A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Kehamilan Naras


__ADS_3

Hai kakak-kakak,


Saya minta maaf ya kalau lama up nya..


Mohon maaf sekali,


Oia, kemarin yang tanya di mana kedai saya?


Ini ya alamatnya:


'Ono Perfetto


Jl.Blewah X - Karangasem - Laweyan - Solo


Search aja di map, 'Ono Perfetto ..


Rencana opening minggu depan, nanti saya share lagi ya.


Monggo mampir 😘


......................


Renon , Bali


Prisha


Arti kata libur satu malam, benar-benar berarti satu malam. Suaminya kembali lagi menggempur dirinya tanpa henti setelah sampai di rumah.


Bahkan ucapan mempersilahkan Genta untuk menginginkan gaya apapun adalah sebuah kesalahan besar. Pasalnya suaminya itu benar-benar menangih ucapan itu.


Ia terbangun pagi ini karena ada napas hangat yang menyapu tengkuknya, lalu berubah kecupan-kecupan di tengkuk hingga ke punggungnya.


"Enak ya gini terus, santai..nggak pakai baju..peluk-pelukan..nggak ada yang ganggu.." gumam suaminya sambil mengeratkan pelukan ke pinggangnya.


Walaupun sejujurnya ia juga menyukai malam-malam panas mereka di sini, namun jujur badannya saat ini terasa remuk redam. Suaminya itu benar-benar seperti pengantin baru yang baru merasakan gelora yang membara.


"Iya, tapi lama-lama badanku encok kalau suasananya gini terus. Nggak pagi, nggak siang, nggak sore, nggak malam. Nggak di kamar, nggak di kamar mandi, nggak di dapur, nggak di depan tv. Mau pakai baju apa nggak perasaan ditubruk mulu." protesnya yang malah membuat Genta terkekeh.


"Habisnya bikin gemes sih..! Bikin nangih..!" jawab suaminya dengan bibir yang masih menempel di pundak polosnya.


Tangan Genta kembali menelusup di dalam selimut mereka, lalu mengusap perutnya.


"Anak-anak bapak, kuat ya..! Ayo siapa yang mau jadi adiknya mas Bisma? Berenang yang cepat..!" ucapan Genta kali ini membuatnya terkekeh, suaminya terdengar seperti menyemangati anak-anak yang sedang mengikuti lomba renang untuk menjadi pemenang.


................

__ADS_1


Uluwatu, Bali


Naras


Siang ini dirinya sudah lima kali bolak-balik ke kamar mandi hanya untuk menguras isi perutnya.


Badannya terasa sangat lemah saat ini, padahal kakaknya sedang berada di Bali, rasanya ia ingin sekali menjamu kedatangan kakaknya.


"Ke dokter lagi aja yuk yang, aku takut kamu kenapa-kenapa.." suaminya mengelus punggungnya saat dirinya tengkurap di atas tempat tidur.


"Kamu jangan tengkurap dong yang, kasihan anak kita kegencet.." kali ini ucapan suaminya mampu membuatnya terkekeh.


Ia langsung membalikkan tubuhnya dan menatap wajah tampan suaminya yang terlihat sendu.


"Nggak apa-apa, nanti aku minum lagi obat mualnya sama minum jahe lagi."


"Kita nggak usah pulang ke rumah Denpasar, tadi aku udah cerita Mas Genta, mereka yang mau ke sini. Aku tawarin juga tidur di sini." suaminya membelai rambutnya, ia hanya mampu mengangguk.


Setelah menanti dua jam, akhirnya yang ditunggu pun datang. Entah kenapa saat ini ia merasa merindukan kakaknya dan ingin sekali bermanja-manja dengan kakaknya.


Baru kakaknya melangkah masuk ke dalam rumah, ia langsung berlari dan memeluk kakaknya.


"Adek..!"


"Sayang..!" teriak Genta dan suaminya bersamaan saat melihat dirinya berlari.


"Gendong..!" rengekny sambil menatap kakaknya dengan tatapan memohon.


Genta mengangkat satu alis dengan sedikit tercengang,


"Haaa??!"


Prisha dan suaminya pun saling menatap dengan tatapan bingung.


"Gendong..!" rengeknya lagi sambil merentangkan tangan dan menghentakkan kedua kakinya bergantian, persis seperti anak kecil yang sedang meminta gendong.


Kakaknya tampak menghela napas, kemudian menuruti permintaannya, lalu berjongkok untuk siap menggendongnya.


"Ngapain jongkok?! Aku mau gendong depan!" rengeknya lagi.


Genta kembali berdiri sambil mengusap wajah dengan kasar, lalu menggeleng-gelengkan kepala.


Namun, kakaknya itu tetap menuruti perintahnya.


"Ini mau digendong sampai mana?" gumam Genta yang tengah membawanya sampai ke ruang tengah.

__ADS_1


"Sofa.." lirihnya dengan kepala yang masih terbenam di pundak kakaknya.


Genta


Ia menatap ke arah istrinya yang tengah mengulum senyum dan menahan tawa saat menatap penampilannya saat ini.


Bagaimana tidak?


Setelah adegan rengekan adiknya minta gendong, lalu minta disuapin, dan sekarang berlanjut menguncir rambutnya.


Entah bagaimana wajahnya saat ini, Naras membagi rambutnya menjadi sekitar lima bagian untuk dikuncir. Dan tentunya ia memilih menuruti ibu hamil itu lagi.


"Maaf ya mas, kalau aneh-aneh. Biasanya nggak gini kok." gumam Adipati dengan sangat pelan.


Ia kembali menghela napasnya,


"Nggak apa-apa yang penting dia mau makan dan nggak muntah dulu saat ini."


Memang kenyataannya adiknya itu mampu menghabiskan makanan dan tidak memuntahkan dalam hitungan dua jam, jadi pasti sudah berhasil untuk dicerna.


"Mas?! Mas Genta di sini aja, atau agak lama lagi di sini."


Teriakan Naras langsung membuatnya memutar kedua bola matanya,


"Terus nanti kalau ada orang yang mau operasi, aku suruh ke sini dulu gitu?!"


Benar-benar sikap adiknya saat ini membuatnya pening, pasalnya dulu saat Prisha hamil tidak terlalu semanja ini, namun kandungan istrinya dulu lebih beresiko.


"Mbak Prisha aja kalau gitu yang agak lama di sini?!" lagi-lagi adiknya itu meminta hal yang ada-ada saja.


"Nggak ada ceritanya seperti itu, terus mas kalau tidur mau peluk siapa?" protesnya kali ini.


"Nanti mas bilang ke ibu deh, biar balik tinggal di Bali lagi." ucapnya, padahal ia sendiri juga tidak tahu apakah orangtuanya mau apa tidak untuk meninggalkan Yogya, kalaupun mau pasti hanya selama Naras hamil sampai melahirkan.


"Iya mas, kan enak kalau di sini ramai-ramai, makanya mas pindah ke rumah sakit sini aja." adiknya kembali lagi merayu dirinya.


Mereka lalu berlanjut makan malam bersama dan lagi-lagi Naras kembali minta disuapin oleh dirinya.


"Mas, ikut aku ke kamar yuk..!" pinta adiknya lagi.


"Haa?! Mau ngapain? Nggak ahh..! Kan ada Adipati, ya kamu sama suamimu lah.." bukan karena apa-apa, tapi ia lebih nggak enak masuk ke ruangan pribadi milik adiknya dan sang suami.


Namun, tatapan Naras kembali memelas, bahkan dengan mata berkaca-kaca.


"Aku cuma mau dipuk-puk sama mas.." adiknya kembali dengan tatapan memohon. Matanya menatap ke Adipati dan istrinya yang malah mengulum senyum dan menganggukkan kepala sambil menatapnya.

__ADS_1


"Yaudah ayo..! Tapi tidur ya?!"


......................


__ADS_2