
6 BULAN KEMUDIAN..
Yogyakarta
Clara
Tatapannya terpaku pada calon menantunya yang terlihat sangat cantik dan anggun saat fitting terakhir baju pernikahan yang akan digunakan.
"Gimana bu? Udah bagus?" tanya Prisha seraya berputar di hadapannya.
"Sipp..! Tapi kamu udah enak semuanya? Jahitannya?" tanyanya balik sembari meneliti jahitan per jahitan gaun putih yang melekat sesuai lekuk tubuh Prisha yang bagus.
Prisha menganggukkan kepala sambil tersenyum di cermin.
"Gimana Genta nggak jatuh cinta kalau wanitanya seperti ini.." gumamnya yang semakin membuat Prisha merona.
Saat ini ia memang pergi berdua dengan Prisha, karena Asa sibuk mengurus untuk acara adat di rumah. Sedangkan kakaknya, Greesa juga sedang sibuk mengurus pernikahan Arsya yang hanya terpaut satu minggu dari acara pernikahan Genta.
"Iya..apa mas?" tanya Prisha ke putranya yang ada di seberang sana, dengan tangan sambil menyetir dan panggilan yang terhubung pada bluetooth mobil.
"Jadi fitting sama ibu?"
"Jadi barusan..mas udah landing ini?"
"Udah dong, besok aku flight ke Yogya jam 9. Semua udah siap kan?"
"Udah..beres..mas tinggal pulang aja, duduk manis."
Bibirnya tersenyum mendengar percakapan kedua anaknya itu, saling perhatian dan saling mencintai.
"Siaapp, tinggal nunggu kamu pake si merah yang dulu aku beliin di Jakarta. Oke?"
Seketika wajah Prisha menegang, membulatkan mata, menelan saliva sambil menatapnya canggung.
Akhirnya ia berdehem pelan, mencoba memberitahu Genta bahwa saat ini panggilan itu dalam mode speaker.
"Eh..ada ibu ya?" tanya putranya kepadanya.
"Hmm..si merah..merah apanya yang merah?" tanyanya gamblang yang semakin membuat wajah Prisha merah padam karena menahan malu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Lipstik bu..lipstik.."
"Haiisshh..lipstik kok buat wajah calon istri kamu jadi merah gitu." gelaknya yang langsung membuat putranya ikut tergelak.
"Udah ahh..ini baru di mobil, teleponnya nanti lagi kalau udah di rumah." pintanya kali ini.
__ADS_1
"Iya ibu Clara yang cantik. Bye sayang aku, love you. Muach!"
Namun Prisha tak berniat membalas ucapan Genta, karena sudah menahan malu.
Ia melipat bibir, mengulum senyum.
"Banyak-banyak berdoa dan berolahraga, serta bersabar ya mbak. Menurut penerawangan ibu, Genta itu persis seperti bapaknya kalau masalah hal seperti itu. Jadi kamu harus kuat hadapi kenyataan yang ada ya." ucapnya sambil terkekeh.
Prisha tampak tersenyum canggung, menganggukkan kepala dan menggaruk tengkuk yang pasti sama sekali tidak gatal.
................
Genta
Di rumahnya saat ini sudah penuh dengan keluarga besarnya yang mulai berdatangan untuk acara pernikahannya.
"Mas, ditimbali (dipanggil) eyang di ruang tengah. Ayo ke sana dulu..!" pinta bapaknya kemudian ia pun mengekori di belakang.
Ketiga eyangnya sudah duduk di depannya, eyang Darma sudah lebih dahulu berpulang ke surga tepat saat dirinya menyandang gelar dokter.
"Kamu sudah ke makam mama Ayu?" tanya eyang Mita kepadanya.
"Sore ini eyang rencananya, sama bapak ibu juga keluarga Prisha." jawabnya dengan sopan dan halus.
"Eyang jadi ingat jaman bapak kamu mau nikah dulu. Wajah dan gayanya persis seperti kamu sekarang." bibirnya ikut tersenyum saat eyangnya berkata hal itu.
"Kamu sebentar lagi sudah menjadi suami, yang artinya kamu bertanggungjawab penuh dengan istrimu dan keluarga kecilmu nantinya. Kunci utama dari sebuah keluarga bahagia itu adalah.." ucapan eyang Artono terhenti dan eyangnya menatap ke arah bapaknya.
"Istri yang bahagia." sahut bapaknya sambil tersenyum dan menatap ke arahnya.
"Istri itu jantung keluarga, kebahagiaan dan cinta yang kamu beri itu adalah darahnya, sedangkan keluarga itu adalah tubuhnya. Kalau kamu memberi darah yang penuh cinta dan kebahagiaan, jadi yang dipompa dan dialirkan kembali ke kalian itu apa?" Eyang Artono kembali menatap lekat wajahnya.
"Cinta dan kebahagiaan.." jawabnya yakin dan langsung mendapatkan dua jempol dari eyangnya.
"Itu kuncinya..! Nggak ada ceritanya wanita nggak suka dikasih perhatian, cinta secara tindakan dan kata-kata, kejutan. Itu nggak ada! Omong kosong!" jelas eyang Artono lagi dengan sangat yakin dan membuat semuanya terkekeh.
"Kalau masalah materi, ya itu udah kewajiban mutlak, nggak usah diperdebatkan. Eyang tahu masa depan kamu seperti apa, jadi nggak perlu eyang membahas soal kehidupan materi kalian ke depan. Tapi ingat ya Genta, semakin kamu berada semakin tinggi godaan yang menerpa." sambung eyang Artono seraya mengacungkan jari telunjuk kepadanya.
"Eyang sama bapak kamu ini udah makan asam garam dalam masalah godaan. Mulai dari wanita sampai godaan keserakahan materi." imbuh eyang Yani yang duduk tepat di hadapannya.
Dirinya pun menganggukkan kepala, memang ia sangat mengerti apa yang pernah terjadi dari cerita orangtuanya.
"Tapi yang perlu diingat itu anak istrimu, sekali kamu mencoba masuk ke dalam godaan itu. Siapa yang menanggung malu? Bukan cuma kamu, tapi juga anak istrimu. Jadi jangan main-main sama hal yang nggak baik." giliran eyang Mita yang menasehati.
Eyang Artono pindah duduk di sebelahnya dan merangkul bahunya.
__ADS_1
"Apalagi kalian masih berdiri sendiri-sendiri dalam iman, harus saling menghormati. Jangan pernah jadikan itu sebagai alasan ketidak cocokan kalian, karena kalian sudah memikirkan itu sebelum melangkah sejauh ini. Ngerti?" tegas eyangnya yang membuatnya kembali menganggukkan kepala.
"Yaudah, kami cuma mau ngasih wejangan (nasihat) itu saja. Doa dan restu kami selalu mengalir selamanya untuk kalian. Semoga eyang-eyangmu ini masih bisa lihat cicit kita ya nanti." ucap Eyang Artono sambil terkekeh.
"Harus dong eyang! Eyang harus selalu sehat, biar Genta jadi dokter bedah dulu dan punya anak." ucapnya seraya memeluk eyang kakungnya yang saat ini sudah berusia 78 tahun itu, entah mengapa dadanya merasa sesak saat eyangnya berkata seperti itu.
"Iya..iya..berdoa saja..! Walaupun jadi dokter, tapi tetap bantu adikmu buat ngurus bisnis keluarga. Jangan ditinggal..!" pinta eyang kakungnya sambil tersenyum lebar.
"Siap..!"
................
Rendra
Entah kenapa kunjungan ke makam Ayu kali ini membuatnya kembali meneteskan air mata setelah lebih dari 15 tahun ia tidak pernah menangis lagi di makam Ayu.
"Yu', anak kita sebentar lagi udah jadi istri orang. Tugasku buat jaga dia udah selesai dan beralih ke Genta. Aku yakin kamu bahagia lihat ini, karena suami Prisha anak sahabat kamu sendiri." ucapnya dengan terisak yang membuat Asa dan putrinya, serta Nendra memeluk serta mengelus punggungnya.
Ia kembali mengingat masa-masa terpahit dalam hidupnya bersama Prisha.
"Ayah...udah jangan nangis.."
Ucapan putrinya membuatnya kembali tersadar dalam lamunannya dan tersenyum memandang putrinya.
"Ayu..akhirnya aku sama Rendra besanan lho Yu'. Omongan kamu dulu jadi kenyataan kan? Gimana Yu' kalau kamu lihat dari atas, mantan dua hot daddy ini besanan? Serasi kan?" Arya mencoba memecah suasana sendu menjadi bahagia kembali.
"Iya mbak Ayu, aku dulu juga udah mikir kalau mereka besanan gimana. Ehh..ternyata bener, kan aku seneng..!" giliran istrinya yang menyahut.
"Aku juga mau mantu lho Yu', seminggu setelah mereka mantu. Puji Tuhan Arsya dapat orang yang baik juga anaknya." Ardhana pun angkat suara.
"Iya..nggak seperti bapaknya.." sahut Clara cepat yang membuat semua tergelak apalagi Greesa
"Aku yakin kamu bahagia kok Yu' di sana. Aku janji Genta bakal jagain Prisha dengan baik, karena Prisha juga anak aku, jadi kalau sampai Genta macam-macam aku yang turun tangan langsung..!" tegas Clara sambil menatap tajam putranya.
Tangannya mengelus punggung putrinya untuk meminta restu dengan mendiang mamanya.
"Mama, Prisha minta doa restunya ya ma, buat pernikahan Prisha lancar dan langgeng selamanya."
"Dan selalu bertahan dengan berbagai kondisi. Genta juga minta doa restunya ya mama Ayu." imbuh calon menantunya yang membuatnya tersenyum.
"Yu', after party ya..habis resepsi..! Like usually..! (Seperti biasanya..!)" pungkas Arya yang membuat semuanya kembali tergelak.
Dasar orangtua-orangtua macam apa ini? Dari sekian banyak ritual pernikahan, hanya after party lah yang ditunggu..!
......................
__ADS_1