
Tepukan seseorang dipundaknya membuyar lamunan Arini.
Arini menoleh dan mendapati seseorang yang telah di kenalinya sejak lama ada dihadapannya. "Kak rei?"
"Hai Arin! Apa kabar? Lama tidak bertemu dan kamu semakin cantik." Raihan tersenyum senang.
"Kakak bisa aja," mukanya tersipu malu. "Arin baik-baik aja kak seperti yang kakak lihat. Kakak apa kabar? Kapan balik dari luar negeri?"
"Kangen yah sama aku?" Raihan kepedean. "Aku pulang bareng Exel, kebetulan kita satu kampus cuma beda jurusan."
Raihan adalah salah satu temannya Exel semasa SMA dan juga kakak kelas Arini. Semasa sekolah Raihan sering sekali menggoda Arini. Hingga Raihan sadar ternyata Arini berpacaran dengan Exel yang membuatnya mengubur rasa sukanya.
"Kak Rai kali yang kangen sama aku!" hoda Arini.
Kamu udah pinter sekarang, tau aja aku kangen sama kamu" bisik raihan ditelinganya dan mencium pipi Arini sekilas.
Arini sontak kaget, yang membuatnya mematung. "Memang beda kalau didikan luar negeri," pikirnya cemberut. "Gimana kalau Exel melihat mereka tadi, dia bisa salah paham."
"Buat apa aku masih mikirin dia, dia aja gak peduli sama kamu Arini. Sadarlah..."
Kak Rai ngapain disini? Jangan bilang cuma sekedar ngikutin Presdir!"
"Aku kan kerja disini juga, jadi karyawan kantor gajinya lumayan." jawab Raihan asal.
"Dibagian apa kak?" Arini sangat penasaran.
"Pak Raihan salah satu Dewan Direksi disini. Tidak sewajarnya kamu itu bersikap tidak sopan." Arini menoleh mendengar suara Direktur.
"Haaah, benarkah?" Arini gelagapan dengan jawaban pak Tito barusan. Dia menoleh ke arah Raihan yang hanya membalasnya dengan senyum jenaka miliknya.
Direktur manggil kak Rai dengan sebutan bapak, nah gue malah manggil kakak. Arini merasa malu dan memberikan senyuman terpaksa ke arah pak Tito.
"Maafin saya pak! Saya khilaf, saya benar-benar gak mengetahui hal itu."
"Jangan minta maaf sama saya," timpal pak Tito.
"Sudah-sudah, ini bukan malah besar Pak Tito. Arini ini adalah teman saya," Raihan menjelaskan.
"Baik kalau begitu," Masih dengan wajah dongkol ke arah Arini. Dan dengan sigap merubah raut wajahnya ke arah Raihan, bisa minta waktu bapak sebentar? Ada yang ingin saya ngomongin."
Oke, tunggu sebentar.
__ADS_1
Dari kejauhan, Aura gelap menyebar disekitar Exel, sedari tadi dia hanya diam mematung. Memperhatikan wanita yang telah lama tidak dilihatnya tampak didepan matanya. Wanita yang sangat dia benci, sekaligus dirindukannya. Dia sampai tidak menghiraukan orang-orang yang memberinya ucapan selamat, semua ini karena cewek matre itu Arini.
Exel ingin sekali menghampirinya, tapi niatnya tak kunjung terlaksana karena melihat Raihan sangat akrab dengannya, terselip rasa cemburu melihat Arini terlihat begitu akrab dengan Raihan. Tanpa ia sadari tangannya mengepal dengan sendirinya.
"Nak Exel, om bangga sama kamu!" ucap Pak Heru penuh haru sambil memeluk Exel.
"Om apa kabar?" Sambil mengusap-usap bahu omnya yang telah menua. "Sudah lama ya om, masih ingat semua ajaran yang om berikan selama ini."
"Iya benar terakhir kali om ketemu kamu sekitar 5 tahun yang lalu. Kamu semakin tinggi dan semakin tampan," sahut Pak Heru sambil memegang kedua lengan Exel dengan penuh haru."
"Terakhir kali ketemu, rambutnya masih hitam om. Ini udah dimakan usia kayaknya, Jangan-jangan om belum nikah makanya stres dan jadi cepat menua seperti ini." Exel ngakak, dan sejenak bisa melupakan Arini dari pikirannya.
"Hahaaa," Pak Heru malah tertawa. "Jangan nyepelehin om dong, gini-gini dulu rebutan cewek-cewek komplek loh," sahutnya penuh kebanggaan. Mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak, sambil mengingat masa lalu yang indah sebelum Exel berangkat ke Inggris untuk kuliah.
Pak Heru dulunya asisten Presdir, karena itu mereka sangat dekat karena sering jagain Exel kalau main ke kantor. Karena posisi itu juga beliau jadi telat nikah karena kesibukannya. Hingga Pak Hermawan merasa pak Heru sudah tua tapi belum memiliki pasangan hidup, hingga akhirnya memberikan jabatan sebagai Direktur di Perusahaan. Dan sekarang telah menikah dan memiliki dua orang anak. Pak Heru adalah orang kepercayaan pak Hermawan, nggak heran di saat pak Heru merekomendasikan Arini, langsung diterima olehnya.
"Oohh iya sampai lupa, Om mau ngenalin kamu sama manager yang baru."
"Ngapain dikenali segala om, di Perusahaan banyak manager yang belum aku tahu. Om malah ngenalin aku sama yang baru di angkat," sahut Exel heran.
"Yang ini tuh beda, dia itu dulunya bawahan Om. Om tau persis dia itu sangat berbakat dan jujur, makanya ajuin dia sebagai manager keuangan dan nantinya akan sering berhubungan sama kamu."
"Ayuuk ikut om!" pintanya.
"Dia aja yang disuruh kesini, masak kita yang kesana. Secara om Direktur aku Presdir masak kita yang nyamperin manager, bisa turun level kita Om." sahut Exel bergaya sok acuh.
"Ooh bener juga yah!" katanya manggut-manggut."
"Arini! Arini!" panggil Pak Heru dengan suara sedikit keras sambil melambaikan tangannya, yang dipanggilpun menoleh.
"Maaf pak! Saya permisi dulu," Arini berpamitan kepada Raihan dan pak Tito.
"Gak usah panggil bapak, panggil kayak biasa aja, oke!
Gak bisa pak, gak enak. Bapak kan atasan saya," Arini tersenyum manis dan berpamitan. Arini langsung bergegas menghampiri Pak Heru. "Iya ada apa pak? Tanya Arini sopan sambil menahan degupan jantungnya yang tidak terkendali.
"Pasti kamu udah kenal sama Presdir kita yang baru. Tapi secara langsung belum kan?"
"Iya pak," jawab Arini menunduk.
"Bapak harap kamu bisa bekerja keras dan tunjukin ke beliau, kalau di usia kamu yang masih muda ini, kamu emang pantas mendapatkan jabatan ini. Jangan sampai kamu malu-maluin bapak yah?
__ADS_1
"Iya pak! Saya akan berusaha menjadi yang terbaik," jawab Arini mantap. Tanpa berani menoleh kearah Exel.
Sedari tadi Exel hanya diam membisu mendengar nama Arini yang di serukan oleh om Heru, dan sekarang matanya tidak pernah lepas dari Arini.
"Matanya jernih dan indah, hidungnya mungil dan mancung, bibirnya merah merekah, sangat menggoda," pikir Exel. Jarak mereka cukup dekat, Exel bisa mencium aroma yang harum menggelitik hidungnya. "Cara Arini yang tidak berani menatap matanya membuat mukanya masam. "Apa semuak itukah dia padaku?" Lama sekali dia merindukan wanita ini. Tapi, yang di lihatnya pertama kali Arini malah bersenang-senang dengan Raihan. Sama sekali tidak ingin menyapanya, sangat kontras dengan sikapnya terhadap Raihan barusan.
Lama situasi sepi di antara mereka berdua. Ucapan pak Heru sama sekali tidak bisa di serap oleh ke duanya. Hanya mata yang mampu berbicara, mereka hanya mampu saling menatap dalam diam, dengan pikiran yang berkecamuk di dalam hati.
"Malah bengong. Udah saling kenal?" Pertanyaan pak Heru memecahkan keheningan diantara mereka.
"Belum." Jawabnya kompak.
"Hmmm, belum apa-apa kalian udah kompak. Om sangat senang," katanya menepuk bahu Exel. "Arini mulai besok ruangan kamu satu lantai dengan Presdir. Jangan bikin malu saya yah?" Pak Heru mewanti-wanti Arini."
"Iya pak, saya tau." kata Arini tegas.
"Kasih aku waktu sebentar om mau ngobrol sama manager baru," pinta Exel. "Reno kamu pergi juga!"
"Baik bos." Reno menanggapi sambil menundukkan kepalanya hormat dan beranjak pergi.
"Oke kalau gitu om pergi dulu." Jangan terlalu galak, entar dia ketakutan. Hahahaha," pak Heru berlalu sambil tertawa hanya dia yang tau maksud ucapannya itu.
"Tenang aja Om." Kemudian mengalihkan wajahnya ke arah Arini, "sepertinya aku tidak perlu menanyakan kabarmu. Kau kelihatan baik," ucap Exel memperhatikan wanita di depannya itu dari kepala hingga kaki.
Yang di tatap semakin salah tingkah, "gimana aku musti bersikap!" pikir Arini bimbang.
Exel memajukan tubuhnya ke arah Arini dan Berbisik di telinganya. "Kau tidak akan mengundang mantanmu ini ke rumah?"
Arini mundur dengan spontan, karena merinding mendengar suara Exel sangat dekat dengan telinganya. "Maaf pak, buat apa bapak ke rumah saya? Rumah saya sangat sempit dan juga tidak terima tamu seperti bapak." Arini sangat berani dengan jawabannya sendiri, dia merasa sangat puas karena bisa membalas sikap Exel yang menghilang bertahan-tahun tapi seolah-olah dia tidak punya salah, walaupun hanya sedikit.
Bibirnya terangkat sedikit, tidak menyangka wanita ini begitu berani terhadapnya. Dia pikir dia itu siapa. "Karena saya atasan kamu, saya bisa mengatur apapun yang saya inginkan. Termasuk kamu!"
Arini cukup kaget dengan kata-kata Exel dengan nada memaksa. Dia hanya bisa menundukkan wajahnya yang memerah, tidak berani melawan. Exel adalah atasannya sekarang, tidak berani membantah, entar dia mau makan apa kalau di pecat. Di mana rasa percaya diri yang dia bangun selama ini, semuanya musnah dihadapkan pria itu.
"Kenapa! Malu! Seorang janda seperti mu bisa malu juga! Bukannya kau sudah mengenal berbagai macam lelaki kaya dalam hidupmu," Kata Exel santai.
"Ada apa dengannya? Dia sangat jauh berubah. Dia sangat angkuh. Kemana Exel yang dulu pergi! Exel yang begitu baik memperlakukannya dan juga begitu menyayanginya. Tapi ini udah berapa tahun, semua orang bisa berubah," pikirnya kalut.
***
Hai jangan lupa tinggalkan jejakmu, dengan like, komen dan vote. Makasi🤗
__ADS_1