A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Detik-Detik Perpisahan


__ADS_3

Yogyakarta


Ardhana


Tangannya memeluk erat keponakannya saat ini.


"Belajar yang benar, gunakan waktu residen dengan sebaik-baiknya. Karena itu modal kamu sebelum benar-benar menjadi dokter spesialis."


Genta pun mengangguk-anggukkan kepalanya yang membuatnya semakin tersenyum lebar.


"Nanti pas pulang Yogya, kita ketemu di satu meja operasi bareng!" ucapnya sambil mengulum senyum.


"Habis itu, gantikan om kalau om sudah pensiun! Okay? Are u ready?" imbuhnya sambil menepuk bahu Genta.


"Siap! I'll do my best ! (Aku akan melakukan yang terbaik!)" timpal Genta dengan nada sangat yakin.


Rendra


Matanya menatap Genta yang sudah berdiri di depannya. Keponakan yang sudah dianggap anaknya sendiri itu sudah tumbuh menjadi lelaki yang tampan.


"Come on! (Kemarilah!)" ucapnya seraya merentangkan kedua tangan.


Genta pun tersenyum dan memeluk dirinya.


"Kuncinya, belajar! Nggak boleh ada kata capek buat belajar! Residen memang capek, tapi harus mau belajar dan membaca, dokter itu harus imbang antara teori dan praktek. Pintar bagi waktu!"


Genta melepaskan pelukannya dan menatap wajahnya.


"Iya om, siap!"


Lalu giliran istrinya yang memeluk Genta,


"Semangat ya mas! Tante bangga sama kamu, tante yakin kamu bisa! Jaga kesehatan, minum vitamin, makan yang benar! Jangan makan mie instan sama kopi terus di sana.."


Genta pun tampak terkekeh dengan nasihat istrinya yang memang benar adanya dengan realita seorang koas dan dokter residen.


Menasehati orang untuk hidup sehat, tapi selama pendidikan malah jauh dari kata hidup sehat. Mie instan salah satu jalan tercepat mengisi perut, itu pun kalau tiba-tiba tidak ditinggal begitu saja karena ada pasien. Sedangkan kopi adalah jalan untuk rileks sejenak dan menjaga untuk tetap on saat jaga malam.


Jauh dari kata sehat bukan? Ya, begitulah kehidupan para dokter yang sebenarnya, baru bisa hidup sehat setelah keuangan dan jadwal sudah tertata baik.


"Iya tante, siap! Titip Prisha ya tante, kalau rewel nggak ada aku." ucap Genta sambil terkekeh dan melirik ke arah putrinya yang sudah menekuk wajah.


Ah, anak-anak ini! Udah macam orang pacaran aja!


Greesa


"Halo, anak tante yang paling ganteng! Belajar ya, jangan pacaran terus! Bilang sama pacar kamu, suruh berguru sama tante ya. Bagaimana suka dukanya mempunyai pasangan PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) Bedah Umum !" ucapnya sambil melirik ke arah Prisha, dan tentu ucapannya membuat semua orang tergelak.


"Emang apa tante?" Bukannya Genta yang bertanya, tapi justru Prisha yang angkat bicara.


Fix, mereka pacaran berarti!

__ADS_1


"Banyak sekali suka dukanya,lebih banyak dukanya sih sebenarnya." gumamnya dengan mata melirik ke atas.


"Intinya cuma satu, Saaaaa...baaaaarrrrr...! Harus mau diduakan sama pasien dan ruang operasi. Nggak contact selama 5 jam, karena lagi sibuk di ruang operasi itu wajar sekali. Awalnya emosi jengkel, lama-lama ya udah lah, lagian kan memang kerja!" sambungnya yang membuat semua orang tertawa.


"Kalau pacarnya marah-marah, ya dimaklumin aja. Namanya juga kangen pastinya. Tante sama om dulu kan juga LDR, tapi cuma beda kota sih. Ya tapi perjuangan juga sih." sahut suaminya tiba-tiba sambil merangkul pudaknya yang disambut anggukkan Genta.


Giliran kedua putrinya yang memeluk erat Genta secara bergantian.


"Maaf ya mas, aku nggak bisa ikut ke Jakarta, aku besok mesti ke Surabaya soalnya ada kerjaan." ucap Arsya sambil mengapit lengan Genta.


Genta pun tampak mengangguk-anggukkan kepala,


"Iya..santai..! Yang penting udah kasih cemilan segambreng, lumayan kan aku bisa hemat sebulan lebih." gelak Genta yang diiringi cubitan dari Arsya.


Genta


Hampir semua sudah memeluk dirinya, tinggal Nendra yang masih memilih diam menunggu giliran.


Kakinya melangkah menuju ke depan Nendra. Matanya menatap anak laki-laki yang sudah ia anggap sebagai adiknya yang masih duduk di bangku SMP itu, tapi tingginya sudah hampir sama dengan dirinya. Bibirnya langsung tersenyum yang langsung disambut pelukan oleh Nendra.


"Hati-hati ya mas di sana.."


Dirinya pun mengangguk,


"Iya..aku titip Mbak Prisha ya..jagain mbak Prisha..! Kalau dia nekat, laporin ke aku, biar aku yang kasih tahu dia.. Oke?"


"Siap mas..!" timpal Nendra sambil terkekeh.


Ia berjalan mendekat ke arah Prisha dan merangkul pundak kekasihnya itu.


Dirinya pun kembali mengangguk.


"Oke, kita masuk dulu ya." ucap bapaknya ke arah rombongan yang mengantar dirinya.


"Ndra..Sa.., anakmu tak bawa dulu ya..! Pulang aman, dijamin nggak baret.." seloroh bapaknya yang membuat semua terkekeh.


"Bawa aja, mau dijadiin anak sekalian juga nggak apa-apa, lumayan warisan gede.." timpal Om Rendra yang membuat orang semakin tergelak.


"Semprul..!" timpal bapaknya sambil terkekeh.


"Tenang, Prisha udah jadi anakku kok, tunggu aja tanggal mainnya. Yaudah yukk..!" sahut ibunya sambil mengulum senyum yang langsung membuat Tante Asa ikut melipat bibir dan mengulum senyum.


................


Cengkareng


Naras


"Jadi mbak sama mas itu udah pacaran selama ini? Terus bapak ibu baru tahu sekarang, tapi Om Rendra sama Tante Asa belum tahu?" tanyanya sambil menatap semua anggota keluarganya yang sedang menikmati makan siang di hotel yang terletak di area bandara.


Mbak Prisha menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis. Namun, bibirnya langsung tersenyum lebar dengan berita itu.

__ADS_1


"Aku setuju paling depan lah! Seneng banget aku punya kakak ipar mbak Prisha." ucapnya antusias dengan mata berbinar.


"Kalau gitu jagain Mbak Prisha selama aku jauh, biar bisa tetap jadi kakak ipar." timpal kakaknya.


"Kecil itu mahh..!" sahutnya seraya menjentikkan jarinya, kemudian memeluk erat kakak satu-satunya yang akan pergi merantau.


Prisha


Setelah makan merek kembali ke kamar hotel untuk beristirahat. Penerbangan Genta terjadwal pukul 00.41 , penerbangan dini hari yang akan memakan waktu sekitar 17 jam.


Penerbangan Genta akan transit di Dubai sekitar 2 jam, kemudian langsung bertolak menuju Heathrow yang akan memakan waktu 7,5 jam dari Dubai.


Berada di pesawat 14jam sangat melelahkan pastinya. Makanya ia, Naras, dan juga Genta menuju ke kamar hotel yang nantinya akan dipakai oleh dirinya dan Naras, setelah Genta berangkat.


Mereka bertiga menikmati acara tv, namun matanya terasa semakin menggelayut.


Matanya kembali terbuka saat sinar memasuki kamar hotel itu. Dipandanginya jam digital di nakas samping, ternyata ia tertidur satu jam. Naras yang tadi ada di sampingnya juga tidak ada, entah kemana.


Saat ia ingin bergerak, ternyata ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Bibirnya pun tersenyum, digenggamnya tangan Genta.


Ia membalikkan badan berhadapan dengan Genta yang ternyata masih tertidur. Jarinya membelai tiap bagian wajah Genta. Dari mata, hidung, dan berhenti di bibir.


Dikecupnya bibir Genta, namun ternyata sang empunya langsung menahan tengkuknya dan semakin membenamkan wajah mereka.


Ciuman yang semula pelan, hangat, lama-lama semakin menuntut. Genta menghentikan sejenak, untuk memberinya kesempatan bernapas. Wajah Genta sudah tampak sayu, lalu kembali menyatukan wajah mereka.


"Mas, Naras di mana?" bisiknya saat Genta mulai menyusuri lehernya.


"Pergi keluar.." jawab Genta dengan suara parau.


"Maasss...udah ya.." pintanya seraya menahan wajah Genta dan mengelus pipi kekasihnya itu.


Genta mengerti dan memeluk erat dirinya,


"Sorry..." ucap Genta dengan wajah yang dibenamkan di lekuk bahunya.


Tangannya mengusap-usap rambut Genta.


"Mas, nggak macem-macem ya di sana. Kita cuma ketemu setahun sekali lho, atau bahkan bisa lebih." gumamnya.


"Iya, kamu juga. Semuanya ini milik aku, nggak boleh ada yang berani pegang." gumam Genta sambil mengeratkan pelukannya.


"Kalau aku nggak bisa pulang ke Indonesia, kamu mau nggak yang nyamperin aku ke London? Berani nggak?" tanya Genta kali ini sambil menatapnya.


Kepalanya pun mengangguk,


"Berani dong!"


"Oke, kalau aku nggak bisa ke Indo setahun lebih, kamu yang ke sana ya. Nanti aku yang beliin tiket. Kalau kamu berani ke London sendirian dan bisa stay di sana seminggu lebih. Aku nikahin kamu tanpa nunggu nanti-nanti, terus aku bawa ke sana." ucap Genta sambil merapikan anak-anak rambutnya yang berantakan.


Ia pun mencibir,

__ADS_1


"Let's see! (Mari kita lihat!)" timpalnya sambil mengedipkan satu matanya.


......................


__ADS_2