
"Silahkan duduk pak... Saya permisi sebentar mau kekamar dulu," kata Arini canggung.
"Uummm.." Exel berdehem.
Arini pun berjalan ke kamar mau ganti baju karena udah gerah. Didalam kamar, Arini mengambil baju yang lebih nyaman yang ada dilemari kemudian mengenakan pakaiannya.
"Pemandangan disini sangat indah," ucap Exel dengan suara serak, tapi rumahnya terlalu kecil. Apa bayaranmu sangat kecil? Sangat di sayangkan, wanita seperti dirimu di bayar sangat murah. Ck.. Ck.."
Arini terperanjat karena kedatangan Exel yang tiba-tiba dikamarnya, "apa yang kamu lakukan! Keluar!" teriak Arini menahan suaranya sambil menutupi tubuhnya yang terbuka.
"Aku hanya ingin melihat-lihat rumahmu, nggak nyadar sampai disini.. Apalagi pintunya gak dikunci, bukannya kau itu sengaja memancingku.." ucap Exel nakal. "Biarkan aku membayarmu, kau boleh menuliskan ceknya sendiri, berapapun yang kau inginkan."
"Apa yang bapak pikirkan!!" Kata Arini yang berusaha mengenakan bajunya. Dengan susah payah Arini mengenakan pakaiannya, hal itu tidak lepas sedikitpun dari pandangan Exel.
"Mauku bantu.." pinta Exel menggoda.
"Jangan mendekat! Kalau tidak aku bakalan teriak," ancamnya gugup, tubuhnya jadi mandi keringat.
Tentu ancaman itu sama sekali nggak di gubris oleh Exel. Tanpa disadari Arini, Exel sudah berada di dekatnya. Arini tersentak dan sangat malu, dengan apa yang terjadi.
"Berhenti di situ!" pintanya dengan pipi merona.
Exel tidak pernah mengabarinya sewaktu kuliah diluar negeri, akhirnya Arini tau alasan sebenarnya. Itu karena ada yang mengatakan hal-hal buruk tentang dirinya. "Tapi siapa..?"
Apa kesalahanku, hingga dikatain sebagai wanita simpanan, yang membuat Exel selalu menghinaku dan selalu bersikap seenaknya padaku.. Tapi hati ini nggak bisa berbohong, karena Arini mencintai Exel jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam. Hatinya sakit karena Exel mempercayai kata-kata orang itu.
Tangan Exel meraih pergelangan tangannya, kemudian menarik Arini ke sisinya, posisi ini membuat Arini sulit melepaskan diri.
"Tidak pantas bapak masuk kamar saya seperti ini. Tolong... Keluarlah."
"Kesempatan nggakkan datang dua kali," ucapnya tersenyum. Wanita ini selalu menghantui pikirannya, tapi dia selalu berusaha menyangkalnya. Bahkan dalam mimpinya sekalipun, Exel selalu membayangkan Arini dalam mimpi panasnya.
__ADS_1
"Tok tok.. Tok tok..!"
"Dek Arini..!" Panggil orang diluar memanggil. Arini dan Exel buru-buru melepaskan diri.
Arini terpaku di tempat, nggak tau musti berbuat apa.
"Kau pucat," kata Exel menyadarkan Arini.
"Masak iya," sahutnya memegangi pipinya yang panas.
"Pake lipstik dulu biar gak keliatan pucat." Dengan santai dia duduk di sofa ruang tamu, seperti gak terjadi apa-apa barusan.
Sedangkan Arini berusaha tenang sambil membuka pintu yang sengaja dikunci oleh Exel, "ooh tidak..!!" Bisa-bisa orang yang ada diluar jadi salah paham," gumamnya panik.
Di depan ada pak RT, yang membuat jantung Arini semakin deg deg an. "Iya Pak ada apa?" tanya Arini cemas.
"Saya cuma mau ngasih tau dek Arini, kalau nanti sore kita gotong royong komplek perumahan sini, jadi saya harap dek Arini bisa gabung sama kegiatan kami."
"Kenapa dek Arin?" Tanya pak RT yang usianya sekitar 30 an yang tampangnya cukup tampan. Pak RT malah heran karena perkataan Arini.
"Oohh.. Nggak kenapa-napa Pak! Arini senang karena beliau gak curiga. "Iya tentu saya akan hadir Pak, nanti saya bawain kue," ucap Arini sambil tersenyum.
Didalam Exel malah makin gak sabar melihat obrolan Arini dan pak RT mudanya itu, ada rasa cemburu terselip dihatinya, melihat Arini akrab dengan pria lain. Apalagi keliatan sekali kalau pak RT itu tertarik sama Arini. Sepertinya Arini harus pindah ke Apartemen, dan harus menjadi milikku seutuhnya," harus pikirnya dengan senyuman licik.
"Arini kembali masuk dan berdiri dihadapan Exel dengan enggan. "Uummm.. Maaf pak! lebih baik bapak pergi sekarang.. saya nggak enak sama tetangga, nanti mereka jadi mikir macam-macam tentang saya." Arini berusaha menjaga ucapannya, agar tidak menyinggung bosnya yang sensitif itu.
Tapi yang mereka pikirkan itu benar adanya, bukankah kita tadi memang ada apanya..." Exel tersenyum senang, "okeh kalau gitu, aku pergi dulu. Tapi yang tertunda tadi harus kita lanjutkan di lain waktu."
Arini mundur, karena Exel kembali menghampirinya. Tapi sebelum itu pinggulnya udah ditarik kepelukan Exel.
Arini berteriak kaget.
__ADS_1
"Kau harus bertanggung jawab karena membuatku harus menahan diri. Lain kali bantu aku menyelesaikannya sampai tuntas," bisiknya. Pipi Arini langsung memerah, Exel mencium kening dan pipinya, tindakannya itu membuat jantungnya seakan mau copot.
"Aku pulang dulu sayang.." ucap Exel mesra, mulai hari ini jangan panggil bapak lagi kalau hanya kita berdua. Panggil mas, sayang atau kakak kayak dulu terserah kamu aja," sambil memainkan anak rambut Arini yang bermain dikulit pipi nya yang halus.
"Aku pulang, kali ini benar-benar pulang," kata Exel sambil tersenyum dan dengan berat hati melepaskan Arini dari pelukannya. "kamu milikku jadi jangan macam-macam, telpon aku kalau butuh apapun."
"Iyah.." jawab Arini malu-malu.
"Kalau butuh uang katakan padaku. Nggak usah segan.. Kirim nomor rekeningmu, Reno akan mengurus semuanya. Dan ingat, tawaran untuk menjadi wanitaku.. Kalau kau menolak, kau tau apa konsekuensinya, berani menolak presdir. Maka, karirmu akan berakhir. Waktu satu bulan dari sekarang."
Arini kembali kedunia nyata, bahwa dia dimata Exel hanyalah seorang perempuan bayaran, untuk bersenang-senang menghalau rasa bosan dihari-harinya.
Arini tertunduk dan duduk dikursi tamu nya yang sederhana, Arini terisak.. "Apa baginya semua bisa dia beli dengan uang. Apa yang harus aku lakuin.. Menjauh dari hidupnya, gimana caranya. Bekerja ditempat lain, gak kan sebesar penghasilannya di Perusahaan Exel. Lagian gak kan ada yang mau menerimanya setelah di pecat dari sana. "Apa Exel serius dengan perkataannya tadi.
"Gimana dengan keluargaku dikampung.. Adik-adikku.. Gimana sekolah mereka, Arini semakin terisak. Kenapa Exel harus mengancam nya seperti itu. Aku harus gimana? Mungkin aku masih bisa mengajukan kesepakatan yang lain dengannya, asal jangan tubuhku. Aku gak kan menjual diriku demi apapun."
"Triing.. Tring..!" Ponselnya berdering, panggilan dari presdir. "Mau apa lagi dia!"
"Halo!!"
"Waktumu sangat singkat, pikirin tawaranku baik-baik. Jangan sampai keluargamu menderita karena keputusan yang salah." ancam Exel.
"Baik pak! Tapi saya gak mau berbuat dosa dengan bapak." Arini mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal itu. "Kalau bapak mau, kita bisa menikah," Arini menarik napas karena gugup. "Kalau tidak saya gak kan pernah mau, menjual diri saya ke bapak."
"Hahaaaa.." Diluar dugaan Exel malah tertawa, siapa yang mau menikah dengan perempuan sepertimu! Kau ingin menjeratku dengan pernikahan! Cerdik juga kau. Hahaaaa.." Exel kembali tertawa.
"Tapi saya gak main-main dengan perkataan saya pak. Kalau bapak tidak mau, saya nggak bisa memaksa bapak. Tapi saya harap bapak berhenti mengancam saya," akhirnya terucap juga keberanian itu dari bibirnya.
"Berani membantah! Aku juga gak main-main. Keputusanku sudah bulat, silahkan kau pikirkan masa depanmu!"
Exel mematikan panggilannya, karena emosi. Berani-beraninya dia membantah ku. "Kutunggu satu bulan lagi Arini, setelah itu kita liat apa yang akan aku lakuin."
__ADS_1
Bersambung...