
"Sayang! Sarapannya sudah siap." Arini melayani suaminya sebelum berangkat kerja, membuatkan sarapan kesukaannya.
"Hari ini mau pulang jam berapa? "Arini penasaran."
"Hari ini kemungkinan gak pulang, ada pertemuan dengan klien dari Thailand. Kalau bosan, kau boleh membawa temanmu ke sini." Menjawab sambil tetap makan masakan yang dibuatin istri, memang sangat enak.
"Hmmm..., bolehkah aku bekerja?" Sudah lama dia ingin kembali seperti dulu, kebiasaan bekerja dari dulu membuatnya mati ke bosanan di rumah aja.
"Hal ini sudah kita bahas sebelumnya, mencari nafkah adalah tanggung jawabku, kau hanya perlu bersenang-senang dan menjaga anak kita nanti." Exel berkata tegas.
"Tapi mas, dari dulu aku sudah terbiasa bekerja. Lagian mas hanya punya waktu pas weekend buat aku, setiap hari selalu pulang larut pas aku lagi tidur. Pleaseee..., ijinin aku mas." Arini memohon dengan muka memelas.
Exel mengalah," baiklah. Nanti aku carikan tempat buat memulai usahamu. Mau usaha apa? Fashion atau restoran?"
"Itu bukan bidangku mas, aku cuma mau bekerja menjadi staf di sebuah Perusahaan, seperti biasanya."
"Mana bisa kau bekerja seperti itu lagi, kau kan sedang hamil. Gimana nanti kalau banyak pekerjaan dan musti lembur. Sekali tidak yah tidak. Sudah, aku mau pergi sekarang."
"Tapi mas, anak kita ngidamnya gitu. Memangnya mas mau kalau ngidamnya gak kesampaian anak kita jadi ileran." Arini berkata asal.
Raut wajah Exel langsung berubah dan memutar tubuhnya. "Benarkah itu?"
Sepertinya ini cukup berhasil, pikir Arini. Hanya perlu menambahkan sedikit bumbu pasti berhasil. "Iya sayang, kata ibu dulu gitu. karena pas hamil Shinta ngidamnya gak kesampaian, alhasil si Shinta ileran terus. Ibu sampai malu sama tetangga." Arini mendramatrisir keadaan.
Exel menarik-naik dagunya yang tidak memiliki rambut, berpikir cukup keras sampai-sampai jidatnya mengkerut begitu." "Baiklah, biar aku yang carikan tempatmu bekerja. Aku pergi dulu, kecup kening."
Paradita group.
Kedatangannya di sambut, oleh karyawan lain yang melewatinya.
"Bagaimana jadwal kita hari ini? Apa sudah di pastikan jadwal pertemuan dengan pihak Thailand?" Exel bertanya sambil terus berjalan.
"Semua sudah di pastikan bos, nanti malam di klub biasa. Sebenarnya mereka meminta pagi. Tapi, pagi ini ada rapat soal produk pakaian dalam yang baru, jadinya mereka meminta bertemu malam hari. Sampel kainnya sudah di kirim dan di terima oleh tim desain, mereka akan mengecek kelayakan kain tersebut." Reno menjelaskan.
"Bagaimana dengan produk makanan yang akan launching? Minta mereka mengirimkan sampel mie sekaligus kokinya ke sini, agar dia bisa melakukan praktek masak secara langsung. Aku mau mencoba rasanya setelah di makan, dari situ kita bisa tahu rasanya enak apa tidak." Exel berhenti sejenak di depan ruangan khusus staf presdir.
__ADS_1
"Baik bos! Rapat soal mie instan akan di laksanakan pada siang hari. Lalu hari ini ada sekretaris yang baru," Reno mempersilahkan Exel untuk masuk.
"Apa maksud loe? Memangnya Lina ke mana? Kenapa gue sendiri tidak tahu apa-apa." Exel bertanya dengan ke bingungan.
"Mbak Lina meminta untuk di carikan asisten sekretaris, untuk membantunya dalam menyelesaikan tugas pribadi dari presdir. Kalau yang lain merangkap semuanya, beda dengan mbak Lina yang hanya menjalankan perintah dari presdir saja."
"Hmmm, terserah saja kalau gitu." Exel memasuki ruangannya tanpa menoleh ke arah meja sekretaris yang baru, dia sama sekali tidak tertarik.
Rara yang sedang duduk sudah langsung berdiri hendak menyambut presdir dengan senyumannya yang paling manis. Tapi, yang bersangkutan sama sekali tidak menoleh, dia sangat kecewa, kesan pertama yang ingin di tonjolkannya telah menghilang. "Tidak heran, dia melihat wanita cantik setiap hari. Tapi, yang di dapat malah wanita jelek itu." Huft, Rara mendengus kesal.
"Ada apa mbak?" Lina bertanya karena heran melihat tingkah sekretaris baru ini. "Sangat aneh," pikirnya. Mana bajunya ketat banget, payudara nongol di mana-mana.
Reno sudah berjalan keluar dari ruangan presdir.
"Pak Reno! Sekretaris baru mau ketemu presdir, bisakah bapak menemaninya?" tanya Lina.
Reno menoleh, dan menatap Rara sebentar. "Ayo ikut!" katanya tanpa antusias sedikitpun.
Bos! Ini kenalin sekretaris baru." ucap Reno.
"Iya pak, syukurlah bapak masih ingat sama saya." Rara sangat bahagia karena dia ada dalam ingatan Exel. Rara memasang senyuman menggoda miliknya.
"Baiklah kalau gitu, kau boleh keluar."
Rara tersenyum masam, segitu aja pikirnya. Belum apa-apa udah di usir. "Saya permisi pak!" Exel mengibaskan tangannya.
"Siapa yang merekomendasikannya?" Exel merasa heran, kenapa wanita itu bisa menjadi sekretarisnya.
Pak Heru, dia adalah keponakannya.
"Om Heru! Sejak kapan dia mulai menggunakan cara nepotisme seperti ini!"
Reno terdiam, karena dia juga tidak mengetahui apa-apa soal ini.
Mari kita mulai meeting. Exel dan Reno berjalan menuju ruang rapat.
__ADS_1
Tim desain telah menyetujui kain yang di berikan oleh pabrik textile. Exel juga meraba salah satu contoh pakaian dalam yang mereka rancang. "Sangat lembut, dan akan sangat nyaman di pakai, apalagi kalau yang pakai adalah istrinya pasti akan sangat bagus pikirnya," sambil tersenyum penuh arti.
Semua senang karena presdir menyukai hasil kerja mereka, dan di janjikan akan di berikan bonus tambahan nantinya.
Lanjut meeting yang ke dua. Saat rapat, Exel terus-terusan marah." Rasa mienya sangat kacau!" Exel mengurut dahinya." Desak mereka semua untuk membuatnya tepat waktu, sesuai dengan cita rasa asli Indonesia. Aku gak suka dengan rasa yang ke barat-baratan." Exel sangat marah karena rasa mie instan yang mereka buat seperti spaghetti.
"Baik bos. Aku yang akan mengurus masalah ini, bos tenang saja. Untuk pertemuan malam nanti, mungkin sekretaris baru yang montok itu bisa kita ajak ke sana." Reno malah ke celposan bilang montok di hadapan bosnya.
"Kalau suka, loe boleh dekati dia. Apalagi dia adalah ponakan om Heru, jangan sampai dia kita jadikan alat untuk merayu mereka."
"Tentu, itu tidak akan terjadi."
"Tapi, kau boleh membawanya, dia pasti senang. Dia itu pintar bahasa inggris karena dulu dia sempat kuliah di Universitas yang sama dengan Kanaya."
"Oohhh," Reno semangat mengajak Rara untuk pergi nanti malam, dia cuma penasaran seperti apa perempuan itu sebenarnya. "Gue curiga dengan wanita itu," pikirnya.
Dunia hingar bingar tidak ada habisnya, menyuguhkan hiburan yang membuat mata melek sepanjang malam.
Bos Perusahaan dari Thailand sedang menikmati pertunjukan sexy dancer. Alunan musik yang menggetarkan dengan liukan tubuh mereka yang eksotis, para bos itu seperti orang yang sedang kelaparan melihat makanan siap saji di depan mata.
"Wahh! kelihatannya sangat menyenangkan," Exel membuyar ke asikan mereka.
Mr. David langsung berdiri menyambut Exel sambil mengulurkan tangannya, Halo mr. Exel! Akhirnya kita bertemu lagi di sini. Ini suatu ke hormatan bagi kami karena di sambut baik oleh Presdir Paradita group secara langsung." Berbicara dalam bahasa inggris.
"Mr. David, anda sangat canggung. Bagaimana dengan hiburan di Indonesia, apa anda menyukainya?" tanya Exel.
"Luar biasa, ini sangat bagus. Apalagi wanita-wanitanya, saya sangat suka."
"Selamat malam! Maaf saya datang terlambat, tadi saya kembali lagi ke rumah karena mengambil dokumen yang ke tinggalan." ujar Rara yang ngos-ngosan karena berlarian untuk sampai ke sini. Belum apa-apa aku udah bikin kesalahan pikirnya.
"Duduklah," perintah Reno. "Lain kali tidak ada lagi kejadian seperti ini." bisiknya di telinga Rara, yang hanya menunduk takut melihat tatapan Reno mengarah padanya.
Mr. David menatap penuh minat ke arah Rara.
***
__ADS_1
Selamat siang semuanya.