
2 BULAN KEMUDIAN
South Kensington, London
Genta
"Interestingly, Professor William ! Thanks for your advice, Sir..! I'll do my best in Boston..! (Sangat menarik, Profesor William ! Terimakasih untuk sarannya pak..! Aku akan melakukan yang terbaik di Boston..!)" ucapnya seraya menjabat tangan guru besar di Faculty of Medicine.
Kakinya kemudian melangkah menuju ke tempat open space yang berada di fakultasnya.
"Hai sayang..lagi apa? Udah mau bobok ya? Maaf, tadi habis ngadep prof.." sapanya ke Prisha yang terlihat sudah merebahkan diri di atas kasur.
Kekasihnya itu tampak tersenyum tipis dan menganggukkan kepala, namun dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu kenapa? Kok mau nangis gitu?" selidiknya sambil semakin mencondongkan wajah mendekat ke arah handphone nya.
Tangan Prisha sudah tampak menghapus air mata yang telah lolos membasahi pipi mulus kekasihnya itu.
"Aku kangen mas, kangen banget. Kangen dipeluk sama mas." jawab Prisha sambil terisak.
Seketika membuat dadanya merasa sesak. Hal seperti ini yang membuat dirinya merasa berat meninggalkan Prisha.
"Sabar ya sayang, aku juga nggak tahu kalau tetnyata aku yang kena student exchange (pertukaran pelajar). Tadi aku udah tanya detailnya, katanya sih belum tentu 6 bulan kok, bisa jadi cuma 3 bulan." jelasnya berusaha untuk menenangkan hati Prisha, namun tampaknya kali ini gagal.
"3 bulan kok cuma.." gumam Prisha pelan, namun masih terdengar jelas olehnya.
"Kamu lagi ada masalah? Mau ada yang diceritain?" tanyanya mencoba membuka perasaan yang Prisha pendam, karena tidak biasanya Prisha seperti ini.
Prisha masih terisak, namun menggelengkan kepala.
"Aku cuma kangen sama mas."
Bibirnya tersenyum, rasanya ingin sekali ia memeluk dan mencium Prisha saat ini.
"Kalau gitu, ikut bapak ibu ke Boston bulan depan pas aku udah di sana. Gimana?" tawarnya, walaupun pasti ia sangat sulit berduaan dengan Prisha kalau ada orangtuanya. Tapi, daripada kekasihnya menangis seperti ini.
Namun, Prisha malah menggelengkan kepala.
"Aku ujian mas.. nggak apa-apalah aku mundur ketemuannya, nunggu mas balik dari Boston aja. Aku kan penginnya ke London, bukan ke Boston."
Memang sebenarnya rencana Prisha akan berkunjung ke London dua bulan lagi, setelah ujian. Prisha semakin penasaran dengan London setelah kepulangan Naras, Arsya, dan juga Arletta yang lebih dulu ke sana bulan kemarin.
__ADS_1
"Pengin sama London nya berarti? Nggak kepengin sama pacarnya di sini yang juga nahan kangen? Kalau cuma pengin sama London nya kenapa nggak ngikut sama Naras kemarin?" protesnya yang langsung membuat wajah Prisha mulai tersenyum.
"Nggak ahh, ke sana pas musim semi. Enakan di sana pas musim dingin, jadi kan bisa anget-angetan terus. Lagian kalau ada mereka, berisik nggak bisa pacaran." timpal Prisha setengah berbisik yang membuatnya mengulum senyum.
Ia pun langsung berdehem pelan,
"Mulai nakal kan? Lihat aja kalau ketemu, berani nggak, atau cuma berani ngomong aja." gayanya menantang Prisha dengan masih sambil mengulum senyum.
Namun, Prisha malah menimpalinya dengan menjulurkan lidah ke arahnya.
"Cepetan minta restu ke ayah. Tinggal ke ayah aja kan berarti? Berarti targetmu sekarang minta restu ayah, samperin aku ke sini, kelarin kuliah, terus kita nikah."
"Cari beasiswa s2 sekalian ke sini juga boleh, sambil nunggu spesialisku kelar. Aku kasih kamu waktu 2 tahun berarti, lulus kuliah nggak pakai molor." pintanya tegas sambil menatap wajah Prisha yang sudah tampak tersenyum lebar.
"Siap mas sayang..laksanakan! Yaudah, aku tidur dulu ya, ngantuk aku habis nggantiin jadi kasir di kedai tadi." ucap Prisha seraya meliak-liukkan tubuh, meregangkan otot-otot.
"Iya, bye sayang. Good nite, have nice dream. Love you.."
"Bye..love you.."
Bibirnya tersenyum saat berhasil membuat kekasihnya kembali tersenyum dan melupakan sejenak sesak dari rindu itu.
Memang berat kenyataannya, pacaran tanpa mleibatkan hubungan fisik, karena otomatis emosi dan energi dalam rindu dan hasrat tidak bisa tersalurkan sesuai sasaran.
................
Yogyakarta
Prisha
"Mau kemana sih? Cantik amat.." tanya ayahnya yang sudah berdiri di pintu kamarnya yang terbuka.
"Mau jalan sama teman-teman kampus. Nanti Prisha pulang agak malam ya ayah." jawabnya sambil menyisir rambutnya yang lurus.
"Ya tapi mau ke mana dulu? Sama siapa?" Ayahnya kembali memberondong beberapa pertanyaan dengan tangan bersedekap.
Kakinya berjalan mendekati ayahnya dan memegang bahu ayahnya sambil menatap wajah ayahnya yang masih terlihat tampan di usia memasuki setengah abad itu.
"Mau latihan band sama nongkrong paling. Sama yang biasa datang ke sini lah, emang mau sama siapa lagi kalau latihan band." ucapnya sambil tersenyum
Namun ayahnya justru mengerutkan wajah dan memandangnya.
__ADS_1
"Kamu pacaran sama salah satu dari mereka?"
Wajahnya seketika langsung melongo dan tergelak.
"Pacaran? Aku pacaran sama salah satu dari mereka?" ia pun kembali terbahak.
"Ya nggak mungkin lah, kita kan cuma sahabatan. Nggak usah mikir aneh-aneh deh.." sambungnya lagi.
"Terus pacar kamu siapa kalau gitu? Ayah pengin tahu, masa' 20 tahun nggak ada pacar?" selidik kembali ayahnya sambil bersandar pada kusen pintu dan bersedekap tangan.
"Uhmmm...kasih tahu nggak ya?" godanya sambil menepuk-tepukkan sisir yang ia bawa ke bibirnya.
"Ada sih, tapi jauh. Baru jadian juga, tapi ayah udah tahu orangnya, udah lama banget kenal, jauh sebelum ada Prisha." Akhirnya dirinya pilih berterus terang pada ayahnya yang selalu mengerti dirinya sebagai manusia berjiwa muda.
Ayahnya kembali menautkan alis dan menatap matanya,
"Hee? Jauh sebelum ada kamu? Lhah siapa? Jangan bilang pacarmu om-om ya mbak.."
Dirinya pun langsung tergelak mendengar ucapan ayahnya yang menyebut dirinya pacaran dengan om-om.
"Ayah apaan sih, ayah kenal udah lama ya berarti bukan terus dia om-om dong."
"Udah ahh, Prisha mau siap-siap lagi." ucapnya sambil kembali ke depan meja rias.
drrttt..drrrtt...drrtt..
Dengan secepat kilat ia mengangkat telepon yang bertuliskan 'Mas Sayang ❤'.
"Halo mas sayang, lagi apa?" sapanya ke orang di seberang sana.
Seketika ayahnya langsung mendekat berdiri di sampingnya dan menatapnya. Namun ia justru semakin menggoda keingin tahuan ayahnya.
"Oh yaudah, baru bangun bobok ya? Yaudah sana sarapan terus berangkat kerja..eehh praktek.. Aku mau nongkrong dulu sama teman-teman, terus latihan band."
Ucapannya kembali membuat bibir ayahnya menganga dan bingung.
"Iya siap, bye..take care ya..i love you.." pungkasnya dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Pacarmu ada di mana sih? Kok jam segini baru sarapan?" selidik kembali ayahnya.
"Ada deh, coba dong cari di google kalau jam segini sarapan berarti ada di mana." godanya kembali yang sontak membuat ayahnya menggeleng-gelengkan kepala sambil menatapnya yang masih cengar-cengir di depan kaca, membuat ayahnya semakin mengernyit.
__ADS_1
......................