
Battersea, London
Genta
drrttt...drrtt..drrttt..
drttt...drrrttt..drrttt..
Dengan mata yang masih setengah terpejam, tangannya meraba-raba nakas di sebelahnya.
"Bapak.." gumamnya pelan saat melihat nama yang ada di layar menelepon tengah malam seperti ini.
Ia turun dari ranjang dengan pelan agar tidak membangunkan Prisha, lalu berjalan mendekat ke arah kamar mandi.
"Halo pak, ada apa?" sapanya dengan suara sedikit serak.
"Halo mas, Prisha masih tidur?"
Kepalanya menengok ke belakang, melihat istrinya masih terlelap.
"Masih pak..ada apa? Bapak baik-baik saja?" selidiknya karena bapknya menelepon tengah malam waktu London dan dengan suara sedikit tercekat.
"Ayah Rendra kecelakaan.."
"Apa?!" ucapnya dengan suara sedikit meninggi, namun kemudian ia sadar, beruntung istrinya masih terlelap.
"Kecelakaan dimana? Terus bagaimana keadaan ayah sekarang?" tanyanya beruntutan dengan suara pelan.
"Ayah kecelakaan pas pulang seminar dari Semarang, tabrakan beruntun pas habis masuk tol. Ini bapak sama ibu nganterin mama Asa sama Nendra, kita udah di Semarang. Puji Tuhan nggak parah sih, cuma ada memar sedikit di dada sama tangannya retak. Ini Om Ardhana juga perjalanan ke sini." jelas bapaknya.
Ia menyisir rambutnya kasar dan memijat pangkal hidungnya.
"Minta di cek yang bagian memarnya pak. Jangan dibiarin aja. Kita kan nggak tahu gimana di dalamnya. Tapi ayah udah sadar?" tanyanya lagi sambil menghela napasnya.
"Sudah kok mas, sudah dicek semua sama dokter. Nggak ada masalah. Ayah dari awal masih sadar, cuma tangannya retak aja. Kita di sini minta tolong, jangan kasih tahu Prisha dulu. Percaya, di sini baik-baik aja. Cuma mama Asa sama ayah nggak jadi berangkat ke London. Paling cuma bapak sama ibu aja yang temanin Prisha lahiran."
"Iya pak, nggak apa-apa. Yang penting ayah membaik dulu aja." jawabnya penuh pengertian.
"Yasudah, nanti kalau ada apa-apa kita kabarin lagi ya."
Panggilan dari bapaknya pun berakhir. Ia memutar badannya untuk kembali ke ranjang. Namun ia terperanjat saat melihat istrinya sudah duduk dengan mata berkaca-kaca dan membekap mulut menahan tangis. Ia berdehem pelan, mencoba menetralisir kepanikannya.
"Sayang? Kamu kebangun? Maaf ya aku berisik ya?" tanyanya dengan nada sesantai mungkin.
__ADS_1
Prisha menatap lekat matanya,
"Mas? Ayah kenapa? Ayah kecelakaan? Kecelakaan di mana? Terus sekarang gimana?"
Napasnya seketika berhenti menatap Prisha sudah histeris dan berlinang air mata. Ia mencoba mengatur napasnya untuk menenangkan istrinya.
"Oke, aku akan jujur cerita sama kamu, tapi aku mohon jangan panik. Tenang ya, ingat kamu lagi hamil besar ini." ucapnya sambil mengelus punggung Prisha yang sudah tampak mengangguk.
Ia menghela napasnya kembali.
"Bapak tadi telepon, bilang ayah kecelakaan pas pulang habis seminar dari Semarang. Kecelakaan beruntun pas habis masuk tol. Bapak,ibu, sama mama udah di Semarang. Om Ardhana juga perjalanan ke sana. Ayah sadar dan nggak kenapa-kenapa. Cuma ada memar aja di dada, sama tangannya retak, tapi nggak parah. Jadi, besok lusa mama sama ayah nggak jadi ke sini, cuma bapak sama ibu aja." jelasnya panjang lebar tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Prisha menatap wajahnya dengan tatapan sendu. Tangannya mengusap air mata yang membasahi wajah istrinya itu.
"Ingat, kamu lagi hamil besar, sebentar lagi lahiran. Ayah nggak kenapa-kenapa, ayah tadi minta nggak ngasih tahu kamu karena biar kamu nggak panik. Ngerti?"
Prisha pun menganggukkan kepalanya.
"Tapi..." ucap istrinya, kemudian menggigit bibir bawah.
"Kamu mau telepon ayah? Nanti pagi aja ya? Nggak sekarang. Ayah pasti juga masih butuh istirahat. Nanti kita telepon ayah, tapi janji nggak boleh panik. Ayah pasti sedih kalau kamu panik."
Istrinya pun kembali menganggukkam kepalanya dan kembali menghambur ke pelukannya.
Prisha
Setelah selesai sarapan, Genta akhirnya menepati janji untuk menghubungi ayahnya. Namun, Genta memilih video call melalui bapak mertuanya.
"Halo pak..masih di rumah sakit?" tanya suaminya ke mertuanya, namun wajahnya belum muncul di layar.
Bapak Ararya tampak menganggukkan kepala,
"Iya, ini komplit semua di sini. Ini ayah nih.."
Matanya seketika berkaca-kaca saat melihat kondisi ayahnya. Tampak luka di bagian dahi dan tangan yang memakai gips.
"Udah baikan ayah?" tanya Genta ke ayahnya.
"Puji Tuhan, ayah nggak apa-apa kok Genta. Cuma retak aja, sama ada luka di dahi, sama memar di dada. Tapi udah dilihat, semua nggak masalah."
Penjelasan ayahnya seketika membuat tangisnya pecah,
"Nggak apa-apa gimana? Retak kok cuma..!"
__ADS_1
Teriakannya membuat ayahnya membulatkan mata dan beradu mata dengan dirinya yang sudah memenuhi layar handphone suaminya.
"Sayang..tadi janjinya apa?" tangan Genta mengelus punggungnya, mencoba menenangkan dirinya.
"Maaf, pas tadi malam bapak telepon ternyata Prisha kebangun. Aku nggak bisa bohongin Prisha."
Suaminya meminta maaf ke orangtua dan juga mertuanya. Ayahnya tampak menghela napas dan menatap mereka berdua.
"Iya nggak apa-apa. Mbak, ayah itu nggak apa-apa Keadaan seperti ini udah bersyukur banget dengan kejadian kecelakaan seperti itu." jelas ayahnya mencoba menenangkan dirinya.
Sekarang mamanya mengambil alih layar itu,
"Mbak, sekarang yang terpenting kehamilan kamu, kamu nggak boleh mikir yang lain-lain. Ayah nggak apa-apa, besok sudah bisa pulang. Ayah di sini ada banyak orang. Kamu di sana cuma ada Genta, jangan buat suami kamu stres juga. Ngerti?"
Ucapan mamanya membuatnya menganggukkan kepala, kemudian menyeka air matanya yang telah jatuh membasahi wajahnya.
"Maaf, besok lusa mama sama ayah nggak jadi ke sana. Ibu sama bapak aja ya yang ke sana ya. Nanti kalau ayah udah sembuh, baru berangkat ke sana. Tapi yang penting kamu sama bayi kamu harus sehat!" imbuh mamanya lagi.
"Iya ma, nggak apa-apa yang penting ayah sehat dulu. Aku mau lihat ayah lagi." pintanya dengan tatapan memohon. Akhirnya layar handphone itu memperlihatkan wajah tampan ayahnya yang sedang tersenyum.
"Cepet sembuh ya ayah, obatnya diminum, nurut apa kata dokter. Emang enak diomelin dokter?" ejeknya yang membuat ayahnya tergelak.
"Harus cepet sehat, katanya mau mandiin cucunya. Udah mau dipanggil Eyang Rendra lho. Iiissshhh..kok kelihatannya belum pantes gitu ya jadi eyang-eyang." gerutunya yang semakin membuat ayahnya terbahak.
"Eehh..kan kata bapak mertua kamu, kita ini Hot Eyang..! Umur boleh kepala 5, tapi jiwa masih kepala 3..! Iya sayang, ayah bakal nurut sama dokter, biar cepet sembuh. Maaf ya mbak, ayah sama mama nggak bisa temanin kamu lahiran, tapi doa ayah sama mama selalu buat kamu. Jangan banyak pikiran mbak, orang hamil harus bahagia."
Kata-kata ayahnya malah membuat wajahnya kembali sendu.
"Prisha kan jadi..pengin peluk ayah, Prisha kangen ayah." ucapnya sedikit tercekat dan terisak. Baginya ayahnya adalah segalanya baginya, ayah yang selalu sabar, selalu ada, dan selalu berjuang buat dirinya.
"Ehh...eehh..kann..kok nangis lagi..?! Udah sekarang peluknya sama Genta dulu aja, kan malah enak peluk-pelukan sama suami." seloroh ayahnya yang berhasil membuatnya tersenyum dan Genta tergelak.
"Ya udah kalau gitu, baik-baik ya semuanya di sana. Nanti kita kabar-kabar lagi. Cepat sehat ya ayah. Bye.." suaminya kembali mengambil alih sambil merangkul pinggangnya.
"Bye..ayah..bye semuanya.." pamitnya sambil tersenyum.
Suaminya menatap wajahnya dan mengelusnya sambil tersenyum.
"Tenang, yakin ayah itu nggak apa-apa. Sekarang yang penting kamu dan anak kita ini."
Dirinya pun mengangguk dan tersenyum membalas ucapan Genta.
"Habis ini kita ketemu ya nak..! Habis itu bapak mau melepas kangen sama ibu.." gumam Genta sambil mencium perutnya yang membuatnya terkekeh.
__ADS_1
......................