
Uluwatu, Bali
Rendra
Matanya saling beradu pandang dengan seseorang yang saat ini berdiri tepat di belakang Arya.
Bertemu dengan orang itu berarti membuka lukanya kembali, memaksanya mengingat tentang bagian tersulit dalam hidupnya yaitu saat kehilangan Ayu.
Ia menghela napasnya sebelum memutuskan menarik bibirnya untuk melempar senyum.
"Bagas?!" Arya lebih dulu memilih menyapa mantan kekasih dari mendiang istri pertamanya itu.
Bagas berjalan mendekat ke arah mereka sambil tersenyum,
"Halo, apa kabar kalian?"
"Baik..baik..lagi di Bali atau emang stay di Bali sekarang?" lagi-lagi Arya mencoba mencairkan kecanggungan antara dirinya dan juga Bagas.
"Nggak, lagi ada acara di sini aja. Kalian? Ohh iya, kamu emang tinggal di Bali kok ya?" pertanyaan itu lebih ditujukan ke Arya, sehingga ia lebih memilih diam.
"Nggak, aku udah balik ke Yogya, udah lama dari anak pertamaku lulus SMA. Ini besok aku lagi ada resepsi anakku yang bungsu di sini."
Dirinya lebih memilih diam, namun memasang wajah tersenyum, walaupun saat ini pikiran dan hatinya kembali ke Ayu.
"Rendra sekarang jadi besanku lho Gas, anakku yang pertama, Genta nikah sama anaknya Rendra, si Prisha." cerita Arya lagi.
"Oh ya? Waahh..bagus..bagus..! Oh iya, ini kenalin anakku satu-satunya.."
"Aurel salim dulu sama Om Arya, ini Om Rendra.."
Anak yang manis dan sopan, batinnya.
"Ma..mama..sini aku kenalin sama teman aku..!" Bagas memanggil istrinya dan memperkenalkannya pada mereka.
Wanita yang mirip seperti Ayu dari penampilan dan gestur tubuh.
Hatinya tiba-tiba terasa sakit, bahkan sangat sakit kembali. Kenyataan yang sudah ia coba simpan rapat-rapat setelah kehadiran Asa dalam hidupnya.
Tiba-tiba pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya tidak boleh ia pikirkan pun tersirat.
Apakah ini adil?
Apakah seorang pria yang telah berkhianat hingga merusak mental kekasihnya, pantas untuk bahagia?
Kenapa pria ini bahagia dengan keluarganya, sedangkan dirinya malah kehilangan orang yang dicintainya?
__ADS_1
Apakah memang aku yang salah atas semua ini, sampai membuat Prisha kehilangan mamanya?
Ia kembali duduk di kursinya setelah kepergian Bagas, matanya masih menerawang dan saat ini sudah tampak berembun.
Arya
Dirinya sangat mengerti ini bukanlah hal mudah bagi seorang Rendra. Sahabatnya, Ayu memiliki luka mental setelah kejadian perselingkuhan Bagas.
Pria itu memang sumber pertama dari masalah yang ada di dalam diri Ayu, hingga mempengaruhi kehidupan rumah tangga Rendra saat itu.
"Ada apa yang?" suara istrinya tiba-tiba membuyarkan tatapannya ke Rendra yang masih terdiam.
"Ada Bagas di sini, barusan kita ngobrol." bisiknya ke telinga istrinya yang tampak langsung membulatkan matanya.
Clara langsung mengedarkan pandangan menyapu seluruh tempat itu.
"Udah pergi dianya." gumamnya pelan.
Asa tampak bingung menatapnya dan juga Rendra,
"Ada apa sih mas?" tanya Asa kepadanya.
"Ada Bagas.." bisik Clara ke telinga Asa.
"Siapa itu?"
"Mantannya Ayu yang selingkuh sebelum nikah itu." tiba-tiba Rendra menjawab pertanyaan Asa yang sebenarnya sangat pelan itu.
"Udah lah, kalian nggak usah bisik-bisik gitu. Aku nggak apa-apa, cuma kaget aja tiba-tiba ketemua sama Bagas di sini." jelas Rendra ssmbil menatap mereka bertiga.
"Sini duduk.." Rendra menyuruh Asa duduk di sebelah kursi Rendra yang masih kosong.
Sahabatnya itu menghela napas,
"Ya bukannya aku gimana-gimana, maaf juga yang ..bukan maksud aku ingat masa lalu. Tapi, lihat Bagas tiba-tiba aku langsung kepikiran yang pernah terjadi."
Asa
Dirinya sangat paham dengan apa yang dirasakan suaminya saat ini, sama sekali tidak ada niat sedikit pun menyalahkan Rendra saat ini.
Ia menggenggam tangan Rendra dengan erat dan melempar senyum terbaiknya.
"Iya,aku ngerti..tenang..yang penting kamu jangan terbawa suasana terlalu larut, jadi seperti dulu.." ucapnya tenang.
Suaminya pun malah tersenyum lebar,
__ADS_1
"Nggak lah, itu semua masa lalu, sudah terjadi hampir 20 tahun yang lalu. Aku juga nggak benci sama Bagas, semua sekarang sudah hidup bahagia. Dan aku yakin, Ayu juga sudah bahagia di sana. Semua sudah jalan Tuhan."
"Nggak perlu saling menyalahkan lagi, kita sudah berumur gini. Iya kan?" timpal Arya dengan gaya tenangnya.
Rendra pun tampak menganggukkan kepala,
"Kalau ceritanya nggak gini, nggak akan ada kamu saat ini. Nggak akan ada Nendra."
"Dan belum tentu juga kita besanan, soalnya belum tentu Prisha sama Genta." sahut Clara membuat semuanya terkekeh.
"Dan nggak akan ada Bisma dong.." cetusnya sambil tergelak.
"Makanya, masa lalu itu tidak perlu dilupakan. Tapi memaafkan, itu saja sudah cukup." ucapnya lagi sambil menatap lekat suaminya.
................
Clara
Saat ini semua keluarga sudah kumpul di kamar hotelnya yang sangat besar.
"Tuhh kan, masih ada yang kelihatan. Apa aku bilang?!" gerutu putrinya saat mencoba gaun di dalam kamarnya.
"Apa sih dek? Ribut aja daritadi ! Apanya yang kelihatan?" selidik Genta sambil menatap Prisha yang ada di depan kaca.
Seketika Genta tergelak saat Naras membalikkan tubuh dan menatap putranya itu dengan wajah ditekuk.
"Husshh..kamu itu malah ketawa!" tegurnya namun sambil mengulum senyum.
Adipati terlihat hanya menggaruk tengkuk dan menahan tawa.
"Nggak kelihatan yang, kalau jauh gini. Lagian juga cuma kecil, satu aja."
Putrinya langsung melirik tajam ke arah menantunya itu.
"Lain kali gini lagi, nggak usah dapat jatah!" salak putrinya dengan tatapan tajam.
Namun dirinya, Genta, dan juga Adipati malah mencibir ke arah Naras.
"Paling juga situ yang kelimpungan..!" sahut putranya enteng.
"Udah..udah..kalian ini..! Udah, gampang itu bisa ditutupin. Lagian gitu aja, kamu ributnya udah macem merah-merah sebadan." akhirnya ia pun menengahi.
"Ibu aja yang nggak tahu.." gerutu putrinya lagi, kali ini dengan suara pelan namun masih sangat terdengar jelas.
......................
__ADS_1