
Chelsea, London
Genta
Kakinya melangkah keluar kamar operasi, matanya menangkap sosok bapak ibunya menunggunya di depan ruangan.
Seketika kakinya terasa lemas, tangannya meremas scrub hat, kemudian ia langsung bersimpuh di depan orangtuanya yang sedang menatapnya.
Air mata yang sudah ia tahan akhirnya tumpah di depan orangtuanya. Ibunya langsung memeluknya dan mengelus punggungnya.
"Semuanya baik-baik saja kan Genta?" tanya bapaknya sambil menatap lekat matanya yang masih memerah.
Kepalanya pun mengangguk,
"Tapi kondisi Prisha saat ini masih kritis. Kita tunggu dia sampai siuman dulu. Pendarahannya cukup banyak, tapi bisa teratasi dengan baik. Semoga nggak ada bleeding lagi sampai 48 jam ke depan."
"Puji Tuhan, percaya sama Tuhan." ucap bapaknya sembari merangkul bahunya.
"Tadi sebenarnya kalau sampai pendarahan terus, sudah sampai taraf harus histerektomi. Tapi aku sama dokter utama berusaha terus buat mengatasi pendarahannya, untungnya bisa teratasi. Tapi kita pantau sampai 48 jam ke depan itu." jelasnya lagi sambil menyisir rambutnya kasar.
Bapak ibunya tersenyum menatap dirinya.
"Kamu sudah lakukan yang terbaik. Oh iya, tadi kita sudah sempat lihat Bisma. Lucunya..bibirnya mirip kamu, tapi kelihatannya kulitnya bakal banyak ke keluarga Rendra, putih.." cerita ibunya mampu membuatnya kembali tersenyum.
"Genta masuk lagi bentar ya, mau lihat Prisha sebentar. Nanti habis itu ke Bisma."
"Iya, kita mau kasih kabar ke Yogya dulu, biar nggak pada kepikiran." sahut bapaknya yang diiringi anggukkan darinya.
Selagi masih menunggu istrinya sadar, ia menuju ke ruangan khusus bayi untuk melihat putranya. Bayi kecil itu terlihat tertidur tenang, memang bibirnya mirip dengan dirinya, hidung mancung Bisma jelas dari mereka berdua karena sama-sama berhidung mancung.
"Anak baiknya bapak, kita berdoa buat ibu ya. Biar cepat sadar dan melewati masa kritisnya. Kamu juga sebentar lagi pasti haus kan? Kita semangatin ibu ya mas Bisma." bisiknya dengan tangan menggendong putranya yang tertidur tenang.
Matanya kembali berkaca-kaca saat menatap wajah mertuanya di layar handphone bapaknya.
"Maafin Genta ayah..mama.. Prisha belum siuman sampai sekarang.." ucapnya dengan air mata yang mulai menetes.
"Nggak boleh ngomong gitu..! Kamu itu ngomong apa? Kamu sudah lakukan yang terbaik, mama nggak suka kamu ngomong begitu ya mas.." Mama Asa selalu memberinya semangat saat kehamilan Prisha diketahui ada masalah.
Dua jam sudah, tapi istrinya belum ada tanda-tanda sadar, entah berapa lama lagi. Namun, ia hanya berharap secepatnya atau bahkan detik ini juga Prisha sadar.
"Baru dua jam Genta, jangan panik dulu. Om paham posisi kamu saat ini. Semuanya akan baik-baik saja." Nasehat Om Ardhana membuatnya kembali tersadar untuk lebih tenang. Kepalanya pun mengangguk dan tangannya menyeka air matanya.
"Bisma lucu banget ya, ayah jadi pengin ke sana sekarang. Pengin gendong cucu sendiri." Ayah Rendra mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak terpaku pada Prisha, walaupun ia sangat mengerti kalau hati ayah mertuanya saat ini pun sangat tidak tenang.
__ADS_1
Ibunya datang merangkul pundaknya,
"Sabar, sembuhin dulu itu tangan biar bisa gendong cucu." timpal ibunya sambil mnecibir.
Ia terpaksa meninggalkan perbincangan itu, karena mendapat kabar bahwa Prisha telah siuman.
"Sayang, gimana? Masih pusing? Mual?" tanyanya setelah memeriksa keadaan istrinya.
Istrinya pun menggeleng,
"Dingin..." gumam Prisha lirih yang masih tampak sangat lemah.
Bibirnya tersenyum, tangannya merengkuh tangan Prisha.
"Nggak apa-apa, habis dibius kan gitu. Dulu juga gitu kan.."
Operasi bukan lah hal baru bagi istrinya, hal ini sudah ketiga kalinya bagi Prisha. Entah kenapa kadang ia merasa, istrinya sangat akrab sekali dengan meja operasi.
Bahkan saat kembali merasakan meja operasi, Prisha tampak tenang tanpa ada ketakutan sedikitpun.
Sangat kontras dengan keadaannya tadi yang merasa ketakutan lebih besar dari biasanya, padahal operasi adalah bagian dari hidupnya.
Prisha
Ibu Ara mengelus wajahnya dan meneteskan air mata sambil menatap lekat wajahnya,
"Mbak, selamat ya sudah menjadi ibu. Terimakasih sudah mengubah status kami menjadi eyang. Maaf ya mbak, ibu jadi ingat mama Ayu saat ini." Ibu Ara langsung memeluknya dan mencium puncak kepalanya.
"Ingat..bukan eyang biasa..! Hot eyang..!" tegas bapak mertuanya sambil bergantian memeluk dirinya, membuatnya terkekeh
"Ayu..Ayu..kita udah jadi eyang lho Yu..!" gumam bapak Arya kembali, semakin membuatnya tersenyum lebar.
Memang benar, bagaimanapun cerita mama kandungnya, namun dalam lubuk hatinya paling dalam ia merindukan sosok mama kandungnya itu. Ia sudah lupa dengan kehangatan mama Ayu, wajah mama kandungnya saja pun ia tidak ingat kalau tanpa adanya bantuan foto yang sengaja ditaruh mama Asa di kamarnya dari ia masih kecil.
Kehadiran mama Asa di masa balitanya membuatnya memiliki figur seorang mama yang sabar, penyayang, namun tetap tegas. Mama Asa sama sekali tidak membedakan dirinya dengan Nendra. Semuanya dianggap sama oleh mama Asa.
"Mas, kapan Bisma dibawa ke sini? Aku kangen sama dia." pintanya dengan tatapan sendu.
"Iya, habis ini aku minta Bisma dibawa ke sini. Tapi kalau perutnya masih sakit pas buat gendong kelamaan, bilang ya. Jangan diam aja, soalnya kamu habis operasi dua kali."
"Iya pak dokter..siap.." jawabnya sambil tersenyum.
Bisma sudah dibawa oleh perawat ke ruangannya. Mertuanya kembali ke apartemen, karena besok mereka yang bertugas menjaga dirinya saat Genta praktek.
__ADS_1
"Uhmm, pinternya anak bapak nen nya. Enak ya?" gumam Genta yang duduk di sampingnya sambil mengelus kepala putranya.
"Kosongin ya mas Bisma, nanti habis itu bapak yang nen.." Bisikan suaminya langsung membuatnya mendaratkan cubitan ke perut suaminya.
"Ngomong sama anak yang bener sih.." gerutunya yang malah membuat Genta tergelak sambil meringis kesakitan.
"Lhoh, bener kan? Aku kan cuma sounding aja ke Bisma, kalau itu milik berdua. Biar anak ini paham, kalau ibunya pengin manja ke bapaknya."
Ia memutar bola matanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya,
"Iisshhh,, kebalik itu mah..bapaknya kali yang pengin dimanja.."
"Ya apalah itu..yang penting enak lah pokoknya.." pungkas suaminya sambil mengedipkan satu mata ke arahnya.
Genta bangkit dari duduk, berjalan mendekati kakinya, lalu meriksa tubuh bagian bawahnya.
"Kalau terasa ngeluarin darah banyak banget, lebih banyak berkali-kali dari waktu haid. Kasih tahu aku ya."
Dirinya pun mengangguk mendengarkan penjelasan Genta.
"Aku nggak apa-apa kan mas?" selidiknya sambil menatap mata Genta.
Suaminya itu pun tersenyum,
"Aku harus selalu bilang jujur kan?" Pertanyaan itu kembali membuatnya mengangguk.
"Ya waktu operasi kamu sempat pendarahan hebat, kalau nggak bisa berhenti terpaksa ya harus angkat rahim. Tapi kami berusaha sebisa mungkin dan puji Tuhan pendarahan berhenti."
"Ya tapi, harus dipantau sampai besok. Makanya kalau kamu merasakan ada yang nggak beres sama tubuh kamu. Bilang ke aku, jangan diam aja. Ngerti?" titah suaminya.
"Iya bapak dokter tersayang..! Sini dong, aku dipeluk dulu.." manjanya sambil mengulum senyum.
"Makasih ya mas, sudah berjuang buat aku sama anak kita. Mas selalu ada buat aku." gumamnya dengan kepala terbenam di dada suaminya.
"Seharusnya aku yang bilang begitu. Terimakasih karena kamu udah berhasil buat kaki aku lemas pas di depan meja operasi. Baru kamu orang pertama yang buat aku rasanya nggak bertulang pas mau operasi orang." jawaban suaminya membuatnya terkekeh.
Kepalanya mendongak dan mencium bibir suaminya. Namun, ciuman itu terasa semakin dalam dan hangat.
"Ooeeekkkk...eekkk..eekkk.."
Pagutan itu terlepas dan mata mereka beradu, lalu mereka tergelak bersama.
......................
__ADS_1