A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Selamat Datang !


__ADS_3

Yogyakarta


Rendra


Dari kejauhan tampak putrinya berjalan ke arahnya sambil menggendong cucunya. Bibirnya tersenyum memandang anak-anak dan cucunya tiba dengan selamat.


"Selamat datang..!" ucapnya seraya merentangkan tangan, tentu saja Prisha langsung menghambur ke pelukannya.


"Uhhmm..cucu eyang..sini eyang gendong.." tangannya langsung mengambil alih cucunya dari gendongan Prisha.


Bayi berwajah bulat dan berhidung mancung itu terlihat sama sekali tidak menangis, malah terkekeh-kekeh menatap wajahnya.


"Ini pipi ya? Gemes banget eyang sama kamu. Nanti boboknya sama eyang aja ya, biar bapak ibumu berduaan." gumamnya yang disambut Bisma dengan terkekeh-kekeh.


Prisha


"Mama...!" pagi-pagi jam 5, suaranya sudah memenuhi seisi rumah pagi ini.


"Mbak ihh..berisik..!" protes Nendra yang keluar kamar dengan penampilan masih acak-acakan, namun ia sama sekali tak mempedulikan adiknya itu.


Tangannya mengetuk pintu kamar mamanya,


"Mama..mama.."


"Apa sih? Pagi-pagi udah ribut aja.." jawab mamanya dengan tangan yang sibuk membenahi tali kimono tidur.


"Mama punya pembalut?"


Nendra mendengus kesal sembari menenggak air putih di meja makan.


"Ini...!" mamanya memberikan sebungkus pemblut ke tangannya.


"Gitu aja pakai teriak-teriak..! Gangguin orang tidur.." ketus adiknya sembari kembalu berjalan ke kamar.


"Biarin..." timpalnya sembari menjulurkan lidah ke adiknya.


Suaminya yang tadi masih tertidur pulas, sekarang sudah terlihat segar menatapnya.


"Kamu kenapa sih? Pagi-pagi kok udah ribut."


Namun ia hanya memilih menjawab pertanyaan suaminya dengan mengacungkan bungkusan berwarna putih.


"Waahh..berarti udah rutin nih jadwal.."


Memang bulan kemarin ia sudah mulai mendapatkan tamu bulanannya kembali dan bulan ini tamu bulanannya kembali datang.


Setelah selesai membersihkan diri, ia kembali berbaring di samping suaminya.

__ADS_1


"Jadwal mens ku udah rutin nihh.." bisiknya ke telinga suaminya yang tengah sibuk dengan handphone.


Genta melirik dan setengah mencebik ke arahnya,


"Berarti udah bisa jadi tanda dong ya. Yahh, tapi aku berarti udah balik ada jadwal puasa seminggu nihh.."


"Ya dong, biar nggak encok badannya.." jawabnya asal, langsung membuat Genta tergelak.


"Yang, ketemuannya sama anak-anak nanti sore jadinya. Kita motoran aja gimana? Lama nggak motoran berdua." ajak suaminya sambil menaik turunkan alis.


Hari ini memang ada jadwal meet up dengan sahabat-sahabat Genta yang saat ini sedang bernostalgia di Yogya.


"Boleh..tapi aku mau tidur dulu lagi ya. Aku masih ngantuk.." gumamnya dengan nada manja.


"Mas..?!" sentaknya saat suaminya tidak segera memeluk dirinya dan malah memilih tetap fokus pada handphone.


"Apa sayang..?" Genta langsung menaruh handphone di nakas.


"Peluk dong.." rengeknya, entah kenapa ia semakin manja dengan suaminya setelah memiliki anak.


"Iya..iya..kirain disuruh nen.." kerling suaminya dengan tangan telah melingkar di pinggangnya.


"Lagi puasa, seminggu ini full punya Bisma..no debat..!" jawabnya sambil terkekeh.


................


"Selamat malam, hot mommy and hot daddy..!" sapanya sembari memeluk Prisha dan juga Genta yang semakin tampak bersinar.


"Halo hot tante, kapan kawin?" balas Genta dengan tangan merangkul pundaknya.


Ia melirik Genta sambil terkekeh,


"Kawin banget nih yang ditanyain?"


"Kawin kok ditanyain kapan, harusnya kapan nikah?" sahut Anjas yang tampak sibuk dengan sang kekasih baru.


"Lhahh, iya ya..salah pertanyaan ya aku?" balas Genta sambil ikut tergelak.


"By the way, mana bayi? Kok nggak diajak sih? Aku kan pengen ketemu Bisma.." gerutunya dengan wajah yang sudah ditekuk.


"Besok main ke rumah ya. Tadi bapaknya minta motoran, jadi jelas nggak mungkin bawa Bisma malam-malam gini motoran."


"Lagian ini kan mau nongkrong kan judulnya, nggak enak lah bawa anak. Biar kita juga dikira masih pacaran gitu lho.." timpal bapak muda beranak satu itu kepadanya.


"Oke..oke..terus kalian tinggalnya dimana?" tanyanya karena jujur ia bingung harus bertamu ke rumah siapa untuk bertemu bayi berwajah bulat itu.


"Besok kita kabarin mbak, kita tinggalnya nomaden. Kadang di rumah ayah, kadang di rumah bapak, kadang juga di rumah kecil sebelah kos mas Genta. Selama rumah belum jadi, kita bisa tinggal dimana saja.." jawaban Prisha sontak membuatnya terkekeh.

__ADS_1


"Orang kaya mahh bebas, rumah tinggal milih." timpalnya dengan setengah mebcebik.


Anjas


Tangannya mengambil beberapa paper bag untuk dibagikan ke sahabat-sahabatnya.


"Wahh gila..tenanan kie koe meh rabi? (beneran nih kamu mau nikah?)" pertanyaan pertama yang sudah ia pikirkan terlontar dari mulut sahabat gantengnya bernama Genta.


Ia hanya menimpali dengan senyuman dan menaik turunkan alis.


"Wuhuuu...sang buaya akhirnya telah menemukan pawang.." gelak Damar yang membuat seisi meja itu tergelak bersama.


Siapa sih yang nggak tahu perjalanan hidup bercintanya?


"Mbak, yakin mbak? Dipikir dulu lho mbak, mumpung masih bisa ditukar tambah." tambah Genta lagi ke calon istrinya yang hanya bisa tersenyum dan tertawa karena masih malu-malu.


"Kampret..! Aku sudah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sama dia."


Memang calon istrinya inilah yang mampu membuatnya berhenti menikmati penjelajahan cintamya.


"Gom...baaalll...!!" Renggani pun tak mau lalah mencibir.


"Preeett...!" giliran Damar saat ini.


"Lam..be..mu.. manis..!" pungkas Genta sembari meraup wajahnya dengan satu telapak tangan sahabatnya itu.


Hanya Prisha yang terlihat diam, namun ikut tergelak menertawakan dirinya.


"Ta..terus kamu mau praktel dimana?" tanyanya ke sahabatnya yang tengah menikmati makanan.


"Aku udah keterima di rumah sakit ayah mertuaku praktek dulu. Bukan yang sekarang, yang tempatnya om Ardhana. Jadi anak didiknya om aku."


"Aku malah pengin cari rumah sakit di sini aja. Tapi setahun lagi lah, baru bisa pindah." jawabnya kemudian menyendok kembali makanannya.


"Nanti kalau ada lowongan di tempatku atau di tempat mertua, aku kabari. Balik lagi lah kalian ke sini, biar rame." jelas Genta dengan menatap mereka satu per satu.


"Penginku gitu sih Ta, tapi aku kan habis ini mesti ngikut suami. Bojoku kelihatannya udah nyaman di Surabaya. Yasudahlah tak apa.." giliran Rengganis yang buka suara kali ini.


Prisha


Tak terasa sudah sekitar dua jam mereka mengobrol bersama. Ia berjalan ke toilet untuk menuntaskan hasrat buang air kecilnya.


Setelah selesai dan mencuci tangannya di wastafel, ia kembali ke mejanya. Namun ada tangan yang tiba-tiba menepuk pundaknya.


"Prisha..." sapa seseorang dengan lembut dan senyuman manis menghiasi wajah itu.


Seketika ia tercengang, tak menyangka bertemu kembali saat ini.

__ADS_1


......................


__ADS_2