
Yogyakarta
Genta
Sebulan sudah ia berada di Indonesia yang artinya 10 hari lagi ia akan kembali ke London. Sebenarnya tahun ajaran perkuliahan baru akan dimulai dua bulan lagi.
Namun,dirinya adalah mahasiswa pendidikan dokter spesialis, alias dokter residen yang memasuki tahun ke empat. Dimana di tahun itu ia sudah memasuki residen senior yang pastinya sudah hampir tidak ada lagi materi, hanya akan ada praktek layaknya dokter spesialis sungguhan.
Pagi ini ia menatap istrinya yang masih terlelap tidur dengan tubuh yang polos dan bergelung di bawah selimut.Ini malam ke-2 ia tidak membiarkan istrinya tidur nyenyak kembali, setelah dirinya harus berpuasa selama satu minggu lebih karena tamu bulanan Prisha.
Dirinya tertawa kecil setiap melihat Prisha tertidur dalam keadaan begini. Gadis kecil berponi depan dan hobi berkuncir dua dengan postur tubuh padat berisi, serta pipi yang bulat itu sekarang sudah menjadi wanita cantik dan memiliki lekuk badan indah yang selalu membuatnya kecanduan.
Dulu gadis kecilnya ini selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan absurd yang membuatnya juga bingung menjawabnya.
"Mas..aku mau punya mama baru lho mas namanya mama Asa. Baik banget, cantik banget. Tapi katanya mama Asa harus menikah sama ayah dulu biar jadi mama aku. Menikah itu apa sih mas?"
Dengan santainya saat itu ia menjawab sesuai apa yang ia mengerti saja.
"Menikah itu seperti Om Banyu dulu itu lho di gereja pakai jas, terus Tante Naya pakai gaun putih."
Tapi saat itu Prisha masih tampak bingung dengan jawabannya, menatapnya dan mengernyitkan wajah.
"Tapi dulu mas Genta juga pakai jas, aku juga pakai dress putih. Berarti kita juga menikah dong mas? Kata eyang Arum kalau menikah nanti bisa punya adik buat Prisha mas."
Prisha kecil memang sangat bawel, terkadang sampai membuatnya pusing. Namun, saat gadis kecilnya itu tumbuh menjadi remaja, terkadang ia merasa kasihan dengan Prisha.
"Kamu kenapa kok nangis?" tanyanya saat menjemput Prisha pulang sekolah.
Saat itu Prisha duduk di bangku SMA kelas 1, sedangkan ia sudah kuliah.
"Mas, apa bener kalau mama Ayu itu meninggal karena bunuh diri? Bukan karena sakit?"
Pertanyaan Prisha saat itu membuatnya diam seribu bahasa, bagaikan mendapat petir di siang bolong. Jujur ia bingung harus bagaimana, berkata jujur atau tidak.
"Siapa yang bilang gitu? Teman sekolahmu?" Dan Prisha pun mengangguk sambil terisak. Memang saat itu Prisha masih berumur satu tahun, sedangkan dirinya juga baru TK, tapi ia tahu dan dapat mengingat apa yang terjadi.
Bahkan ibunya hampir kehilangan Naras yang masih ada di kandungan karena sempat ada pendarahan.
Namun, kehebatan ayah Rendra dan mama Asa dalam menjelaskan semua kenyataan yang terjadi, mampu membuat Prisha mengerti dengan apa yang terjadi dan tidak membenci mama kandungnya.
__ADS_1
"Bangun sayang..udah pagi.." bisiknya yang membuat istrinya langsung menggeliat. Namun istrinya justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Masih kurang ya..lagi yuk?!" kerlingnya sambil mengangkat dagu istrinya yang sudah tersenyum malu.
"Tapi habis itu kita cari sarapan, terus ke resto ya.." bisik istrinya sembari naik duduk di atas pinggangnya dan mulai memancing gairahnya yang sudah memanas.
Setelah menikah mereka memang lebih banyak memilih tinggal di paviliun kecil yang terletak di samping kos miliknya
................
Rendra
Dua hari lagi keberangkatan putri dan menantunya kembali ke London. Ada perasaan berat melepas putrinya tinggal sangat jauh dari dirinya.
Namun, bukankah hidup memang seperti ini?
Toh, mereka juga hanya tinggal dua tahun saja di London.
"Udah siap semuanya? Dilihat lagi, mumpung masih ada dua hari." ucapnya seraya melihat dua koper besar milik putrinya. Beberapa barang putrinya ada yang sudah sempat dibawa Genta ke London 6 bulan yang lalu.
Putrinya menghampiri dirinya dan bergelayut manja padanya, sikap putrinya itu membuatnya mengernyit.
"Kamu itu nggak malu sama suamimu? Masih gelendotan sama ayah." cibirnya yang membuat menantunya terkekeh.
"Ayah..aku laper.." rengek putrinya sambil menatapnya.
Ia langsung mengerutkan dahi,
"Yaudah, makan. Tadi mama nggak masak sih, mau order makanan aja? Mau apa?" tawarnya sambil merogoh handphone di saku celananya.
Namun putrinya malah menggelengkan kepala,
"Aku pengin nasi goreng buatan ayah. Ya? Please...! " ucap putrinya dengan tatapan memohon.
Otaknya berpikir sejenak, apakah putrinya sedang mengandung sampai kepengin seperti ini?
"Ayah, aku belum hamil. Dua minggu yang lalu aku baru datang bulan ayah. Jadi ini murni keinginan aku, bukan cucu Eyang Narendra."
Ucapan putrinya membuatnya tertawa pelan dan membuatnya gemas hingga mencubit pipi putrinya itu.
__ADS_1
"Rajin-rajin Ta, kalau mau cepat jadi. Tapi, juga jangan terlalu rajin juga kasih jeda sehari." ucapnya ke menantunya dengan setengah berteriak.
"Siap..laksanakan!" sahut menantunya dengan yakin dan cepat yang membuatnya tertawa.
Asa
Hidungnya mencium aroma masakan yang sangat ia kenal yaitu nasi goreng buatan suaminya,kemudian ia memutuskan keluar kamar dan menuju dapur.
Ternyata di dapur sudah ramai dengan suaminya, putrinya, menantunya, dan juga Nendra.
"Waaahhh..rame! Pada masak apa nih? Kok mama nggak dipanggil?" tanyanya sambil mendekat ke arah suaminya yang masih berkutat di depan kompor dibantu putrinya. Sedangkan Genta dan Nendra duduk di meja makan.
"Nasi goreng favorit, ma! Mama duduk aja, biar aku yang bantuin ayah.." jawab putrinya dengan wajah sumringah.
Namun matanya tertegun menatap putrinya dari atas ke bawah.
"Kamu nggak lagi hamil kan mbak?"
Putrinya itu malah tergelak mendengar pertanyaannya,
"Belum ma, orang dua minggu yang lalu aku baru datang bulan. Ini emang aku yang kepengin masakan ayah ma, nanti kalau aku di London kan nggak bisa makan masakan ayah." jelas putrinya sambil memotong timun dan tomat untuk pelengkap.
"Kirain ngidam.. Yaudah, tapi kamu hati-hati lho ya kalau pas di sana hamil. Belajarnya di sana nggak usah terlalu ngoyo, kalau pas hamil. Ngerti? Ya Genta?" titah mamanya kepadanya dan juga Genta.
Di sana ia lebih memilih mengambil kursus memasak western food daripada melanjutkan kuliah s2 bisnisnya.
"Genta kan dokter yang..pasti dia juga tahu lah ma..tenang.." imbuh suaminya yang membuatnya merasa lebih tenang.
"Tapi tiap Prisha haid, sakitnya selalu seperti itu ya ma?" tanya menantunya sambil menatap wajahnya dan ia pun mengangguk. Memang kenyataannya, putrinya setiap haid selalu meringkuk, mual, bahkan pernah sampi pingsan.
"Ayah itu udah berulang kali suruh dia periksa Ta, tapi nggak pernah mau. Coba kalau kamu yang suruh dia." sahut ayahnya yang juga membuat Prisha menatapnya.
"Ya namanya haid pasti sakit kan ma? Normal kan?" tanya Prisha kepadanya berharap mendapat pembelaan.
"Normal apanya? Orang tiap haid lebih banyak pingsannya daripada nggak nya." sahut Nendra dengan tatapan ke layar handphone.
"Sakit sih iya, tapi kalau kamu itu nggak normal. Udah pingsan berapa kali kan kamu, tapi ngeyel nggak mau diperiksa, udah sempat dipaksa ayah ke rumah sakit lho di Ta. Sampai rumah sakit, nangis-nangis nggak mau turun dari mobil." jawabnya yang membuat putrinya menekuk wajah.
"Kenapa gitu mukanya? Biar suamimu tahu, kamu kan paling nurut sama Genta. Jadi biar mama cerita semuanya." ucapnya sambil menatap putrinya yang tengah menunduk.
__ADS_1
"Oke, sampai sana pas haid kita periksa, biar kita tahu ada apanya bisa sampai sesakit itu. Kalau normal ya sudah puji Tuhan. Kalau pun sampai da apa-apa ya nggak apa-apa tahu lebih awal itu lebih baik. Ngerti? Kalau nggak mau periksa sama aku, nggak usah ikut aku ke London." ancam Genta yang membuat Prisha membulatkan mata dan juga membuatnya serta suaminya terkekeh.
......................