Affair With My Boss

Affair With My Boss
Mimpi buruk


__ADS_3

"Kaupikir siapa dirimu! Kauitu hanyalah seorang perempuan murahan! Kaupikir pria baik sepertiku akan sudi menikah denganmu. Jangan bermimpi! Kalau bukan karena paksaan ibuku ini semua tidak akan pernah terjadi. Mulai detik ini kau resmi menjadi seorang janda." ucap Bimo berteriak.


Kata-kata janda terngiang ditelinganya. Ibunya terus-terusan menangis, cairan sebening kristal itu juga menetes dari pipi bapaknya. Tidak ada seorang anak pun yang tega melihat orangtuanya menangis begitupun dia.


Arini tertegun dengan perkataan Bimo. Kenapa dia begitu jahat. Arini tidak sanggup melihat kedua orangtuanya yang menangis, air matanya pun tak terbendung lagi. "Aku berharap semua ini hanyalah mimpi."


"Hei tidur aja loe. Kerja! Kerja!" teriak Mely di telinga Arini.


"Haaah..., apaan sih Mel teriak-teriak! Bisa budek gue gara-gara loe!" kata Arini sambil menggosok-gosok telinganya yang panas karena teriakan Mely barusan. Kelakuan sahabatnya itu sukses membangunkannya dari mimpi buruk. "Kenapa bisa mimpi itu lagi coba!" Arini mengurut-urut jidat nya yang pusing.


Hari itu adalah hari yang paling menyedihkan dalam hidupnya, sampai detik ini dia masih mengingat dengan jelas semua kejadian dimana dia diceraikan di hari pernikahannya sendiri.


Semua itu sampai menimbulkan trauma dalam hidupnya, mungkin karena itu juga sampai sekarang dia belum menikah, atau hanya sekedar menjalin hubungan dengan seorang pria.


"Iya-iya jangan maraaah. Lagian kerjaan loe dari tadi kalau gak melamun ya tidur. Heeh, ck ck ck, Mely berdecak. Mikirin apaan! Atau jangan-jangan loe ngebet kepengen kawin lagi," sahut mely mengejek.


"Apaan sih! Loe kali yang ngebet banget pengen kawin," seloroh Arini sambil memanyunkan bibirnya.


"Itu sih gak usah di ragukan lagi yang ngantri si banyak yah, tapi belum ada aja yang kena di hati, Mely terkekeh. Karena yang ngantri cowok culun semua mana mau dia. Pengennya kan kayak opa Lee Min Ho, cowok keren, gagah plus cool, kulkas kaliii. Nasib-nasib gerutu Mely sambil nepuk jidat."


"Hayalan loe tu ketinggian. Wajar aja ampe sekarang masih betah ngejomblo."


"Huh, mentang-mentang yang naksir banyak. Tapi, siapa juga yang mau sama suami orang. Percuma yang naksir pria tampan intelektual. tapi, kalo milik orang mah gue ogah." Mely mencibir.


"Biarin, ngiri aja loe! Jangan-jangan loe naksir pak Jaka," Arini ngakak. "Pak Jaka itu orangnya udah tua, anaknya aja udah lima, udah pada merid semua."


"Wiidiiih, amit-amit. Mending ke kantin daripada ngomongin hal yang gak penting kayak gitu," ujar Mely dengan tampang cemberut.


"Entar aja, masih ada yang musti dikerjain nanggung soalnya." Arini mengerling matanya.


"Entar-entar, yang ada istirahat siang keburu abis di gondol maling." Mely mulai tersulut emosinya, bawaannya memang suka gitu kalau udah lapar.


"Maling, memangnya loe yang bisa di bawa kabur!" gerutu Arini sewot.


"Hah, mau gue kalau yang maling cogan." Mely tersenyum membayangkannya, berharap dot com.

__ADS_1


"Hahaa," Arini ngakak melihat tampang Mely yang lucu, lagi ngebayangin hal-hal yang tidak-tidak, terlihat jelas dari raut wajahnya.


Mely cemberut karena hayalannya terhenti karena sahabatnya yang resek.


Perut Arini keroncongan juga, keduanya pun pergi kekantin sambil cekikikan. Mely memang sahabatnya yang terbaik, Arini sampai lupa dengan mimpinya barusan.


Dikantin suasana ramai seperti biasa, mereka berdua mengambil jatah makan siang dan duduk di kursi yang agak jauh di pojokan belakang agar bebas menggosip.


"Eeh rin, loe tau gak! Anaknya bos katanya mau merid." ucap Mely memulai percakapan.


"Setahu gue anaknya pak Heru masih SD." sahut Arini dengan acuh, sambil terus menyantap makanannya."


Kepalanya pun di sentil oleh mely. "Aauch," Arini mengusap keningnya yang sakit, "emangnya ada yang salah!" omelnya.


"Ya jelaslah loe salah, yang mau nikah itu anaknya pemilik Perusahaan, yang baru balik kerja dari luar negri. Taunya kerja doang gak update banget," omel Mely.


"Gue itu di sini kerja demi sesuap nasi, bukannya ngegosip," sambil menjulurkan lidahnya. "Bokap sendiri punya perusahaan, kok anaknya malah kerja sama orang lain?" Arini menggaruk-garuk kepala yang gak gatal sama sekali, bingung aja sama kelakuan orang kaya.


"Itu sih gue juga kurang paham, kali-kali aja cari pengalaman gitu."


"Sok tau loe!" seloroh Arini sambil memonyongkan bibirnya, kasih info itu yang jelas jangan setengah-setengah. "Mendingan makan aja dari pada dengerin gosip loe yang gak mutu."


"Wkwkwwkwkwk, Kecuali gue tentunya." Arini cuma bisa ketawa sambil geleng-geleng kepala ngeliat kelakuan sahabatnya itu."


"Kalau loe, gue gak heran. Loe itu kayaknya gak normal, seperti ada kelainan gitu, jangan-jangan loe lesbi kali!" Mely mendelik kearah Arini sambil tertawa terpingkal-pingkal.


"Gak normal kepala loe! Enak aja, jaga omongan loe, ntar ada yang denger malah jadi bahan gosip kalau gue itu lesbian." Ujar Arini berbisik. "Lagian dia itu mau nikah, ngapain coba mengidolakan orang yang jelas-jelas akan menjadi milik orang lain. Mubazir tau, buang-buang waktu. Lagian gue yakin dia gak bakalan tertarik sama loe." Arini tertawa dengan jahilnya.


"Kita liat aja ntar. Belum juga nikah sebelum janur kuning melengkung itu si opa tampan masih milik bersama titik." jawab Mely mantap.


Arini ngelanjutin makan siangnya yang udah dingin, karena sibuk dengerin ocehan Mely. Kali ini dia pura-pura budek aja, pusing juga dari tadi si Mely ngoceh mulu.


Mely memutar bola matanya, setiap perkataannya gak ada yang di gubris Arini. "Mending makan aja," pikirnya.


Ternyata Arini sangat lapar dan menghabiskan seluruh makanan yang ada di piringnya. Mereka pun kembali ke kantor karena istirahat siang sudah berakhir.

__ADS_1


Arini kembali melanjutkan kerjaan yang tadi tertunda. Arini memang sangat giat bekerja, karena dia adalah tulang punggung keluarga. Arini anak pertama dari tiga orang bersaudara yang ketiganya perempuan.


Yang nomor dua lagi kuliah di Universitas Negeri di Jakarta, yang paling kecil masih di bangku SMA. Orang tuanya saat ini menetap di kampung bersama dengan adiknya yang paling kecil. Arini sangat bersyukur orang tuanya di berikan kesehatan diusia senja mereka.


Orang tuanya mengisi waktu dengan berkebun buah-buahan dan beternak ayam. Arini tidak mengizinkan mereka untuk kerja yang berat-berat. Untuk itu dia tidak pernah telat mengirimkan uang, Arini merasa inilah baktinya sebagai seorang anak.


Arini menyelesaikan pekerjaannya tepat pada waktu jam pulang kantor. Sesampainya dirumah, waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 karena rumah dan kantornya berjarak sekitar 30 menit. Arini langsung mandi karena cukup kegerahan karena kerjaan kantor, lelah dan kantuk pun melanda, dia pun ketiduran.


Arini membuka matanya dan lampu kamarnya sudah menyala karena kondisi diluar sudah gelap. Arini mengucek-ngucek matanya yang masih ngantuk sambil melihat jam dinding.


"Haaaaa," udah jam 8 teriaknya."


"Iya Kakak ku sayang, yang tidurnya udah kayak kebo." sahut Lulu sang adik yang tiba-tiba masuk kemarnya.


"Yaa ampun kakak capek banget Dek. Kamu tadi pulang jam berapa? "


"Jam 5 kak, nyampe rumah lihat kakak udah tidur aja."


"Kamu udah makan?"


"Jam segini yaudah makan donk kak. Kakak makan gih tadi udah Lulu masakin makanan kesukaan kakak," sahut lulu sambil tersenyum melihat kelakuan kakaknya yang suka molor.


"Waah adek kakak yang cantik, rajin banget rayunya sambil tersenyum. Yaudah kalau gitu kakak makan dulu yah, laper soalnya."


"Yaudah kak, kalau gitu lulu mau ngerjain tugas dulu, habis itu mau langsung tidur. ngantuk," katanya sambil menguap.


"Oke!" Arini mengacungkan jempolnya. Habis makan Arini menghabiskan waktunya menonton TV. Karena bosan lanjut maen game di ponsel, kemudian melihat kerjaan kantor yang belum kelar.


Hingga gak terasa waktu menunjukkan pukul 00.00 wib. Tapi Arini masih belum merasakan ngantuk, lanjut baca novel romance kesukaannya di "noveltoon" hingga jam satu dini hari, dan matanya pun belum bisa tidur.


Arini memejamkan matanya dan sibuk bolak balik di atas kasur empuk miliknya, udah hitung domba, hitung kendaraan parkiran kantor, hingga akhirnya Arini ketiduran setelah mengingat Exel, pria yang gak pernah ada kabarnya setelah kuliah di Inggris, entah kenapa jadi ke ingat dia. Waktu menunjukkan pukul 2.30 WIB, dini hari.


Keesokan harinya,


"Kaak banguuuun! Memangnya kakak gak kerja!" teriak lulu yang untuk kesekian kalinya, tapi sang kakak tak bergeming. Dari tadi sama sekali belum ada jawaban dari dalam kamar, mana pintunya di kunci. "Bisa-bisanya dia masih molor jam segini, ntar dapat surat teguran dari kantor, gimana coba! Kak Arin bisa gagal di promosiin jadi manager," Lulu cemas sendiri ngebayangin karir kakaknya. Padahal dia juga pengen kerja di Perusahaan tempat kakaknya bekerja." Siapa juga yang gak mau kerja di Perusahaan sebesar itu, gajinya bisa dua kali lipat dari Perusahaan lainnya."

__ADS_1


***


Hai ๐Ÿ‘‹ mohon dukungannya yah. Dengan like, comment, vote dan rate juga. Ini adalah karya pertama aku, mungkin banyak typo dan juga tanda baca yang tidak pada tempatnya. Mohon kritikan dan sarannya yang membangun, bukan menjatuhkan๐Ÿ˜๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2