
Battersea , London
Arya
"Seger tenan le, esuk-esuk wes sumringah banget.. (Seger banget nak, pagi-pagi udah sumringah sekali..)" selorohnya tanpa menatap dua insan yang tengah masuk ke apartemennya dengan rambut sang wanita yang masih setengah kering.
"Hajar terus, jangan kasih kendor..mumpung ada waktu..." gantian Rendra yang menyindir sepasang orangtua baru itu, sedangkan ia pun telah terkekeh-kekeh.
Namun anak-anaknya itu hanya tersenyum, wajah Prisha pun sudah tampak merona dan memilih langsung menghampiri Bisma yang ada di gendongan Rendra.
"Aaahhh sayangnya ibu..haus ya, yukk nen langsung yukk.."
"Iya..sana kasih nen fresh dulu, (ojo mung bapake sing dikek'i sing fresh) jangan bapaknya aja yang dikasih fresh, sampai seger banget gitu mukanya Genta." Rendra kembali bersuara, kali ini berhasil membuatnya tergelak, sedangkan anaknya juga terlihat tertawa.
"Hissshh..ayah..!" wajah Prisha sudah semakin merah dan mendelik ke arah Rendra.
"Mama...! Ayah nih lho, kelihatannya pengin nen yang fresh..!" menantunya itu sudah terdengar berteriak membalas kejahilan Rendra, sembari berjalan ke dalam kamar.
"Ini apa sih, pagi-pagi udah teriak-teriak?! Punya mama udah jadi yoghurt..udah nggak fresh lagi.." timpal Asa yang sontak langsung membuat semuanya semakin tergelak.
Dasar memang keluarganya dan besannya sama-sama gesrek, perbincangan-perbincangan absurd tak tahu malu pun santai saja mereka ucapkan.
Istrinya sedang menyiapkan sarapan yang dibantu putrinya, sedangkan Asa terlihat sibuk membereskan beberapa gelas yang ada di atas meja untuk dicuci.
"Ya kalau kamu mau libur sama cuti 3 hari, ya kita short escape aja kemana gitu." ucapnya saat putranya memberi tahu bahwa akan mendapat cuti 3 hari.
"Prisha sih tadi bilangnya pengin ke pantai gitu pak.."
"Kalau ke pantai, bagus sih ke Flamborough, tapi jauh sih kasihan bawa bayi baru lahir sama Prisha kan juga baru abis operasi. Jadi mending ke..."
"Botany Bay..!" suara anak perempuannya langsung membuat ucapannya menggantung di udara.
Matanya dan mata Genta langsung melirik ke arah putrinya yang masih sibuk di dapur.
"Darimana kamu tahu Botany Bay?" tanya putranya dengan lirikan tajam, seakan meminta kejujuran dari mulut seorang Naras.
Naras hanya menyunggingkan senyum, kemudian menampilkan cengiran.
"Aku sebenernya mau diajak Mas Adi ke sana lusa sama teman-temannya juga."
Penjelasan Naras tampaknya semakin membuat putranya kembali mencecar dan mencebik.
__ADS_1
"Nginep? Sama teman-teman apa cuma berdua aja? Halaaahhh...meh wong loro we munine bareng-bareng (mau berduaan aja bilangnya sama yang lain).." bibir Genta sudah kembali mencebik, namun dirinya hanya memiliih diam dan terkekeh pelan.
"Ya terus kalau mau berdua aja emang kenapa? Nggak boleh?"
Pertikaian antara kakak beradik sudah dipastikan akan terjadi, ia kembali lebih memilih diam sambil menyimak perdebatan itu.
"Nggak boleh lah.." ujar Genta dengan ketus.
"Diihh..siapa yang nggak bolehin?" tampak putrinya tidak mau kalah saat ini.
"Aku lah..! Bapak sama ibu juga pasti nggak ngebolehin.." jawab Genta dengan santainya sambil menikmati susu hangat buatan istrinya.
Naras berjalan ke arahnya, kemudian berdiri di hadapannya.
"Bapak, emang nggak boleh?"
Ia menatap putrinya, kemudian beralih menatap putranya yang tengah mengulum senyum. Dirinya pun memilih menghela napas sebentar.
"Kalian itu pada ngeributin apa sih? Kamu kapan ke Botany Bay, lusa kan?" tanyanya ke putrinya.
"Terus kapan kamu mulai libur, lusa juga kan?" tanyanya beralih ke putranya yang dijawab dengan anggukkan kepala.
"Yaudah, kita berangkat bareng, lusa..! Sekalian ajak Adi sama teman-temannya. Beres kan? Gutu aja kok ribut..!" pungkasnya menengahi semuanya, sedangkan putrinya tampak menghela napas sambil beranjak dari tempatnya.
Ia memang sengaja memberikan sebuah ujian hidup untuk putrinya dan calon menantunya. Bibirnya tersenyum tipis, sembari melirik ke arah Rendra dan juga Genta yang sudah terkekeh pelan.
"Arya kok dilawan..!" gumamnya sepelan mungkin yang semakin membuat Rendra tergelak.
................
Naras
"Nggak usah manyun gitu bibirnya, piknik itu harus bahagia.." goda bapaknya sambil mencolek dagunya.
Bagaimana tidak manyun? Saat ada kesempatan berduaan dengan kekasihnya, malah sekarang berubah menjadi acara keluarga.
Ia pun hanya membalas godaan bapaknya dengan lirikan tajam dan mendengus pelan.
"Tenang, kalau calon suamimu itu pintar, pasti bisa curi waktu buat berduaan.." kali ini kakaknya yang berulah.
Adipati
__ADS_1
"Selamat pagi om.." sapanya ke Bapak Ararya yang ia klaim sebagai calon mertuanya.
"Pagi..pagi...nggak apa-apa kan kita gabungin liburan kali ini?" tanya calon mertuanya sambil tersenyum
"Nggak apa-apa om..teman-teman saya naik mobil lainnya kok..aman..." jawabnya sambil tersenyum.
Bapak Arya hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepala.
"Oke, kalau gitu biar ayah Rendra sama mama Asa ikut mobil Mas Genta. Kita berdua ikut mobil kamu."
Seketika bola mata putrinya membulat,
"Lhah, ayah Rendra sama mama nggak jadi yang ikut kita?"
"Nggak, bapak aja yang ikut kalian dan bapak duduk depan. Bapak pengin nostalgia di sini sama pacar kamu. Emang nggak boleh?"
Dirinya sangat paham, kalau calon mertuanya ini pasti hanya ingin mengerjai dirinya dan juga Naras.
"Boleh om, silahkan.." ia lebih memilih menuruti, mana mungkin ia berani menolak.
"Tuhh..Adi aja nggak protes..."
Clara
Dari tadi ia hanya melihat tingkah jahil suaminya ke putrinya dan juga calon menantunya.
"Lihat tuh bapaknya, udah tua masih aja jahil. Kasihan anaknya dikerjain begitu. Padahal perasaan dulu bapakku nggak gitu lho ke dia.." gumamnya ke Rendra yang sudah terkekeh-kekeh.
"Arya kok dilawan..! Masa muda malang melintang dia dunia percintaan, begitu punya anak gadis ya gitu dehh..! Gitu aja kemari ngatain tingkahku ke Prisha yang over protect.."
Ia langsung ikut tertawa pelan mendengar ucapan Rendra.
"Udah bu?" suara Genta menyudahi perbincangannya dengan Rendra.
"Udah..ayoo..!"
"Sini biar Bisma sama ayah aja.." pinta Rendra ke Prisha yang sedang menggendong bayi berpipi bulat itu.
"No..! Ayah kalau gendong terus, kapan sembuh totalnya itu tangan.."
"Heleh, bisa..bisa..kan duduk di mobil, jadi setengah bersandar. Udah sini..!" perdebatan antara ayah dan anak pun kembali terjadi di sampingnya.
__ADS_1
Dan tampaknya Prisha memilih mengalah, karena Rendra telah merebut paksa Bisma ke dalan gendongan Rendra.
......................