
1 TAHUN KEMUDIAN...
Yogyakarta
Rendra
Saat ini sepasang matanya beradu pandang dengan keponakan yang sekaligus kekasih dari anaknya, bahkan 6 bulan lagi akan menjadi menantunya.
Kenyataan macam apa ini?
Bahagia? Bersyukur?
Karena tempat berlindung putrinya kelak adalah seorang lelaki bernama Genta?
Lelaki yang sudah dia kenal dari lelaki itu masih di dalam kandungan sahabatnya bernama Clara, lalu lahir ke dunia, bertumbuh menjadi anak lucu dan bertubuh gempal.
Kemudian beranjak menjadi remaja yang pintar dalam akademis dan pergaulan, bahkan sekarang mengikuti jejaknya menjadi seorang dokter karena putrinya.
Otaknya selalu mencoba mencerna, apakah Clara wanita yang pernah ia cintai itu memang ditakdirkan untuk selalu memberinya sebuah kejutan-kejutan seperti ini?
Ia menghembuskan napasnya pelan sambil memandang Genta.
"Kamu yakin?" tanyanya meyakinkan ucapan Genta beberapa menit yang lalu.
"Maaf om sebelumnya, baru bisa bicara secara langsung hari ini. Saya minta maaf karena selama ini saya sempat nggak jujur tentang hubungan kami berdua. Hari ini sebelum bapak sama ibu ke sini, saya mau meminta ijin untuk meminta Prisha menjadi istri saya, om."
Genta yang sempat menunduk sebentar, kemudian menatap matanya kembali dan mengangguk yakin.
"Iya om, saya yakin." jawab Genta dengan nada pasti dan sangat yakin.
Pikirannya kembali melayang saat dirinya berada di posisi Genta, melamar mendiang istrinya pertama dan juga saat melamar Asa.
"Kamu tahu kan Prisha seperti apa anaknya?"
"Walaupun anak itu terhitung mandiri, tapi kalau udah manja ya kamu tahu sendiri seperti apa. Belum lagi, cengeng tapi bawel." ceritanya dengan mata menerawang.
Ia kembali mengingat saat-saat beratnya yang ia arungi bersama Prisha saat anak itu masih batita, hingga akhirnya Asa mengisi hidupnya dan juga hidup putrinya.
Matanya berubah berkaca-kaca, ternyata putrinya sudah beranjak dewasa dan akan menjadi seorang istri.
Genta
Ia tertegun saat melihat wajah Om Rendra menjadi sendu dan matanya berkaca-kaca.
"Ayah titip Prisha sama kamu ya Genta, ayah percaya sama kamu." suara Om Rendra tampak bergetar.
"Jadilah suami yang peka dengan keadaan istrimu, bahkan jauh sebelum seorang wanita bercerita. Tarik pelajaran dari masa lalu ayah dulu waktu sama mama kandung Prisha, tante Ayu. Pasti kamu sudah tahu kan ceritanya bagaimana?"
Dirinya pun mengangguk, karena orangtuanya sudah pernah menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya dengan tante Ayu.
"Siap om...!" jawabnya tegas, namun malah disambut lirikan oleh Om Rendra.
"Maaf..ayah.." ucapnya sambil meringis, sontak membuat Ayah Rendra terkekeh.
"Terus kapan bapak ibu kamu ke sini?" tanya ayah Rendra seraya menyilangkan kaki.
"Sekarang lah..kita selesaikan sekarang juga di sini. Kelamaan besok-besok." tiba-tiba suara bapaknya sudah mengisi ruangan dan muncul dari arah dapur.
__ADS_1
Ayah Rendra pun terperanjat dan langsung menoleh ke arah bapaknya.
"Lhahh..tamu macam apa ini, tiba-tiba udah ada di sini." seloroh ayah Rendra sambil berdiri dari posisinya.
"Kita mahh main belakang, pintu dapur aman.." jawab bapaknya sambil terkekeh, kemudian disusul oleh ibunya dan mama Asa.
Ia menatap bapaknya dan ayah Rendra yang duduk bersebelahan. Wajah bapaknya sudah mulai usil menggoda calon ayah mertuanya itu.
"Hai, besan...! Aduhh..besan aku tampan sekali..! Kita udah damai dong ya, udah nggak rival lagi dong ya..." seloroh bapaknya sambil menain turunkan alis dan mengulum senyum.
"Ya Tuhan, aku sih seneng dapat menantu Genta. Tapi punya besan macam gini ini yang bikin aku puyeng. Untung Genta masih dapat didikan dari Clara, kalau nggak..haaahhh...mbuh lah (nggak tau ahh).." gerutu ayah Rendra yang membuat dirinya terkekeh dan bapaknya tergelak.
"Hei..jangan salah..! Genta seperti itu karena mengalir darahku di sana.." ucap bapaknya sambil menunjuk dirinya.
Ayah Rendra berpura-pura jengah sambil memutar bola mata dan mendengus pelan.
"Selamat siang..." tak lama Om Ardhana dan Tante Greesa datang.
"Weiisss..ini kumpul nih ceritanya?" ucap ayah Rendra sambil tergelak.
"Genta, tolong panggilin Prisha ya..kita bahas pernikahan kalian habis ini.." pinta mama Asa, kemudian ia menganggukkan kepala dan beranjak mencari Prisha.
Kakinya berjalan melangkah ke dalam ruang tengah tapi tidak menemukan Prisha. Ia masuk ke dalam kamar Nendra yang sedikit terbuka.
"Dek, mbak Prisha di mana?" tanyanya saat melihat Nendra tengah rapi dan bersiap akan pergi.
"Di kamar kelihatannya mas.."
"Oke..ciee, mau ngapel cewek yaa?" selorohnya sambil terkekeh, kemudian menutup pintu kamar Nendra.
Ia melihat pintu kamar Prisha sedikit terbuka dan melihat bayangan Prisha di dalam.
"Mas?" ucap Prisha sambil membulatkan mata.
Ia tersenyum jahil dan memeluk kekasihnya itu dari samping, kemudian mendaratkan ciuman lembut di pipi dan bibir Prisha. Bukan hanya dirinya yang terhanyut, namun Prisha malah terlihat lebih memanas siang ini.
Namun ia lebih memilih mengakhirinya, karena suasana tampak tidak kondusif.
"Udah ya, ditahan dulu. Nanti lagi.." bisiknya sambil mengecup leher samping Prisha.
Kekasihnya itu sudah tampak merona,
"Ditunggu di depan, mau ngobrolin konsep pernikahan.." ajaknya sambil melepaskan pelukannya.
................
Asa
Ia sudah selesai menyiapkan makanan dan minuman sahabat sekaligus calon besannya.
"Mbak, jadi kita siapin apanya dulu ini?" tanyanya ke Clara yang duduk berhadapan dengannya.
"Ya yang penting ke gereja masing-masing dulu, persyaratannya gimana kalau beda seperti ini. Ini sih kelihatannya bukan kehitung beda agama, tapi beda gereja. Prisha udah baptis kan?" tanya Clara sambil menatapnya, dirinya pun mengangguk.
"Nggak masalah berarti, besok kita tinggal bilang aja, pernikahaannya diadakan di gereja Genta. Cuma kita minta pendeta dan romo bersama memberikan pemberkatan. Ini nanti soalnya kalau di tempatku, mereka cuma bisa pemberkatan. Jafi besok kita tanyain lagi, jelasnya gimana." jelas Clara lagi.
"Biasanya kan kalau catatan sipil bisa ngikut diurusin gereja sekalian ya?" giliran suaminya yang angkat bicara.
__ADS_1
"Iya, biasanya gitu." jawab Ardhana yang juga ikut membahas pernikahan ini.
"Udah, masalah gereja sama capil mah, gampang. Kemarin kan kita udah tanya dikit-dikit sama orang gereja. Tinggal yang di gerejamu aja gimana." sahut Arya sambil meminum air mineral.
"Terus konsep nikahnya gimana? Mau pakai adat, atau cuma gereja sama resepsi?" tanya Arya lagi sambil menatap dirinya dan juga Rendra.
Ia dan suaminya saling beradu pandang, kemudian beralih menatap kedua anak mereka yang akan menikah.
"Kalian maunya gimana? Mau pakai adat nggak?" tanya suaminya ke kedua anak itu yang daritadi memilih diam.
Genta menatap putrinya sambil menaikkan alis,
"Masalah adat, enaknya para orangtua aja gimana. Mau adat juga nggak apa-apa, nggak juga nggak masalah." jawab putrinya.
"Kita yang penting sah.." sahut Genta sambil tersenyum lebar.
Arya langsung melirik ke arah putranya itu,
"Ya iyalah, kalian mah yang penting sah, biar juga sah melakukan apapun." seloroh Arya yang membuat semua orang tergelak, kecuali putrinya yang malah tersipu dengan wajah merona.
"Pakai adat kalau gitu, soalnya aku dulu nggak pakai. Aku pengin mereka pakai adat." pintanya sambil menatap semua orang yang duduk di hadapannya. Dan semuanya pun mengangguk.
"Mau pakai gedung atau hotel? Kalau aku sih prefer gedung untuk acara besok. Soalnya ya mohon maaf tahu sendiri, tamunya berapa." tanya Arya menawarkan tempat yang dimiliki oleh keluarga besar Artono.
Lima tahun lalu, Arya membangun gedung pertemuan baru, tempatnya sangat luas dan bagus, bahkan bisa memuat lebih banyak tamu undangan daripada di hotel.
"Aku juga gedung, karena kita acaranya gabungan. Jadi acaranya jangan dijadiin satu sesi. Ada yang masuk di acara adat, sisanya baru resepsi. Kau semua dijadiin satu sesi, macam presiden aja kita, tamunya gila-gilaan." ucap suaminya sambil menyandarkan punggung di sandaran sofa.
"Iya, tapi aku tetap menjalankan tradisi lama lho Ndra. Tanpa sumbangan..!" imbuh Arya sambil mengacungkan jari telunjuk ke udara.
"Aku juga..." timpal suaminya.
Memang di tradisi keluarga Rendra ataupun Arya, tidak pernah mau menerima sumbangan saat acara pernikahan. Tapi pasti masih saja selalu ada yang nekat memberi akomodasi honeymoon, perhiasan, voucher menginap, dan lain sebagainya dari para tamu undangan VIP.
"Jadi mau berapa undangan rencananya?" tanyanya ke suaminya dan juga Arya.
"1000 an lah.." ucapnya dan Arya bersamaan.
Dirinya mengerjapkan mata dan mencoba mengatur napas,
"1000 undangan dari keduanya atau masing-masing?"
"Ya masing-masing lah.." jawab kedua bapak yang sudah berusia menginjak angka 5 itu, tapi masih terlihat tampan dan gagah.
Prisha dan Genta langsung membulatkan matanya secara bersamaan.
"Apa..??!!" teriak kedua pasang kekasih itu secara kompak yang membuat semuanya tergelak.
1000 undangan dari kedua pihak, belum tamu dari anak-anak mereka. Jadi ya mungkin akan sekitar 2000an udangan, berarti ada berapa tamu undangan? Silahkan berhitung sendiri.
Ini lah yang dinamakan menikahkan kedua dinasti. Rendra yang sekarang sudah menjabat sebagai Direktur Pelayanan Medik, Keperawatan, dan Penunjang di rumah sakit yang baru sekaligus menjadi dosen di kampusnya dulu.
Sedangkan Arya tetap menjadi pengusaha yang bisnisnya semakin melebar di negeri seberang, serta terkadang juga menjadi dosen tidak tetap atau pengisi acara di seminar-seminar.
Sedangkan dirinya dan juga Clara bukanlah ibu rumah tangga biasa yang hanya duduk manis di rumah. Mereka berdua memiliki kesibukan masing-masing.
Ia yang lebih berkonsentrasi dalam bidang sosial dan pendidikan. Sedangkan Clara berkonsentrasi dalam bidang pariwisata, budaya, dan seni yang tentunya sesuai dengan background pendidikan dan bakatnya.
__ADS_1
Menarik bukan, kehidupan dua keluarga ini?
......................