A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Melimpahkan Aset


__ADS_3

Yogyakarta


Prisha


Saat ini ia sedang menghabiskan waktu bersama di salah satu kamar kos milik Genta, setelah melihat renovasi kos yang sedang berlangsung.


Baru tiga hari Genta pulang dan berarti masih ada 3 minggu lagi untuk bersama.


"Mas, beneran nih tamu undangan kita segitu banyak? Bisa gempor dong kita.." tanyanya ke Genta yang sedang mencari acara tv.


Genta menaikkan bahunya dan mencebik,


"Pusing juga aku, tapi ya gimana lagi mereka maunya gitu. Lagian ya kita juga harus paham, siapa orangtua kita. Kalau kita mah hanya remahan biskuit." ucap Genta sambil tergelak.


"Nggak lah, aku yakin mas akan lebih hebat dari orangtua kita. Aku akan selalu dukung mas dan temani mas sampai ke puncak, kita berjuang bareng." ucapnya sambil mendekat ke tepi ranjang dimana Genta duduk, lalu memeluk pinggang dan mengecup pundak kekasihnya itu.


Genta langsung memberikan senyum mautnya dan mengerlingkan mata.


"Kangen ya?"


Ia pun mengangguk dan tersipu malu.


"Sini.." ucap Genta sambil menepuk paha, langsung membuat ia mengernyitkan wajah.


"Ayo sini dulu.." pinta Genta seraya menarik tangannya dan memaksanya duduk di pangkuan Genta.


Dirinya hanya menurut saja dengan perlakuan Genta, duduk di pangkuan calon suaminya itu dan mengalungkan tangan ke leher Genta.


Jari Genta menyusuri wajahnya dari mata hingga bibirnya.


"Kamu nggak macam-macam ya di sini."


Ucapan Genta membuatnya kembali bingung dan mengerutkan wajah.


"Kemarin siapa lelaki yang duduk di sebelah kamu waktu di kampus dan ngobrol sedekat itu? Bahagia banget kelihatannya." gumam Genta sambil membelai bibirnya, namun dengan tatapan menusuk tajam matanya.


Bibirnya masih bungkam, mencoba mengingat siapa yang Genta maksud, karena sudah 3 hari ini Genta memang mengantar jemput dirinya ke kampus.


Ujung hidung dan bibir Genta sudah menulusuri setiap jengkal leher hingga tulang selangkanya, seakan mencoba mencecap manis dan aroma tubuhnya.


Perlakuan Genta membuatnya semakin tidak bisa berpikir jernih untuk mencoba mengingat siapa lelaki itu. Matanya terpejam serta suara lenguhan dan desisan yang keluar dari mulutnya.


Beberapa detik kemudian, Genta langsung menghentikan semuanya. Namun jari-jari calon suaminya itu masih bermain nakal di titik sensitifnya.


"Siapa? Hmmm.." suara berat Genta menyapu gendang telinganya.


Dengan susah payah menahan hasrat yang sengaja dipermainkan Genta, akhirnya ia mampu mengingat siapa lelaki yang dimaksud Genta.


"Mas Galih? Itu.. temannya.. Mbak Arsya." jawabnya sedikit terbata-bata, karena jari-jari Genta masih mempermainkan dirinya.


Hidung Genta kembali menyusuri ceruk lehernya,


"Bilang sama dia, kalau ngobrol sama kamu nggak usah nempel-nempel. Dan lihatnya biasa aja. Aku nggak suka." gumam Genta dengan bibir yang menempel di lehernya.


"Ngerti?" desis Genta, berpindah menyapu telinganya, membuatnya semakin meremang dan sayu.


Dirinya pun mengangguk dengan tatapan sayu. Genta menatap dirinya dengan kilatan penuh hasrat, namun masih mencoba ditahan. Sangat berbeda dirinya yang sudah melempar tatapan memohon agar Genta tidak mempermainkan hasratnya.

__ADS_1


"Kenapa?" ucap Genta sambil mengulum senyum penuh makna dan jari-jari itu berhenti menari-nari di titik sensitifnya, membuatnya semakin frustasi.


"Jawab dong Prisha Nismara, kamu mau apa? Kangen sama aku?" desis Genta sambil menatap lekat mata kemudian bibirnya.


"Please..." pintanya memohon, membuat Genta menerbitkan seringainya.


"Come on, baby..! I miss you..!" Genta langsung menyatukan wajah mereka dan memulai permainan yang tertahan setelah satu tahun tidak bertemu, namun masih tetap menjaga batas yang selalu ia pertahankan.


Prisha


Ia kembali merapikan penampilannya sembari menunggu Genta keluar dari kamar mandi. Saat ia berkaca, matanya seketika membelalak saat mendapati dua tanda merah yang tertempel manis di leher sampingnya dan juga di bagian dadanya.


"Shiiittt...!" umpatnya dalam hati, ini adalah pertama kalinya Genta melakukam hal ini.


Ceklek


Calon suaminya itu dengan santai melenggang keluar dari kamar mandi dengan tatapan sumringah.


Ia langsung berbalik badan dan menatap tajam ke arah Genta yang juga menatapnya.


"Mas..! Ini apa?" salaknya tanpa basa-basi sambil menunjuk tanda yang berwarna merah yang meghiasi lehernya.


Calon suaminya itu malah melemparkan senyum dan mengedipkan satu mata ke arahnya.


"Maaass..!! Iiihhh..." omelnya lagi sambil melempar bantal ke badan Genta.


Buugggg...!


"Apa sih? Berisik deh.." oceh Genta dengan santainya dan mengembalikan bantal ke atas ranjang, lalu berjalan mendekat ke arahnya.


"Itu tanda..biar pada tahu kalau kamu itu ada yang punya..! Kenapa? Kurang banyak? Mau ditambahin lagi?" goda Genta seraya memajukan wajah ke lehernya.


"No...! Ini gimana nutupinnya coba? Aku lagi nggak bawa concealer.." rengeknya dengan wajah cemberut.


Genta yang sudah duduk di tepi ranjang, langsung mengernyit memandangnya.


"Kenapa mesti ditutupin? Tanda itu dibuat biar orang paham, bukan buat ditutupin. Aneh dehh kamu..!" ucap Genta tanpa dosa.


Matanya langsung mendelik,


"Terus kalau sampai kelihatan ayah, mama, bapak, atau ibu gimana coba?"


Calon suaminya itu malah terkekeh,


"Ya biarin aja, emang kenapa? Mereka juga pernah muda dan pasti pernah seperti itu. Lagian kita juga udah mau nikah, cuma tanda gitu mah nggak ada artinya."


"Tau ahh..! Ngomongin ini nggak ada ujungnya sama kamu..!" sungutnya semakin membuat Genta tergelak.


Genta langsung memeluknya dari belakang saat ia kembali menghadap cermin. Kemudian tangan Genta menarik tali rambutnya, hingga rambut lurusnya terurai.


"Gini kan beres..besok aku buat yang lebih banyak lagi kalau kamu mau.." bisik Genta sambil menenggelamkan wajah di lekuk lehernya.


Namun ia malah melempar pandangan jengah dengan calon suaminya itu.


................


Genta

__ADS_1


Ia masih ingin berduaan dengan Prisha hari ini, maka mereka masih memutuskan menghabiskan waktu di kos.


"Yang, mulai sekarang kamu pegang ini semuanya." ucapnya seraya memberikan 3 buku tabungan.


Prisha membulatkan mata dengan mulut menganga.


"Kenapa?" tanya calon istrinya itu dengan polosnya.


"Yaudah kalau nggak mau, aku kasih ke cewek lain aja kalau gitu.." tangannya kembali menarik 3 buku tabungan beserta 2 atm bertuliskan gold dan platinum itu.


Prisha langsung mengerucutkan bibir dan melirik ke arahnya.


"Ya makanya ini, kamu yang pegang. Nanti kalau kamu beli-beli buat barang-barang seserahan, pakai yang ini aja." ucapnya seraya mengacungkan atm berwarna gold.


"Jangan dilihat dari warnanya, ini isinya juga hampir sama. Atm satunya aku bawa, kalau aku butuh ada apa-apa di sana." imbuhnya sembari menunjuk atm berwarna hitam di dompetnya.


Prisha pun mengangguk, sambil membuka-buka salah satu buku tabungan berwarna biru, seakan meneliti setiap angka dan transaksi yang berjejer di sana. Prisha kembali membulatkan mata saat menatap saldo terakhir.


"Yang itu, rekening kos ini. Setiap pembayaran yang masuk dan biaya keluar diambil dari sini. Dan ini atm nya." jelasnya sambil menyerahkan atm bertuliskan gold, beserta token internet banking berwarna biru.


"Banyak banget mas ini..! Jadi sekarang aku yang bertugas gaji karyawan di sini?" pertanyaan itu langsung dijawab anggukkan olehnya.


Kemudian tangannya beralih ke buku tabungan berwarna biru juga namun dari bank berbeda, beserta atm bertuliskan platinum.


"Kalau yang ini penghasilan dari kantor arsitek bapak, aku kan dibagi saham juga di sana, walaupun kecil, tapi belum pernah akau pakai sama sekali, masih utuh dari aku umur 21 tahun." jelasnya sambil terkekeh.


Tangan Prisha kembali membuka buku yang baru saja ia serahkan. Mulut Prisha langsung menganga sempurna, menatap wajahnya lalu kembali menatap buku itu.


"Mas? Are you sure? (Kamu yakin?) Ini banyak juga angkanya." Prisha seakan ragu dengan deretan angka yang berjejer di sana, mungkin sudah ada 10 angka berjejer, namun masih berkepala 1.


"Ya itu dulu mau aku pakai buat kuliah, kalau aku nggak dapat beasiswa. Tapi ternyata Tuhan mengijinkan, yaudah nggak jadi dipakai."


Prisha tampak menelan saliva dan mengerjap-kerjapkan mata.


"Terus yang ini, aku pegang ya atm nya. Tapi bukunya kamu bawa aja. Ini uang pembagian penghasilan di hotel bapak."


Calon istrinya kembali terperanjat karena nominalnya hampir sama dengan yang ada di buku biru berkartu platinum tadi.


Namun sesungguhnya, kartu atm berwarna gold lah yang memiliki saldo akhir paling banyak dan rekening paling aktif sebelum ia berangkat ke London.


"Itu kelihatan banyak karena aku habis cairin semua deposito. Kalau kamu mau buka lagi, pakai aja internet banking, terserah nominalnya berapa. Kamu yang atur."


"Aku percaya sama kamu, karena buktinya kamu berhasil pegang uang sewa tanah. Malah jadi bertambah gitu."


Memang Prisha memutar uang yang ia percayakan selama ini, entah bermain saham atau deposito. Tapi nominalnya bertambah.


Prisha merupakan orang yang tidak terlalu suka menyimpan saldo banyak di dalam rekening tabungan biasa. Calon istrinya itu lebih memilih menyimpan dalam bentuk investasi atau tabungan berjangka.


Nice and smart girl !


"Sama aku pegang uang buat hidup di sana dari beasiswa sama gaji jadi dokter residen, pakai rekening bank di sana. Ini nominalnya." ucapnya seraya memperlihatkan saldo di layar handphone.


Prisha kembali menganggukkan kepala.


"Itu semua aset keuangan aku, kamu yang pegang. Aku mau kita terbuka dan jujur. Tapi aku nggak mau tahu jumlah uangmu berapa. Uangku itu uangmu, tapi uangmu dari hasil kerjamu ya uangmu sendiri. Dan nanti kalau kita udah nikah, uang bulanan yang udah aku kasih ke kamu ya pakai aja buat kehidupan kita dan kebutuhan kamu. Terserah kamu mau pakai apa, itu hak kamu, aku bukan tipe lelaki yang minta laporan bulanan. Ngerti?" jelasnya sambil menatap mata Prisha.


"Iya mas sayang, aku ngerti. Besok beli barang-barang branded ahh..! Lumayan, ternyata calon suamiku tajir juga." seloroh Prisha yang menbuatnya tergelak, karena ia sangat tahu Prisha bukan perempuan seperti itu.

__ADS_1


"Boleh..sepuasmu..tapi puasin dulu masalah ini.." bisiknya sambil mengerlingkan mata dan menunjuk ranjang, membuat Prisha langsung mencebik.


......................


__ADS_2