
Jakarta
Genta
Matanya menatap gadis cantik yang sedang meringkuk bersandar pada dada bidangnya.
Jari-jari lentik itu menari berputar-putar di sekitar dadanya, membuatnya langsung berhenti mengelus rambut lurus kekasihnya itu.
"Ini jangan muter-muter di sini dong yang, kalau kamu ngeyel nggak jadi belanja lho ini." ucapnya sembari menangkap tangan Prisha.
Kekasihnya itu mendongak dengan tatapan mendelik tapi manja, kalau Prisha selalu seperti ini bisa-bisa membuat rem nya lepas kendali.
"Nggak usah gitu juga mukanya, mancing dehh sukanya..! Udah sana mandi..!" titahnya ke Prisha, namun kekasihnya itu malah menggelayut manja dan semakin membenamkan wajah ke dadanya.
"Kamu ini kenapa? Masih kangen? Kurang?" selidiknya beruntutan.
Prisha hanya diam dan mengecup dadanya, lalu naik duduk di atas pinggangnya.
"Yang..nggak usah mancing-mancing deh..! Jangan gini dong posisinya..!" Dirinya bukannya menikmati apa yang kekasihnya lakukan, namun malah menjadi mengomel layaknya wanita.
Sejujurnya ia takut, kalau ia sampai kebablasan, padahal pernikahan mereka masih 6 bulan lagi. Bahkan 2 minggu lagi ia malah akan kembali ke London dan kembali ke Indonesia seminggu sebelum hari pernikahan mereka.
Namun, omelannya sama sekali tidak digubris oleh Prisha. Kekasihnya itu malah mulai terlebih dahulu menyatukan wajah mereka dan dirinya mulai terbawa hasrat dan rayuan panas yang mulai menggelora, membuyarkan akal sehatnya.
Tiba-tiba Prisha menghentikan semuanya tanpa basa-basi dan beranjak berdiri dengan menarik selimut tipis dari ranjang untuk menutupi tubuh polos kekasihnya itu menuju ke kamar mandi.
Bibirnya yang masih basah dan merah karena ulah Prisha hanya mampu menganga dan menatap tingkah kekasihnya yang saat ini memberikan lirikan maut dan masuk menuju kamar mandi.
Setelah Prisha keluar dari kamar mandi dalam keadaan wangi, ia bergantian menuju kamar mandi.
"Jadi gitu cara mainnya? Oke..let's play tonight baby..!" bisiknya kemudian menutup pintu kamar mandi.
................
Prisha
Ia masih merutuki tingkah bodohnya yang memang ia sengaja sebelum beranjak ke kamar mandi tadi.
Saat ini mereka berdua berdiri di depan sebuah toko brand papan atas yang memampangkan berbagai jenis pakaian dalam wanita.
Ia menelan salivanya dan berdiri memaku saat Genta langsung mengajaknya ke sini saat memasuki mall.
"Mas..kita ngapain ke sini?" tanyanya polos dengan tatapan memelas.
__ADS_1
"Ya beli kebutuhan kamu lah, setahu aku kalau di seserahan kan ada perlengkapan macam gini. Ambil sesuka kamu! Kebutuhan kamu, tapi juga untuk memanjakan kebutuhan aku nantinya!" jawab Genta santai sambil menarik tangannya untuk masuk ke toko yang desainnya lebih menonjolkan warna hitam.
Belanja pakaian dalam dengan brand ini bukanlah hal baru baginya, walaupun tidak semua yang ia miliki harus dari brand papan atas seperti ini. Baginya selama ini, kalau ada yang bagus dan lebih murah, kenapa tidak. Tapi, calon suaminya sudah menggandengnya ke sini. Dan masalahnya ini adalah hal baru baginya membeli hal seperti ini bersama seorang lelaki.
Tangannya sibuk memilih-milih model serta warna b ra dan panties yang sesuai seleranya. Setelah dirasa cukup mengambil beberapa potong, ia kembali mengapit lengan Genta untuk ke kasir.
Namun, kekasihnya itu justru tak beranjak dan malah menatap barang-barang yang masuk di tas belanjanya sambil mengernyitkan dahi.
"Udah itu aja?" tanya Genta sambil menatapnya kembali.
Itu aja? Ini kan sudah banyak? Emang mau beli berapa? Selusin? Tanyanya dalam hati.
"Ambil itu..! Yang hitam sama merah.." titah Genta kepadanya seraya menunjuk lingerie berbahan satin dilengkapi dengan kimono yang berada tepat di sampingnya.
Seketika matanya membulat dan menatap lekat wajah Genta.
"Kenapa? Kan aku udah bilang, kamu harus beli lebih dari lima, itu baru dua berarti masih harus tambah lagi. Kalau kamu nggak mau milih sendiri,yaudah aku aja yang pilihin. Ini kan ukuranmu? Aku mah jago kalau masalah ukuran." imbuh Genta sembari mengambil lingerie itu dengan santai.
Ia langsung ingat perkataan Genta,
"Beli lebih dari lima dan aku suka warna merah.."
Seketika membuatnya bulunya meremang.
Setelah menuruti semua permintaan Genta,mereka akhirnya jalan ke kasir. Namun, tak disangka petaka kembali menghampirinya saat kekasihnya melihat satu lingerie limited edition dengan bahan yang lebih menerawang.
"Mas..ihh..itu buat apa?" desisnya yang membuat suaminya mengulum senyum. Otaknya saat ini tidak bisa berpikir, buat apa baju berbahan seperti itu yang jelas tidak bisa menutupi apapun di tubuhnya.
Penjaga toko itu ikut tersenyum malu sambil menatap mereka berdua.
"Istri saya emang gayanya masih malu-malu mbak.." ucap Genta yang membuat wajahnya memerah.
Akhirnya ia lebih memilih mempercepat transaksinya di kasir, daripada calon suaminya itu semakin menjadi-jadi dan membuat kepalanya pening.
"Sampai hotel, pilih salah satu buat nanti malam ya. We'll play tonight..!"
Bisikan Genta membuatnya meremang dan kembali merutuki kebodohannya sore tadi.
................
Anjas
Malam ini ia diajak makan oleh sahabatnya yang sedang singgah di Jakarta, siapa lagi kalau bukan calon pengantin Genta dan Prisha.
__ADS_1
Ia berdehem pelan,
"Waduww, perlengkapannya mateng banget nih ya. Buat malam pertama atau malam ini nih?" godanya sambil melirik paper bag berwarna pink dari brand ternama yang sangat ia kenal.
Bagaimana tidak, dirinya lebih berpengalaman dalam hal wanita daripada sahabatnya yang bernama Genta yang selalu menolak mentah-mentah untuk sesuatu yang didambakan kaum adam, apalagi secara cuma-cuma.
Genta pun tergelak, sedangkan Prisha hanya tersipu malu. Ia sangat tahu, sahabatnya pasti sudah melancarkan beberapa aksi. Selama ini alasan apalagi kalau bukan karena Prisha, sampai seorang Genta tidak menerima ajakan perempuan-perempuan di sekelilingnya yang rela menggoda iman sahabatnya itu.
"Gimana residen di sini? Enak?" tanya Genta sambil menyantap satu potong sushi.
Bibirnya pun mencebik,
"Enak nggak enak ya dinikmati saja, kan udah menikmati masa-masa berdarah jaman koas. Di sana digaji kan ya jadi residen?"
"Ya dibayar sih, tapi ya kecil. Ya lumayan lah buat bayar listrik." jawab Genta sambil terkekeh.
Saat ini ia sama-sama mengambil spesialis bedah hanya saja ia mendapatkan beasiswa di kampus negeri di Depok.
"Lagi belajar laparoskopi aku, udah sering kamu?" tanyanya sambil menatap Genta.
Genta menganggukkan kepala,
"Udah berkali-kali kalau itu, 2x aku malah sempat jadi asisten pertama. Itu pun gara-gara residen seniornya dikirim ke rumah sakit lain. Padahal di kampusku itu kan emang terkenal sama surgery nya kan, jadi kalau udah residen senior pada dikirim ke rumah sakit lain yang lebih besar atau malah yang lebih kecil."
Sekarang giliran dirinya yang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Terus ini nanti habis nikah, Prisha ikut ke London?"
"Iya dong, gunanya aku nikahin cepet biar aku bisa bawa ke sana. Nggak enak jauh-jauhan, ketemu setahun sekali bahkan lebih."
Dia langsung tergelak mendengarkan curahan hati Genta,
"Nggak enak lah, nggak bisa sentuh menyentuh. Tapi sekali bisa menyentuh bisa bahaya lho, bisa nggak kenal rem."
"Halah..berasa situ bisa ngerem? Dekat aja ya mbok sosor terus..!" cibir Genta kepadanya yang membuat Prisha terkekeh.
"Putus lho aku Ta, lagi jomblo aku." sahutnya cepat.
Bibir Genta langsung mencebik,
"Jomblo atau tidak kan nggak berlaku buat kamu, orang cewek ngalir terus. Mau cewek mana lagi yang jadi korban?"
"Nggak lah, aku udah tobat. Lagi ngejar cewek, anak koas satu rumah sakit sama aku. Tapi yang ini beda, susah buat digapai. Tapi, kalau sampai aku berhasil bawa dia pas nikahanmu, berarti aku berhasil." jelasnya yang membuat Genta terdiam menatapnya.
__ADS_1
"Oke, mari kita lihat..!" sahut Genta sambil menunjuknya.
......................