A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Bapak Yang Sangat Luar Biasa


__ADS_3

Yogyakarta


Prisha


"Makan dulu yukk, kamu daritadi belum makan." ia mengajak suaminya makan malam, setelah keluarga yang lain sudah selesai makan.


Namun Genta seakan enggan untuk beranjak dari kursinya dan malah mendongak menatap wajahnya dengan tatapan sendu.


Tangannya langsung ia rentangkan dan memeluk suaminya, mengelus punggung tegap suaminya yang sekarang terlihat rapuh.


Hatinya sangat mengerti suaminya, walaupun Genta selalu bilang kalau semuanya akan baik-baik saja. Tapi sejujurnya ia mengerti, itulah cara Genta menenangkan semua anggota keluarganya, kecuali ayahnya dan juga Om Ardhana yang pastinya tahu bagaimana keadaan bapak saat ini.


Baru setengah menikmati makan malamnya, Genta mendapatkan panggilan dari rumah sakit.


"Iya, baik saya ke sana sekarang, 5 menit lagi saya sampai."


"Bapak siuman, kamu mau habisin makanan dulu?" Genta menatapnya yang sedang memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Kepalanya langsung menggeleng cepat,


"Udah nggak apa-apa, nanti makan lagi." timpalnya sembari beranjak dari kursinya.


Genta


Pagi itu suasana sudah terlihat kembali ramai di kamar inap bapaknya. Setelah siuman dan kondisi membaik, bapaknya sudah dipindahkan di kamar inap.


"Kamu yakin nggak bakal bawa ke jalur hukum? Ini termasuk tindakan kriminal lho.." Om Ardhana kembali membahas kejadian saat itu.


Bapaknya menggelengkan kepala dan tersenyum,

__ADS_1


"Uwes lah mas (Sudah lah mas).. Kalau sampai dibawa ke hukum, nanti malah jadi punya musuh kitanya. Biarin aja.."


"Tapi dia berani main senjata tajam lho Ya' di area kantor kamu.." giliran ayah mertuanya yang angkat bicara sekarang.


"Ya bener, tapi kalau sampai aku bawa ke jalur hukum, aku malasnya setelah orang itu keluar dari penjara malah bakal dendam sama aku. Ngerti maksud aku?"


"Aku mencoba berpikir jauh ke depan, ada keluarga yang harus aku lindungi. Aku masih punya istri, anak, sama cucu yang harus aku pikirkan." jelas ayahnya yang langsung membuatnya tersenyum.


Om Ardhana tampak berdecak kesal,


"Sebaik itu kamu dari dulu Ya'.."


Bapaknya kembali tersenyum,


"Sudahlah, sekarang yang penting aku selamat kan? Masih bisa ngobrol sama kalian lagi, udah itu yang penting !"


"Itu kan sebenernya masalah rumah tangga mereka, kalau istrinya mau maju ke jalur hukum atas percobaan pembunuhan atau penganiayaan ya terserah, itu urusan mereka. Yang penting bukan aku yang melaporkan."


Ibunya menghela napas panjang,


"Yasudah kalau gitu, kalau itu mau kamu. Makanya lain kali, nggak usah sok jadi super hero ! Aku masih pengin tidur peluk-pelukan sama kamu ! Malah gaya-gayaan nolong orang, mana yang satu bawa senjata." gerutu ibunya dengan wajah yang sangat kesal.


Ucapan ibunya tak hanya membuat bapaknya terkekeh, tapi seluruh orang di ruangan itu tertawa.


"Ibu itu datang ke kantor, niat bawa makan siang buat bapak. Eh baru datang, bapak malah diangkut ambulans. Kasihan lho pak, ibu nangis-nangis." timpalnya sambil melirik ke arah bapaknya yang masih terkekeh pelan sambil sedikit meringis.


"Ya nangis lah, pikiranku udah jelek aja. Seumur-umur, aku belum pernah lihat bapak kamu sakit parah. Ibu kan belum siap jadi janda..!" sahut ibunya dengan wajah masih cemberut dan mata berkaca-kaca.


"Husshh..aku lho masih di sini, masih bugar! Uluh..uluuh..kasihan eyang cantik satu ini, sini peluk dulu sini..! Maaf ya.." bapaknya langsung merentangkan tangan dan membawa ibunya ke dalam pelukan bapaknya.

__ADS_1


"Malah kekep-kekepan (peluk-pelukan)..! Bojoku ndi iki ?! (Istriku mana ini?!)" ayah mertuanya melirik sinis ke arah sepasang eyang yang masih tampak romantis itu.


"Udah..udah..istirahat dulu, jangan kebanyakan ketawa sama peluk-pelukan terus! Ini jahitannya masih basah..! Nggak usah bikin kerjaan Genta lagi deh pak, baru juga hampir setahun praktek di sini, udah dikasih soal ujian." sekarang dirinya pun tak kalah sewot dengan yang lain.


Bapaknya malah kembali terkekeh dan menatapnya,


"Ya secara nggak langsung bapak kan pengin tahu kinerjamu secara langsung. Akan bapak kenang selamanya, ini hasil karya kamu." ucap bapaknya sambil menunjuk jahitan yang ada di perut dan dadanya, karena memang setelah operasi di bagian dada, dirinya lah yang bertugas menutup sayatan itu.


................


Genta


Setelah lebih dari 24jam ia berada di rumah sakit, akhirnya ia pulang ke rumah. Sedangkan Naras dan Adipati yang mendapat giliran mejaga bapaknya. Ibunya pun ia suruh pulang, karena takut dengan kesehatan ibunya.


"Bisma udah bobok?" tanyanya saat melihat istrinya ikut masuk ke dalam kamar mandi untuk bergosok gigi.


"Udah. Besok aku nggak ikut ke rumah sakit dulu ya mas. Gantian mama yang mau jenguk bapak."


"Iya, kamu di rumah sama Bisma." jawabnya sambil merangkul pinggang Prisha.


"Tapi sorenya aku mau temanin Naras sama Adipati fitting baju. Soalnya ibu ke rumah sakit."


"Iya sayangku, kakak ipar yang pengertian. Makin sayang deh.." gumamnya lalu mengecup bahu istrinya yang tengah melirik ke arahnya.


"Ada yang kangen lho ini.." rayunya dengan posisi yang telah memeluk istrinya dari belakang dan menenggelamkan wajah di lekuk leher istrinya, sedangkan Prisha masih tampak sibuk menggosok gigi.


"Mas iihh...sebentar dong..!" protes Prisha saat tangannya mulai menari dengan lincahnya.


Namun, aksi protes Prisha tak akan pernah menjadi sesuatu yang berarti, karena dalam keadaan seperti ini, mutlak dirinya lah yang berkuasa penuh akan keadaan yang akan terjadi.

__ADS_1


"I love you baby.." ucapnya di sela-sela kegiatan bahagia yang sangat menguras tenaga.


......................


__ADS_2