A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Bye Bali ! Bye Love !


__ADS_3

Renon , Denpasar


Genta


Tangannya menenteng gadget berukuran 10inch berwarna silver, dengan kaki melangkah menghampiri bapak dan ibunya yang sedang bersantai di ruang tengah.


"Naras mana bu?" tanyanya ke ibunya sembari merebahkan dirinya di sofa.


"Mandi, tadi habis berenang. Gimana udah pengumuman belum?" Ibunya yang terlihat semakin cantik di usia 40 tahun itu bergantian bertanya kepadanya.


Dirinya pun menggeleng,


"Harusnya sih udah, tapi aku belum lihat. Bukain dong bu." pintanya sambil menyodorkan gadget nya.


"Sini, bapak aja yang bukain." ucap bapaknya seraya mengambil gadget dari tangannya.


Dengan gerakan cepat, bapaknya berhasil membuka halaman pengumuman itu. Tak disangka bapaknya sangat mengingat nomor pesertanya.


Hatinya semakin tak menentu, karena sejujurnya dirinya takut gagal untuk ujian ini. Kemarin memang ia sengaja tidak mengikuti jalur undangan, karena dirinya sadar, nilai rapornya bukanlah nilai tertinggi di sekolahnya, sedangkan jurusan yang ia pilih adalah jurusan yang diminati banyak orang.


Kepalanya yang tadinya menunduk, perlahan mulai ia angkat dan sedikit menatap bapaknya yang tak kunjung membuka suara.


Ia melihat ada guratan masam di wajah bapaknya, seketika membuatnya kembali menunduk dan tubuhnya lemas.


"Ini ada apa sih?" tanya adiknya yang tiba-tiba muncul dan berdiri di belakang sofa tepat di belakang bapaknya.


"Waaahh...pengumuman ya?" ucap Naras yang masih berusia 11 tahun tapi kedewasaannya melebihi umur yang seharusnya.


Bapaknya masih tak kunjung membuka suara dan malah menoleh ke arah Naras sambil berdecak, lalu menaruh gadget nya di sofa.


"Yaudah nggak apa-apa, kita semua siap-siap pindah ke Yogya. Kamu juga siap-siap SMP pindah ke Yogya." ucap bapaknya sambil menepukkan kedua telapak tangan yang sontak membuat kepalanya mendongak menatap kedua orangtuanya.


"Maksudnya?" tanyanya bingung.


"Ya udah, kita pindah semua. Kan ibu minta pindah ke Yogya juga kalau kamu keterima. Jadi kita semua siap-siap mulai sekarang buat pindahan."


"Naras kan juga SD nya udah selesai, jadi pas kan?" ucap bapaknya kali ini sambil tersenyum lebar.


Namun, dirinya masih bingung dengan pernyataan bapaknya yang masih ambigu itu.


"Bapak maksudnya gimana sih? Ini aku keterima apa nggak?" tanyanya meminta kejelasan ke bapaknya yang masih terlihat ganteng, hanya rambutnya sudah tidak gondrong lagi.


"Genta..Genta..kamu ini gimana sih? Katanya mau jadi dokter, masa' kalimat seperti itu tadi nggak tahu. Kasih tahu tuh bu anakmu."ucap bapaknya seraya menepuk paha ibunya.


"Kamu keterima mas, ini lihat sendiri. Selamat ya mas.." ucap ibunya lembut sembari tersenyum.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat ia menyambar gadget nya, matanya membelalak melihat namanya lulus dari seleksi itu.


Adiknya pun langsung mengambil duduk di sebelahnya dan ikut melihat layar itu.


"Wuaaaa..! Yess..Yess..Yess..! Puji Tuhan, terimakasih Tuhan Yesus..!" teriaknya sambil mendekap dan mengguling-gulingkan tubuh mungil adiknya ke dalam pelukannya di atas sofa.


"Iiihhh maaasss..! Udah ahh, lepasin nggak?" teriak Naras sambil mendorong wajahnya yang sudah berulang kali mengecupi pipi adiknya itu.


Bapak ibunya pun tergelak melihat tingkahnya kali ini,


"Selamat ya mas..! Yaudah hari ini kita makan siang di luar, terserah mau kemana?!" ucap bapaknya yang langsung membuat Naras tersenyum lebar.


"Biar Naras aja yang pilih, aku ngikut aja. Aku udah bahagia dapat hadiah ini tadi." jawabnya seraya menunjuk gadget nya.


"Halah, kalau lagi happy aja baru ingat adiknya.." cibir Naras ke arahnya yang membuatnya memanyunkan bibirnya.


..........


Genta


Hari wisuda kelulusan sekolah adiknya pun telah berlalu. Besok mereka semua sudah harus meninggalkan Bali, karena masih harus mengurus sekolah untuk adiknya di Yogya.


Adelia ❤


Jari-jarinya pun membalas pesan itu,


Iya..sorean aja. See u,


Ruang tengahnya sudah penuh beberapa koper dan kardus yang akan dimasukkan ke mobil box, yang akan mengantar barang-barang mereka terlebih dahulu ke Yogya.


Barang-barang yang dipindahkan tidak terlalu banyak, karena hanya baju-baju, sepatu, buku, dan beberapa perlengkapan lainnya. Karena, bapak ibunya memutuskan untuk tidak menjual rumah itu, jadi sewaktu-waktu mereka ke sana masih ada bisa dipakai. Paling hanya disewakan semacam villa.


Setelah selesai memasukkan semua barang itu ke dalam mobil box, ia merebahkan dirinya ke sofa ruang tengah bersama bapaknya.


"Mas Genta...ada yang datang ini lho..!" teriak ibunya dari pintu depan rumahnya.


"Ehh..Adel..sini sini..duduk..!" sambut bapaknya ke mantan pacarnya itu.


"Sore om, habis ngurusin barang-barang ya om?" sapa Adel sembari bersalaman dan mencium tangan bapaknya.


Kemudian perempuan berambut panjang itu mengambil duduk tepat di sebelahnya yang masih menyandarkan punggungnya di bantal sofa yang berukuran besar.


"Iya, biar berangkat dulu barangnya, orangnya belakangan. Kamu katanya berangkat lusa?" ucap bapaknya sambil terkekeh. Adel memang sudah akrab dengan keluarganya, karena hubungan mereka juga sudah terbilang cukup lama.


"Iya om, tapi stay di Sydney dulu dua minggu. Papa ada tugas di sana."

__ADS_1


Papanya Adel bekerja di KBRI yang bertugas di Canberra, makanya Adel pun sengaja mengambil kuliah di sana agar dekat dengan orangtuanya.


"Oh iya? Wahh, om jadi kangen sama Sydney. Terakhir ke sana Genta masih umur 7 tahun kelihatannya. Yaudah, om mau ke kamar dulu ya."


Akhirnya bapaknya pun pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tengah.


"Kamu mau minum apa?" tanyanya sambil menatap wajah perempuan itu.


"Apa aja, terserah."


Dirinya pun membawa dua gelas minuman dingin untuknya dan juga mantan pacarnya itu.


"Selamat ya..ciieee.. yang anak kedokteran.." ucap Adel sembari menunjuk pipinya dengan jari telunjuk gadis itu yang membuatnya tergelak.


"Apaan sih? Ya kan baru jadi anak kedokteran, belum jadi dokter. Perjalanan masih panjang.." balasnya sambil terkekeh.


"Ya kan awal dari sebuah perjuangan. Oh iya ta, ini buat kamu. Aku kan nggak tahu kapan kita ketemu lagi. Anggap aja ini early birthday gift (kado ulang tahun yang terlalu awal). Semoga kita masih tetap jadi teman ya ta dan masih bisa keep contact (menjaga komunikasi)." ucap Adel sambil tersenyum manis ke arahnya.


Memang seminggu lagi adalah hari ulang tahunnya, namun ia tak menyangka Adel masih memikirkan kado untuk dirinya.


Sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, perempuan ini masih sangat ia sayangi. Bagaimanapun gadis itu termasuk gadis baik-baik yang selalu memberikan support dirinya untuk meraih mimpinya.


"Makasih ya..aku buka nanti apa sekarang?" tanyanya sambil mengulum senyum dan melirik ke arah mantannya itu.


"Terserah kamu, semoga kamu suka."


"Oke, berarti sekarang kalau gitu." Jari-jarinya langsung membuka pita berwarna silver yang ada di kotak warna hitam itu.


Matanya menangkap jam tangan dengan brand favoritnya, kemudian ia kembali menatap mata gadis itu sambil tersenyum.


"Aku suka..makasih ya." Entah dorongan apa yang membuatnya mengecup bibir gadis yang telah menjadi mantan pacarnya itu.


"Sorry.." ucapnya lembut seraya mengelus pipi gadis itu yang tampak merona.


"It's okay.. I still love you.." ucap Adel lembut dan tersenyum.


Bibir mereka kembali menyatu dengan lembut, itu mungkin akan menjadi ciuman terakhir mereka.


"Udah ya, nggak enak kalau dilihat orang." ucap Adel lembut seraya mengelus pipinya dan mengakhiri ciuman itu.


Tangannya langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


"Baik-baik ya di sana. Jaga diri kamu, raih mimpi kamu. Aku cuma berharap kamu selalu bahagia. I love u, Adelia. Terimakasih sudah ada di dalam hidupku." gumamnya pelan sembari mengelus rambut panjang itu.


......................

__ADS_1


__ADS_2