A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Surprise ! (2)


__ADS_3

Battersea , London


Genta


"Kamu siapa?" tanyanya ke seorang lelaki yang membukakan pintu apartemen orangtuanya.


Lelaki itu tampak tersenyum dan menundukkan kepala kepadanya.


"Halo mas, aku..." perkataan lelaki itu terpotong saat ada suara teriakan yang menyapa mereka dari dalam.


"Haloo bapak ganteng dan ibu cantik..." kepala Naras menyembul dari belakang punggung lelaki itu. Namun matanya menangkap tangan adiknya melingkar di pinggang lelaki yang entah siapa namanya.


Akhirnya mereka memilih masuk ke apartemen yang memiliki dua kamar itu.


"Mama..ayah..!" teriak istrinya yang berdiri di depannya dan langsung menghambur ke pelukan mertuanya.


Ayah mertuanya sudah terlihat sehat dan tanpa penyangga lagi di tangan, tapi masih memakai handstrap di bagian pergelangan.


"Tenang, ayah udah sembuh. Kemarin retaknya juga nggak parah. Ini pakai handstrap ya buat terapi aja." cerita ayah mertuanya sambil sedikit menggerak-gerakkan jari-jari.


"Untung kiri ya ayah, jadi masih bisa ini itu."


"Iya, tadi juga udah coba gendong Bisma kok, ya walaupun nggak bisa lama-lama dan pakai satu tangan."


Ayah mertuanya sangat terampil untuk masalah gendong menggendong bayi. Mulai dari bayi mungil hingga bayi bertubuh gempal.


"Hiisshh ayah..jangan macam-macam dulu deh. Udah bagus bisa sampai sini, jadi nggak usah gendong-gendong Bisma dulu. Dia udah mulai berat."


Siapa lagi yang mengajukan protes, kalau bukan istri tercintanya.


"Kamu lupa, ayahmu ini siapa? Bayi segitu udah menu tiap hari ayah.." jawab ayah Rendra sambil terkekeh.


Mereka mengobrol cukup lama, hingga ia melupakan ada kehadiran sesosok lelaki yang tadi menyambutnya di depan pintu.Bahkan orang itu sekarang ada di hadapannya dan tangan adiknya seakan tak mau lepas dari lengan lelaki itu.


"Namanya Adipati, dia pacarnya Naras." jelas bapaknya yang seakan tahu dengan apa yang ia pikirkan.


Keningnya langsung mengernyit,


"Sejak kapan Naras jalan dengan lelaki bernama Adipati? Bukannya kemarin mantannya Naras masih memohon-mohon untuk balikkan?" tanyanya dalam hati.


"Mas..! Itu lho diajak kenalan sama Adi, malah ngelamun.." bentakan adiknya membuyarkan lamunannya.


"Adi mas, salam kenal.." tangannya pun membalas uluran tangan kekasih adiknya yang sudah tersenyum padanya.


Untuk pertama kali,


Ya sopan lah, lumayan lah attitude nya.


Secara penampilan, oke lah.


Ia memang selalu menilai setiap lelaki yang mendekati adiknya.

__ADS_1


"Bentar..bentar..tapi kok aku nggak asing ya sama kamu. Tapi siapa ya?" gumamnya yang membuat Naras dan Adi terkekeh.


"Ya pernah lihat mungkin di sini.." timpal adiknya sambil mengulum senyum.


Di sini?


Maksudnya gimana sih?


"Saya PPI Oxford mas..s2 juga. Kita pernah ketemu pas ada acara di KBRI, cuma pas itu saya masih belum sama Naras."


Matanya seketika membulat,


"Seriusan? Ya Tuhan, pantas nggak asing. Kok bisa sih kalian saling kenal?" selidiknya sambil menatap adiknya dan juga Adi bergantian.


"Dia itu temannya mas Arsen, kita ketemu pas nikahannya mbak Arsya. Tapi sebelum itu ternyata kita pernah ketemu juga, pas aku lagi ada tugas kuliah, dia narasumberku." adiknya terlihat sangat sumringah kali ini.


Bibirnya tersenyum lebar,


"Ambil jurusan apa di sana?"


"Environment mas, lebih menjurus ke environmental change."


Kepalanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Adi yang memang terlihat pintar dari cara bicaranya.


"Kerja di LHK?"


"Nggak kok mas, usaha sendiri.."


"Kamu tahu dia anaknya siapa Ta?" suara ayahnya ikut masuk dalam perbincangan mereka berdua. Ia mengangkat bahumya dan menggelengkan kepala.


"Adipati itu dari keluarga Gumilar Wasesa, ingat siapa? Nahh, Adipati itu anaknya dari salah satunya, Pak Jagad."


Matanya kembali membulat, ia tidak menyangka Naras berpacaran dengan keluarga Gumilar Wasesa, salah satu kontraktor besar yang terkenal dengan eco green dalam setiap pembangunan mereka.


"Tapi papa kan salah satu yang nggak mau masuk dunia bangun membangun om." sahut Adi sambil terkekeh.


"Papanya itu lebih milih jadi dosen Ta, papanya dulu sempat jadi rektor di kampus kita dulu. Tapi sekarang ya sambil bisnis juga, walaupun nggak terlalu berperan banget, layaknya kamu."


"Astaga..berarti kamu sepupuan sama Tiara dong?"


"Ehhheemm.." tiba-tiba istrinya berdehem pelan saat mendengar pertanyaannya.


Matanya langsung melirik ke arah Prisha dan tersenyum geli.


"Ini nggak ada urusannya sama aku yang, Tiara itu dulu pernah jalan sama Harsa.."


"Dan yang bikin Harsa sama Arsya berantem hebat, terus putus.. Ehh, bukan putus sih ya, orang belum sampai jadian.." sahut Adi sambil terkekeh yang langsung membuatnya tergelak, namun istrinya justru melongo.


"Ya..ya..yaa..kamu tahu itu juga berarti?"


Adi terlihat masih terkekeh dan menganggukkan kepala,

__ADS_1


"Aku itu sebenarnya lebih kenal duluan sama Arsya daripada Mas Arsen ke Arsya. Kan aku yang kenalin mereka mas. Mas Arsen teman aku main motoran."


"Ooeeekkkk...eeekk...eekkk..."


Tangisan keras Bisma menghentikan obrolan mereka semua.


"Udah biar aku aja ma, daritadi udah aku tinggal, kasihan Bisma mau nen mungkin.." Istrinya langsung beranjak menuju kamar orangtuanya.


"Bapaknya udah nen kan tadi? Nanti cemburu lho.." seloroh ayah mertuanya yang membuat semuanya tergelak dan istrinya merona.


"Iihh..ayah.." gumam Prisha dengan wajah merah merona dan setengah menundukkan kepala.


"Puji Tuhan, udah buka puasa setelah 9 bulan lamanya.." timpalnya tanpa malu-malu yang membuat semuanya semakin tergelak.


"Tahan lho mas, jangan sampai kebobolan. Dua tahun..." ibunya kembali mengingatkannya.


Ia pun mengedipkan salah satu mata sambil mengacungkan jempolnya.


"Beres..!"


................


Naras


"Iiihhh..tante gemes deh sama kamu..gigit nih ya pahanya montok banget sih..!" gumamnya sendiri sambil mencolek-colek keponakannya dengan gemas.


Kakaknya menatap dirinya sambil mengernyitkan wajah,


"Sehat? Ngomong sendiri.." ucap Genta yang sudah menyandarkan tubuh di sofa tepat di sebelahnya dan sedikit bersandar ke tubuhnya.


"Mas iihh...agak sana..! Berat..! Badan segede itu, nyender-nyender..risih.." gerutunya sambil mengedikkan bahu, namun sama sekali tak ada pergerakan dari Genta.


"Kalau Adi yang nyender aja nggak protes, badannya juga sama aja gedenya. Nggak risih juga, tangannya nempel mulu.." oceh Genta yang semakin bersandar padanya dan memainkan handphone.


"Berisik dehh...sana nggak? Apa aku gigit nih anakmu.." ancamnya yang langsung membuat kakaknya langsung mengubah posisi.


Bibirnya langsung tersenyum menang,


"Gitu dong..anak pintar..!" ucapnya sambil melirik kakaknya yang tengah menatapnya.


"Kamu nggak macam-macam dulu ya sama Adi..!"


Dirinya langsung terkekeh mendengar ucapan kakaknya yang selalu protektif dengannya.


"Nggak macam-macam, cuma satu atau dua macam aja lah.." balasnya sambil menaik turunkan alisnya, sengaja menggoda kakaknya.


"Aku mau nikah aja lah..nikah muda enak juga kelihatannya. Mbak Prisha sama mbak Arsya buktinya, anaknya udah gede-gede kita masih bisa nongkrong bareng.."


Ceritanya kali ini langsung membuat kakaknya terbahak,


"Emang Adi mau nikah sama kamu? Yakin dia mau?" cibir Genta sambil menjulurkan lidah.

__ADS_1


Ia langsung menunjukkan jari manisnya yang sudah tersematkan cincin dengan berlian kecil namun elegan.


......................


__ADS_2