Affair With My Boss

Affair With My Boss
Kemunculanmu


__ADS_3

Pria itu berjalan mendekati nya, memakai kemeja putih yang digulung hingga siku. Rasanya ingin bergegas masuk kedalam dan mengunci pintu, tapi kakinya seolah gak bisa bergerak. Arini berpegangan di gagang pintu, karena kakinya mulai lemah.


Wajah itu tanpa senyum, ekspresi yang ditampilkan seakan menyimpan kemarahan. Pengawalnya diam tidak mengikutinya, Arini bisa melihat dengan jelas ayah dari anak yang dia kandung berada dihadapannya. Dia ingin sekali membencinya, tapi sepertinya anak yang dia kandung bereaksi melihat kedatangan ayahnya.


"Petak umpetnya udah kelar sekarang. Exel meraih tangannya, ikut denganku sekarang juga!"


Arini menahan badannya, bermaksud menolak. Masih membekas dalam ingatannya, tante Hera yang sangat membencinya dan Exel yang tidak membelanya.


"Apa perlu ku gendong! Arini berakhir dipelukannya Exel."


"Aah, lepas!


"Aku sangat merindukanmu, Exel berisik ditelinga Arini, Ikutlah bersamaku untuk pulang."


"Pulang kemana! Jangan menggangguku lagi. Pergilah!" Arini memukul dadanya Exel.


Exel mencengkram pergelangannya, "kau pergi setelah membuatku penasaran dan aku mencarimu seperti orang gila. Apa seperti ini balasanmu?"


"Ibumu yang mengusir dan juga menamparku dan kau hanya diam! Apa yang kau inginkan sekarang dariku! Apa belum cukup membuat hidupku menderita." Arini melepaskan diri dari Exel.


Arin! Exel berusaha meraih pergelangan tangannya lagi, tapi ditepis olehnya.


Ren! siapin mobil!


Siap bos..


Apa yang ingin kau lakuin!


Ikut denganku! Ini perintah.


" Tidak. Aku gak mau.. Lepas, tapi Exel telah merengkuh tubuhnya dan membawanya masuk kedalam mobil."


Raihan yang baru datang, kaget melihat Arini yang dipaksa Exel untuk masuk kedalam mobilnya.


"Xel! Lepasin Arini sekarang juga. Apa yang kau inginkan! Jangan paksa Arin lagi.. Kasian dia."


Raihan! Kau cukup hebat. Bawa dia! Pengawal yang tadinya hanya berdiri diam, mulai bergerak dan mendekati Raihan.


"Apa yang kau coba lakukan! Raihan berteriak marah."


"Menurutmu apa! Kau telah menyembunyikan wanitaku. Apa kau tidak merasa punya salah!"


"Memangnya apa yang telah kulakukan! Aku hanya melindunginya."


"Kau pikir aku apa! Aku gak akan menyakitinya."


"Kakak gak bisa maksa kak Arin lagi, kalau bukan karena kakak, hidup kak Arin tidak akan menderita seperti ini. Lulu sangat marah karena sikap Exel."


Memangnya apa yang aku lakuin! Dan kenapa kakakmu musti bersembunyi seperti ini! Ada apa! Exel sudah lama curiga dengan semua ini, Arini sampai berhenti bekerja dan bersembunyi darinya.


Semuanya terdiam, tidak ada yang sanggup menjawab.


Kenapa diam! Apa tidak ada yang ingin kalian sampai kan pada ku?


Apa kakak buta! Kenapa tidak bisa melihat dengan jelas dimana letak kesalahan kakak!! Lulu ber api-api.

__ADS_1


Jangan berbelit-belit. Memang nya apa kesalahan ku?


"Kak arin ham..."


"Lulu! Berhenti. Jangan melewati batas." Arini berteriak mencegah adiknya untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Bawa mereka! Aku akan memberi mereka hukuman karena telah berani menyembunyikan wanitaku."


Kak! Jangan.. Mereka gak salah. Arini memohon.


"Baiklah. Kau berhutang penjelasan padaku, kalau kau menolak ikut, mereka berdua yang akan menanggungnya. Exel mengarahkan matanya kearah Raihan dan Lulu.


" Iya, aku ikut. Lepasin mereka sekarang juga."


"Arin! Jangan mau. Aku tidak apa-apa kalau harus ikut dengan mereka. Raihan berusaha mencegah Arini untuk pergi tapi mobilnya telah berlalu."


"Lulu terisak, khawatir akan nasib kakaknya. Hiks hiks.."


"Sudahlah, tidak usah khawatir mereka akan baik-baik saja. Raihan menghibur Lulu, Exel sangat mencintai kakak mu. Dia tidak akan menyakiti nya."


Tapi gimana dengan Kanaya, kalau dia tau Arini dalam bahaya besar. Aku tidak perlu menceritakan masalah ini sama Lulu, dia akan lebih sedih lagi. Aku harus nemui Exel nanti.


Benarkah?


"Iya benar, Raihan merangkul Lulu dan membantunya untuk kembali masuk ke dalam."


"Bagaimana dengan kakak? Kak rai juga mencintai kak Arin kan?"


"Sok tau. Kenapa! Cemburu!"


"Aku! Cemburu.. Lulu menunjuk dirinya, tidak mungkin."


"Siapa itu! Lulu harap-harap cemas."


"Kau tidak perlu tau anak kecil."


"Iiihh.. Kayaknya kakak gak jauh beda sama kak Exel. Kalian sama aja!"


"Enak aja samain aku dengannya. Aku bukan seorang pemaksa, seperti Exel."


"Gimana nasib kak Arin yah kak! Aku cemas."


"Nanti kita cari tau Arini dibawa kemana. Dia akan baik-baik aja, aku yang jamin."


"Apa yang ingin Lulu sampaikan tadi? Kenapa menahannya."


"Tidak ada, itu bukan apa-apa. Aku hanya gak mau dia bicara kurang ajar sama orang yang lebih tua."


Baiklah aku percaya. Kau gemukan sekarang! Dan perut mu juga buncit.. Exel menyentuh perut Arini , dan anaknya bergerak ketika disentuh.


Dadamu juga makin besar! Kau pakai apa! Silikon! Sambil meletakkan tangannya didada Arini, dan mengukur dengan tangannya.


"Hah, jangan seenaknya, Arini menepis tangan Exel yang tidak bergerak dari tempatnya.


"Jangan menolak, nurutlah.. Lulu dan Raihan akan aman. Tangannya mulai berani dan menyusup kebalik kaos yang dikenakannya."

__ADS_1


Selain menahan marah, Arini juga menahan malu. Seakan tau apa yang dipikirkan nya Exel menegur asistennya.


Tutup telingamu dan fokus lah menyetir.


Baik bos. Fokuslah Reno, nanti loe juga bakalan punya pacar pikirnya.


Exel melancarkan niatnya, tangannya masih berada ditempatnya. Meremas lembut, membuat siempunya menggigit bibir menahan suaranya.


Jangan..


Iyah, tenanglah.. Sebentar lagi kita akan sampai di vila.


Vila! Bukannya kita akan ke Jakarta?


Kau bercanda. . Jakarta sangat jauh sementara aku sangat merindukanmu.. Exel mengecup lehernya dan berlama-lama disana. Dan tangannya sudah tidak bisa di Kondisikan.


Arini bergetar dengan sentuhan Exel, kelakuan nya belum berubah sama sekali. Masih suka seenak nya.


"Aku mohon jangan lakuin ini.." Arini masih berusaha mencegah gerak tangan nya.


Sesampai nya di vila milik Exel, Arini dibantu turun olehnya dengan wajah memerah dan tidak sanggup melihat wajah Reno.


Mobil pengawal tadi, mengikuti mereka dari belakang.


"Kenapa bawa pengawal sebanyak ini? Arini sangat penasaran."


"Untuk menculikmu." Sesingkat itu jawaban nya. Dan mulai tidak sabar menarik tangan nya untuk masuk ke dalam.


"Pelan-pelan! Aku tidak bisa mengikuti langkah mu. Napasnya ngos-ngosan karena efek hamil."


"Cuma jalan sebentar udah kelelahan! Sini ku gendong. Arini di gendong Exel masuk kedalam vila."


Turunin aku! jangan malu-maluin bisa gak! Arini meronta.


Semua bawahannya memalingkan wajah mereka, dan memilih menunggu diluar. Gak berani mengganggu.


Tubuhnya berakhir di atas sofa. Dan Exel mulai menindihnya.


" Hentikan! Jangan!"


Exel membenamkan wajah di leher nya." Aku menginginkanmu," suaranya mulai serak.


"Tidak. Kalau kau lakukan itu, aku akan membencimu selama nya."


Exel mengangkat wajahnya, apa kau sebenci itu padaku?


"Iya, sangat. Aku sangat membencimu..!! Arini mulai berteriak."


" Exel beranjak dari sofa dan mulai melangkahkan kakinya keluar. Tanpa menoleh lagi ke arah Arini."


"Bos!" Semua orang kaget karena melihat bos nya begitu cepat keluar. Baru aja mulai bersantai. Tapi sekarang kelihatannya suasana hati sang bos tidak begitu baik, wajahnya berubah memerah menahan marah.


"Apa yang kalian lihat!! Suara nya menggelegar."


Arini kaget mendengar suara Exel dari dalam. Apa dia semarah itu! Apa aku telah mempersulit semua orang.

__ADS_1


****


Jangan lupa like, komen dan vote nya yah.


__ADS_2