
Yogyakarta
Genta
Di hari spesialnya ini, ia kedatangan sahabat dekatnya selama di Bali yang sudah hampir 5 tahun tak bertemu.
"Come on bro..! How are you?" sapanya ke lelaki tampan yang saat ini berdiri di hadapannya, lalu memeluknya erat.
"Good..! Finally ya Ta, setelah belasan tahun menyimpan rasa. Akhirnya bisa mendesah bersama.." timpal Harsa dengan setengah berbisik.
"Edan..!" ucapnya sambil tergelak.
"Sayang..sini bentar..! Aku kenalin sama bos papan atas..sini..!" panggilnya ke istrinya yang sudah selesai di rias, tinggal berganti pakaian.
"Ini namanya Harsa, sahabat aku selama di Bali. Terus dia pindah ke New Zealand, sekarang di Jakarta."
"Prisha.." sapa istrinya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan.
"Harsa..I've known you since you were in elementary school. And now he's got you! You look so pretty, Nyonya Genta. (Aku tahu kamu sejak kamu masih SD. Dan sekarang dia telah mendapatkanmu! Kamu sangat cantik, Nyonya Genta..!" ucap Harsa dengan gayanya yang selalu memukau.
"Oh ya? SD? By the way, thankyou Harsa.."
Kemudian Prisha kembali bersiap untuk acara resepsi mereka.
Matanya melirik ke seorang perempuan yang berdiri sedikit di belakang Harsa.
"Ini kenalin, namanya Sekar." sahabatnya itu memang selalu peka dengan gestur tubuh seseorang tanpa harus berkata apapun, insting yang layak menjadi seorang pengusaha sukses.
"Genta.." sapanya sambil menatap Sekar dari bawah hingga atas.
"Belum masukin barang ke kamar?" tanyanya karena melihat ada satu koper yang berada di tangan Sekar.
"Ini tadi mau masukin barang, tapi belum sampai kamar ketemu bapak kamu. Katanya kamu di sini, yaudah aku mampir sini dulu." jelas Harsa dengan tangan merangkul bahu Sekar.
"Ehmm, kalau gitu aku aja yang masuk kamar dulu ya. Sama mau siap-siap." pamit Sekar sambil tersenyum.
"Nggak apa-apa nih?" Harsa berusaha mencari kejujuran di mata perempuan itu.
"Iya, kalian ngobrol dulu aja. Aku mau mandi dulu." jawab Sekar, kemudian berlalu dari mereka.
Matanya dan mata Harsa saling beradu pandang, seakan memkirkan sesuatu yang sama tanpa direncanakan.
"Seriously?" tanyanya yang langsung membuat Harsa tergelak.
"I know what the hell are you thinking ! Ini beda bro! Gue juga nggak tahu kenapa gue bisa tergila-gila sama dia." jawab Harsa sambil merangkulnya lalu duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
Harsa anak dari salah satu konglomerat yang memiliki berbagai macam bisnis di Bali. Dirinya sangat mengerti bagaimana tipe perempuan dari seorang Harsa.
Sekar?
Dia cantik dan anggun, sederhana namun berkelas. Tapi terlihat terlalu biasa dan sangat jauh dari tipe perempuan yang selama ini Harsa incar.
................
Sekar
Matanya menatap bunga papan yang berjejer panjang dari luar gedung hingga halaman.
...Selamat Berbahagia...
...dr.Genta & Prisha...
...Keluarga Besar...
...Ditlantas Polda DIY...
......................
__ADS_1
...Selamat Berbahagia...
...dr. Genta & Prisha...
...Keluarga Besar...
...Ditreskrimsus Polda DIY...
......................
...Happy Wedding...
...dr.Genta & Prisha...
...Keluarga Besar...
...RS. Panti Karunia Yogyakarta...
Lalu matanya kembali menoleh ke sisi kirinya.
...Happy Wedding...
...dr.Genta & Prisha...
...Keluarga Mahesa...
Bibirnya tersenyum dan sedikit tertawa kecil.
...Selamat Enak-Enak...
...Genta & Prisha...
...Alumni Dokter Ceria...
......................
...Selamat Tancap Gas Tanpa Rem...
...Genta & Prisha...
......................
...Selamat Guling-Guling...
...Genta & Prisha...
...BDP (Beasiswa Dana Pendidikan)...
...Angkatan Serba Beruntung...
Tangan kokoh kekasihnya itu menggegam erat tangannya, seakan takut dirinya hilang.
Ia paham dengan banyaknya deretan papan bunga dari orang-orang ternama, menunjukkan bahwa sahabat dari kekasihnya ini bukanlah berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja.
Kemudian dirinya menatap penampilannya sejenak di depan cermin besar yang ada di gedung itu.
"Cantik..!" ucap Harsa saat melihat dirinya di depan cermin.
"Yakin mas? Aku nggak malu-maluin mas kan?" Harsa malah mengerutkan wajah sambil menatapnya.
"Kamu itu mau pakai apa aja juga cantik dan berkelas, tanpa harus pakai serba branded. Kamu nggak pernah bikin malu aku, karena kamu selalu mau belajar."
Jawaban Harsa membuatnya tersenyum tersipu, namun sedetik kemudian mencebik.
"Gombal.." cebiknya sambil mengerlingkan mata.
Baginya dirinya mendapatkan seorang Harsa adalah sesuatu yang bisa dibilang keberuntungan.
__ADS_1
Bagaimana tidak?
Ia hanyalah perempuan dari daerah, berasal dari keluarga sangat sederhana. Dirinya bisa kuliah di universitas negeri yang terletak di Depok karena mendapatkan beasiswa penuh dari salah satu lembaga negara.
Sedangkan kekasihnya saat ini adalah seorang Harsa yang dunianya bagaikan bumi dan langit dengannya.
................
Prisha
Akhirnya acara resepsi dengan 1500 undangan selesai juga. Kakinya terasa cukup pegal, tapi mungkin karena kemarin malam hingga siang tadi istirahatnya cukup, membuatnya tidak tumbang.
Genta sangat pengertian padanya, suaminya itu belum menuntut haknya dari kemarin malam, bahkan memberinya waktu tidur yang sangat cukup.
Saat ini, ia sudah berganti dengan gaun untuk acara after party, suaminya dan sahabat-sahabaat mereka pun ada yang berganti gaun, tapi juga ada yang tetap memilih memakai beskap dan kebaya.
"Ngerti kalian?" tanya Bapak Arya ke beberapa sahabat-sahabat Genta sambil terkekeh.
"Siap om..!" jawab Anjas dan juga Harsa sambil tergelak.
Namun, ia juga tidak tahu apa yang mereka perbincangkan.
"Mau minum apa?" suaminya tiba-tiba memeluknya dari belakang dan menyusuri lehernya.
Bibirnya tersenyum dan bulu-bulu halusnya langsung meremang dengan hembusan napas hangat Genta.
"Duduk sana yuk..! Disuruh gabung sama anak-anak." ajak Genta sambil menarik tangannya menuju ke salah satu meja yang penuh diisi sahabat-sahabat Genta.
Ada Rengganis yang masih tampak memakai kebaya duduk di pangkuan kekasihnya. Anjas yang datang bersama dengan wanita manis. Damar dan juga Lian yang datang sendiri tanpa pasangan mereka. Harsa yang tampak romantis dengan kekasihnya. Dan beberapa sahabat Genta lainnya.
Acara after party pun telah berjalan hampir dua jam yang berarti akan segera usai. Entah sudah berapa banyak suaminya menenggak minuman berwarna coklat dan putih itu secara bergantian, hingga wajah suaminya berubah cukup merah.
Sedangkan dirinya yang hanya menenggak sedikit saja, rasanya sudah tipsy.
"Mas..udah ya. Jangan mabuk-mabuk." pintanya sambil menjauhkan gelas itu.
Genta menatapnya sambil tersenyum,
"Aku nggak mabuk kok, masih sadar aku." jawab Genta dengan nada masih sangat jelas. Entah memang benar-benar tak berefek apapun, atau tinggal menunggu waktu? Karena wajah suaminya sudah merah padam.
Sesampainya di hotel, suaminya sudah mulai kelihatan mabuk. Jalannya sudah mulai sedikit tak beraturan, namun ia tetap menggandengnya hingga menuju ke kamar.
"Mau dibantuin?" tawar Harsa saat ia dan Genta hendak keluar lift.
"Udah nggak usah, santai aja. Aku masih bisa jalan Sa. Good nite Sa, selamat bercinta!" ucap Genta yang mulai meracau, justru membuat Harsa tergelak dan dirinya hanya menggelengkan kepala.
Sesampainya di kamar suaminya langsung menggelepar di atas ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah.
Ia lebih memilih membersihkan dirinya dulu baru mengurusi bayi besarnya itu. Setelah selesai membersihkan diri, ia keluar dengan baju tidur yang dilengkapi kimono.
Suaminya masih tidur tak bergerak dari posisi semula. Dengan sabar ia membuka sepatu, kaos kaki, dan semua kain yang melekat di badan suaminya. Genta sama sekali tak terganggu dengan apa yang ia lakukan, hal itu membuatnya mendengus pelan.
Kemudian ia menepuk-nepuk pipi suaminya.
"Mas naik dulu badannya, jangan di sini tidurnya."
"Hmmm..."
"Naik mas, kepalanya di bantal sana. Jangan di sini."
"Hmmm.." Genta pun hanya menanggapi dengan seperti itu, namun akhirnya merebahkan badan bidang itu sesuai tempatnya.
Dia pun hanya menggelengkan kepala.
"Katanya tadi jangan minum banyak-banyak, tapi kenyataannya apa? Dia yang pengin membuka batas, malah dia sendiri yang teler. Dasar, untung cinta!" dengusnya lalu ikut merebahkan diri di ranjang.
Jadi, apa itu malam pertama?
__ADS_1
Malam pertama itu tidur dan mabuk, kenyataan yang miris.
......................