
Battersea, London
Prisha
Ia keluar kamar mandi dengan langkah gontai, entah kenapa sejak tadi malam ia merasakan mual dan sakit kepala.
"Kamu kenapa?" suaminya menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
Kakinya menuju ranjang, kemudian merebahkan kembali tubuhnya dengan posisi tengkurap, tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
"Hei, kamu kenapa?" Genta mendekat ke arahnya dengan wajah panik.
Matanya menatap sayu wajah suaminya,
"Daritadi malam aku mual mas, pusing kepalaku.."
Tangan Genta refleks menyentuh keningnya dan membuka bagian bawah matanya.
"Nggak demam tapi. Perutnya sakit nggak?"
Kepalanya pun menggeleng dengan posisi masih tengkurap.
Deg..
Tiba-tiba hatinya merasakan hal yang tidak enak. Sebulan yang lalu saat berhubungan, suaminya lupa memakai pengaman.
"Haduuhhh...gimana ini?" gumamnya dalam hati sambil membenamkan wajahnya dalam-dalam ke ranjang.
"Kamu kenapa sih?" selidik suaminya saat melihat tingkah anehnya.
"Mas, aku juga nggak tahu kenapa? Tapi aku takut aja..kalau..." suaranya terhenti, ia ragu untuk mengungkapkan pemikirannya.
"Kalau apa?" wajah Genta tiba-tiba berada tepat di depan wajahnya dan sangat dekat. Suaminya itu sudah menyunggingkan senyum yang sangat sulit diartikan, kemudian mengecup keningnya.
"Kalau hamil? Nggak akan sayang, ini bukan hamil..." Entah kenapa Genta sangat percaya diri mengatakan bahwa tidak akan hamil, hal itu langsung membuatnya mendelik tajam ke arah suaminya yang terlihat santai.
"Seyakin itu mas? Ya kan lagian pas itu mas juga nggak pakai kan ?"
Genta
Daripada berdebat dengan istrinya, ia lebih memilih memerika istrinya saat ini juga.
"Ayo berbaring..!" namun istrinya malah mengerutkan kening sambil menatapnya.
"Berbaring sayang..." pintanya lagi dengan mesra.
__ADS_1
Akhirnya wanita cantik yang sangat ia sayangi itu menuruti perintahnya. Tangannya menekan pelan bagian ulu hati.
"Sakit nggak?" tanyanya sambil menatap istrinya yang hanya terlihat pasrah. Istrinya pun mengangguk pelan.
Lalu tangannya beralih menekan pelan di semua sisi perut, kecuali bagian bawah.
"Sakit nggak?" Prisha menggelengkan kepalanya.
Tangannya meraba dan sedikit menekannya dengan gerakan sangat pelan dan tidak dalam di bagian bawah dan ia merasakan sama sekali tidak keras.
"Nyeri nggak?" kali ini akan menjadi penentu dari semua pertanyaan yang ada di kepala, istrinya pun menggelengkan kepala dengan sangat yakin.
"Yakin? Nggak nyeri atau kram di sini?" tanyanya lagi untuk memastikan.
"Nggak mas, sama sekali nggak kerasa apa-apa." bibirnya langsung tersenyum tipis.
Dengan gerakan cepat ia mengecup bibir istrinya, namun secara sengaja ia membawa penyatuan wajah mereka ke permainan lebih dalam.
Tangannya bergerak ke bagian titil sensitif bagian atas dari Prisha, setelah melihat respon istrinya yang malah melenguh dan mendesah, ia langsung menyudahi semuanya dengan pelan.
"Enak apa sakit?" tanyanya sambil mengelus pipi istrinya yang terlihat merah.
"Enak kan, nggak sakit." ucapnya sambil menglum senyum.
"Udah kamu tidur aja, istirahat. Nggak usah masak, nggak usah ngapa-ngapain. Tiduran main sama Bisma aja. Nanti aku kirim makanan buat makan siang, kalau malam aku belum pulang ya aku kirim makan malam lagi."
"Terus intinya pemeriksaan hari ini tadi apa pak dokter?" ketus Prisha yang membuatnya tergelak.
"Kamu nggak hamil sayang, kamu kena asam lambung. Tadi malam minum kopi kan setelah sekian lama nggak minum kopi? Lain kali nggak usah coba-coba ngopi pas perut masih kosong." jelasnya tenang yang malah membuat istrinya tercengang.
"Gitu? Terus ini tadi pemeriksaan macam apa? Pakai acara cium sama remas-meremas? Kamu periksa pasien-pasien pakai cara gitu?" protes Prisha dengan memasang wajah masam.
Bibirnya langsung mengatup dan menahan tawa,
"Itu juga bagian dari cara diagnosis kalau nggak ada usg dan jadwal mens yang nggak jelas. Kalau dokter di rumah sakit kan cuma tanya apa yang dirasakan. Kalau aku beda, langsung memberikan sesuatu untuk dirasakan, lihat responnya, dan tanya untuk memastikan."
"Dan itu khusus dilakukan untuk dokter yang sedang praktek pribadi di kamar pribadi bersama istri." bisiknya ditelinga istrinya.
Prisha langsung memukul lengannya dan tertawa,
"Dasar dokter me sum..!"
"Atau mau aku tambah lagi cara diagnosis lain, di bagian sini.." godanya dengan jari yang sudah menelusup masuk di titik pusat tubuh Prisha.
"Mas...ihh..! Udah berangkat sana! Makin lama makin ada-ada aja.." salak istrinya sambil mendorong tubuhnya pelan dan menepis tangannya.
__ADS_1
Jujur ia tak bisa menahan tawanya saat ini, bibirnya langsung tersenyum dan meledakkan tawa yang cukup keras, bahkan membuat Bisma terbangun.
"Mas iihh..! Bangun kan..! Kerja nggak?!" Prisha langsung mengajukan aksi protes sambil memelototkan mata ke arahnya.
"Oke..oke..ibu cantik.."
"Bapak kerja dulu ya sayang, jadi anak baik ya ibu lagi sakit. Sakit ya sayang bukan hamil, besok kalau kamu udah dua tahun, bapak buatin adik lagi." gumamnya ke bayi yang semakin montok dan terkekeh-kekeh melihat wajahnya.
Ia beralih mengecup kening dan bibir istrinya,
"Ingat nggak usah masak, jangan minum kopi, teh, sama yang asam-asam dulu. Jangan maakam pedas sama yang banyak minyaknya. Makannya dikit-dikit aja tapi sering. Minum obat asam lambung yang udah aku siapin di kotal obat. Nanti aku kirim makanan."
"Iya bawel...! Untung sayang.."
................
Chelsea , London
Genta
Sudah dua hari ini ia mendapatkan pasien dengan keadaan sangat parah. Yang pertama adalah korban pemerkosaan dan penganiayaan. Yang kedua adalah korban kecelakaan dengan trauma di kepala yang sangat parah. Dari kedua pasiennya itu sama-sama tidak memiliki keluarga di London.
Matanya menatap iba pasien pertamanya dari bilik kaca ruang perawatan intensif. Seorang gadis berusia 19 tahun, korban penganiayaan dan pemerkosaan, menjalani masa-masa berat tampa kehadiran keluarga.
"Nggak ada satu pun keluarga yang bisa dihubungi?" suara perempuan yang merupakan residen juniornya yang juga sama-sama berasal dari Indonesia memecah lamunannya.
Ia beralih melirik, lalu menatap Clarissa yang tepat berada di sebelahnya, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kemarin polisi juga sudah ke apartemen sama ke kampusnya, mencoba mencari informasi, tapi nihil. Kelihatannya dia memang yatim piatu, pindah dari Filipina ke London, kuliah dan kerja di sini."
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong sambil mengobrol. Clarissa menyerahkan segelas kopi panas kepadanya yang diambil dari mesin kopi di lorong itu.
"Yang gue nggak habis pikir, itu cowoknya yang katanya udah pacaran tiga tahun kok bisa-bisanya merkosa dan menganiaya." geram Clarissa , lalu melirik ke arahnya.
Ia pun mengangkat bahunya,
"Ya everybody can change.." jawabnya sambil tersenyum tipis, tanpa menatap wajah Clarissa.
"Mas bukannya shift pagi? Kok sampai malam?"
"Bentar lagi pulang, tadi mau pulang tapi ada pasien baru yang kecelakaan tadi. Jauh dari keluarganya juga, tapi orangtuanya udah dihubungi, besok datang dari Dublin."
Tangan Clarissa menepuk-nepuk pelan dan mengelus pundaknya, seketika membuatnya menoleh ke arah Clarissa.
"Semangat ya..!" ucap perempuan itu sambil tersenyum.
__ADS_1
......................