A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Mama Memang Yang Terbaik


__ADS_3

Yogyakarta


Prisha


Tak terasa delapan bulan sudah dirinya dan Genta saling berjauhan. Hubungannya pun terasa begitu mulus, tanpa ada pertengkaran hebat.


Yahh..paling hanya pertengkaran kecil karena lama mengangkat panggilan, lama membalas pesan, ketiduran dan hal kecil lainnya.


Ia pun mulai sibuk kuliah dan mengurus kedai pasta dan kedai kopi miliknya yang sudah mulai dikenal pasar.


"Ma..." sapanya ke mamanya yang sedang mengambil sepiring nasi untuk makan siang.


"Iya, apa mbak? Udah makan belum?"


Dirinya pun menggeleng,


"Tapi aku lagi nggak pengin makan nasi. Tadi habis makan mie soalnya jam 11. Masih agak kenyang. Mama masak apa?"


Mamanya yang sedang berada di depan kompor, terlihat sedang memindahkan beberapa porsi sayur berkuah dari panci ke dalam sebuah mangkok besar.


"Ini, mama masak ini. Soto betawi, tapi tanpa santan. Soalnya ayah kan udah nggak mau makan santan." jawab mamanya sembari menaruh mangkok besar berisi soto betawi yang berhiaskan tomat merah yang cukup banyak.


"Kalau nggak mau pakai nasi, kentang sama dagingnya yang banyak. Mama pakai iga itu. Tenang, mama buat banyak kok. Sekalian mau ngirim ke tempat Tante Ara sama Tante Greesa. Nanti temani mama ya mbak?" ucap mamanya yang telah duduk di depannya.


Ia pun mengangguk sembari tangannya sibuk memindahkan beberapa potong iga dan kentang ke dalam mangkok, lalu menaburinya dengan segenggam emping.


"Ma.." panggilnya lagi ke mamanya yang sedang menikmati makanan.


Mamanya langsung menatapnya,


"Iya, apa?" jawab mamanya sambil mengunyah.


"Aku mau cerita yang sebenarnya ma.. semoga mama nggak marah ya.." pintanya lirih.


Mamanya langsung mengernyit ke arahnya dan menganggukkan kepala.


"Ma, aku sama Mas Genta sebenarnya.." ucapnya terhenti, kemudian mencoba menghela napas terlebih dahulu.


"Pacaran?" sahut mamanya cepat, namun berwajah sangat tenang.


Matanya langsung kembali menatap mamanya dengan lekat.


"Mama tahu?"

__ADS_1


Mamanya tersenyum dan tertawa pelan,


"Mama itu mama kamu. Ya mama pasti tahu lah semua tentang kamu, tanpa kamu cerita ke mama. Mama itu bukan ayah, insting mama itu lebih kuat dari ayah."


"Ayah sempat ngira kamu pacaran sama Wisnu, tapi mama bilang nggak. Dan ternyata setelah mama tanya ke kamu, beneran nggak kan, kalian cuma dekat. Mama juga tahu kamu belum pernah resmi pacaran sama siapapun dari dulu, baru sama Genta kan?"


Ucapan mamanya seketika membuat mulutnya menganga dengan sempurna.


"Darimana mama tahu?" tanyanya bingung.


"Mama itu pernah muda seperti kamu sekarang ini. Mama dulu teman cowoknya juga segambreng, dekat sama ini itu tapi nggak berarti pacaran juga. Jadi mama tahu mana yang cuma dekat dan mana yang resmi pacaran."


"Lagian, mama yakin. Kalau kamu punya pacar juga pasti cerita sama mama. Ya walaupun, mama nunggu kamu jujur sekarang ini, lama banget." jelas mamanya lagi sambil mengulum senyum.


"Mama setuju sama Mas Genta?" tanyanya tanpa basa-basi.


Mamanya langsung terkekeh,


"Kenapa mama nggak setuju? Mama itu mungkin orang yang paling pertama mendukung kamu sama Genta, dari kamu masih umur 3 tahun."


"Hiiisshhh mama.. ada-ada aja!" timpalnya sambil tergelak.


Namun, ia kembali dengan wajah setengah cemberut.


"Tentang?" selidik mamanya kemudian menyeruput kuah soto yang ada di sendok.


"Ya perbedaan keyakinan kita ma. Prisha kadang takut salah satu dari kita menyerah." jelasnya lagi sambil menatap mangkok soto yang mulai habis.


Mamanya menaruh sendok dan bersedekap di atas meja, kemudian tersenyum ke arahnya.


"Tante Ara sama Om Arya sudah tahu tentang ini?" selidik mamanya kembali.


Ia pun mengangguk, masih dengan tatapan ke bawah dan tangannya mengaduk-aduk mangkok itu.


"Mbak Prisha, yang namanya hidup dan hubungan itu selalu butuh perjuangan. Itu akan selalu terjadi selama kita masih hidup. Kalau ada salah satu yang mulai lelah, yang satu mencoba lebih menekan ego, sabar, dan mengingatkan tujuan hubungan kalian kemana."


"Jadi kalian harus tahu, kemana kalian mau membawa hubungan kalian. Bahkan, sampai kalian sudah menikah, mau kalian buat seperti apa keluarga kalian nanti. Mama yakin, kalian bisa. Genta anaknya sabar banget, apalagi sama kamu."


Bibirnya mulai tersenyum,


"Seyakin itu mama sama Mas Genta?" selidiknya kali ini sambil menatap lekat mata mamanya.


"Mama tahu Genta udah dari Genta umur 6 tahun. Mama tahu Genta sperti apa anaknya, bagaimana perlakuannya ke kamu itu udah 18 tahun. Dan tidak berubah sama sekali, masih sangat tulus."

__ADS_1


"Tante Ara dan Om Arya berhasil menjadikan Genta lelaki yang luar biasa. Kalau mama seumuran kamu saat ini, jelas mama akan berusaha berjuang mendapatkan hati Genta." ucap mamanya sambil mengulum senyum.


"Iihh mama..gitu banget?"


"Lho jelas dong! Emang cuma laki-laki aja yang berjuang mendapatkan hati perempuan? Perempuan juga sama, harus berjuang. Asal tidak terkesan murahan. Mama yakin, Genta yang suka banyak banget. Iya kan?" tanya mamanya sambil kembali menikmati sisa soto yang masih ada sedikit.


Tatapannya langsung menerawang, mencoba mengingat perempuan-perempuan di sekitar Genta yang berparas cantik dengan tingkah yang beraneka ragam.


Dirinya pun mengangguk,


"Banyak banget ma, pusing juga kadang Prisha kalau lihat. Tapi lucunya malah Mas Genta yang lebih cemburuan karena teman-teman Prisha banyak yang cowok."


Mamanya langsung terkekeh,


"Ya bagus dong, berarti rasa sayang dia ke kamu besar banget. Ya secara, dia suka sama kamu dari kamu masih balita berkuncir dua yang cerewetnya minta ampun." timpal mamanya sambil tergelak mengingat masa kecilnya yang kata orang memang sangat menggemaskan.


"Tapi, kapan ya ma, Prisha cerita ke ayah?"


"Secepatnya lebih baik sih. Tapi, ya terserah mbak aja, kapan mbak Prisha siap. Pelan-pelan ngomong sama ayah ya, karena ayah itu protektif banget sama kamu." jelas mamanya lembut.


"Aku jadi takut kalau ayah nggak setuju.."


"Kelihatannya sih nggak, secara ayah paling percaya sama Genta. Buktinya udah berapa kali ngelepas kalian pergi berdua aja. Tapi, tetap pelan-pelan bicara sama ayah." pinta mamanya lagi yang membuatnya menganggukkan kepalanya.


"Makasih ya ma.."


Setelah jujur ke mamanya, hatinya merasa sangat lega. Tinggal ayahnya yang harus ia hadapi.


Kelihatannya sih mudah untuk masalah ayah.


Tapi, ya kita lihat saja nanti, akankan mudah atau malah akan semakin rumit?


Entahlah, jalani dan hadapi.


Bukankah hidup memang harusnya seperti itu?


Genta sebenarnya memang pacar pertamanya dan cinta pertamanya, bahkan mungkin akan menjadi pasangan seumur hidupnya.


Namun, bukan berarti Genta adalah lelaki pertama yang hadir dalam kehidupannya.


Dia selama ini selalu menjalani hubungan tanpa status, hubungan yang lebih dikatakan 'ya jalani saja dulu', namun dijalani tanpa drama.


......................

__ADS_1


__ADS_2