
"Dua bulan berlalu.."
Badannya jadi berisi, pipinya jadi chubby. Kata orang-orang kantor, wajahnya lebih berseri dari biasanya. Gak tau juga kenapa! Padahal kalau dia lihat gak ada yang berubah, selain dari beberapa di bagian tubuhnya yang kelihatan lebih berisi dari biasanya. Tapi gak ada merasa mual-mual seperti dua bulan yang lalu.. Makanya Arini berpikir dia gak hamil. Tapi sampai sekarang memang gak ada datang bulan.
"Mau cek, tapi takut. Makanya sampai sekarang dibiarin aja, karena badannya baik-baik aja, gak ada masalah.."
Arini berangkat kekantor seperti biasanya.. Arini menyapa setiap orang yang dia lewati. Suasana hatinya sangat baik akhir-akhir ini. Arini memilih naik lift karena sekarang badannya mudah lelah, kalau dulu dia sering naik tangga, hitung-hitung olahraga yang jarang dilakukan nya. Arini masuk, dan menekan tombol untuk lantai tiga, itulah tempat dimananya bekerja."
"Walaupun gedung Perusahaan gak sebesar di kantor pusat, tapi fasilitas di sini juga gak kalah lengkapnya. Buktinya kantor di sini ada hingga lantai 8, dilantai 8 adalah kantornya GM. Arini belum pernah kesana. Karena memang bukan kewenangannya sebagai staf biasa."
"Sampai lah dia dilantai 3, ini adalah tempatnya bekerja. Tempat orang yang sibuk menghitung angka-angka, salah sedikit bisa gawat. Bisa di pecat ataupun masuk penjara. Sejauh ini dia belum pernah melakukan kesalahan yang berarti, karena di bagian ini dia memang seniornya. Di kantor pusat saja, dia menjabat sebagai manajer, melakukan kesalahan bukan karena keteledorannya, tapi karena dijebak Kanaya. "Tapi masalah kepindahannya gak ada yang tau, mungkin yang tau hanya GM nya."
"Arin melangkahkan kakinya masuk dan bertemu dengan rekan-rekan kerjanya." Met pagi semua!! Sapa Arini secerah matahari.. Tapi gak ada yang menjawab salamnya. Dia lihat pak Dodi tertunduk dengan muka yang sedih.. Yang lain juga berwajah sama, Ada apa! Pikirnya..
" Arini menghampiri mejanya teh Rita."
Ada apa teh? Apa semua baik-baik aja?
"Rin.. Pak Dodi terancam dipecat. Hiks..hiks, Rita terisak."
Arini menutup mulut dengan tangannya, rasanya pendengarannya yang salah apa yang didengarnya barusan itu benar..
Ta-tapi.. Kenapa teh? Apa salahnya?
"Pak Dodi dituduh melakukan penggelapan dana proyek pembangunan bendungan yang kemaren itu rin.. Rita kelihatan terpukul, walaupun dia sering berantem sama pak Dodi, tapi ternyata mendengar pak Dodi mau dipecat, dia sedih juga."
Yaa ampuun teh.. "Milyaran itu yah." Rita mengangguk mengiyakan. Pak Dodi masih lumayan, kalau cuma dipecat, yang gawat bisa masuk penjara.. Tapi Arini gak menyampaikan hal itu sama Rita, takut entar makin shock.
Tiba-tiba staf HRD datang, permisi! Pak Dodi dipanggil GM keruangannya, dan boleh membawa salah satu stafnya.
__ADS_1
"Mereka semua berpandangan kearah pak Dodi.. Pak Dodi menatap nanar stafnya satu persatu. Tapi yang ditatap menundukkan kepalanya, gak berani menjadi orang yang dipilih pak Dodi, untuk di ajak ke lantai GM. Kecuali Arini, dia sudah pernah disidang sekali waktu itu, mungkin gak kan menjadi masalah untuk yang kedua kalinya. Siapa tau dia bisa membantu pak Dodi agar lebih tenang."
"Arini memberanikan dirinya untuk mengajukan diri pada pak Dodi." Saya bersedia ikut pak!
Baiklah, kalau begitu mari ikut saya. Arini dan pak Dodi berjalan mengikuti staf HRD memasuki lift menuju lantai 8.
Arini memang santai, tapi Mungkin sekarang pak Dodi sangat ketakutan, Arini menyentuh tangannya berusaha untuk menguatkannya. Tangannya sangat dingin, dan berkeringat. "Tenanglah begitu kira-kira arti perkataan Arini dengan sorot matanya."
Pak Dodi menganggukkan kepalanya yang kembali tertunduk, yang ada dipikirannya adalah keluarganya, dia tulang punggung keluarga. Makanya sampai sekarang belum menikah, karena ingin membahagiakan orangtuanya terlebih dahulu..
"Gimana nasib keluargaku nanti kalau aku dipecat."
"Pintu ruangan GM dibuka, ruangannya sangat luas. Di ruangan tersebut sudah ada tiga orang. Pak Dodi semakin gemetar, Arini bisa merasakannya karena tangannya masih ada digenggamannya. Pak Dodi meremas tangannya dengan kuat, karena badannya kelihatan melemah. Arini membiarkan tangannya karena merasa kasihan padanya.
"Staf HRD memberitahukan kedatangan kami, dan dipersilahkan untuk masuk. Sorot mata tajam menatap kearah ku dan pak Dodi, aku malah hampir sama dengan pak Dodi, jadi gemetar gini.."
GM duduk dikursinya, kau tau kan apa konsekuensi atas perbuatanmu! Pak Ahmad yang menjabat sebagai GM langsung menunjuk muka pak Dodi dengan jarinya. Katakan alasanmu!
"Saya tau pak.. Pak Dodi menjawab dengan wajah pucat. Tapi saya tidak melakukan hal yang dituduhkan kepada saya pak. Saya bekerja disini sudah 10 tahun, belum pernah saya berbuat hal seperti yang dituduhkan kepada saya seperti sekarang.."
Ciih..! Kau! Apa pendapatanmu! Pak GM menunjuk muka Arini.
"Saya pikir apa yang dikatakan pak Dodi adalah kebenarannya pak, selama saya bekerja dengan beliau, beliau adalah orang yang sangat hati-hati dalam mengambil keputusan. Saya rasa beliau tidak mungkin melakukan apa yang dituduhkan padanya. Arini menjawab mantap."
Di lain tempat, orang itu memperhatikan semua yang terjadi dengan sudut matanya, tanpa membantah sama sekali.
Sudah berapa lama kau bekerja sama dengannya!
"Saya baru tiga bulan pak.."
__ADS_1
Baru tiga bulan! kau sudah berani berbicara banyak seperti itu.. Huuuh! Berani sekali kau. Apa kau mau ikut terseret dengan kasus atasanmu!
Maaf pak! Saya tidak berani.." Tapi saya hanya mengatakan kebenarannya."
Lancang kau!! Pak GM menggebrak mejanya. Arini dan pak Dodi kaget bukan main dan sangat ketakutan.
"Pak GM memalingkan wajahnya kearah orang itu, karena gak sengaja mengganggu tamu pentingnya. Keheningan melanda.. Karena orang itu mengisyaratkan GM untuk menutup mulutnya."
"Arini memberanikan Arini menoleh, karena melihat GM yang malah berubah ketakutan juga."
Seseorang yang gagah berjalan kearah GM.. Kakinya mendadak lemas, tangannya berusaha mencari pegangan dan berhasil mendapatkan tangan pak Dodi. Harga dirinya terselamatkan, kalau bukan karena pak Dodi mungkin dia udah mempermalukan dirinya sendiri.
Kenapa kamu rin! Sambil memegang bahu Arini.
"Sa-saya, gak enak badan pak.."
Kenapa tiba-tiba! Lebih baik kamu keluar dulu, biar saya saja yang disini sendiri.
Arini menggeleng-gelengkan kepalanya, terlambat pak.. Saya gak kenapa-napa.
Eheeem!! Siapa yang menyuruh kalian untuk bermesraan disini! Suara orang itu sangat menakutkan.
Pak Dodi langsung melepaskan rangkulannya dari bahu Arini. Maaf pak! Sepertinya rekan saya gak enak badan.. Bolehkah dia keluar dulu? Biar masalah saya, saya yang selesaikan sendiri. Dia gak ada hubungannya dengan proyek ini. Pak Dodi memberanikan diri.
Arini salut dengan atasannya ini padahal dia sendiri tidak lebih baik. Saya baik-baik saja pak.
***
Hai tinggal jejakmu dengan like, komen dan vote, agar author lebih semangat lagi🤗🤗
__ADS_1