
Yogyakarta
Prisha
Dua hari ini ia bolak-balik ke rumah Genta untuk membantu Genta menyiapkan keperluan untuk berangkat ke London. Sebenarnya bukan hanya dirinya, Arsya pun begitu.
Ya, Genta akhirnya lolos untuk mengambil spesialis dan menjalani sebagai dokter residen di London.
Tentunya hal ini tidak mudah bagi dirinya dan juga Genta, menjalani hubungan jarak jauh dengan status backstreet. Akankah bertahan atau menyerah? Ahhh..entahlah..!
"Apalagi nih mas? Ini semua isinya jaket-jaket sama pakaian hangat di koper ini. Semua udah aku vacum." ucapnya sembari menepuk-nepuk koper berwarna biru berukuran sangat besar.
"Berarti kamu harusnya masuk sini dong.."
Ucapan Genta membuatnya mengernyit,
"Ya soalnya kan kamu bisa buat menghangatkan aku.." imbuh Genta dengan berbisik agar tidak terdengar Arsya yang tampak sedang berjalan memasuki kamar Genta.
Dirinya langsung melirik malas ke arah Genta, sedangkan lelaki itu malah masih menggoda dirinya.
"Maaaasss..! Kamu itu emang nggak bakalan pulang sama sekali selama 5 tahun? Semua barang mau dibawa sekarang?" cerocos Arsya yang tampak terengah-engah menyeret koper berwarna hitam yang disusul oleh Naras.
"Ya kalau bisa dibawa sekalian, ya sekalian. Biar besok-besok aku nggak bawa banyak barang kalau pas pulang."
Naras membuka koper besar itu dan malah mendudukan diri masuk di dalam satu bagian koper yang memang sangat besar.
"Heii..! Ini malah santai amat di sini.." protes Genta sambil menendang pelan koper hitam besar itu.
"Capek mas aku. Aku habis ini mau main sama teman-teman ya? Bentar aja..." pinta Naras memohon ke depan Genta.
"Hmmm..iyeee....."
Clara
Setelah kepergian Arsya dan Naras, ia masuk ke kamar Genta. Matanya memperhatikan beberapa koper yang sudah berjajar rapi.
"Udah beres?" tanyanya kemudian duduk di tepi ranjang putranya.
"Udah kelihatannya.." jawab putranya sembari menatap kembali beberapa koper yang berjajar.
"Widihhh..pindahan mas?" gelak suaminya yang tiba-tiba sudah bertengger di pintu kamar.
"Bapak jadi ingat jaman dulu mau merantau, dibantuin sama ibu juga. So yesteryears..! " gumam suaminya yang disambut dengan tawanya.
"Iya ya, dulu kita juga gini ya.." timpalnya sambil tertawa kecil mengingat masa lalu.
"Yukk, sambil nunggu makanan buat makan malam datang. Kita ke ruang makan dulu yukk, ada yang mau bapak obrolin.." ajak suaminya sambil menatap dirinya, Genta, dan juga Prisha yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
Arya
Saat ini ia menatap muda-mudi yang ada di depannya sambil tersenyum. Prisha sibuk menikmati salad buah bikinan istrinya, sedangkan Genta lebih memilih menikmati kopi yang telah dibuat sendiri.
"Kalian nggak ada yang mau diceritain sama bapak ibu nih?" tanyanya membuka pembicaraan.
Genta langsung menatap dirinya, begitu pula Prisha dengan mulut setengah menganga. Kemudian ia kembali tertawa kecil dengan mata masih menatap anak-anak yang sudah beranjak dewasa.
"Cerita apa pak?"
"Cerita apa om?"
Tanya mereka bersamaan yang membuat Clara juga ikut terkekeh.
"Kompaknya..." seloroh istrinya masih sambil terkekeh.
"Ya nggak tahu, kalian mau cerita apa, kan bapak cuma tanya." sambungnya sambil mengulum senyum.
"Mungkin tentang hubungan kalian, mungkin....Atau berapa lama kalian sudah berpacaran, mungkin..." imbuhnya masih sambil mengulum senyum.
"Atau sudah berapa lama kalian saling memanggil sayang..mungkin..." sahut istrinya tanpa menatap ke arah mereka.
Genta dan Prisha tampak menelan saliva dan wajah mereka berubah menjadi gugup, bahkan sangat gugup. Bagaikan kucing yang sedang ketahuan mengambil ikan di meja.
Genta
Tapi kalau ia jujur saat ini, apakah semuanya akan baik-baik saja?
Apalagi ia akan meninggalkan Prisha untuk berjauhan.
Apakah ini benar?
Dirinya kembali menghela napas dan membalas tatapan bapaknya yang sedang menatap lekat dirinya.
"Mulai kapan bapak tahu semuanya?" tanyanya santai, namun semakin membuat Prisha mematung tak berkutik.
Bapaknya malah mengernyitkan dahi dan tertawa kecil,
"Tahu tentang apa?"
"Please deh pak, nggak usah muter-muter deh.." sahutnya dengan nada malas.
"Jadi selama ini benar?" tanya bapaknya sambil menatap mereka berdua secara bergantian.
"Kenapa mesti dirahasiakan dari kami?" sambung bapaknya yang membuat Prisha langsung menunduk.
Ia kembali menarik napasnya dalam-dalam,kemudian menghembuskannya pelan.
__ADS_1
"Memang bapak sama ibu nggak keberatan? Setuju?" tembaknya tanpa basa-basi atupun muter-muter.
"Kenapa keberatan? Dan kenapa harus nggak setuju? Kenapa kamu bisa mikir seperti itu?" sahut ibunya cepat sambil menatap matanya.
"Karena kami beda, bukannya bapak ibu selalu bilang ke aku untuk tetap nyari yang sama. Tapi, ternyata Genta nggak bisa bu." jelasnya sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi makan.
"Kenapa sampai kamu nggak bisa nurutin permintaan bapak sama ibu?" tanya ibunya kembali yang seketika membuat Prisha semakin menciut.
Welcome to the hell, here we go again Genta..!
Gumamnya dalam hati, saat menfengarkan pertanyaan ibunya itu.
"Karena kalian saling suka dari kalian masih kecil? Dari Prisha masih balita. Right?" sambung ibunya lagi yang mampu membuat bibirnya menganga sempurna.
Darimana orangtuanya tahu, terutama ibunya yang paham hal itu?
"Kalau kamu nekat maju ya nggak masalah sih ibu, asal perempuan itu Prisha." Ucapan ibunya kali ini membuat mulutnya semakin terbuka.
"Tapi sebentar, dengarin dulu semuanya.." imbuh ibunya tegas.
Raut wajah ibu dan bapaknya berubah menjadi lebih serius.
"Kalau kalian berani melangkah melewati batas kakak adik kalian selama ini dengan perbedaan yang ada. Ya kalian harus sanggup menyelesaikan sampai akhir, jangan ada menyerah, ataupun lelah dengan perbedaan yang ada." jelas ibunya.
"Apalagi kalian habis ini jauh-jauhan dalam waktu yang lama, 5 tahun. Yakin bisa?" tanya ibunya kembali, sekarang sambil menatap Prisha.
Mereka berdua mengangguk.
"LDR itu nggak mudah lho, tapi juga nggak sulit bagi yang kuat. Kamu yakin Prisha, kalau Genta nggak akan macam-macam di sana?" tanya mamanya sambil menatap wajah Prisha.
"Iiihhh ibu, aku kan setia anaknya.." sahutnya.
"Terus kalau kamu sanggup LDR, kenapa dulu putus sama mantan kamu? Hayoo..." selidik ibunya sambil menunjuk dirinya.
Bapaknya hanya mengangguk-anggukkan kepala tanpa bersuara.
"Bapak ibu ikut campur, karena kalian itu bagaikan saudara. Kalau kalian gagal, yang dipertaruhkan itu kedekatan kalian sebagai kakak adik. Dan kalu Om Rendra tahu, nggak tahu deh gimana.." ibunya kembali angkat bicara.
"Ayah sama mama udah tahu mbak?" tanya ibunya lembut ke Prisha.
Prisha menggeleng,
"Mama udah tahu kalau dekat, kalau ayah belum sama sekali."
"Jangan dulu deh orangtua kamu ngerti. Pelan-pelan aja sambil jalan, sampai kamu yang tahu sendiri kapan waktunya tepat." ucap ibunya seraya mengelus lengan Prisha.
"Prisha itu anak ibu, kalau kamu sakiti dia, kamu urusannya sama ibu dulu sebelum ke Om Rendra sama Tante Asa. Ngerti kamu?!" ancam ibunya sambil menatapnya tajam.
__ADS_1
......................