
Battersea, London
Genta
Dua minggu sudah Prisha pindah mengikuti dirinya ke London.
Tangannya membuka kamar apartemennya dan melihat istrinya masih meringkuk di dalam selimut. Sejak tadi malam, selepas kegiatan panas mereka, Prisha mengeluh nyeri dan kram di bagian perut bawah.
"Yang.." panggilnya sambil menggantung tas dan melepas bajunya untuk berganti dengan baju rumah.
"Masih sakit?" tanyanya sambil duduk di tepi ranjang dan mengelus rambut istrinya.
Istrinya itu tampak sedikit pucat dan lemah, kemudian menganggukkan kepala sambil menatapnya.
"Tapi udah nggak sesakit tadi malam atau tadi pagi. Ini udah lumayan."
Memang pagi tadi saat ia akan berangkat ke rumah sakit, Prisha tampak sangat pucat bahkan dirinya sampai bingung harus berangkat kerja atau tidak. Namun, Prisha tetap menyuruhnya berangkat ke rumah sakit, tapi ia mengajukan syarat akan menelepon Prisha setiap jam untuk memantau keadaan istrinya itu.
"Udah makan? Kapan harusnya kamu mens lagi?" selidiknya sambil membantu Prisha untuk duduk bersandar pada bantal.
"Dua hari lagi jadwalnya mens. Ini tadi juga udah aku cek, belum ada tanda-tanda flek mau datang bulan sih. Cuma badanku juga udah remuk rasanya, dadaku juga udah nyeri. Malah lebih nyeri dari biasanya." jelas Prisha yang membuat matanya menatap pada dada istrinya itu.
Memang saat berhubungan tadi malam, bagian-bagian tubuh Prisha tampak lebih sensitif. Apalagi di bagian dada, perasaan dirinya menyentuh dengan sangat lembut, tapi istrinya sudah teriak-teriak kesakitan.
Otaknya saat ini berpikir bahwa ada janin yang tumbuh di perut istrinya, tapi ia tidak mau terburu-buru mengatakan itu kepada istrinya, sebelum jadwal menstruasi istrinya terlewat satu minggu. Bahkan, karena kecurigaannya ini, ia tidak mau memberikan obat anti nyeri kepada istrinya, karena takut kalau pemikirannya benar.
"Yaudah, istirahat dulu aja, nggak usah masak. Biar aku yang masak sama laundry. Kamu rebahan aja, makan, sama nonton tv. Terus perutnya dikompres. Sama puasa dulu buat olahraga ranjangnya, jangan minta atau mancing dulu. Sabar..." ucapnya sambil mengerlingkan mata.
"Siapa juga yang minta, orang situ yang nubruk mulu..! Lama-lama tidur di sofa nih aku..!" protes istrinya yang membuatnya tergelak.
"Nanti malam jam 8, aku ada operasi, agak lama nggak apa-apa ya? Ada transplantasi hati tapi rumah sakit di daerah Chelsea. Nanti ada Rania sama Adit yang mau ke sini buat temanin kamu selama aku operasi." jelasnya, kemudian Prisha langsung menghambur ke pelukannya.
"Mas, aku pengin makan sup ayam. Tadi, aku udah buat kaldunya, tapi perutku sakit lagi jadi aku tinggal. Bisa minta tolong buatin?" pinta istrinya dengan tatapan memelas yang membuatnya menyunggingkan senyum.
"Iya, kamu mandi dulu aja sana, aku masak sup. Kalau mandi pintunya nggak usah dikunci. Nanti juga gitu, kalau pas ada Rania sama Adit, kalau ke kamar mandi nggak usah dikunci." titahnya karena ia takut kalau sampai ada apa-apa dengan Prisha di dalam kamar mandi, tidak kesusahan cara menolongnya.
................
__ADS_1
Prisha
Air matanya mengalir terus sepulang dari rumah sakit.
"Congratulation Genta, your wife is pregnant! It's about 5 weeks..(Selamat Genta, istrimu hamil! Ini sekitar 5 minggu..)"
"But, i'm very sorry for telling you about this Genta. I find something in here, it's like a fibroid submucosal benign growths located within the inner lining of the uterus, or endometrium. This fibroid maybe to cause very heavy menstrual bleeding and make a deep pain. (Tapi, maafkan aku karena memberitahumu tentang hal ini,Genta. Saya menemukan sesuatu di sini, itu seperti … fibroid submukosa pertumbuhan jinak terletak di dalam lapisan dalam rahim, atau endometrium. Fibroid ini mungkin menyebabkan perdarahan selama menstruasi yang sangat berat dan menimbulkan rasa nyeri yang dalam.)"
Ia memilih duduk sambil mendekap lututnya di atas ranjang. Berita kehamilannya seharusnya menhadi berita yang sangat membahagiakan bagi dirinya dan juga Genta. Namun, penjelasan dokter tentang tumor yang juga berkembang di dalam rahimnya selama ini selama perubahan hormon, membuatnya terpukul.
Suaminya duduk bersila di hadapannya dan menggenggam tangannya.
"Kamu lagi hamil, ibu hamil itu nggak boleh stres dan kebanyakan nangis. Itu nggak bagus." ucap Genta dengan nada lembut yang membuatnya malah semakin terisak dan menghambur ke pelukan suaminya.
Genta mengelus rambut dan punggungnya dengan lembut,
"Tumor itu jinak dan bisa diangkat, jadi jangan takut. Semakin kamu kepikiran itu juga semakin mempengaruhi kerja hormon kamu. Dokter nggak ngasih obat untuk mengecilkan tumor, karena kamu lagi hamil. Kita lihat dulu bagaimana perkembangan ke depannya nanti."
"Mas pernah ikut operasi kasus ini, ibu dan anaknya pun lahir dengan selamat. Tumornya pun dapat diangkat bersih. Cuma karena mas dokter yang juga ngurusin kasus seperti ini, mas nggak mau kasih gambaran kamu yang gimana-gimana. Semua kita lihat ke depannya bagaimana dan kita akan terus berusaha yang terbaik, apalagi mas."
Genta menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang hangat itu,
Ia pun hanya dapat mengangguk dengan tatapan sendu, kemudian Genta mengecup keningnya dengan hangat dan dalam.
"Yang penting kamu jangan ngapa-ngapain dulu. Bed rest dulu, sampai kandungan kamu benar-benar kuat. Kita berjuang bersama. Kita kasih kabar sama orang rumah ya, jangan disembuyikan, harus jujur apapun yang terjadi." titah suaminya sambil menghapus air matanya.
Video call pun sudah tersambung dengan nomor mama Asa, ibu Ara, dan tante Greesa.
"Hei..haloo, bentar..bentar..ibu matiin kompor dulu..sama bapak bentar.." ucap ibu Ara yang menyerahkan handphone ke bapak Arya.
"Halo sayang-sayangku.." sapa mamanya dan juga ayahnya yang langsung membuat tangisnya pecah seketika. Ia paling tidak bisa menyembunyikan tangis di depan orangtuanya, terutama mamanya.
"Halo mas Genta..mbak Prisha.." sapa tante Greesa dan om Ardhana.
"Lho..kok nangis mbak?" ucap bapak mertuanya dengan wajah panik. Orangtuanya pun langsung ikut panik menatapnya.
"Malam semuanya, kita mau kasih kabar baik tapi juga ada sedikit buruknya, tapi sedikit aja sih. Mau yang mana dulu nih?" suaminya sudah mengambil alih percakapan itu.
__ADS_1
"Baik dulu terus langsung ke buruknya.." jawab ayahnya cepat.
Genta tersenyum terlebih dahulu dan menatapnya,
"Oke..Prisha hamil, masuk minggu ke-5.."
"Puji Tuhan..." sahut semua orangtua yang ada di sana.
"Tapi..tetnyata ada fibroid yang membuat selama ini kalau pas Prisha haid itu selalu sakit." imbuh suaminya.
"Fibroid apa? Submukosal, intramural, atau subserosal?" selidik om Ardhana dengan sangat cepat.
"Submukosal om.. seperti ibu dulu.." jawab suaminya lagi, ia lebih memilih banyak diam.
"Bleeding nggak Prisha?" gantian ayahnya yang bertanya.
"Bleeding nya sih nggak ayah, tapi lebih banyak ke kram perut. Cuma aku tetap suruh dia bed rest dulu, sambil memantau keadaannya. Tiga minggu lagi kita lihat apakah fibroid nya ikut membesar atau tidak."
"Nggak apa-apa, jangan panik. Kita usahakan yang terbaik pastinya. Yang penting jangan stress, pantau terus keadaan, makan makanan sehat, jangan banyak gerak dulu sampai benar-benar dinyatakan kandungan kuat." titah om Ardhana yang membuat mereka berdua mengangguk.
"Betul, kamu nggak bisa minum obat mbak, karena kamu lagi hamil. Jadi jangan stress itu aja. Kita percaya sama Genta, dia kan dokter bedah yang menangani hal itu. Jadi nurut sama suami kamu.Ngerti?" ucap ayahnya yang membuat kembali berkaca-kaca.
"Manut sama apa yang Genta bilang, kamu jauh dari kita semua. Jangan buat pikiran mama, kalau ada apa-apa sama kamu, mama kesana butuh waktu lama di jalan. Ngerti?" giliran mamanya yang angkat bicara.
"Genta, jaga Prisha ya. Ibu percaya sama kamu. Prisha, yang bahagia ya mbak. Kalau Genta sampai nggak ngurusin kamu, langsung laporin ke ibu atau bapak. Nanti kita langsung ke sana buat jemput kamu, kalau dia berulah." ancam ibu mertuanya ke Genta, membuatnya langsung bisa tersenyum dan tertawa kecil.
"Iya ibu bapak, ayah mama, tante om. Terimakasih ya. Doain Prisha sama cucu kalian ini, sama doain mas Genta juga." akhirnya ia mengeluarkan suaranya dengan tersenyum.
......................
Hai kakak-kakak pembaca...!
Yang menanyakan tentang Hore Fams, mohon maaf dengan sangat saya fokus ke Genta dulu ya.
Saya masih proses recovery pasca sakit kemarin, jadi masih belum bisa diajak mikir banyak.
Mohon maaf.. 🙏
__ADS_1
Sehat selalu buat kita semua...
......................