, disertai pendampingan dari om Ardhana.


Om Rendra kembali masuk ke dalam tirai,


"Lhoh mas, kamu yang jaga? Tolong ya mas, anakku ini." sapa Om Rendra ke dokter Pras.


"Randy nggak apa-apa kok Ta, tapi masih aku suruh istirahat dulu di sana. Sambil diobservasi terus." Ia pun mengangguk mendengar penjelasan Om Rendra.


"Kenal kalian?" tanya dokter Pras sambil menunjuk ke arah mereka.


"Genta ini ponakan kita mas, anaknya sahabatku. Udah aku anggap anakku sendiri dia." jelas Om Rendra sambil tersenyum.


"Oalah, kamu nggak pernah bilang. Anak ini nggak pernah bawa nama siapapun selama di sini. Berjuang sendiri dia dari awal, paling lama di stase ku dia. Makanya aku tahu dia." jelas Om Pras yang membuatnya tersenyum canggung.


Memang ia sama sekali tak pernah membawa nama kedua om nya itu di ranah kedokteran. Padahal kalau ia membawa nama salah satu om nya itu, sudah jelas jalannya akan bertambah mulus di kalangan senior. Namun, ia hanya bertekad mengandalkan otaknya bukan nama siapapun.


"Yaudah, kita laparotomi setelah pindai CT, ini masih bisa ditunggu, vitalnya masih bagus. Cepat pindai CT ya, hasilnya kasih saya di ruangan operasi. Saya stand by di sana. Ada residen juga di sana."


"Baik dok.." jawabnya sambil menganggukkan kepala.

__ADS_1


......................


__ADS_2