A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Masih Berjuang


__ADS_3

Kakak-kakak pembaca, terimakasih atas doanya untuk bapak saya. Semoga bapak lekas sehat kembali ya.


Sehat selalu untuk kita semua.


Salam,


.chi.


......................................


......................................


Chelsea, London


Genta


Setelah Prisha dibawa ke ruang observasi untuk diperiksa kembali oleh dokter, perasaanya kembalu tenang.


"It's okay, it's just mild bleeding, but she still has to be a bed rest. (Baik, ini hanya pendarahan ringan, tapi ia masih harus istirahat total.)"


Dirinya mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil sesekali menggigit bibir bawahnya.


"Are they still viable? (Apakah semua masih bisa dipertahankan?)" tanyanya sambil melemparkan pandangan ke istrinya yang masih berbaring, lalu beralih ke dokter kandungan yang menangani Prisha.


"We'll work it out, Genta! Do our best! (Kita akan usahakan bersama, Genta! Lakukan yang terbaik!)


Ucapan yakin dari dokter itu membuat perasaannya sedikit lega.


"Sementara masih pakai kateter dulu ya yang, sabar ya..soalnya kamu harus benar-benar bed rest." ucapnya sambil mengelus kepala istrinya.


"Iya, nggak apa-apa, yang penting semua masih bertahan." jawab Prisha sambil tersenyum, malah membuat hatinya kembali hancur.


Tangannya masih mengelus puncak kepala istrinya.


"Maaf ya, dulu aku belum sempat bawa kamu cek tentang menstruasi mu, tapi kamu udah keburu hamil."


Jujur, ia merasa kasihan dengan istrinya saat ini. Seandainya dulu ia lebih bersabar dan langsung memaksa Prisha cek, pasti ia akan lebih bisa mengantisipasi semuanya


"Nggak boleh gitu ahh mas, namanya udah waktunya hamil. Aku nggak apa-apa kok, aku nggak akan menyerah."

__ADS_1


Jawaban Prisha semakin membuat hatinya tersentuh. Ia berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di matanya.


Dikecupnya kening Prisha,


"Mas janji, berusaha nggak akan pernah nyakitin hati kamu. Makasih ya sayang udah mau berjuang demi anak kita." ucapnya sambil mendekap Prisha. Istrinya pun menganggukkan kepalanya dan memeluk erat pinggangnya.


Saat ia menundukkan kepalanya, Prisha mendongakkan kepala dan mata mereka saling beradu. Ia mulai menyatukan wajah mereka dengan lembut dan semakin dalam.


Ceklek..


Mereka langsung menyudahi semuanya dengan gerakan cepat.


"Wahh..maaf nih ganggu.."


Ia menggaruk tengkuknya, sedangkan istrinya masih tampak merona. Mamanya hanya terlihat tersenyum menatap mereka berdua.


"Mama, apaan sih.." timpal Prisha dengan wajah yang masih merah.


................


Dua Minggu Kemudian..


Sudah 6 hari ia pulang dari rumah sakit dan sudah 6 hari pula mamanya tidur di apartemen kecil mereka. Mamanya tidur seranjang dengan dirinya, sedangkan suaminya tidur di bawah dengan tambahan kasur.


"Ma, aku udah nggak apa-apa lho. Aku udah nggak pendarahan ini, kata dokter kan juga udah nggak apa-apa."


Ia mencoba meyakinkan keadaannya ke mamanya.


"Iya, 3 hari lagi mama pulang. Tapi, kalau ibu Ara tetap mau ke sini, ya mama bisa apa?" jawab mamanya yang membuatnya menghela napas.


"Udah ma, Prisha sama Mas Genta bisa jaga diri di sini. Nanti kalau sampai ada apa-apa bisa ke rumah sakit. Kalian semuanya tenang aja. Kasihan kalau bolak-balik ke sini, kan jauh ma. Kasihan juga orang rumah kalau ditinggal-tinggal."


Dirinya mencoba meyakinkan mamanya kembali, berharap agar bisa meyakinkan mertuanya.


"Iya..iya,nanti mama bilang sama semuanya. Tapi janji, kalau butuh bantuan, ya harus bilang. Teman-teman kalian di sini kan juga pasti punya kesibukan, nggak bisa total setiap waktu buat kalian."


Ia pun menganggukkan kepalanya, mengerti apa yang dimaksud oleh mamanya.


Ceklek..

__ADS_1


"Iya ma..tenang..percaya sama kita di sini.."


"Sore.." sapa suaminya yang baru pulang dari rumah sakit.


"Mama udah mau pulang? Kapan ma?" tanya suaminya yang berjalan mendekat ke arah mereka, lalu mencium tangan mamanya, kemudian beranjak ke arahnya mengecup keningnya.


"Pas kamu libur aja ya mas, kamu liburnya kapan?" tanya mamanya sambil menatap suaminya.


"Lusa ma, gimana? Udah beli tiket emangnya?"


"Udah beli dari kapan hari, tinggal reschedule aja. Istrimu itu yang minta mama cepet pulang, katanya pengin berduaan sama kamu." seloroh mamanya yang membuat suaminya terkekeh, sedangkan dirinya membulatkan matanya.


"Hiiissshh, mama ih..! Biar ayah ada yang meluk kalau tidur. Kasihan udah dua minggu sendirian tidurnya." elaknya sambil melirik ke arah mamanya yang sudah mengulum senyum. Sedangkan suaminya masih tampak terkekeh.


"Yang kangen tidur sambil meluk itu sebenarnta dia ma. Bisa-bisanya ayah yang dijadikan alasan ya ma?" seloroh Genta yang membuatnya mendaratkan cubitan ke perut suaminya, gantian mamanya yang tergelak melihat tingkahnya.


Makan malam telah tersedia di atas meja makan.


"Semenjak mama di sini, kita jadi sering makan nasi." gumam Genta sambil tertawa pelan. Memang mamanya datang ke London, sambil membawa beberapa makanan kering, termasuk beras.


"Enak kan? Untung mama bawa. Oh iya, habis lahiran, kalian masih tinggal di apartemen sekecul ini? Yakin?" tanya mamanya sambil menatap mereka berdua.


"Itu lah ma, Genta juga bingung. Apalagi kalau orangtua pada datang ke sini, mau tidur di mana kalau apartemen sekecil ini. Ini Genta lagi cari-cari apartemen baru yang ada 2 kamar lah." jelas suaminya yang membuat wajahnya mengernyit.


"Tapi kalau aku habis lahiran, berarti mas kan di London masih sekitar setahun kan. Nggak apa-apa nih kalau mesti pindah lagi?" tanyanya ke suaminya.


"Ya kasihan juga kamu sama bayi nanti, kalau kamar sekecil ini."


"Ya ampun mas, nggak masalah lagi. Kita masih cukup tinggal di ruangan segini kalau cuma buat setahun ke depan. Masih bisa buat naruh box bayi juga. Masalah kalau orangtua pada mau ke sini.Ya nanti tinggal sewa apartemen aja di sini, biasanya kan ada yang kosong." ucapnya mencoba memberi penjelasan ke suaminya.


"Males packing pindahan ya kamu?" selidik suaminya yang membuatnya terkekeh dan menganggukkan kepalanya. Jujur ia tidak sanggup kalau harus pindahan dengan kondisi kehamilannya saat ini.


"Yaudah gimana enaknya kalian aja. Orangtua nggak usah dipikirin, jangan jadi beban Kita kalau ke sini, bisa tidur di mana aja. Santai aja, yang penting itu kalian semua baik-baik aja. Itu udah lebih dari cukup. Ngerti?" titah mamanya sambil menatap dirinya dan Genta bergantian.


"Kalau kalian masih mau tinggal di sini, ya nggak masalah. Nanti kalau kita ke sini bisa sewa apartemen lain. Itu masalah gampang. Fokus kalian ke kehamilan ini sekarang. Jangan kecapekan, jangan stress." imbuh mamanya kemudian mulai melahap makan malam mereka.


Sebenarnya kehadiran orangtua pasti sangatlah membantu. Contohnya kedatangan mamanya saat ini saja, meringankan Genta dan dirinya dalam hal memasak dan berbelanja dapur. Semua sudah teratasi oleh mamanya. Namun, bagaimanapun ia tidak mau terlalu merepotkan orangtua mereka, karena mereka tinggal berbeda benua.


......................

__ADS_1


__ADS_2