
Battersea , London
Genta
Istrinya masih setia menunggunya selesai mandi sembari berbaring di ranjang.
Bibirnya tersenyum menatap kecantikan Prisha yang auranya semakin bersinar setelah menjadi seorang ibu.
"Bisma udah tidur?" Pertanyaannya dijawab anggukkan oleh sang istri.
Kakinya merangkak di atas ranjang, kemudian berbaring di sebelah istrinya. Tangannya mengusap lembut perut istrinya.
"Masih sakit?"
"Nggak, udah enakan daritadi siang habis minum obat dua kali." tangan Prisha sudah bertengger apik di atas perutnya dan bibirnya pun langsung mengecup puncak kepala istrinya yang ditumbuhi rambut lurus dan halus itu.
"Yang..." Prisha langsung mendongak menatapnya saat bibirnya memanggil.
"Apa?"
"Aku mau cerita, tapi kamu janji nggak boleh marah dulu sebelum aku selesai cerita." jelasnya yang malah membuat kening istrinya mengernyit.
"Iya, apa?" Prisha langsung mengubah posisi menjadi duduk bersila menghadapnya yang masih setengah bersandar pada tumpukan bantal.
Ia melipat bibirnya, lalu menghela napasnya pelan sebelum menceritakan semuanya.
"Di rumah sakit kan ada junior baru namanya Clarissa, setahun lalu dia tugas di rumah sakit lain, baru sekitar tiga bulan dia pindah ke rumah sakitku." matanya menatap wajah istrinya yang tampak sangat tenang dan malah menyunggingkan senyuman tipis.
"Dia udah tahu mas nikah?"
Alisnya saling bertaut dengan semakin menatap lekat wajah istrinya, namun beberapa detik kemudian ia mengangkat bahunya dengan bibir setengah mencebik.
"Dia suka sama mas kan? Terus mas udah dikasih apa? Atau diapain aja?"
Ia mengangkat satu alisnya sambil terus menatap istrinya yang masih sangat tenang tanpa emosi sedikitpun.
"Ya nggak sampai diapa-apain sih, tapi hampir tiap hari selalu ngasih kopi atau makanan. Terus selalu ada sentuhan fisik, entah nepuk lah atau ngusap bahu lah, tangan lah bahkan pernah nyender sama rangkul pinggang aku pas jalan berdua di rumah sakit."
"Aku udah berusaha menghindar sentuhan fisik, apalagi kalau rangkul-merangkul. Tapi ya gimana lagi, kadang aku juga mendampingi timnya. Mau menghindar juga gimana, nggak menghindar takut dikira ngasih harapan."
Bibir istrinya tersenyum lebar, lalu kembali mengulum senyum.
__ADS_1
"Ya bukannya aku sok gimana-gimana, tapi aku kan bisa ngerasain orang yang flirting. Lagian udah bukan pertama kali aku berhadapan sama perempuan yang seperti ini kan."
"Seharusnya sih dia tahu aku udah nikah, kan aku selalu pakai cincin sama pasang foto kita di profil chat. Apa aku mesti tegur dia ya yang?"
Ia berusaha menjelaskan secara detail agar tidak ada kesalahpahaman dengan istrinya.
Prisha menarik napas dalam dan menghembuskan secara cepat.
"Mas ngerasa nggak nyaman atau biasa-biasa aja? Atau malah senang mungkin?" Cibiran istrinya seketika membuatnya melirik malas ke wajah istrinya yang tampak jahil itu.
"Kalau aku senang, nggak bakal aku ceritain ke kamu lah. Mending aku main diam-diaman." salaknya yang membuat Prisha terkekeh.
"Ya kalau mas ngerasa nggak nyaman, mas coba tegur body language dia secara sopan yang nggak terlalu menyinggung. Tapi kalau mas ngerasa biasa-biasa aja, ya diamin aja, anggap aja itu hal biasa."
Wajahnya langsung mengernyit heran,
"Kamu nggak marah suamimu dipeluk-peluk, digrepe-***** cewek lain?"
"Ya bukannya masalah marah atau nggaknya, tapi main logika aja. Kita kan udah dewasa, udah bisa menentukan keputusan dan tindakan yang bagaimana."
"Aku percaya sama mas.." tatapan Prisha mulai menggoda dirinya.
"Aku yakin, kalau di sini..cuma ada aku dari dulu.." istrinya mulai naik ke atas pinggangnya dan membelai dadanya yang langsung membuatnya menyeringai.
"Malam ini jangan berisik ya, biar bisa lama." bisiknya yang membuat wajah istrinya merona.
Bisma sangat bersahabat saat ini, memberikan waktu yang cukup lama untuk mereka melepaskan hasrat yang menggelora.
"I love you...Makasih.." bibirnya mengecup pundak Prisha yang tengah ambruk dan mendekap tubuhnya dengan peluh yang membasahi tubuh mereka.
"Mas, pakai bajunya sih..ada Bisma lho.." oceh istrinya yang terlihat keluar dari kamar mandi dengan baju yang lengkap.
Namun dirinya malah tergelak dengan omelan istrinya itu,
"Kamu itu lucu..! Ya nggak apa-apa sih nggak pakai baju juga, Bisma kan masih belum ngerti.." ucapnya sembari menenteng bajunya menuju kamar mandi.
................
5 Bulan Kemudian
Lambeth , London
__ADS_1
Prisha
"Waahh..yakin nih, nggak menetap di sini aja? Kan udah ditawarin kerjaan di sini.." ucap Bang Rastra yang saat ini telah memutuskan untuk bekerja di London, setelah selesai pendidikan s2 nya.
Suaminya yang masih terkekeh, terlihat menggelengkan kepala.
"Nggak deh bang, pulang kampung aja lah aku. Nggak kuat sama biaya di sini." ucap suaminya yang membuatnya tersenyum. Pasalnya, itu sangat tidak mungkin.
Semenjak ia menjadi istri Genta, pundi-pundi keuangan mereka malah berkembang pesat, padahal Genta masih menjadi seorang residen. Bisa dibayangkan kalau suaminya itu benar-benar menjadi dokter spesialis di sini, bisa menyaingi kekayaan kedua orangtua mereka pastinya. Ya, walaupun tidak mungkin akan bisa sama dengan mertuanya yang sangat tajir melintir itu.
"Wahh..gila..! Dia nggak kuat, apalagi gue..!" tawa Bang Rastra semakin memenuhi ruang tengah mbak Meila.
Suasana kebersamaan seperti ini pastinya akan ia rindukan setelah mereka kembali ke tanah air. Walaupun ia termasuk pendatang baru, namun semua orang di sini benar-benar seperti keluarga baginya.
"Aku bakal kangen banget sama suasana seperti ini pastinya mbak." ucapnya sambil menatap Mbak Meila yang tengah menggendong Bisma.
Mbak Meila tersenyum ke arahnya,
"Kalau ke sini, mampir ya dek. Jangan lupain kami semua. Nanti kalau pas balik Indonesia, pasti aku sempatin main ke Yogya deh atau dimana pun kalian tinggal."
Air matanya langsung menetes mendengar ucapan mbak Meila, namun tangannya langsung mengusap air matanya.
"Kan janjinya nggak boleh ada nangis ya, tapi aku nangis." gumamnya sambil tertawa kecil.
"Jaga Genta baik-baik dek, banyak banget yang suka sama dia di sini, apalagi di sana. Udah ganteng, orangnya baik banget, nggak macem-macem. Gimana pada nggak nempel tuh cewek. Udah punya bini, dikira masih bujangan."
Dia semakin terkekeh mendengar ucapan Mbak Meila yang sangat benar sekali.
"Dania, Winda, sekarang Clarissa." sahutnya sambil mengulum senyum.
"Itu yang baru kamu dan Genta tahu, sebenarnya ada lagi. Cuma yang lain itu nggak pada nekat, setelah tahu Genta punya pacar, terus nikah sama kamu. Nggak berani maju mereka."
Seketika matanya membulat,
"Seriusan?"
"Iya, tanya aja sama Rastra atau mas Yudis. Mereka kan garda terdepan saat ada cewek yang nanyain Genta. Mereka selalu bilang kalau Genta udah ada yang punya."
Tawanya langsung meledak yang membuat para lelaki menoleh ke arahnya.
"Maaf..maaf..keceplosan.." ia langsung meringis menatap ke arah para lelaki yang duduk di ruanf tengah.
__ADS_1
......................