A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Berkenalan Dengan Jarak Dan Waktu


__ADS_3

Battersea, London


Genta


Tak terasa sudah satu minggu lebih ia hidup di London. Di mana kampusnya terletak di zona satu, pusat kota London.


Ia memilih flat yang berada di zona dua yang berjarak sekitar 2.4 mi dari kampusnya, bukan karena dirinya mampu membayar mahal. Melainkan ia memikirkan untuk transportasinya yang memungkinkan dirinya untuk pulang dini hari ataupun mondar-mandir ke rumah sakit selama menjadi dokter residen.


Apalagi, saat ini ia belum berniat membeli mobil, hanya memilih membeli sepeda atau menggunakan transportasi umum.


Adek Sayang ❤


Selamat pagi mas sayang, aku tadi malem udah ketiduran. Capek banget habis latihan terus ngurusin interior resto. Mas lagi apa? Video call yukk, aku kangen.. 😘


tuuttt...tuuuttt..tuuuttt..


Bibirnya tersenyum saat melihat wajah kekasihnya yang terlihat sangat cantik natural.


"Siang sayang..lagi di rumah?" sapanya saat melihat wajah cantik Prisha yang sedang rebahan di kasur berwarna putih.


Prisha mengerucutkan bibirnya berlagak mencium dirinya, sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Ngapain itu bibir dimonyong-monyongin gitu?" selorohnya sambil terkekeh yang membuat Prisha tersenyum.


"Mas..nggak ke kampus?"


"Habis ini mau ambil student card, terus ke perpus. Habis itu diajakain Bang Rastra kumpul sama anak-anak PPI di rumah Mbak Meila, terus pada mau ke Borough Market buat ngisi dapur." ceritanya sambil tersenyum.


"Jauh? Naik apa?" rasa ingin tahu Prisha tentang London kembali muncul.


"Dari mana dulu? Kalau dari sini ya sekitar 4,5 mil lah..7km. Kalau dari tempat Mbak Meila ya deket, cuma 1km lah. Dekat London Bridge. Nanti naik mobilnya Bang Rastra. Penasaran ya pasti? Sini lah ayo.." godanya yang langsung disanbut lirikan dari Prisha.


Dirinya pun kembali terkekeh, bahkan tergelak.


"Kalau aku ke sana sekarang. Bisa-bisa aku diajak nikah besok." timpal Prisha yang membuatnya semakin tergelak.


"Ya nggak gitu juga, bisa digantung aku, sama ayah kamu. Cepat kelarin kuliah makanya, habis itu aku bawa ke sini sampai spesialisku kelar."


"Gimana resto? Udah berapa persen?"


Ia ingin tahu sejauh mana Prisha mempersiapkan bisnisnya.


"Tinggal interior aja sih, tapi udah 80%. Untung ada Tante Ara, hemat." ucap Prisha dengan wajah centil, lalu menjulurkan lidah yang membuatnya semakin gemas.


"Untung kan punya calon mertua arsitek, bisa hemat banget." sahutnya sambil terkekeh yang membuat kekasihnya ikut tergelak.


"Oh iya mas, itu uang sewa tanah kamu gimana jadinya? Kan belum aku transfer."

__ADS_1


Dirinya kembali tersenyum sambil meregangkan otot-ototnya.


"Kamu buka rekening baru, atas namamu aja nggak apa-apa. Uangnya kamu masukin situ."


Seketika Prisha langsung mengernyit,


"Kok atas namaku? Kenapa nggak ditransfer ke mas aja?"


Dirinya bersedekap di depan dada dan menggelengkan kepalanya.


"Nggak apa-apa, atm kamu yang pegang. Nanti kasih tahu aku user sama password internet banking nya aja. Jadi setiap kamu perpanjang sewa tanah, kamu transfer ke rekening itu."


"Terus uang di rekening itu, kamu yang kelola. Terserah mau kamu puterin lagi buat main saham, deposito, atau obligasi. Terserah kamu. Aku cuma memantau aja. Itu bakal jadi uang kita buat biaya kita pacaran sampai nikah. Kamu yang atur ya.." jelasnya panjang lebar yang langsung membuat Prisha mengerjap-ngerjapkan mata.


Kekasihnya itu tampak bingung,


"Yakin mas? Aku yang atur? Nanti kalau aku nakalin buat shopping gimana coba? Atau aku buat travelling sendiri?"


Dirinya kembali tertawa,


"Ya nggak apa-apa, asal balik modal aja. Boleh travelling sendiri, tapi kamu buat konten yang bagus terus kamu upload. Kan jadi penghasilan juga. Mau buat shopping juga silahkan, yang penting kamu juga tanggungjawab sama keuangan kita ke depannya gimana."


"Kamu sekarang jadi menteri keuangan aku, mulai dari keuangan kecil itu, sebelum aku limpahin semua aset ke kamu. Aku percaya kamu." jelasnya lagi sambil tersenyum.


Ia sangat paham, Prisha tidak hobi shopping. Tapi, kalau travelling jangan ditanya. Ia dan Prisha sangat hobi jalan-jalan dan kuliner. Namun, ia yakin Prisha dapat bertanggungjawab.


Bukankah ini saat yang tepat mengerti kadar tanggungjawab Prisha terhadap sesuatu dan kepercayaan, iya kan?


"Nggak usah mancing-mancing gitu, jauh nih! Kalau dekat, udah nggak tahu lagi deh kamu gimana sekarang?!"


Namun Prisha malah mencibirnya dan semakin menebar tatapan menggoda yanv membuatnya mengulum senyum.


"Gitu pas ketemu, coba berani nggak?" tantangnya sembari melipat bibir.


"Berani dong.." cibir Prisha seraya mengulun senyum.


"Dasar, nakal ya?! Awas aja kalau menebar tatapan kayak gitu sama cowok lain!" tegasnya masih sambil menahan tawa.


tokk..tokk..tokk..


"Bentar ya.."


Ia berjalan membuka pintu kamar, tampak Bang Rastra sudah rapi henda berangkat ke kampus.


"Ntar ketemuan di Hyde Park ya Ta.." ucap Bang Rasta seraya menatap sekilas layar handphone nya.


"Siap.."

__ADS_1


"Cewekmu nih?" bisik Bang Rastra sambil terkekeh dan dirinya pun mengangguk.


"Genta, cewek baru lagi nih? Yang kemarin siapa?" seloroh Bang Rastra yang membuatnya tergelak.


"Se..tan..! Dasar kompor!" umpatnya yang membuat Bang Rastra tergelak.


Namun, Prisha justru malah ikut tergelak mendengar ucapan Bang Rastra tadi.


"Nggak apa-apa bang, kalau dia bisa suka sama yang lain. Aku kasih tepuk tangan deh.." ledek Prisha yang menbuat Bang Rastra makin terbahak.


Wajah Bang Rastra langsung mengambil alih layar handphone nya.


"Tenang..Genta masih aman. Udah ada sih yang mau nempel, tapi nggak ngefek kelihatannya. Soalnya dia kan sebenarnya sukanya sama laki."


Prisha langsung tergelak dan mengangguk-anggukkan kepala.


"Iya, aku mah cuma dipakai kedok aja sebenarnya."


Ia langsung menyahut kembali handphone nya,


"Dasar gesrek semua..!" gelaknya, kemudian Bang Rastra berlalu masih sambil terkekeh.


"Gesrek..tapi sayang kan...? Tapi cinta kan..? Tapi bikin kangen terus kan..? Prisha..!" ucap Prisha menyombongkan diri.


"Yaudah sana mandi, ke kampus..!" titah Prisha kepadanya.


"Mandiin dong.."godanya manja.


"Boleh..sini.." timpal Prisha dengan suara menggoda.


"Tapi di bak cuci piring ya? Pakai sabun cuci piring..!" sentak Prisha yang membuatnya tergelak.


"Yaudah, bye sayang..! I love you.." pamitnya seraya mengerucutkan bibir.


"Bye..muachh..!"


Yogyakarta


Prisha


Setelah menutup video call nya dengan Genta, ia melihat mamanya telah berdiri di dekat pintu yang setengah terbuka, menatapnya sambil mengulum senyum


Sontak membuat malu, pasti saat ini wajahnya merona.


Namun, mamanya memilih berlalu masih dengan mengulum senyum


"Mama nggak dengar kok Mbak Prisha..mama nggak dengar.." sindir mamanya sambil setengah berteriak.

__ADS_1


Ia langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Pastinya ia merasa sangat malu, karena lupa menutup pintu kamar.


......................


__ADS_2