
Yogyakarta
Genta
Sudah dua hari ini, ia mendapat giliran jaga malam dan hari ini pula adalah hari terakhirnya menjadi dokter muda. Dan setelah itu ia masih harus mengikuti UKMPPD (Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter), namun suatu keberuntungan ia masih bisa mengikuti ujian yang akan diselenggarakan satu minggu lagi.
Setelah ujian dan melakukan sumpah dokter, ia masih harus menjalani program internsip. Program itu nantinya akan membawanya untuk ditugaskan entah di Indonesia bagian mana yang mungkin bisa di pelosok ataupun kota besar jika beruntung.
Pagi ini, ia sedang berada di kamar inap Prisha yang masih terbaring lemah setelah menjalani operasi laparotomi untuk menghentikan pendarahan.
Om Rendra dan Om Ardhana telah pulang duluan karena harus praktek, sedangkan Prisha dititipkan padanya sementara waktu sampai kedatangan Tante Asa.
Matanya sudah tidak dapat diajak kompromi lagi, badannya pun seakan mau rontok rasanya. Akhirnya ia tertidur dengan meletakkan kepala di pinggir bed Prisha.
................
Asa
Pagi ini, setelah menitipkan Nendra ke mertuanya. Ia langsung bergegas menuju rumah sakit, pasalnya suaminya tidak memperbolehkannya meninggalkan Nendra yang sedang demam tadi malam.
Kakinya melangkah menuju ruang rawat inap Prisha, dengan tangan menenteng satu tote bag berisi makanan.
Dibukanya pintu kamar inap Prisha, tampak sangat sepi, namun terlihat putrinya masih tertidur pulas dan juga ada Genta yang duduk di kursi samping bed sambil tertidur.
Bibirnya mengulum senyum saat melihat tangan Genta menggenggam tangan Prisha. Ia tidak tega untuk membangunkan keduanya, apalagi Genta yang pastinya sangat lelah saat ini.
Kemudian ia memutuskan untuk keluar dari kamar dan turun kembali untuk mencari minuman hangat dan sarapan, karena dirinya belum sempat sarapan.
Setelah sekitar setengah jam, ia kembali menuju kamar inap putrinya. Saat membuka pintu, sudah tampak terdengar suara dua insan manusia yang sedang berbincang.
"Masih pusing nggak? Atau mual? Kalau masih bilang lho dek.." terdengar suara Genta sedang bertanya kepada putrinya.
Tak lama mata mereka beradu pandang,
"Ehh..pagi tante..tante udah datang daritadi ya? Maaf aku ketiduran." sapa anak laki-laki muda yang masih memakai pakaian serba hijau itu.
Bibirnya tersenyum,
"Santai aja, kamu capek banget pasti habis jaga malam. Kalau mau pulang nggak apa-apa lho mas Genta, udah ada tante di sini. Kamu istirahat dulu." ucapnya sambil mendekat ke arah putrinya.
"Iya tante, nanti agak jam 10an ya. Sekalian nunggu salah satu dokter senior. Saya mau numpang mandi ya tante, biar seger." ucap Genta sambil menunujukkan cengiran, namun dengan wajah yang masih terlihat ganteng.
Dirinya pun terkekeh,
"Iya, sana mandi. Habis itu sarapan. Tante bawain sarapan ini."
"Makasih tante.." ucap putra sahabatnya itu sembari mengambil baju ganti dan peralatan mandi dari tas berwarna hitam, kemudian berlalu ke kamar mandi.
__ADS_1
Ditatapnya putrinya yang masih terlihat lemas,
"Mama, aku lapar.." ucap Prisha pelan.
"Mau makan apa? Itu ada bubur ayam mbak." tanyanya sambil mengelus rambut putrinya yang sudah memasuki usia 18 tahun dan memasuki dunia perkuliahan.
"Mama bawa apa?" tanya putrinya sambil menatapnya.
"Mama cuma bawa bubur satu buat Genta, sama roti-rotian. Mbak jangan makan roti dulu habis operasi soalnya. Makan yang halus-halus dari dokter dulu ya untuk sekarang." titahnya yang membuat Prisha mengangguk.
Dirinya menarik meja dan membuka wrap yang menempel pada mangkok serta gelas yang membungkus makanan dan minuman itu.
"Makan sendiri apa disuapin?" tanyanya sambil memandang putrinya.
"Makan sendiri aja.."
Tak lama Genta keluar dari kamar mandi, tampak sudah berganti baju dengan polo shirt berwarna navy.
"Mas, sarapan dulu. Tante bawain bubur ayam itu sama roti, sama tadi tante beliin teh hangat. Sini sarapan sekalian bareng Prisha." ucapnya ke Genta yang sedang menaruh peralatan mandi dan baju kotor ke dalam tas.
"Iya tante.."
"Ini sarapannya, duduk sini. Tante duduk di sofa aja." ucapnya sambil menyerahkan bubur ayam yang ia tempatkan di box makannya sendiri.
"Genta, tas Prisha di mana ya, kamu tahu?" tanyanya kembali.
"Iya nggak apa-apa.." jawabnya sambil membuka tas putrinya yang terlihat masih utuh hanya ada beberapa goresan, kondisi handphone nya pun masih utuh, hanya mati mungkin karena low batt.
"Ini handphone mu mama charge dulu ya mbak." Prisha pun tampak mengangguk masih sambil menikmati bubur dengan malas, mungkin karena rasanya hambar atau tidak sesuai keinginan putrinya.
"Mas, tadi udah dipedasin belum itu?" tanya putrinya sambil menatap bubur ayam milik Genta.
Genta tampak menggeleng,
"Belum, kamu mau?"
"Boleh kan mas? Ini rasanya hambar, aku minta dikit aja, buburnya aja."
"Boleh nggak apa-apa, tapi kacangnya ini jangan dulu ya, yang keras-keras jangn dulu. Kamu makan semua dulu aja, terserah mau yang mana. Nanti kalau nggak habis baru aku makan." ucap Genta seraya menaruh bubur yang telah dibuka ke atas meja.
Dirinya kembali tersenyum menatap kedua remaja itu. Sejak kecil Genta memang selalu mengalah dengan Prisha. Hampir semua yang diinginkan Prisha, selalu saja dituruti oleh anak itu.
Bahkan, setiap ada laki-laki yang mendekati Prisha, anak itu selalu berusaha mengenal. Sangat protektif anak itu kalau sudah menyangkut urusan Prisha.
Sebenarnya ia tahu bahwa pasti ada sesuatu antara Genta dan putrinya itu saat menginjak usia remaja, namun mungkin masih sama-sama mereka pendam. Tapi sebagai orangtua yang pernah muda dan menjalani lika-liku percintaan, ia dapat melihat hanya dari gestur mereka. Cara mereka memandang, ngobrol, dan bersikap.
Genta tampak mengalah dan menyendok bubur yang dihidangkan dari rumah sakit, sedangkan putrinya malah asyik menikmati bubur ayam yang ia bawa tadi sambil bercanda dengan Genta.
__ADS_1
Genta
Melihat gadis kecilnya yang sudah kembali ceria, membuat hatinya tenang. Jujur tadi malam saat melihat Prisha terluka, lututnya terasa lemas. Namun, saat itu juga rasa semangatnya untuk meraih mimpinya kembali terbakar.
Bahkan, saat ia berhasil menjahit sendiri luka Prisha dengan tangannya dan mendapat apresiasi dari dokter Pras kalau jahitannya rapi. Rasanya ia ingin sekali manjadi dokter yang juga menangani operasi Prisha saat itu.
"Aduh..mas ihh..jangan bikin aku ketawa dulu sih. Masih sakit ini." protes Prisha sambil sedikit meringis dan mencengkeram lengannya.
"Iya..iya maaf. Itu udah selesai makannya? Minum obatnya dulu, biar nggak nyeri." titahnya sambil menyodorkan obat yang telah tertata rapi di atas piring kecil.
"Kapan ujian mas? Kata Om Rendra kamu udah selesai Koas?" tanya tante Asa yang duduk di sofa belakangnya.
Ia memutar badannya menghadap tante Asa,
"Minggu depan tante, doanya ya tante."
"Lha ya pasti kalau itu. Habis itu internsip kan? Siap-siap kalau dibuang jauh." goda tante Asa sambil terkekeh.
"Lha itu tante, ya dimana pun lah pasti yang terbaik buat Genta." jawabnya sambil ikut terkekeh .
"Iya dong, kalau di kota besar ya sama aja kayak gini kan kurang lebih. Tapi kalau di pedalaman, ya pasti ada pembelajaran lebih yang kamu dapat."
Dirinya pun mengangguk mendengar nasehat tante Asa yang masih terlihat cantik seperti mamanya, hanya usianya lebih muda.
"Setahun ya mas internsip itu?" tanya Prisha yang membuatnya kembali menoleh ke arah gadis itu.
"Iya, setahun. Ini aku beruntung selesai koas 1,5tahun. Biasanya 2 tahun." jawabnya kemudian meminum teh hangatnya yang mulai dingin.
"Lama dong, kita nggak ketemu nanti?"
Pertanyaan Prisha membuatnya terkekeh,
"Kenapa? Sabar ya, kalau kangen video call dulu, itu pun kalau ada sinyal."
"Iihh mas, aku kangen nggak ada yang aku ajakin berantem sama aku mintain tolong ini itu dong.." cibir Prisha semakin membuatnya tertawa.
"Hitung-hitung latihan, siapa tahu aku direstui Tuhan. Aku mau ambil beasiswa spesialis di luar." timpalnya sembari meletakkan kembali gelasnya.
"Oh iya? Pengin kemana kamu mas?" tanya tante Asa kepadanya.
"Ya penginnya sih kalau nggak ke London ya ke USA tante, tapi lihat mana yang mau menerima orang seperti saya ini. Kalau nggak keterima semua, yaudah di sini lagi aja, biar bisa sambil antar jemput si nona bawel ini." jelasnya sambil melirik ke arah Prisha dan mengulum senyum.
"Diihh..enak aja bawel..ini tuh namanya menggemaskan !"
Jawaban Prisha membuatnya dan tante Asa terkekeh.
......................
__ADS_1