
Battersea, London
Prisha
Beberapa hari lagi hari Natal telah tiba, itu pertanda musim dingin London pun telah dimulai. Dan memang musim dingin tahun ini datang lebih awal beberapa hari dari tahun-tahun sebelumnya.
Malam ini mereka memilih untuk tidak keluar flat, karena ia masih terasa lelah setelah penerbangan yang memakan waktu total 17jam dengan transit.
Di luar pun saat ini tengah turun salju dengan suhu cuaca minus 2 derajat. Makanya malam ini mereka memutuskan untuk meringkuk saja di dalam kamar, lagian dirinya juga masih tinggal di London selama 2 minggu.
"Wuaaaa....!" ia berteriak cukup kencang di dekat telinga Genta.
Mata Genta pun langsung melirik tajam arahnya itu,
"Biasa aja dong teriaknya, ini telinga budeg lama-lama! Makanya kalau nggak berani nonton horor, ya nggak usah nonton film gini.." gerutu Genta yang sedang menikmati adegan film horor itu.
"Tapi seru mas.." cengirnya tanpa dosa.
"Seru apaan?! Orang daritadi tiap adegan horornya muncul kamu ngumpet mulu di sini.." Genta menunjuk bagian dada yang selalu ia gunakan untuk berlindung saat layar televisi itu menyuguhkan adegan horor.
"Kalau kamu nempel terus macam gini, yang ada lama-lama tv yang nonton kita lho ini, bukan kita yang nonton tv.." gumam Genta yang membuat ia mengendorkan pelukannya.
Setelah menonton satu jam lebih, akhirnya film yang membuatnya bolak-balik berteriak itu selesai juga. Namun, matanya masih enggan untuk diajak beristirahat.
Ia semakin membenamkan kepalanya ke pelukan Genta yang sedang asyik dengan handphone di tangan. Matanya menatap layar handphone kekasihnya itu.
"Cewek lagi?"salaknya saat menatap layar handphone Genta, padahal ia tidak terlalu jelas melihat apa yang ada di sana, karena pandangannya tidak sepadan dengan benda pipih itu.
Namun ternyata Genta menurunkan tangannya, agar ia bisa jelas melihat layar benda pipih berwarna hitam itu.
"Cewek apaan? Bang Rastra ini, besok minta ketemu sama kamu katanya. Ada sih cewek juga, tapi Ganis sama Lian."
Tapi matanya menangkap barisan huruf yang bergabung menjadi satu kesatuan "Dania Respati Dewi".
"Ini apa? Ini kan juga cewek!" salaknya sambil setengah bangun dari posisinya, kemudian ia membalikkan badan menjadi tengkurap dan menatap lekat wajah Genta.
__ADS_1
"Ya emang cewek, tapi dilihat dulu dong mbak, chat nya aja aku buka nggak, aku baca aja nggak. Aku biarin aja, terus salah aku di mana coba?" jawab Genta sambil membalas tatapannya.
Ia langsung memasang wajah cemberut,
"Mas nggak macam-macam kan di sini? Mas nggak pernah tidur sama cewek kan di sini? Mas nggak pernah main sama cewek lain kan?" ia pun langsung memberondong Genta dengan berbagai pertanyaan absurd yang seketika melintas dalam otaknya.
Genta tampak terperanjat dengan pertanyaannya, tersenyum, kemudian terkekeh pelan.
"Pernah dong, masa' nggak pernah."
Jawaban Genta sontak membuatnya membulatkan matanya.
"Iiihh mas kok gitu sih? Mas tega sama aku? Di sana aja aku nggak pernah boleh macam-macam sama cowok lain, tapi kamu di sini seenaknya aja! Nggak fair itu namanya! Aku nggak suka..!" ketusnya yang langsung membuat Genta mengulum senyum.
"Kok marah?" tanya Genta sambil mengulum senyum.
Pertanyaan macam apa itu? Batinnya.
Mana ada orang yang terima pasangannya tidur sama orang lain.
Wajahnya langsung merah padam menahan malu, saat mendengar penjelasan Genta.
"Ayo jelasin coba..! Bagian mana yang nggak fair? Mas mau dengar sekarang..!" Genta kembali mengulang pertanyaan kepadanya.
Bibirnya justru semakin kelu untuk berucap karena malu.
"Maksud kamu main itu apa? Maksud kamu tidur itu apa? Siapa yang pikirannya me sum selama ini? Hayoo...! Kamu ngatain mas me sum, tapi pikiran kamu yang kejauhan.."
"Coba jelasin sama mas, maksud kamu main itu apa? Hmm..?" Genta semakin mendekat wajah ke wajahnya dan menatap intens bola matanya.
"Main apa Prisha Nismara Arkadewi? Please, tell me..!"
Dengan cepat Genta saling membenamkan wajah mereka kembali dan membalikkan posisi mereka, seakan mencoba memberi jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan.
"Main yang seperti ini maksud kamu? Atau lebih dari ini?" gumam Genta melepaskan pagutan itu, namun dengan tangan yang mulai menyusuri lekuk tubuhnya dengan tatapan yang penuh hasrat.
__ADS_1
Namun tiba-tiba telapak tangannya menggenggam sesuatu yang diberikan dari tangan Genta. Ia mengangkat tangannya agar dapat melihat apakah itu?
Genta yang sudah mengubah posisi miring di sampingnya, membantunya untuk membuka kotak kecil berwarna biru tua itu. Mengambil seuatu yang ada di dalam kotak itu dan memakaikan di jari manisnya.
"Be my lady Prisha Nismara Arkadewi, now..tomorrow..and forever.. Be mommy for our children. It's not query, it's willy nilly.. I love you my little girl..! (Jadilah wanitaku Prisha Nismara Arkadewi, sekarang..esok..dan selamanya.. Jadilah ibu dari anak-anak kita. Ini bukan pertanyaan, ini mau tak mau.. Aku cinta kamu gadis kecilku..!)"
Matanya langsung berkaca-kaca, bibirnya terasa kelu untuk berucap. Genta bagaikan magnet yang menarik dirinya secara penuh, tanpa menyisakan apapun.
Ia langsung menubruk Genta dan memaksa masuk dalam dekapan hangat seorang Genta yang selama ini selalu membuatnya nyaman. Entah kapan pastinya rasa itu tumbuh, yang jelas saat ia memasuki usia remaja hanya Genta yang singgah di dalam hatinya.
"Thankyou for having me! (Terimakasih telah menerimaku!)" gumam Genta kembali, lalu mengecup puncak kepalanya.
Genta
Tangannya menuntun tangan Prisha menyusuri seluruh tubuhnya dari atas hingga bawah.
"Semuanya ini punya kamu, nggak akan pernah dibagi. Aku emang udah ganti-ganti pacar dan beberapa cewek yang hanya sekedar dekat. Aku emang pernah tidur sama cewek lain sebelum kamu. Jujur aku juga pernah lebih dari sekedar ciuman, tapi aku belum pernah melakukan hal yang satu itu."
"Nggak tahu kenapa, setiap aku mau melakukan hal itu sama cewek-cewek sebelum kamu. Wajah kamu selalu datang, itu yang buat aku nggak pernah bisa melakukan hal itu. Kamu semacam tameng buat aku."
Semua yang ia katakan adalah kejujuran. Dia bukanlah termasuk laki-laki yang suci dan lurus, tapi memang Prisha lah yang selalu mampu menjadi alasannya untuk kembali menjadi baik.
"Aku percaya kok sama mas.." timpal Prisha sembari melempar senyum yang sangat manis.
"Aku beruntung jatuh cinta sama kamu dari masih kecil. Kalau nggak, mungkin hidup percintaan aku juga udah menjelajah ke sana-sini dengan berbagai gaya." gumamnya sambil terkekeh.
"Aku berusaha menjalankan nasehat bapak ibu dan ayah sama mama kamu. Makanya kamu jangan suka mancing-mancing. Kemarin-kemarin sama cewek lain, gagal karena wajah kamu. Lha sekarang, gimana mau gagal kalau wajah kamu sendiri yang mancing di depan aku." sambungnya sambil mendengus pelan.
Bibir Prisha langsung mencibir dan mengulum senyum.
"Untung jauhan kan? Coba kalau dekat, udah disosor aku mah."ucap Prisha sambil tertawa kecil.
"Sabar ya.." bisik Prisha di telinganya yang pastinya sengaja untuk membuat dirinya memanas.
......................
__ADS_1