
Renon, Denpasar
Prisha
Entah sudah berapa lama ia berendam dan berenang bolak balik di kolam renang. Untung cuaca di Denpasar malam ini panas.
Sepanas hatinya saat melihat perempuan yang memakai swimsuit yang sangat terbuka dengan luwesnya mencium pipi, memeluk dan duduk bersandar di samping Genta.
"Hai kamu, apa kabar Genta?" Perempuan itu memeluk dan mencium pipi Genta, kemudian mengambil duduk di sebelah Genta sambil mengapit lengan Genta.
"Lama ya kita nggak ketemu? Eh, ini Prisha kan adik sepupu kamu. Udah dewasa juga ya?" tanya perempuan itu sambil menatap dirinya.
Cukup lama ia mengingat siapa perempuan itu, mencoba mengingat semua perempuan yang ada di sekitar Genta.
Genta saat itu tampak tidak menolak dengan bahasa tubuh perempuan yang ia ingat merupakan mantan Genta.
Tiba-tiba ada yang memeluk dirinya dari belakang, membuyarkan semua lamunannya.
"Masih marah? Iya aku minta maaf." gumam Genta pelan sambil menyandarkan kepala di bahunya yang membuat kulitnya merasakan hembusan napas Genta.
Namun ia masih memilih diam,menyandarkan dagu di tepi kolam. Mencoba tak menghiraukan Genta.
Genta semakin mengeratkan pelukan dan mengecup pundaknya. Kemudian tangan Genta beralih merengkuh tangannya dan kepalanya berpindah bersandar di puncak kepalanya.
"Kan aku udah bilang, tadi itu Adel. Aku udah nggak ketemu lama banget dan aku juga udah nggak pernah contact sama sekali."
Ia pun menghela napasnya, kalau ia memilih untuk tetap diam dan tidak menjelaskan apa yang ia rasakan, pasti semua tidak akan selesai. Akhirnya ia memilih untuk membuka suara.
"Kamu udah biasa ya dipeluk-peluk, dicium-cium, digelendotin sama banyak perempuan? Terutama sama mantan-mantan kamu? Dan pas pakai baju seperti itu tadi?" tanyanya beruntutan seakan tak memberi waktu Genta untuk menjawab satu per satu.
Genta memegang bahunya dan memaksa membuatnya berputar menatap Genta.
Lelaki berparas ganteng itu, malah tampak tersenyum.
"Kamu nggak ngebolehin aku pakai bikini di sana. Tapi kenyataannya mantan kamu pakai baju lebih terbuka dan dengan santainya ngeraba-raba kamu. Bedanya aku sama dia apa?" gerutunya lagi seraya memalingkan pandangannya.
Genta kembali tersenyum dan menggigit bawah, menahan tawa.
"Bedanya kamu sama dia? Kamu itu masa depan aku dan dia masa lalu aku. Terserah dia mau pakai baju seperti apa sekarang. Dia udah bukan siapa-siapa aku. Dan kalau masalah raba-meraba, aku tipe lelaki yang nggak gampang luluh dengan raba meraba." jelas Genta setengah berbisik menggoda, sambil menatap lekat matanya.
"Kecuali kalau diraba-raba sama kamu. Makanya aku berusaha selalu jaga sikap sama kamu, sebelum bapak ibu, ayah, sama mama kamu merestui hubungan kita." imbuh Genta yang membuat pipinya langsung merona pastinya.
__ADS_1
"Takut khilaf!" bisik Genta lagi yang membuatnya mengulum senyum.
"Gombal..!" timpalnya sembari mencubit hidung Genta yang telah terkekeh.
Genta membawa kedua tangannya melingkar ke leher Genta.
"Aku sayang kamu dari kamu masih balita. Kamu itu selalu jadi alasan dan penyemangatku untuk menjalani profesi dokter. Kita berjuang bersama buat dapat restu keluarga ya."
Dirinya pun mengangguk dan tersenyum,
"Mama sih udah tahu kita dekat, tapi ayah belum sama sekali. Ayah malah tahunya aku jalan sama Wisnu."
Genta langsung menautkan alisnya,
"Kamu masih jalan sama Wisnu?" selidik Genta ke arahnya.
Ia pun menggeleng.
"Bagus! Aku nggak suka kamu dekat sama Wisnu. Kamu nggak diapa-apain kan sama manusia itu?" selidik Genta lagi yang membuatnya langsung mengulum senyum.
"Diapa-apain itu maksudnya gimana? Yang jelas dong kalau ngomong. Lagian emang aku boleh berhubungan dekat sama cowok lain nih?"
Genta
"Dia nggak berani nyentuh ini, ini, ini sama semuanya ini kan?" selidiknya sembari mengelus pipi, bibir, turun ke leher, kemudian memeluk erat pinggang Prisha agar semakin menempel dengan tubuhnya.
Gadis kecilnya itu pun menggeleng sambil menatap matanya dan turun menatap bibirnya.
"Jaga ya buat aku, sampai nanti waktunya tiba. Sampai kerajaan Ararya dan Narendra memberi restu buat aku nikahin kamu." pintanya seraya mengelus pipi Prisha dengan satu tangannya.
"Tapi kita berat lho mas, kamu yakin nggak akan menyerah seumur hidup menjalani perbedaan kita?" tanya Prisha sambil menatapnya lekat, seakan mencari kebenaran dari dirinya.
"Selama aku masih hidup, aku akan berusaha. Kalau aku capek, tugasmu mengingatkan aku, biar aku harus tetap berusaha." jawabnya sambil tersenyum.
Tanpa ia pikirkan, Prisha malah mengecup bibirnya yang membuatnya terdiam sepersekian detik.
Seperti mendapatkan angin segar, ia langsung mendaratkan ciuman ke bibir Prisha, lembut dan hangat itu yang mereka rasakan.
Kemudian ia memilih mengakhiri hal itu,
"Berani mulai nakal ya kamu, nggak boleh gitu sama cowok lain."
__ADS_1
Namun ucapannya malah mendapatkan cibiran dari Prisha, kemudian Prisha memeluknya erat.
"Aku sayang Mas Genta."
Cukup lama mereka berpelukan hingga ada hal yang mengusik mereka, yaitu berupa teriakan dari orang yang sangat mereka kenal suaranya.
"Gentaaa...! Mas Genta..!"
Dengan cepat mereka melepas pelukan itu dan berusaha menyibukkan diri dengan gerakan berenang.
"Ya ampun ,kalian di sini? Malam-malam gini berenang banget?"
"Om..tante.." sapa Prisha dengan wajah gugup.
"Ibu..bapak..? Katanya ke Surabaya?" tanyanya dengan tatapan melongo karena jujur dirinya tidak siap dengan kehadiran orangtuanya saat ini.
"Iya kita datangnya sabtu pagi ini aja, besok nggak usah. Mau ketemu kamu." jawab ibunya sembari duduk di kursi santai dekat kolam renang sambil menikmati apel.
Ia pun langsung menelan salivanya,
"Oh gitu?" Kali ini ia sudah tak mengerti lagi harus bicara apa. Ia hanya berharap orangtuanya tidak melihat kemesraannya dengan Prisha tadi.
"Udah ayo naik ahh kalian. Ibu bawa makanan itu, siapa tahu mau nyemil lagi." ucap ibunya seraya melenggang pergi meninggalkan mereka yang masih mematung di kolam renang.
Arya
Ia menatap kedua insan yang tengah jatuh cinta itu secara bergantian sambil mengulum senyum.
"Bapak kenapa sih senyam senyum gitu?" tanya putranya ke arahnya sambil mengunyah pastry yang dibawa istrinya.
Prisha tampak lebih diam dari biasanya dan sedikit gugup.
Matanya kembali menatap putranya sambil melipat bibirnya menahan tawa.
"Bapak kenapa sih? Aneh deh.." ucap putranya kembali.
Kepalanya langsung menggeleng, namun masih tetap mencoba menahan tawa.
"Nggak, kalian itu masih jam 9 kok udah di rumah. Kamu itu bukannya ngajak Prisha nongkrong dimana gitu." elaknya mencoba mencari-cari jawaban yang tepat.
"Tadi sore kita udah pergi ke beach club, makanya jam segini udah di rumah. Karena nggak ada kerjaan, yaudah kita berenang."
__ADS_1
Penjelasan putranya coba ia terima dan cerna. Ada kejujuran, tapi tidak semuanya. Pasti ada sesuatu yang terjadi di kolam renang, sebelum Clara berteriak memasuki rumah. Andau saja istrinya tidak berteriak, pasti ia sudah tahu apa yang terjadi sesungguhnya.
......................