A.R.O.H.A (Aroha)

A.R.O.H.A (Aroha)
Pertengkaran Pertama


__ADS_3

Battersea, London


Prisha


Tiga bulan sudah usia kandungannya. Selama ini ia selalu menuruti nasihat suaminya untuk bedrest. Ia sama sekali hampir tidak pernah keluar apartemen tanpa Genta.


Bosan pun mulai melanda dirinya. Hari ini ia berencana akan groceries beberapa kebutuhan dapur yang sudah menipis, tentunya sebelum suaminya pulang dari rumah sakit.


Ia pun mulai bersiap diri, berganti pakaian untuk musim gugur yang mulai sedikit dingin ini. Dirinya juga hanya akan berbelanja di supermarket yang berada tepat di samping apartemennya.


Entah mengapa, groceries nya hari ini sangatlah menyenangkan baginya, karena ia pergi tanpa Genta, setidaknya bisa menjadi waktunya untuk me time sejenak.


Ya walaupun sebenarnya di apartemen pun ia juga sendirian kalau Genta sedang bekerja, tapi setidaknya ia juga butuh waktu sendiri untuk berpergian tanpa suami.


Setengah kantong belanja pun telah terisi. Ia juga mengerti kalau dirinya tidak akan berbelanja terlalu berat saat pergi seorang diri. Kemudian ia memutuskan untuk singgah sejenak di toko kue sebelah untuk membeli beberapa pastry yang terkenal sangat enak.


Genta


Saat kakinya melangkah masuk apartemen, ruangan itu tampak sepi. Tak ada suara apapun dan tak ada istrinya di dalam.


Tangannya langsung merogoh saku celananya untuk mengambil handphone dan menghubungi istrinya. Namun, tak ada hasil, istrinya tidak mengangkat teleponnya ataupun membalas pesannya.


Situasi seperti ini membuat dirinya cukup panik, karena jujur ia takut ada apa-apa dengan istrinya.


"Kamu di mana sih yang??!" gumamnya sendiri dengan sedikit frustasi.


Ceklek..


Matanya langsung beralih menatap pintu yang mulai tetbuka.


Prisha


Matanya membulat, tubuhnya terasa kaku mematung saat melihat suaminya sudah berada di dalam apartemen sambil berkacak pinggang di depan ranjang.


"Darimana kamu?" sentak Genta dengan tatapan tajam dan mendekat ke arahnya.


Ia menggigit bibir bawahnya dan meletakkan belanjaannya di atas meja. Genta beralih menatap ke arah tas belanjaannya, kemudian kembali menatap matanya.

__ADS_1


"Kamu belanja tanpa aku?" tanya Genta masih dengan nada yang lumayan tinggi.


Ia sangat mengerti saat ini suaminya sedang marah kepadanya.


"Maaf mas, aku cuma ke supermarket sama toko kue sebelah. Dan aku juga nggak beli banyak barang kok, aku tahu diri." jawabnya lirih sambil menatap wajah suaminya dengan tatapan sendu.


"Kalau kamu tahu diri, kamu kasih kabar dulu ke aku. Tanya dulu ke aku, boleh apa nggak?! Bukannya langsung pergi gitu aja! Kamu ngerti nggak sih, kamu itu masih sering kram perut?" protes Genta yang membuatnya menundukkan kepalanya.


"Terus kenapa kamu nggak angkat telepon sama balas pesan aku?" salak suaminya lagi.


Ia hanya mampu menelan salivanya, karena ia tidak tahu kalau suaminya menelepon, mungkin handphone nya masih dalam mode hening.


"Aku tadi pas jalan ke sini mas, tangan aku bawa belanjaan. Maaf.." dustanya dengan suara lirih.


Genta mengangkat dagunya untuk menatap mata suaminya yang masih memancarkan kilatan amarah.


"Aku nggak suka kamu yang seperti ini. Aku nggak suka kamu ngeyel dan grasak-grusuk seperti ini. Kamu itu sekarang tanggungjawab aku. Dan di sini ada anak kita yang juga sedang berjuang bertahan di dalam. Ngerti?!" ucap suaminya dengan emosi yang mulai menurun, namun masih memancarkan aura marah dan kecewa.


Kepalanya pun hanya mampu mengangguk,


Namun, suaminya tampak dingin menyambut pelukannya dan melepaskan perlahan.


"Udah sana mandi dulu, biar aku yang beresin belanjaan." gumam suaminya dengan nada dingin.


Sikap Genta yang seperti ini, jujur membuatnya sedih dan merasa diabaikan. Ia memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Genta


Ia mengeluarkan barang-barang belanjaan istrinya. Memang istrinya belanja tidak banyak dan barang yang dibawa pun tidak berat. Namun, sikap Prisha yang seperti itu mampu memancing emosinya.


Dingin dan sedikit berbicara, hal itu yang hanya mampu ia lakukan saat menekan emosinya yang memuncak.


Ditatanya pastry yang dibeli istrinya di atas piring dan ia pun membuatkan susu hangat untuk dirinya dan juga Prisha. Namun, semua ia lakukan dengan mulut yang terkunci rapat.


Istrinya yang sudah selesai mandi dan sekarang duduk di hadapannya, sesekali melempar pandangan menatap wajahnya, kemudian beralih ke gelas berwarna abu-abu itu.


Mulutnya mengunyah dan menikmati cemilan sore itu masih tanpa bicara. Bahkan hanya untuk sekedar menceritakan kegiatannya di rumah sakit pun tidak.

__ADS_1


Ia lebih berkutat pada handphone nya tanpa memperhatikan istrinya. Kemudian ia beranjak dari duduknya dan menuju ke ranjang.


Namun tiba-tiba tangan istrinya memeluk erat pinggangnya dari belakang dengan sedikit terisak.


"Mas..maaf, aku kan udah minta maaf. Aku mohon mas jangan seperti ini. Aku nggak bisa kalau mas cuma diam gini." isak Prisha yang mampu meruntuhkan benteng pertahanannya.


Ia memutar badannya dan berhadapan dengan istrinya. Matanya menatap lekat wajah istrinya yang sudah basah dengan air mata yang mengalir.


"Kamu tahu salah kamu apa?" tanyanya sambil melipat tangan di depan dada dan menatap lekat mata istrinya.


Prisha pun menganggukkan kepala sambil menatapnya sendu.


"Aku salah karena keluar apartemen nggak ijin mas dulu. Dan aku pergi sendirian." jawab istrinya dengan lirih serta dihiasi isakan yang masih tersisa.


"Oke, aku kasih kamu kelonggaran. Boleh pergi sendiri tapi nggak jauh-jauh. Kalau pun sedikit jauh, harus naik taxi. Nggak boleh lama-lama, nggak boleh bawa barang berat. Dan yang paling utama, harus ijin aku dulu! Kalau aku ijinin boleh, baru boleh pergi. Ngerti?" tegasnya dengan mengajukan beberapa aturan yang mau tidak mau harus dipatuhi istrinya.


"Iya mas, aku janji." jawab Prisha lirih.


Istrinya kembali menghambur ke pelukannya, namun kali ini ia menyambutnya dengan hangat. Didekapnya Prisha sambil mengelus punggung istrinya.


"Maaf, mas terlau keras untuk hal ini. Mas cuma nggak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa, walaupun mas ngerti kamu bosan di sini, kamu butuh pergi sendiri. Tapi mas minta ijin dulu, biar mas tahu kamu ada di mana sampai jam berapa." jelasnya sambil mengelus kepala Prisha.


Kepala Prisha mendongak menatap dirinya dan tersenyum.


"Makasih ya mas..i love you.." Istrinya langsung saling membenamkan wajah mereka yang langsung membuatnya tak membuang kesempatan itu.


Namun, ia sadar diri saat ini kandungan istrinya masih belum terlalu kuat. Ia memilih menghentikan semuanya dan mengelu pipi Prisha, walaupun hasratnya sudah memuncak, paling setelah ini juga akan menuntaskannya sendiri.


"Udah ya.." ucapnya dengan suara berat, sedanfjan istrinya sudah tampak sayu.


"Mas..please..jangan main sendiri ya..aku bantuin.." pinta istrinya dengan tatapan sayu, memohon dan sulit diartikan.


"Yakin..?" tanyanya sambil menyunggingkan senyum penuh arti.


"I'll do my best..!" bisik istrinya dan kembali menyatukan wajah mereka yang langsung membuatnya memanas dan membawa istrinya ke atas ranjang.


......................

__ADS_1


__ADS_2