
Hai kakak-kakak sayang, apa kabarnya?
Semoga sehat selalu ya...
Maaf ya kalau ceritanya Mas Genta sama Mbak Prisha terasa monoton..
Tapi semoga masih bisa selalu dinikmati dan menghibur kakak-kakak semua ya..
Terimakasih untuk dukungannya selama ini..
Salam sayang dari Mas Genta untuk kalian semua..
Muaachh...
......................
Bettersea, London
Prisha
Dengan peluh yang masih membasahi keningnya, ia masih mengatur napasnya, begitu juga suaminya.
"Makasih sayang.." bibir Genta mengecup keningnya.
Genta tetaplah Genta yang selalu mampu membuat dirinya pasrah saat hembusan napas yang hangat menyapu kulitnya. Ia yang awalnya berusaha untuk menolak ajakan suaminya, namun apalah daya ketika bisikan suaminya menyapu gendang telinganya.
"Mumpung Bisma sama eyang-eyangnya.."
"Aku kangen..."
"Lagi ya.."
Entah kalimat-kalimat lain apalagi yang terasa memabukkan untuknya. Namun, ada kekhawatiran setelah kegiatan panas mereka malam ini.
"Mas, nanti kalau aku hamil gimana? Mas iihhh...lupa ya..? Bisa-bisanya nggak pakai.." gerutunya dengan wajah yang sudah cemberut.
Namun suaminya malah hanya memberikan cengiran dan terkekeh pelan.
"Nggak akan, kan aku udah ngerem.."
"Hiiissshhh...." liriknya dengan wajah yang masih ditekuk. Ia tahu dengan apa yang dilakukan suaminya, namun jujur ia takut kalau ternyata sudah ada yang sempat lepas di dalam sana.
Mana ia masih belum mendapatkan tamu bulanan kembali setelah melahirkan, hal itu yang semakin membuatnya tidak tenang.
"Udah tenang...nggak akan jadi yang..semuanya aman. Tenang aja sih, aku kan yang bisa rasain. Jadi kamu tenang aja.." kali ini suaminya bergumam dengan santainya bahkan sambil menaik turunkan alis.
Kepalanya pun hanya mampu menggeleng dan mendengus pelan.
"Besok beli..! Awas aja kalau kehabisan lagi, nggak akan dipersilahkan masuk..!" salaknya kali ini membuat Genta kembali tertawa.
__ADS_1
"Iyaa..iya, ya tadi nggak tahu kalau kehabisan. Udah terlanjur on, ya lanjut aja..lagian kangen juga kalau nggak pakai apa-apa, lebih greget.."
Matanya langsung mendelik mendengar ucapan vulgar suaminya dan jari-hari tangannya langsung mengunci bibir suaminya.
"Greget..greget..! Aku yang dag dig dug..!"
"Udah aahh..berisik dehh..! Ayo tidur atau mau dibikin dag dig dug lagi?"
Tawaran suaminya kali ini mampu membuatnya diam seribu bahasa daripada melanjutkan hal yang memang sebenarnya memabukkan itu, ia lebih memilih masuk ke dekapan suaminya dan memejamkan mata.
"Tuhan..jangan dulu ya Tuhan..aku mohon..! Bisma masih kecil, luka jahitan aja masih perih.." gumamnya dalam hati sembari memejamkan mata.
Pagi jam 6, Genta sudah bangun terlebih dahulu dengan wajah sangat segar, sedangkan dirinya masih berada di atas ranjang.
Aroma tubuh suaminya mampu membuat tidurnya terusik.
"Pagi sayang, ditutup dong..! Kalau dibuka gini, kan aku jadi males kerja.." ucap suaminya yang terlihat masih bertelanjang dada dan berlilitkan handuk di pinggang, sambil menaikkan selimut menutupi bagian atasnya yang tersingkap.
Ia hanya memanyunkan bibirnya, kemudian dikecup oleh suaminya.
"Mas, tolong ambilin pumping sekalian dong..!" pintanya dengan posisi bersandar pada tumpukan bantal.
Tangannya sudah sibuk dengan alat pumping yang telah menempel di kedua sumber kehidupan putranya.
"Kamu beneran nggak ikut pulang ke Indonesia bareng ayah mama?" tanya suaminya yang saat ini telah duduk di tepi ranjang sambil menatapnya.
"Sekalian sama mas aja, kan mas juga tinggal 6 bulan lagi di sini. Biar bisa ikut wisuda sumpah dokter spesialis mas di sini.."
Bibir suaminya pun tersenyum,
"Kirain biar bisa deketan terus sama mas, terus layaknya tadi malam.." goda suaminya sembari manatap sesuatu yang tengah sibuk dikuras isinya.
"Pagi-pagi udah ke situ aja mikirinya, masih dikuras ini tandonnya." ocehnya namun sambil menebarkan wajah menggodanya.
"Yaudah aku berangkat dulu ya." pamit suaminya kemudian mengecup keningnya.
Baru selangkah suaminya beranjak, kembali lagi menghampiri dirinya dan membisikkan sesuatu hal.
"Ingatin aku beli balon, biar bisa dibukain pintu buat pesta.."
Bisikan suaminya membuat mereka berdua terkekeh.
Setelah kepulangan mertuanya dan juga Naras dua minggu lalu, besok lusa giliran orangtuanya yang pulang ke Indonesia.
"Bener nih nggak ikut ayah pulang?" tanya ayahnya sambil merangkul pundaknya.
Ia pun menganggukkan kepalanya,
"Kasihan Mas Genta kalau ditinggal, lagian enam bulan lagi kita juga balik ke Indonesia." jelasnya sambil bergelayut manja di pelukan ayahnya.
__ADS_1
"Terus kalian jadi cari rumah di Yogya?" tanya mamanya yang berjalan ke arah mereka berdua.
"Jadi lah ma..udah ada yang jual?"
"Ya kalian itu maunya di mana? Cluster atau nggak?" tanya mamanya lagi yang saat ini sudah duduk di hadapannya.
"Ya sekitaran rumah sampai rumah bapak Arya aja kalau ada, biar dekat sama rumah sakit tempat Om Ardhana." suaminya sudah jelas akan bekerja di rumah sakit tempat Om Ardhana bertugas, bukan di tempat ayahnya memimpin.
"Berarti nggak usah cluster ya kalau daerah-daerah situ."
Kepalanya pun kembali mengangguk,
"Iya, Mas Genta juga nggak terlalu suka cluster. Malah kalau ada tanah, biar bisa desain modelnya sendiri."
"Mau kamu tanah? Di dekat Om Ardhana itu ada tanah dijual, ya sebenarnya sih ada rumahnya kecil tapi tanahnya gede, tapi bangunan lama. Bisa dirobohin, dibangun ulang. Malah enak tinggal bangun, tanahnya udah keras."
"Boleh, kirim aja gambarnya, sama harganya berapa. Jangan mahal-mahal ya ayah, kami masih remah-remah biskuit. Jangan lebih dari yang aku sebutin kemarin pokoknya."
Ayah dan mamanya terkekeh,
"Iya, kamu beli tanahnya aja, pakai tukang dari mertuamu kan beres. Kalai mertuamu nggak mau, bilang aja warisan pom bensin nggak akan dibagi."
Ia pun langsung ikut tertawa dan menganggukkan kepalanya.
................
Heathrow, London
Asa
"Kalian yang akur di sini, saling pengertian dan jujur." ucapnya sembari menunjuk kedua anaknya yang berdiri di hadapannya.
"Iya ma.. siap.." Genta menjawab dengan bibir tersenyum.
"Hati-hati mbak jaga anaknya, jangan sembrono..jangan grasak-grusuk..!" titahnya lagi ke putrinya yang sudah memeluknya erat.
"Iya..mama nggak usah pulang aja, di sini aja sama aku.." rengek putriny yang membuatnya terkekeh.
"Kamu ini ada-ada aja, nanti ayah nggak bisa tidur kalau nggak ada mama." bisiknya yang membuat anaknya cekikikan.
"Bye..bye..cucu eyang..baik-baik ya sama bapak ibu. Kasih bapak ibu waktu buat mesra-mesraan ya.." gumamnya ke bayi sudah mulai bisa tersenyum itu.
"Jaga diri baik-baik semuanya ya.. yang rukun.." suaminya memeluk Prisha dan beralih ke Genta.
"Ayah juga..hati-hati nyetirnya. Sama nggak ussh memaksakan diri melakukan yang berat-berat. Ngerti?"
Dirinya tertawa melihat tingkah Prisha yang masih saja selalu bawel ke suaminya, persis seperti dirinya.
......................
__ADS_1