Affair With My Boss

Affair With My Boss
Hukuman


__ADS_3

"Kalau kau pergi berarti kau hanyalah seorang pengecut, bagaimana dengan tantangan kita sebulan yang lalu? Apakah hasilnya memuaskan?" Exel tersenyum dengan licik. Dia telah memantau hasil kerja Briana dalam sebulan terakhir, walaupun Exel sama sekali tidak bertemu dengannya itu dia lakukan semata-mata untuk menyelidiki siapa sebenarnya wanita ini, tapi penyelidikan yang dilakukan orang kepercayaannya sangat mengecewakan. Briana memang tidak memiliki status apapun di Indonesia, tapi dia tinggal di Amerika setelah Arini menghilang, waktunya sangat pas dengan hilangnya Arini.. Memang Exel belum bisa memastikan Briana adalah Arini, tapi nurani ya mengatakan mereka adalah orang yang sama. Apalagi Exel saat melihat Noah merasakan perasaan yang amat sayang pada anak itu..


Di lubuk hatinya yang paling dalam, Exel belum bisa melupakan sosok Arini yang lembut, sama sekali berbeda dengan Briana. Tapi rasa ketertarikan sexual tidak bisa dipungkirinya amat sangat kuat terhadap Briana. Mungkin efek terlalu lama berpuasa juga, akhirnya dia menggunakan kesepakatan ini untuk mendekatinya.


"Tentu saja hasilnya sangat memuaskan, apa anda tidak tau kalau saya ini desainer terkenal diluar negeri. Nggak mungkin saya bekerja asal-asalan.. Perincian penjualan bulan ini ada di kantor, besok akan saya kasih lihat kepada anda tuan."


Perkataan Briana membuyarkan lamunan Exel, "tidak perlu! Kebetulan aku sudah mendapatkan salinannya. Ini," Exel memberikan dokumen tersebut ke TANGAN Ana.


"Kalau sudah tau berarti tidak ada lagi yang perlu dibahas. Disitu menunjukkan kalau penjualan bulan ini meningkat pesat dari sebelumnya."


"Memang. Tapi menurut kesepakatan kita, saya mau naik hasil penjualan hingga mencapai 70 persen, sedangkan yang tertulis disini hanya 50 persen. Berarti nona Ana yang hebat telah kalah, bagaimana apakah aku salah?"


Dari awal anda tidak pernah menekankan untuk menaikkan penjualan sampai 70 persen. Bagaimana mungkin dalam sebulan saya bisa melakukan itu, sementara orang-orang belum mengetahui siapa saya. Anda terlalu mengada-ngada." Ana bersikeras dengan perkataannya.


Mungkin nona Ana tidak mengetahuinya, karena sedang tidak ada disana. Tapi kesepakatan ini juga diketahui oleh Lewis, kau bisa bertanya padanya."


Ana terdiam, kenapa Lewis nggak memberitahu dia yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kau telah kalah.. Dan untuk hukumannya, aku nggakkan memecatmu.. Tapi aku mau melihatmu mengenakan semua pakaian ini." Exel menunjuk pakaian yang disusun rapi diatas tempat tidur.


"Apa! Nggakkan.. Lebih baik anda memecat saya, saya dengan rela akan keluar dari perusahaan. Dasar cowok mesum," batinnya.


"Hukuman akan ditentukan oleh pemenangnya.. Jadi kalau kau tidak mau dianggap sebagai seorang pengecut, nurutlah.." Dengan santai Exel berbaring diatas kasur hanya dengan memakai handuk.


"Anda benar-benar licik! Ini nggak adil.." Ana menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya menahan marah. "Baiklah.. Karena keangkuhannya Ana nggakkan membiarkan pria itu meremehkannya.


"Oke silahkan, biarkan aku yang menilai.." Exel tau persis karena kesombongannya Briana nggakkan menolak. Exel tertawa penuh kemenangan.


Briana membawa gaun merah ke dalam kamar mandi.. Dengan kesal dia memakai gaun tersebut. Sangat nyaman, karena ini memang hasil karyanya. Tapi ini terlalu terbuka, bagian depan hampir menunjukkan semua dadanya.. Ana berusaha keras menutupi dan menarik gaun tersebut agar lebih menutupi dadanya, tapi nggakkan berhasil, dia tau itu. Belum lagi bagian belakang punggungnya terbuka hingga pinggul. Dengan putus asa Ana berjalan keluar tanpa menunjukkan perasaan malu, nggak mungkin dia membiarkan pria itu melihatnya rapuh dan tak berdaya.


Ana kaget dengan kelakuan Exel, tubuh mereka sekarang merapat. Tangan Exel menjelajahi punggungnya yang terbuka dari atas hingga kebawah, dengan canggung Ana mendorong dada Exel. "Bisa kita mulai berdansa!" tanya Ana kesal.


Akhirnya mereka berdansa dengan baik, tentu saja hal ini hanya alasan bagi Exel untuk berdekatan dengannya. Tatapannya tidak pernah lepas dari Ana, hal itu membuat Ana sangat kikuk dan membuang mukanya kearah lain.


Sudah lama sekali Ana tidak pernah berdansa yang membuat perasaannya tak karuan, tubuhnya dia biarkan pasrah dipelukan Exel. Tubuh dan pikirannya sangat bertolak belakang.. Sekian lama berlalu, Ana mulai sadar dan melepaskan pelukan mereka. "Saya mau ganti baju, permisi!"

__ADS_1


"Exel menarik tangannya, jangan terburu-buru.. Masih banyak yang belum di coba." Exel menyeringai nakal.


Akhirnya dengan raut muka kesal Ana mencoba semua pakaian yang dibawanya. Dan yang terakhir adalah lingerie yang sangat tipis.. "Apa ini!" teriaknya kesal. Apa aku harus keluar seperti ini!" Tidak pria itu nggak boleh seenaknya padaku. Tapi Ana tidak tahu harus berbuat apa, dengan pasrah Ana keluar dengan menutupi lingerie yang melekat di tubuhnya dengan pakaian yang lain.


"Kenapa?" Seorang desainer luar negeri yang sangat terkenal, merasa malu hanya karena memakai lingerie?" Sedangkan modelnya sendiri berlenggang lenggok tanpa malu sedikitpun. Sekarang kau harus bisa seperti mereka! Jangan bisanya cuma bikin tapi nggak berani memakainya."


Ana menurunkan pakaian penutup tadi dengan harga diri yang masih tersisa, belum pernah ada yang berani sampai separah ini memperlakukannya, kemudian memperlihatkan bodynya yang sempurna dihadapkan Exel. Saat ini perasaan malu dan jengkel tidak bisa dia sembunyikan, tangannya terkepal ingin menghancurkan kepala pria gila itu.


Dengan sekejap mata Exel sudah berada di depan Ana. "Apa yang ingin kau lakukan!" teriak Ana kaget.


Lehernya ditarik, dan bibirnya telah dilumat olehnya.. Ana ingin melepaskan diri, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Lidahnya bermain di dalam mulut Ana.. Ciumannya sangat kuat, membuat Ana sulit untuk bernapas. Ana meraup udara sebanyak-banyaknya saat Exel melepaskan bibirnya. Dan kembali menciumnya, tapi kali ini dengan lembut.. Membuat Ana melayang di udara. Pikirannya merasakan orang ini tidaklah asing baginya.. Ana bingung dengan perasaannya sendiri, dia nggak sanggup melawan apa yang dilakukan pria ini padanya..


Tangan Exel mengangkat pinggangnya.. Dan tiba-tiba dia sudah berada di atas kasur. Napas mereka naik turun.


"Jangan..." Ana berkata pelan, tubuhnya sangat meginginkan sentuhan darinya tapi pikirannya berkata dia harus pergi dari tempat ini. "Presdir Exel hentikan!!" Dengan sekuat tenaga Ana berusaha berteriak dan melawan dengan tenaganya yang lemah, Tapi teriakannya sama sekali nggak digubris Exel. Ana merasakan tubuhnya menggigil kedinginan. Tubuhnya sama sekali tanpa sehelai benangpun..


"Aku harus balik, aku nggak bisa biarin Exel manfaatin kesempatan untuk bermesraan dengan si jalang itu." Rara memutuskan untuk kembali kekamar Exel, kalau dia nggak bisa dapatin Exel. Exel juga nggak boleh dapatin Briana, wanita jalang yang sangat mirip dengan Arini. Rara bolak balik depan pintu presidential suite, memikirkan alasan apa yang harus dia berikan pada Exel nanti.. Nggak mungkin dia masuk tanpa alasan yang nggak penting, bisa-bisa Exel ngamuk dan memecatnya. Rara belum siap melepaskan Exel dari hidupnya.

__ADS_1


Sewaktu melihat jalang itu ada depannya tadi, ingin sekali dia mencakar mukanya. Mereka memang sangat mirip, tapi wanita ini terlihat tangguh, tidak sama dengan Arini yang lembut dan rapuh. Tapi tidak menutupi kemungkinan Exel akan tertarik karena wajahnya, apalagi bodynya itu.. Rara geram dengan keadaan yang tidak pernah berpihak padanya. "Aku nggak boleh gegabah, rencananya selanjutnya harus dipikirin masak-masak terlebih dahulu.


*Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya*


__ADS_2