
Happy reading guys.. 👍👍
"Pasti kehidupanmu sangat baik! padahal aku dengar dulu kau mengalami kesulitan keuangan. Tapi, di lihat dari sudut manapun tidak seperti orang yang sedang mengalami kesulitan. Malah semakin cantik dan menggoda," bisik Exel di telinga Arini nakal.
Arini mundur, cukup kaget dengan ucapan dan perbuatan Exel padanya.
"itu pujian atau hinaan!" Arini berpikir keras dengan otaknya.
"laki-laki tua mana yang membiayai hidupmu!Pantesan di usia semuda ini karirmu bisa cepat naik. Nggak mungkinkan om Heru masuk dalam pesonamu juga?" Exel tersenyum masam.
"Saya rasa bapak sudah keterlaluan! Apa yang bapak tau tentang kehidupan saya! Bapak tidak perlu mencampuri urusan pribadi saya, hubungan kita tidak sedekat itu. Hanya, sebatas atasan dan bawahan. Tidak peduli bapak berpikiran buruk terhadap saya, silahkan saja. Saya disini hanya ingin bekerja dengan baik," sahut Arini berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang. "Kalau tidak ada yang ingin di bahas, saya permisi!" Arini berlalu dari hadapan Exel dengan harga diri yang tinggi tapi hatinya terluka.
Exel hanya bisa menatap kepergian Arini dengan senyuman getir. "Dia sangat berani," gumamnya.
Ini pertama kalinya lagi, bagi Arini bertemu dengan seseorang yang selama ini selalu di rindukannya. Tapi dia tidak pernah menyangka, Exel akan sedingin itu padanya. "Dari mana Exel mengetahui cerita buruk tentangnya! Hal seperti itu nya di ketahui oleh teman-teman sekolahnya dulu. Tidak heran Exel juga mengetahuinya, dia pasti memiliki link untuk itu. Aku aja yang kepedean berpikir dia mencari tahu tentang kehidupanku di masa lalu. "Huft", Arini menghela napas berat.
Flashback On*
Setelah kejadian ciuman di ruangan OSIS, Exel selalu mencari alasan untuk berdekatan dengannya. "Apa dia gak kapok kalau seandainya aku gampar lagi tu pipi!" pikirnya. Kelakuannya itu hanya membuat Arini menjadi orang yang paling di benci oleh cewek-cewek di sekolah.
"Gue kurang apa coba!" Kata Tania yang bingung kenapa Exel malah memilih Arini dari pada dirinya. "Padahal cantikan juga gue dari pada dia," celotehnya yang tidak terima dengan selera Exel. "Mungkin Exel di guna-guna kali!" sahut Tia menanggapi kejengkelan temannya.
Sementara Exel semakin menyukai Arini, "kenapa musti gadis kasar itu?" pikirnya bingung, "kenapa dia selalu ingin bersamanya? Apa ini cinta?" Atau ini hanyalah sebatas perasaan penasaran saja karena dia berbeda dengan yang lain, Arini sangat sulit di taklukkan.
lama kelamaan, akhirnya perasaan Arini bisa luluh karena ketulusan Exel. Hari-hari yang mereka lalui bersama sangat indah, Exel semakin semangat untuk sekolah, begitu juga Arini. Arini memang anak yang rajin dan juga pintar, sementara Exel adalah ketua OSIS dan juga salah satu siswa yang paling berprestasi di sekolah.
Karena dia selalu bersama Exel, dia jadi jarang berkumpul bareng teman-temannya, termasuk Rara sahabatnya yang paling dekat. Arini bisa melihat rasa tidak sukanya Rara akan hubungannya dengan Exel. Tapi Arini tidak bisa menjauh dari Exel hanya karena Rara sahabatnya, baginya entah kenapa Exel jauh lebih penting.
Akhirnya Exel lulus sekolah dengan nilai terbaik, sementara Arini baru naik kelas 2. Itulah awalnya mereka mulai jarang bertemu. Hingga akhirnya Exel berangkat ke Inggris untuk melanjutkan pendidikannya disana.
"Arin! Besok aku berangkat, tunggu aku kembali ya. Setelah sukses aku akan melamar kamu aku janji," kata Exel meyakinkan Arini yang sedang sedih.
"Iya kak! Kakak harus baik-baik yah di sana. Jangan selingkuh sama bule dan cewek Manapun," sahut Arini memelas. "Kakak harus tepati janji kakak buat lamar Arin."
"Iya sayang aku janji," ucap Exel memeluk Arini, menandakan dia juga tidak rela meninggalkan pujaan hatinya. Tapi, demi permintaan orangtua dan juga demi masa depan, Exel harus rela meninggalkan Arini untuk sementara waktu.
__ADS_1
* 4 tahun kemudian *
Hari demi hari Arini lalui dengan rutinitas seperti biasa, tanpa adanya kabar dari Exel semenjak kepergiannya 4 tahun yang lalu. Saat ini Arini sedang kuliah di UNI (Universitas Negeri Indonesia) salah satu kampus negeri terbaik di Jakarta, yang di dapat Arini karena siswa undangan berprestasi.
Saat ini keadaan ekonomi keluarganya sangatlah sulit, Arini sekarang tinggal di asrama kampus yang di sediakan bagi penerima beasiswa.
Karena semuanya gratis Arini bisa melanjutkankan kuliahnya tanpa membebani orangtuanya sedikit pun. Untuk biaya makan dan kebutuhan lainnya Arini bekerja partime di salah satu restoran yang cukup mewah. Karena kesibukannya dia tidak terlalu memikirkan Exel yang tidak pernah ada kabarnya. Pada tahun keduanya kuliah, dia malah di minta ibunya untuk menikah dengan anak orang kaya di kampung.
"Arin!" panggil ibunya melalui sambungan telepon.
"Iya bu. Ibu apa kabar?" tanya Arini senang.
"Ibu baik nak, kamu gimana di sana baikkah?" tanya ibunya dengan suara sedih. Arini baik-baik aja bu, Ibu gak usah khawatir." Arini menenangkan ibunya.
"Arin, ibu sama bapak mau minta maaf sama kamu."
"Minta maaf buat apa bu?" perasaanya mulai tidak enak.
"Bisa nggak kamu penuhi keinginan ibu sama bapak, untuk segera menikah dengan laki-laki pilihan ibu?"
"Apa! Ibu bercanda?" tanya Arini kaget.
"Tapi kenapa mendadak seperti ini bu?
Arin kan masih kuliah, Arin bisa menikah setelah lulus kuliah," pinta Arini memelas.
"Ibu tau nak, tapi ini sangat mendesak. Arin masih bisa kuliah setelah menikah nak, yang Arin lakuin sekarang ini hanya perlu mengambil cuti kuliah." pinta ibunya lembut dengan sedikit memaksa.
T-tapi kenapa bu... Arini menangis menanggapi permintaan ibunya, Arin nggak kenal sama orangnya bu, Arin nggak cinta.
Arin pengen nikah sama orang yang Arin cintai, cicit Arini agak sedikit emosional.
"Kalau Arin tetap nggak mau, ibu nggak kan memaksa, tapi setelah ini adik-adik mu mungkin gak bisa sekolah lagi, karena ibu sama bapak udah gak punya uang lagi nak.
Bapakmu punya banyak hutang sama buk Rohaya pengusaha di kampung kita nak, hutang ini udah lama, waktu kalian masih kecil dulu. Tapi sampai sekarang bapak belum bisa bayar, malah bunganya jadi berkali-kali lipat. Dan setelah ini kita juga gak punya rumah lagi."
__ADS_1
"Arini akan bekerja lebih keras lagi bu, Arin akan bayar hutang bapak."
Nggak bisa Arin bu rohaya maunya hutang itu di bayar secepatnya, lunas. Tapi kalau kita gak bisa bayar dalam waktu dekat ini, dia mau kamu menikah dengan anaknya Bimo.
Bimo bu? Bimo teman sekolah Arin dulu, yang bandelnya minta ampun, nyebelin, dan suka gangguin Arin setiap hari.
Tapi semenjak Arini berpacaran dengan Exel, Bimo pun berhenti menggagunya karena takut sama kak Exel.
Yang diiyakan oleh ibunya dengan suara memelas menahan tangis.
Arini merasa sangat prustasi, dia tidak menyukai Bimo. "Ooh tuhan Arin nggak mau.
Tolong kembalikan kak Exel kesisi Arin," mohonnya terisak.
"Kalau Arin setuju pulanglah dalam 3 hari ini," pinta ibunya sekali lagi.
Arini terdiam sejenak, mau kemana dia mencari uang untuk melunasi hutang bapaknya dalam waktu singkat. "Itu mustahil," pikirnya geleng-geleng kepala. Kak Exel juga gak kan muncul, baiklah bu Arin setuju," jawabnya pasrah. Mungkin ini udah jalan hidupnya.
Tiga hari berlalu setelah menyelesaikan administrasi di kampus dan mengambil cuti, Arini akhirnya pulang ke kampung halamannya.
Sudah satu minggu Arini berada di kampung dan hari inipun tiba, hari di mana dia akan menikah dengan Bimo anak bu Rohaya pengusaha sekaligus rentenir.
"Kakak yakin dengan keputusan kakak?" tanya lulu adiknya.
"Kakak yakin," jawab Arini tabah karena tidak mau melihat adiknya ikut-ikutan sedih.
"Gimana sama kak Exel kak? Emangnya kakak udah nggak ada perasaan lagi sama dia?"
"Kakak gak pernah tau kabarnya lagi, udah 4 tahun. Gak ada gunanya lagi menunggu, sudah saatnya kakak melanjutkan kehidupan ini secara normal. Mungkin ini memang yang terbaik buat kakak," sahutnya ikhlas.
"Yaudah kalau gitu gak usah sedih lagi ntar cantiknya ilang lo!" cicit Lulu menenangkan kakaknya.
Untuk pertama kalinya Arini melihat Bimo setelah sekian lama, dan tepat dihari pernikahan mereka. Boleh dianggap dua orang yang akan menikah tidak saling mengenal kepribadian satu sama lain.
Bimo sangat jauh berubah, ternyata sekarang dia cukup tampan, dulunya bimo bertubuh pendek, dan badannya gemuk. Sekarang postur tubuhnya udah lumayan tinggi dan body nya juga bagus. Jauh banget dari bayangan Arini sebelumnya. "Mungkin ini tidak terlalu buruk," pikir Arini berusaha tersenyum.
__ADS_1
***
Semoga suka🤗🤗🤗 tinggalkan tanda cintamu untuk penulis, dengan like, komen dan vote.