
Arini menyusup dengan mengendap-endap. Dia membuka pintu samping rumah, dan mendapati diluaran taman bunga yang indah.
"Waauu", Takjub melihat pemandangan seindah ini. Matanya mencari-cari keberadaan Exel, tapi tidak kelihatan orangnya.
"Gak baik nyusup rumah orang.. Gak takut dikira maling?"
Arini berbalik dan mendapati Exel telah berada beberapa langkah darinya. Maling? Exel mengatakan dia maling..
"Sepertinya pak Exel tidak senang menyambut teman lama.. Jangan karena jarang ketemu saya malah disangka maling! Arini tersenyum masam."
"Semua orang kalau melihat penampilanmu, akan berpikir kalau kau itu mau maling.."
Arini melotot dengan perkataan Exel. "Memangnya penampilan ku seperti apa! Mana ada maling penampilannya semanis ini." Tumben dia memuji dirinya sendiri, kalau sudah berhadapan dengan Exel kewarasannya berkurang.
"Hahaaa.. Exel tertawa besar, kau benar. Kau mau maling suami orang makanya maksa mau datang kesini. Kuat juga usahamu, sampai harus berbohong kesemua orang."
Jadi dia udah tau dari tadi kedatanganku. Tapi dengan sengaja mempermainkanku.. Arini mengepalkan tangannya.
"Tidak ada yang berminat merebut suami orang disini. Sepertinya anda sudah salah paham dengan kedatangan saya.."
Pelayan tadi masuk karena mendengar suara ribut-ribut disamping.. Ternyata nona itu menipunya.
"Maaf maaf tuan saya sudah melarang nona itu untuk tidak masuk, tapi dia menipu saya.. Ucapannya dihentikan oleh Exel dengan melambaikan tangannya dan menyuruhnya untuk pergi."
"Aku baru tau, ternyata kau hebat juga. Hahaa kembali tertawa. Exel senang sekali melihat Arini berusaha untuk masuk menemuinya dirumah."
"Apa yang membuat anda sangat senang? Apa dengan mempermainkan saya anda merasa puas! Anda pikir semua hanyalah permainan belaka! Baiklah saya tidak akan mengganggu kesenangan anda lagi, saya permisi.."
Minatnya untuk menyampaikan perihal kehamilannya telah hilang karena sikap Exel yang menyebalkan.. Arini berjalan kearah pintu, tapi langkah kakinya dihentikan Exel dengan menarik tangannya.
" Mau kemana! Sudah susah payah ke sini kenapa mau cepat-cepat pulang..!"
Lepaskan aku! Arini menyentak tangannya." Tapi Exel lebih kuat mencengkram tangannya.
"Anda tau saya datang, tapi anda sengaja mempermainkan saya. Lepasin! Saya mau pergi..! Dia sangat marah."
Dia malah ditarik kearah taman yang dikelilingi bunga-bunga yang indah, tubuhnya ditekan dipepohonan yang besar.
Tangan pria itu tidak bisa diam, dia menelusuri pipinya, bibir dan juga rahangnya. Angin meniup dan mempermainkan rambutnya, lama terdiam hanya saling menatap satu sama lain, melepas kerinduan selama ini..
Arini jengah dengan situasi ini, akhirnya dia mendorong Exel menjauh darinya. Exel yang sedang gak fokus dikejutkan dan terjatuh ditanah..
__ADS_1
Auuuchh.. Pinggangku!! Apa-apa an kau! Exel berteriak marah.
"Lucu banget, hahaaa.. dia malah tertawa terpingkal-pingkal.."
"Awas kau!! Exel bangkit dan mengejar Arini yang langsung kabur, keduanya saling berlari dan tertawa. Lupa sedang berada dimana, berasa dirumah sendiri.."
Kena kau! Mereka terjatuh dan berguling-guling direrumputan diantara bunga-bunga.. Mereka berciuman, sangat lama. Napasnya yang tersengal memaksanya untuk melepaskan bibirnya, Kenapa tiba-tiba kesini? Apa ada yang penting?
"Arini mengulum bibirnya yang terasa bengkak, dan ingin duduk tapi ditahan Exel. Akhirnya dia tetap berbaring dibawah tindihan Exel.."
"Bicaralah.."
"Aku gak bisa bicara kalau kayak gini.. Arini."
"Baiklah gak usah bicara, mari bekerja.." Exel ingin memulai aksinya, menaikkan kaos yang dikenakan Arini.
"Diluar Mely sedang gelisah, gimana ini! Arin angkat telponnya.. Mely gak pernah membayangkan mamanya Presdir akan datang. Mely sedang gelisah didalam mobil, semoga kamu selamat dari nyonya besar itu rin.. Mely berdoa.."
Dimana Exel? Tante Hera bertanya sama pelayan yang tadi ditipu Arini.
" Ada di taman nyonya. Tapi tuan sedang ada tamu. "
Siapa!
Perempuan..? Tante Hera sedang berpikir sambil berjalan menuju halaman samping rumah anaknya. Dan tepat saat Exel menindih Arini..
Exel!! Apa yang kalian lakukan!!
Arini dan Exel langsung bangun dan merapikan penampilan mereka.
Arini memucat melihat siapa yang datang, tidak jauh berbeda dengan Exel yang juga khawatir dengan kesehatan sang mama.
"Maa.. Aku bisa jelasin, tadi kami hanya terjatuh."
Mama gak percaya!!
"Dan kamu Arini! Tante gak pernah menyangka kamu adalah perebut suami orang. Padahal sejak awal tante sangat suka sama kamu, apa seperti ini kamu membalas kebaikan keluarga kami!"
" Maa.. Tenanglah, mama baru sembuh. Nanti kambuh lagi sakitnya. Bujukan Exel tak digubris mamanya. "
Arini terpaku ditempatnya, wajar tante Hera sangat marah. Arini maklum, dia memang seperti pelakor tapi ini bukan kesalahannya sendiri, Exel yang selalu memaksa.. Tapi dia memang terlalu lemah untuk menolak. Sampai kapanpun dia tidak akan diterima keluarga ini. Hatinya sakit, harus menanggung semua ini sendirian.. Dia berjalan pelan keluar, persis disamping mereka.
__ADS_1
"Tunggu. Gak semudah itu, plaak!! Kamu pantas mendapatkannya."
Arini merasakan sakit dipipi, tapi lebih sakit dihatinya.. Exel sama sekali tidak membelanya, dia hanya menenangkan mamanya. Baiklah mungkin ini akhirnya, Arini berlari dengan isakan yang tertahan.." Bunda akan kuat demi kamu nak sambil memegang perutnya."
Dari kejauhan Mely melihat Arini mendekati nya dengan muka tertunduk sedih penuh air mata.
"Rin.. Maafin gue, ini ide gue.. Mely ikutan sedih melihat nasib sahabatnya. Arini hanya terisak."
Mely mengendarai mobilnya menjauh dari kediaman Exel..
"Pokoknya mama gak mau melihat wanita itu dekat-dekat lagi sama kamu xel!! Apa kamu berpikir mau poligami! Mama mohon jangan lakukan itu, kasian istri kamu.. Mama akhirnya menangis tersedu-sedu."
"Maa.. Sudahlah, dia udah pergi. Tenanglah kalau mama masih menangis aku akan mengejarnya dan gak kan peduli lagi sama semua ucapan mama." Bujukan Exel akhirnya berhasil, karena kecapean menangis akhirnya mamanya tertidur di sofa.
"Exel meraih ponsel nya dan menelepon Arini. Tapi nomor nya tidak aktif.."
Beberapa hari setelahnya, setiap hari Exel mencoba menghubungi Arini, dan memerintahkan Reno mencari keberadaannya, tapi nihil. Dia telah menghilang.
"Exel mencarinya seperti orang gila.. Pasti ada sesuatu yang sangat penting yang ingin disampaikan nya padaku. Kenapa aku Bodoh sekali dan membiarkannya pergi dengan cara seperti itu."
Sudah satu bulan berlalu semenjak kepergian Arini. "Ada kabar soal Arini?
"Tidak ada bos, kemaren saya sendiri yang datang kerumah orangtuanya di Bandung, mereka menutup mulut dengan rapat. Sebelumnya saya juga sudah menemui adiknya yang kuliah di Jakarta. Tadinya adiknya itu akan pindah kuliah ke Bandung karena mbak Arini pindah kerja kesana. Tapi setelah mbak Arini menghilang, dia kembali pindah ke Jakarta. Saya merasa dia bersembunyi di kota ini. "
"Suruh orang untuk mengikuti kemana adiknya pergi.."
"Sudah bos. Mereka telah mengikutinya sekitar seminggu yang lalu. Tapi belum menemukan apa-apa. "
Exel mengetuk-ngetuk mejanya sambil berpikir.." Gimana kabar Raihan! Exel memalingkan mukanya menatap Reno."
"Pak Raihan masuk kantor seperti biasa bos. Tidak ada yang mencurigakan."
" Apa dia tidak kelihatan khawatir sedikit pun?"
"Sepertinya sangat santai bos.."
"Ikuti Raihan juga, aku curiga dia terlibat semua ini. Coba kau pancing dengan menceritakan kalau aku pusing mencari keberadaannya Arini yang menghilang, lihat reaksinya.."
"Baik bos. Permisi.." Reno pergi dengan gelisah, karena belum menemukan Arini. Lama-lama si bos bisa murka kalau belum menemukannya..
"Exel menyadarkan kepalanya disandaran kursi. Dimana kamu Arin! Apa yang terjadi padamu! Kembalilah...
__ADS_1
***
Haai🙌 malam.. Tadi pagi gak ada mood buat nulis, alhasil baru sekarang UP nya 😁 🙏 makasi buat yang bersedia membaca novel ini? Kasih saran yah, enak nya kelanjutan cerita ini gimana. Kadang suka buntu memikirkan kelanjutan ceritanya.. 😂😂😂