
Yogyakarta
Prisha
Tangannya saling menggenggam, melipat bibirnya, lalu menghela napasnya saat sayup-sayup mendengar sebuah ikrar yang diucapkan di dalam auditorium kampusnya.
"Saya bersumpah bahwa:
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan."
"Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya."
"Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran...."
Kepalanya berulang kali menengok ke arah pintu besar yang masih tertutup rapat itu. Tangan ayahnya merangkul pundaknya sambil mengobrol dengan Om Ardhana, Tante Greesa , dan mamanya.
"Sabar, nanti juga bentar lagi selesai." gumam mamanya pelan yang menyadari tingkahnya.
Dirinya pun hanya mampu tersenyum malu sambil menatap mamanya. Tak lama pintu pun terbuka, tampak orang-orang telah keluar dari gedung itu.
Matanya menangkap seseorang yang ditunggunya daritadi, namun sesaat wajahnya berubah sendu saat lengan Genta diapit oleh seorang perempuan cantik yang ia ketahui bernama Rengganis.
Genta pun tampak tertawa-tawa bahagia dengan Rengganis dan beberapa sahabat Genta yang juga satu angkatan di jurusan kedokteran.
Namun, kakinya tetap melangkah mendekati Genta. Lelaki itu pun tersenyum ke arahnya dan menatapnya.
"Maaaasss...!" sapanya sambil menatap lengan Genta yang masih diapit oleh Rengganis.
Seketika perempuan itu melepaskan lengan Genta dan tersenyum tipis ke arahnya.
"Mas, selamat ya..! Akhirnya, saahh ada dr nya di depan nama. Cieee..!" ucapnya sambil mencibir Genta yang masih tampak sumringah.
Genta pun langsung membawanya ke dalam dekapan lelaki itu dan memeluknya gemas.
"Panggil aku dokter Genta ya sekarang.." gumam Genta sambil mengecupi puncak kepalanya.
"Ucapin juga buat Mbak Ganis dong dek.." pinta Genta sambil melepaskan pelukan.
"Selamat ya mbak..akhirnya yaa..ibu dokter.." ucapnya sambil memberikan cengiran ke perempuan yang merupakan sahabat dari Genta.
"Makasih ya dek.." balas Rengganis sembari tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Ayah dan mamanya, Om Ardhana dan tante Greesa pun tampak menyalami Genta di hari yang paling bersejarah bagi kakak yang disayanginya itu.
"Bu, tolong fotoin sama Prisha dong, berdua aja!" pinta Genta ke Tante Ara seraya menarik tangannya, lalu merangkul pinggangnya.
Dirinya pun tersenyum dan berganti beberapa gaya saat foto berdua itu.
"Kalian itu bukan layaknya kakak adik, tapi malah kelihatan seperti orang pacaran." gumam Tante Ara sembari mengembalikan handphone Genta.
Deg..
Jantungnya seketika berhenti berdetak saat sahabat dari mendiang mama kandungnya mengucapkan hal itu.
Pasalnya, ia sangat mengerti bahwa Tante Ara paling berpegang teguh untuk masalah kepercayaan.
Dari cerita Genta, Tante Ara selalu mengingatkan Genta untuk tidak memulai sesuatu hubungan yang sudah berbeda landasan. Jujur, hal itu yang membuatnya mundur dan berusaha menjaga jarak dengan Genta. Ia selalu berusaha membatasi hubungannya dengan Genta, hanya sebatas adik dan kakak, walaupun di dalam hatinya, Genta adalah lelaki nomor satu di hatinya.
"Ya kalau pacaran beneran sama Prisha kan juga nggak masalah kan bu, udah kenal lama juga." timpal Genta yang menbuat tante Ara menatap ke arah mereka berdua dengan tatapan bingung.
Kemudian tante Ara malah tertawa sumbang,
"Kalian itu ada-ada aja ahh..kalau pacaran nanti udah nggak bisa kakak adik beneran lho kalau sampai bubar.." seloroh tante Ara sambil tersenyum lebar.
"Ya jangan sampai bubar berarti.." timpal Genta lagi.
"Udah ahh, kalian ini bercanda terus. Ayo, sekarang kita mau kemana, mau makan apa?" Tante Ara pun akhirnya mengalihkan pembicaraan yang mulai dirasa membuatnya menjadi canggung.
Akhirnya mereka memilih merayakan hari ini di rumah Genta, sambil bakar-bakar daging dan memasak beberapa menu lainnya.
Genta
Sahabat orangtuanya dan sahabat-sahabatnya pun berkumpul di rumahnya. Ada yang masih sibuk memanggang daging, ada yang sibuk menyantap pasta, ada juga yang sibuk golar-goler sambil bermain gitar.
"Naras..sini dong temanin aku nyanyi.." ucap sahabatnya bernama Anjas.
Tangannya langsung menoyor kepala Anjas,
"Nggak macam-macam ya sama adikku..!" gumamnya sambil melirik ke arah Anjas yang telah terbahak.
"Nggak macam-macam, cuma satu macam aja. Ya kan Naras?" seloroh Anjas sambil terus menggoda dirinya.
"Colok nih mata!" gerutunya sambil mengarahkan kedua jarinya ke depan mata Anjas.
__ADS_1
"Gimana tuh adik sayang? Belum jadi juga? Hati-hati lho, Wisnu kelihatannya beraksi terus. Kalah cepet nanti.." gumam Anjas yang seketika membuat sahabat-sahabat lainnya tergelak.
"Berat nih kelihatannya jalannya. Rintangannya butuh perjuangan banget." jawabnya sambil mendongak dan menyandarkan kepalanya ke sofa.
"Pelan-pelan lah, yakin aja. Toh,kan nggak beda jauh. Yang penting pepet terus aja." timpal Damar sambil menaik turunkan alis.
"Mengalir aja lah gimana nanti, lagian habis ini kita berangkat internsip. Haduh, kapan sih kita istirahatnya ya. Refreshing dulu yukk kemana gitu sebelum berangkat ke wahana antah berantah." ajaknya sambil tergelak.
"Ayo! Kemana? Yang dekat-dekat aja tapi, sekitaran Jawa aja, habis ini masih butuh persiapan ke wahana antah berantah tadi soalnya." timpal Damar sambil melahap sepotong daging.
Rengganis yang sedari tadi diam bersandar di bahunya, akhirnya angkat suara,
"Gimana kalau kita ke tempat Lian aja? Jengukin dia, sekalian cari info suka dukanya masuk ke wahana."
Dirinya pun tampak menyetujui dengan menganggukkan kepalanya.
"Malang dong berarti?" sahut Damar cepat dan salah.
Dirinya dan Anjas langsung mendengus kesal,
"Probolinggo c uk..!" timpal Anjas sambil menoyor bahu Damar yang sudah tergelak.
"Iya, iya..deketan juga. Salah dikit."
Lian atau Berlian adalah salah satu dari sahabat mereka yang telah lebih dulu berangkat internsip, karena anak itu mampu menyelesaikan program s1 nya dengan waktu 3,5tahun. Manis, kalem, dan pintar itu yang pantas menggambarkan diri seorang Berlian.
"Oke kita berangkat weekend ini ya. Pakai mobilku aja." ucapnya dengan semangat.
"Ajak lah itu adik sayang.." gumam Anjas sambil tersenyum dan setengah mencibir ke arahnya.
"Ijin dulu sama ayahnya, tapi kebanyakan lampu hijau sih kalau perginya sama aku. Ayahnya percaya banget kalau sama aku." jawabnya sambil terkekeh.
Anjas kembali mencibir dirinya,
"Suatu kesalahan besar, ayahnya percaya sama manusia macam ini. Belum tahu aja ayahnya berapa cewek yang udah masuk dalam perangkapnya."
"Perangkap ndas mu ! Aku diam aja , mereka yang nempel, salah aku di mana? Lagian juga nggak pernah aku ladenin, bukannya situ yang hobi ngebungkus orang?" ucapnya sambil tergelak.
Pasalnya, Anjas sudah terkenal penjelajah wanita di fakultas bahkan kampusnya. Bersaing ketat dengan Wisnu yang saat ini ia dengar sedang mendekati Prisha.
Makanya, dirinya selalu mewanti-wanti Prisha untuk tidak jauh dengan Wisnu. Namun, apalah daya, anak itu selalu ngeyel kalau diberi tahu.
__ADS_1
......................