
Battersea , London
Genta
Saat memasuki apartemennya, suasana tampak sepi, tapi ada suara air mengucur di kamar mandi, berarti Prisha sedang mandi.
Setelah mencuci tangan dan berganti pakaian, ia merebahkan dirinya di ranjang dan memainkan handphone sambil menunggu Prisha selesai.
Ceklek..
Prisha sudah tampak keluar dari kamar mandi sambil bernyanyi-nyanyi mengikuti lagu yang diputar dari handphone yang selalu dibawa saat mandi. Itulah kebiasaan Prisha dari dulu.
Dan sekarang ini Prisha keluar hanya dengan handuk yang dililitkan di dada dan panjang di atas lutut.
Mungkin dikira karena tidak ada dirinya, jadi Prisha sesuka hati keluar kamar mandi dengan seperti itu. Walaupun sebagian tubuh kekasihnya pun sudah pernah ia lihat dan ia sentuh.
Namun, tetap saja kekasihnya itu tidak pernah mau berganti baju di hadapannya dalam keadaan sadar, sangat kontras dengan dirinya yang sudah tidak ada kata malu di depan Prisha.
Antara ranjang dengan kamar mandi dan wardrobe nya memang terdapat sekat pembatas, namun masih dapat melihat jelas apa yang dilakukan di wardrobe saat berada di ranjang.
Prisha dengan santainya membuka handuknya dan hendak memakai baju dalam. Ia hanya menelan salivanya saat sempat menatap tubuh mulus dan putih Prisha yang tidak terhalang satu pun benang yang menempel.
Kemudian ia mencoba mengatur dirinya, tapi tetap memilih berjalan mendekat ke arah Prisha yang masih tampak santai bernyanyi-nyanyi.
Kemudian ia bersandar pada pembatas, bersedekap, dan berdehem pelan.
"Eehmm..kamu niat mancing ini? Sengaja?"
Seketika Prisha langsung terperanjat, melompat dan malah berputar cepat menghadap dirinya.
"Maaaasss..?! Kapan mas datang?" tanya Prisha gugup mencoba sambil menutup tubuh bagian atasnya yang masih belum tertutup apapun, lalu mencoba mengambil handuk yang tersampir di kursi dengan salah satu kaki.
Namun dengan gerakan taktis, ia malah sengaja membuang jauh handuk itu dari Prisha. Ia enggan untuk menjawab pertanyaan tadi yang dirasa tidak penting baginya.
Kakinya semakin mendekat ke arah Prisha, namun membuat Prisha memundurkan kakinya hingga terpaksa berhenti karena menatap wardrobe. Tangannya langsung mengunci tubuh Prisha yang sudah tak dapat berkutik, sedangkan tangan Prisha semakin erat mencoba menutupi tubuh bagian atas itu.
Matanya menatap nakal setiap inchi tubuh perempuan yang ada di depannya saat ini.
"Mas..mas..mau ngapain? Mas nggak macam-macam ya?!" sentak Prisha namun terlihat sangat gugup yang membuatnya semakin mengulum senyum.
__ADS_1
Jarinya mulai nakal membelai tubuh kekasihnya yang terekspos saat ini yang dalam hitungan detik membuat Prisha meremang dan wajah yang merona.
Dengan cepat ia menarik pinggang ramping itu untuk semakin menempel padanya.
"Nggak usah ditutupin, kan aku udah pernah lihat yang itu." bisiknya dengan sedikit meniupkan napas hangat menyapu cuping telinga Prisha.
"Do you wanna play, baby? I want you.." desisnya di sekitar leher kekasihnya yang membuat Prisha menggeliat dan memejamkan mata.
Tanpa membuang waktu, ia langsung menyatukan wajah mereka dengan lembut, semakin dalam dan semakin panas.
Tangan Prisha yang tadinya sibuk menutupi tubuh mulus itu sekarang sudah beralih melingkari lehernya, lalu tangannya langsung menggendong Prisha dan membawa tubuh kecil itu di ranjang.
"Just play..! Tenang..aku tahu batas.." bisiknya kembali yang membuat wajah Prisha kembali memerah.
Sentuhan lembutnya selalu mampu membuat kekasihnya itu terlena dan menyerah. Tatapan sayu Prisha membuatnya tersenyum menyeringai.
"Nice baby..! Jangan ditahan..nggak ada yang dengar.." gumamnya lagi saat Prisha meloloskan suara-suara merdu yang menbuat dirinya semakin memanas.
"Aaaahhhh...." kali ini giliran desahannya yang menggema saat Prisha mampu memainkan titik-titik yang pernah ia beritahukan sebelumnya.
Ia langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh Prisha dan dirinya, lalu membawa Prisha ke dalam dekapannya.
"Makasih, kamu pinter. Siapa yang ngajarin nakal gitu?" selidiknya sambil mengulum senyum.
"Iihh mas..aku malu.."
Ia pun terkekeh mendengar jawaban Prisha.
"Besok sampai rumah pasti kamu dilihatin ayah dari atas sampai bawah. Cek dulu, udah diapain aja sama Genta." ucapnya sambil terkekeh.
"Tenang ayah..segel masih mulus. Genta masih bisa ngerem yang satu itu.." sahut Prisha yang tak kalah vulgarnya yang semakin membuat dirinya tergelak.
Prisha mendongak menatapnya,
"Tapi mas juga nggak boleh macam-macam sama cewek lain, walaupun cuma kayak gini, ngerti?":
Ia langsung mengulum senyum,
"Nggak akan sayang, emang mau sama siapa juga coba?"
__ADS_1
"Hei..! Lupa sama cewek yang bernama Dania? Gila tuh ya cewek..! Udah aku gituin pas ketemu langsung pas Natal kemarin, masih aja ngechat mas kayak gitu. Dasar gatel..! Minta digaruk tuh cewek sampai lecet..!"
"Aku kan jadi nggak tenang ninggal mas di sini, kalau ada manusia semacam Dania..!"
Prisha pun mulai mengomel lagi. Ia juga tak habis pikir dengan Dania, padahal kekasihnya itu sudah memainkan permainan dari halus sampai akhirnya Prisha berkata tegas dan sedikit kejam.
Dania, saya Prisha. Saya sudah berusaha baik-baik sama kamu, tapi kamu tetap nekat. Mulai sekarang jangan pernah ganggu calon suami saya lagi. Sampai kapanpun, wanita seperti kamu tidak akan pernah berhasil masuk dalam hati Genta. Seandainya Genta sampai mau sama kamu, yakinlah Genta cuma mau main-main sama kamu. Ingat ucapan saya..!
Begitulah ucapan Prisha ke Dania terakhir kalinya. Setelah itu, wanita itu tidak lagi menghubungi dirinya. Selamanya atau hanya sementara? Entahlah.
"Mas itu udah cinta mati sama kamu. Mau disuguhin wanita model apapun, nggak akan ngaruh." gumamnya sambil mengelus rambut Prisha.
"Nafsu mas itu cuma sama kamu. Makanya jangan mancing-mancing kayak tadi. Kalau sampai mas khilaf, kamu yang bakal ketagihan." sambungnya dengan setengah berbisik menggoda.
"Iiiiihh mas..itu tadi apa kalau bukan khilaf? Langsung nubruk gitu. Lagian siapa juga yang mancing, kan aku nggak tahu kalau mas udah datang." cibir Prisha dengan manja.
"Itu tadi belum khilaf namanya, masih 100% sadar namanya. Lagian juga cuma gitua aja, nggak ngapa-ngapain." terangnya santai, tapi malah membuat Prisha mendaratkan jeweran di telinganya.
"Aduuhh..kok dijewer sihh..!"
"Nggak ngapa-ngapain gimana? Lihat ini baju pada kemana? Lemes banget nih mulut, bisa-bisanya bilang nggak ngapa-ngapain. Berani gini sama cewek lain, lihat aja ini nggak akan seutuh ini..!" salak Prisha sambil menyenggol pusat tubuhnya.
Ia langsung terkekeh,
"Berisik ahh..ayo tidur dulu sebentar. Aku tadi udah capek, tambah dibikin capek sama kamu. Habis ini kita jalan-jalan pakai mobil baru." ucapnya lalu membawa Prisha ke dalam dekapannya.
"Aku mau pakai baju dulu mas, dingin ini." rengek Prisha sambil berusaha melepaskan diri dari dekapannya.
Baginya, tidak ada perempuan lain selain Prisha yang mampu mengoyak hati dan hasratnya. Melihat perempuan tanpa sehelai benang pun, sudah bukan hal baru baginya, bahkan ada yang sengaja menawarkan hal itu secara cuma-cuma padanya.
Namun apa?
Tidak ada yang mampu membuat jiwa kelaki-lakiannya menggila seperti saat bersama Prisha. Darahnya seakan selalu memanas dan mengalir deras saat melihat Prisha, apalagi dengan keadaan seperti tadi.
Dania?
Apalagi wanita itu, Dania memang cantik tapi jauh dari tipenya. Jauh bahkan sangat jauh dengan yang dimiliki Prisha saat ini. Memiliki perempuan seperti Prisha itu ibarat makanan, gizi dan rasanya sudah seimbang.
Walaupun berjauhan dan bertemu setahun sekali, tetap Prisha lah menjadi tujuannya untuk pulang.
__ADS_1
......................