
Battersea, London
Genta
Cukup 3 bulan ia singgah di negeri Paman Sam, kemudian kembali ke London.
Dan hari ini adalah hari pertamanya ia pindah ke apartemen baru, karena kamar apartemen yang dulu ia pakai bersama teman-temannya sudah dipakai oleh mahasiswa baru.
Saat ini ia memilih untuk tinggal di apartemen studio yang berisi 1 kamar untuk dirinya dan masih dekat dengan kampusnya.
"Halo adek sayang, cantik amat mau tidur.." sapanya saat melihat Prisha tengah menggunakan piyama bermotif bunga dengan perpaduan warna soft.
"Iya gitu? Cantikan mana aku sama anak baru itu?"
Ia dan Prisha habis bertengkar hebat gara-gara ada anak baru dari Indonesia juga yang berkuliah di kampusnya, tapi berbeda jurusan.
Dania, itulah nama yang berhasil mengusik emosi Prisha. Pasalnya perempuan itu tidak segan-segan berani duduk bersandar dengannya saat mereka sedang video call.
"Cantikan adek sayang dong..!" gumamnya sambil tersenyum agar tidak memancing emosi Prisha kembali.
Prisha pun mencibir ke arahnya dan kembali dengan wajah bersungut-sungut,
"Gombal..! Seneng kan ditempelin cewek? Atau malah cewek-cewek? Enak kan?"
Prisha mulai tampak melancarkan aksi penyerangan kembali terhadap dirinya.
Sabar Genta..tahan emosi. Ini tandanya hati Prisha sudah milik kamu sepenuhnya..!
"Nggak akan seneng. Mas cuma sayang sama adek, buktinya kemarin mas udah bilang langsung sama Dania kalau mas udah punya calon istri."
"Pokoknya kalau aku pas ke sana, aku masih lihat dia nekat dekatin kamu. Awas aja, tuh cewek bakalan botak!"
Emosi Prisha malah membuatnya terkekeh,
"Kok botak?"
"Iya lah, aku jambak sampai rontok rambutnya! Kesel aku..! Aku yang punya, aku yang kangen, dia yang grepe-grepe seenaknya!" omel kekasihnya kembali.
"Iya wes terserah kamu. Makanya cepet ke sini! Gimana visanya udah daftar?" tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Udah..aku buat yang short-term dulu, nanti perkara habis nikah mau ke sana lagi. Pikir nanti. Lagian aku juga mau cari beasiswa ke sana, siapa tahu lolos kan?"
__ADS_1
Bibirnya langsung tersenyum mendengar ucapan yakin Prisha tentang pernikahan.
"Iya sayang. Ciee, beneran nih mau nikah sama aku? Ahh..jadi pengen peluk..!"
Wajah Prisha langsung berubah merona,
"Kemarin ditanyain apa aja sama ayah, mas? Pas video call sama kamu.." selidik Prisha.
Ia mengerutkan kening dan melipat bibirnya,
"Ya biasa lah, beneran udah yakin mau memperistri kamu? Terus gimana kuliah aku di sini? Ya ala kadarnya lah kalau lagi ngobrol sama Om Rendra." jelasnya yang langsung membuat Prisha tersenyum.
"Nikah masih satu setengah tahun lagi, orangtua ribetnya udah dari sekarang. Pusing sendiri aku, mereka udah membahas baju lah, tempat lah, tanggal lah, catering lah. Ini lho pak bu..anak-anaknya aja belum ketemu setahun lebih." oceh Prisha seraya menggelengkan kepala yang membuatnya tergelak.
"Nggak apa-apa lah, bagus malahan kalau mereka antusias. Asalkan nggak meributkan masalah minta cucu dalam waktu dekat aja." godanya sambil mengulum senyum.
"Hei..! Jangan salah mas, Tante Ara sama mama udah mikirin kalau habis nikah, terus aku langsung hamil dan ngelahirin di sana, berarti mereka ikut gantian ke sana. Ya Tuhan, dikira Yogya-London tinggal nyebrang sungai."
"Lagian, buat aja belum, ciuman sama pelukan aja setahun sekali, mereka udah pada mikirin cucunya lahir. Tuhanku..maafkanlah hambamu ini..!"
Curhatan Prisha semakin membuat dirinya tergelak.
"Jadi udah boleh dong test drive kalau ketemu?" godanya lagi yang langsung memancing tatapan tajam Prisha.
"Iya, besok aku berusaha tahan dulu sekuat tenaga. Tenang..! Daripada aku diseret bapak Ararya ke rumah Ayah Narendra." gumamnya sambil terkekeh.
"Yaudah, ya yang. Aku mau tidur dulu. Tadi malam tugas jaga malam, ada operasi kecelakaan lagi. Capek aku.." terangnya sambil menguap.
"Iya..i love you mas! Jangan genit sama cewek-cewek lho ya.. Jaga mata! Jaga nafsu!" omel Prisha kembali.
"Siap nyonya Genta..! Ini semuanya punya kamu..Love you too sayang..Muaachh.." pungkasnya mengakhiri panggilan, kemudian merangkak ke atas kasur, merebahkan diri, dan memasuki alam mimpi.
................
1 BULAN KEMUDIAN..
Heathrow Airport, London
Prisha
Setelah selesai mengurus dokumen-dokumen di bagian imigrasi Bandara London.
__ADS_1
Sambil mendorong trolley yang berisikan 1 koper besar dan 1 koper sedang. Kakinya melangkah menuju pintu keluar, menuju titik temu yang telah dijanjikan oleh Genta.
Kepalanya celingak-celinguk ke kanan kiri dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru area, namun tak tampak seseorang yang ia cari.
Akhirnya ia memutuskan mengambil handphone dan mencoba menghubungi Genta. Namun tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang dan menyapukan napas hangat di pipinya.
"Siang sayang.." Genta semakin mengeratkan pelukannya, seakan enggan untuk melepaskan dirinya.
Bibirnya langsung tersenyum dan membalikkan badannya. Ia langsung memeluk erat kekasihnya itu.
Tak terasa air matanya menetes saat memeluk Genta.
"Kangen mas.." ucapnya manja sambil terisak.
Genta langsung menangkup kedua pipinya dan mencium keningnya.
"Aku juga.."
"Yaudah yukk jalan. Mau makan dulu apa nanti di kota?" ajak lelaki yang tengah memakai coat yang senada dengan dirinya berwarna navy.
"Nanti aja, makan terus aku di pesawat.." cengirnya masih memeluk pinggang Genta.
"Kita naik kereta bawah tanah aja ya biar kamu ngerti? Welcome to London ! Aku nggak ada mobil di sini, ribet urusannya di sini. Kecuali nanti kalau kamu udah stay di sini beda cerita."jelas Genta sambil mendorong trolley.
Dirinya pun tersenyum. Ia paham memiliki transportasi pribadi di London itu lumayan ribet dan mahal. Harus ada asuransi, biaya test mobil tiap tahun, pajak jalan, keharusan memiliki UK Licence di tahun ke-2, tingginya biaya parkir, dan masih banyak lainnya.
Lama tempuh dari bandara menuju ke stasiun bawah tanah yang paling dekat dengan tempat tinggal akan memakan waktu sekitar 1 jam.
Jari-jarinya saling bertaut dengan jari Genta, ia menyandarkan kepala di bahu kekasihnya itu. Rasanya sangat nyaman.
Sesekali ia mendongakkan kepala menatap wajah tampan kekasihnya yang sebenarnya sudah naik level menjadi calon suaminya.
"Kenapa kangen banget ya?" goda Genta yang pasti membuat wajahnya merona.
"Nanti siap-siap aja bibir kamu bengkak ya." goda Genta lagi yang membuatnya memilih menenggelamkan wajahnya ke pelukan Genta.
"Mas.." gumamnya masih dalam pelukan Genta.
"Iya..apa?"
"Aku pikir-pikir kenapa kita daridulu nggak jujur aja sama orangtua kita ya, tohh..kenyataannya mereka nggak masalah kan?" tanyanya membuka obrolan.
__ADS_1
"Ya nggak apa-apa, biar ada cerita lika-likunya. Yang penting kita jangan lelah berjuang selamanya ya.." ucap Genta seraya mengelus rambutnya.
......................