A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Welcome Home!


__ADS_3

Yogyakarta


Rendra


Bibirnya tersenyum dan tangannya terbuka menyambut kembali kedatangan sahabatnya.


"Welcome home, mas! (Selamat datang, mas!)" sapanya sambil memeluk pria yang mengenakan jas putih dan tampak memakai kaca mata di usia mereka yang sudah menginjak kepala empat.


"Selamat datang kembali Dokter Ardhana, selamat bergabung kembali bersama kami.." sapa Kepala Dokter Bedah di rumah sakit itu, yang sebentar lagi posisinya akan digantikan oleh sahabatnya itu.


"Terimakasih sambutannya, tolong saya dibantu ya. Kita belajar dan bekerja bersama ya di sini. Harap maklum saya masih newbie." ucap Ardhana sembari terkekeh.


Di usia ke-42, sahabatnya semakin tampak lebih tampan dan matang. Benar dengan istilah, '*L**ife Begins at Forty*'.


Pekerjaan semakin cemerlang, perawakan semakin matang, kehidupan semakin gemilang, namun godaan juga semakin menjulang. Begitulah  gambaran yang tepat bagi orang yang menapakkan kesuksesan di usia 40 tahun.


"Gila, kepala bedah coy...kepala bedah..luar biasa !" gumamnya pelan sambil merangkul sahabatnya yang masih tampak terkekeh, lalu melirik ke arahnya.


"Lhah, situ kan juga ditawari tapi malah mundur." timpal Ardhana sambil mengedikkan bahu.


Dirinya pun tertawa,


"Saya belum siap, mumet ngurusi NICU (pusing ngurusin NICU). Kok minatnya pada berkurang ya ke bidangku, apa cuma  rumah sakit ini yang selalu kekurangan? Nggak ngerti lah.." jawabnya sambil menggelengkan kepala.


"Ditambah jadi kepala? Waahh, kapan saya kelonan sama istri saya pak?" imbuhnya lagi.


"Apalagi saya dong, mas tampan. Sampai lupa rasanya bercinta itu gimana? Tapi ya demi bisa balik ke Yogya, ya tak jupuk (ambil) aja. Kasihan bapak ibu sudah mulai sepuh (tua), Clara juga betah di Bali." jelas Ardhana, kemudian menghela napas.


"Arya akan balik Yogya kok suatu saat nanti, tapi mbuh (nggak tahu) kapan?! Suk nek wes mantu anak e mungkin (Nanti kalau menikahkan anaknya mungkin)." ucapnya sambil tergelak.


"Selak tuwo ! (Keburu tua !)" gelak Ardhana, lalu mereka melangkahkan kaki memasuki ruangan serba guna untuk acara ramah tamah.


..........


Sabtu Malam,


Hore Fams menghabiskan malam ini di rumah baru Ardhana yang kebetulan tak jauh dari rumah Rendra, di sekitaran Jakal (Jalan Kaliurang) km 5.


Rendra yang baru datang dari rumah sakit menatap putrinya yang terlihat diam dan tampak pucat, duduk meringkuk di sudut sofa.


Rendra


"Mbak, kenapa? Mama belum datang?" tanyanya, karena tadi Prisha berangkat lebih dulu dijemput oleh Arya.


Putrinya menggeleng dan masih tampak pucat. Kakinya melangkah mendekat ke arah Prisha dan memegang wajah putrinya.


"Mbak kok demam? Udah dari tadi demamnya?" tanyanya sambil meletakkan punggung tangan di dahi ,lalu turun ke leher putrinya.


Clara yang sedang sibuk menata makanan, langsung menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Hah, demam? Tadi nggak apa-apa kok pas berangkat, sore tadi masih ketawa-ketawa sama Genta di sana." sahut Clara sambil menunjuk Genta yang sedang main game di ruang tengah.


"Mbak pusing? Telat makan? Atau belum minum obat dari dokter?" tanyanya lagi sambil mengelus rambut Prisha yang memegangi perut.


Pasalnya putrinya itu habis jatuh dari sepeda dan mengalami luka sobek dan luka dalam di bagian perut karena perutnya terkena stang sepeda.


"Tadi lukaku kepentok wastafel, pas mau kepeleset di kamar mandi." ucap putrinya lirih.


Seketika mulutnya menganga dan matanya membelalak. Kepalanya kadang terasa pening dengan tingkah Prisha yang selalu ceroboh, sehingga sering gampang terjatuh.


"Sini ayah lihat dulu jahitannya ! Kenapa nggak bilang sama Om Ardhana?" titahnya sambil membaringkan putrinya di sofa.


Ardhana yang mendengar perbincangan mereka, langsung berjalan ke arahnya dan menatap Prisha yang sudah tampak lemah.


Greesa dan Clara pun langsung ikut mendekat dengan sedikit berlari ke arah Prisha.


"Ukur dulu suhunya dek di telinga!" ucap Ardhana, saat Clara sudah berlutut di sebelah Prisha.


"38.6 ! Mbak Prisha mual, pusing?" tanya Clara sambil membelai putrinya yang sudah tampak lemas. Namun, hanya dijawab anggukkan oleh Prisha.


"Aku cuci tangan dulu. Sebentar ya mbak." pamitnya sambil setengah berlari ke wastafel.


Tak lama kemudian ia telah kembali dan duduk di dekat putrinya.


"Buka perbannya Ndra, aku lihat dulu." ucap Ardhana kepadanya.


"Sebentar tunggu dulu, jangan dibuka dulu kalau gitu Ndra!"


Ardhana langsung bergegas mengambil peralatan medis yang ada di rumah itu, kemudian berlari kembali mencuci tangan, lalu duduk di berjongkok di sampingnya.


Tangannya langsung meraih sarung tangan yang diberikan Ardhana kepadanya dan dengan cepat ia memakai sarung tangan itu. Kemudian tangannya kembali membuka perban yang sudah tampak berubah warna dari putih menjadi merah dan bercampur kuning.


Ardhana langsung mencuci luka itu dengan cairan saline. Luka yang terlihat menganga dan memerah.


"Tutup pakai perban baru dulu aja. Habis ini bawa ke rumah sakit. Biar aku yang periksa di sana. Aku siap-siap dulu." titah Ardhana sambil menyerahkan perban ke arahnya.


Setelah selesai menutup kembali luka yang menganga itu dengan perban, ia langsung berniat membawa putrinya ke dalam mobil.


"Mbak, masih kuat jalan? Atau ayah gendong aja ya?" ucapnya lalu menggendong putrinya.


"Om, aku ikut!" seketika ia dan Ardhana menoleh ke arah sumber suara.


"Udah di rumah aja, Prisha mau ke rumah sakit mas." ucap Clara sambil memegang bahu Genta.


"Nggak, Genta mau ikut! Pokoknya Genta ikut!" ucap anak laki-laki itu yang sudah tumbuh remaja.


Ia pun menghela napas, begitu pula Ardhana..


"Yaudah, tapi nggak boleh minta pulang kalau om belum selesai ya?" tawar Ardhana sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah Genta.

__ADS_1


"Iya,om!"


Entah alasan apa Genta bersikeras ikut ke rumah sakit, dirinya pun tidak paham. Yang jelas sekarang keselamatan putrinya, Prisha.


Saat memasukkan Prisha ke dalam mobil, istrinya baru saja sampai.


"Lhoh..lhohh..Prisha kenapa lagi mas?" tanya Asa panik sambil menggiring Nendra mendekat ke pintu belakang mobil.


"Jahitannya kebuka, tadi katanya kepentok wastafel mau kepeleset." jelasnya tenang, mencoba membawa Asa lebih tenang.


"Aku i..."


"Udah nggak usah ikut, kamu di sini aja. Jaga Nendra, nggak apa-apa, tenang ada aku sama mas Ardhana." potongnya sambil mengelus pundak Asa yang masih tampak panik menatap Prisha.


Tak lama Arya pun datang sambil menenteng satu tas belanjaan yang dibeli dari minimarket.


"Ini ada apa?" tanya Arya sambil menatapnya bingung.


"Prisha, jahitannya sobek habis kepentok wastafel." jelasnya kembali.


"Mau aku temanin juga? Genta di rumah aja, biar bapak yang temanin ke rumah sakit." ucap Arya ke anak laki-lakinya yang sudah tampak menekuk wajah.


"Udah, kamu di rumah aja, jaga rumah. Biar Genta ikut sama aku. Nanti kita kabarin bagaimananya." sahut Ardhana sambil menganggukkan kepala ke arah Arya.


..........


Genta


Di rumah sakit ia hanya ikut memperhatikan gerak kedua om nya itu, terutama Ardhana. Saat ini Om Ardhana sendiri yang turun langsung merawat luka Prisha.


Wajah Prisha yang merintih dan kelihaian tangan Om Ardhana saat merawat luka, membuatnya terpesona.


"Kemarin trauma abdomen juga di sekitaran lambung Ndra pas di Surabaya?" tanya Om Ardhana sambil menempelkan alat di perut Prisha, yang ia tahu seperti alat untuk memeriksa ibu hamil.


"Iya.." jawab om Rendra pelan, wajahnya tampak lesu saat itu.


Gadis kecil yang selalu ia anggap sebagai adiknya sendiri itu saat ini terbaring lemah, karena luka dalam Prisha yang belum sembuh ternyata juga ikut mengalami cedera kembali yang mengharuskan Prisha untuk dioperasi kembali.


"Prisha nggak apa-apa om?" tanyanya pelan sambil menatap Om Rendra.


Pria itu pun tersenyum dan mengelus kepalanya,


"Nggak apa-apa, ya semacam operasi ulang. Anak itu susah banget disuruh hati-hati. Udah berapa kali dia dijahit kayak gini."


Om Rendra tampak menghela napas.


"Kita beli roti di depan dulu yukk, nanti habis Prisha selesai operasi, kita baru makan. Biar Om Ardhana yang ngurus Prisha. Tenang aja!" ajak pria itu sambil merangkul pundaknya.


......................

__ADS_1


__ADS_2