
"Halo...! Bisa kita pergi sekarang?" Ana mulai jengah dengan sikap kedua orang yang menjemputnya.
"Ayo mami.." Noah menarik tangan Ana mulai tak sabar.
"Eehh iyah, maaf. Ayo silahkan ikuti kami." Lewis berjalan mendahului, "ternyata tatapannya tajam juga, benar yang dikatakan orang-orang kalau Briana itu bukan orang yang ramah. Tapi nggak masalah yang penting bisa cuci mata setiap hari melihat orang cantik," Lewis cekikikan sendiri.
Kendaraan berjalan dengan santai, tapi suasananya sangat kaku. Yang namanya Briana itu cuma diam aja dari tadi, sementara anaknya nggak lepas dari game. "Huft... Clara menghembuskan napasnya kesal, apa dia akan bekerja sama dengan orang seperti itu, sombongnya minta ampun."
Ana bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain, dia tau kalau laki-laki yang bernama Clara itu tidak menyukainya. Tapi masa bodoh, apapun itu nantinya dia akan membuat pria yang berdandan kayak wanita itu akan berlutut dan memanggilnya guru. Ana tersenyum sambil matanya tidak pernah lepas melihat keindahan kota Jakarta. Udah sampai di sini, tetap tidak bisa mengingat apapun.
"Oohh yah nona..."
"Panggil aku Briana," ucapnya ketus.
Lewis langsung salah tingkah. "Aduuh.., salah lagi deh." Jadi Briana kenapa akhirnya mau menerima tawaran menjadi desainer perusahaan kami?"
"Aku nggak pernah bilang akan menjadi desainer perusahaan kalian.. Tapi aku hanya mau menjalin kerja sama, jadi disini aku tetap menjalankan butik yang akan di buka nanti." Dari awal Ana memang tidak pernah tertarik menerima perusahaan itu, walaupun mereka memberikan tawaran yang menggiurkan. Ana sama sekali nggak kekurangan uang.
"Bagaimana aku bisa lupa hal itu," Lewis memukul kepalanya sendiri. "Semoga kedepannya kita bisa bekerja sama dengan baik." ucapnya kikuk.
"Tentu," jawabnya pasti. Noah udah tidur di pangkuannya, padahal di pesawat tadi dia udah tidur. Apa karena perubahan waktu makanya jadwal tidurnya jadi nggak beraturan gini. "Apa masih jauh?" tanyanya udah nggak sabar, kasian Noah sampai ketiduran di mobil.
"Bentar lagi kita sampai."
Tidak lama berselang, Ana menatap gedung yang sangat tinggi di hadapannya. "Ternyata perusahaan mereka memang bagus," pikirnya.
Dengan gayanya yang angkuh, Clara berjalan mendahului mereka semua. Ana menatap orang yang merasa tersaingi itu berjalan tanpa memperdulikan dirinya.
"Biar saya yang gendong.." Lewis menawarkan diri. Karena melihat Briana yang tengah bingung untuk membawa anaknya.
"Baiklah, Ana menyerahkan Noah untuk di bawa Lewis, pria itu kelihatannya baik juga," pikirnya.
__ADS_1
"Nggak usah pedulikan Clara, dia orangnya memang seperti itu. Maklum dapat saingan yang jauh lebih kompeten dari dia. Mungkin dia merasa terancam dengan kehadiranmu disini.." Lewis merasa Briana tidak suka melihat sikap Clara yang kurang sopan.
"Nggak masalah.." Ana tersenyum dengan tulus.
Deg.. Jantung Lewis seakan berhenti berdetak, gimana tidak senyumnya manis banget.. "Meleleh aku maaak.."
"Mungkin kamu belum tau, kalau perusahaan ini, bukan hanya bergerak di bidang fashion. Tapi merangkap beberapa hal, contohnya makanan dan pembangunan gedung atau insfratruktur di daerah. Kalau pabrik kain jaraknya cukup jauh dari sini, kamu bisa memilih bahan apapun yang diinginkan disana. Dan untuk pakaian yang di pasarkan ada di butik persis di samping perusahaan, ini kita sekarang lagi menuju ke sana." Lewis menjelaskan panjang lebar, yang di balas anggukan oleh Briana.
Lewis pasti memegang posisi yang cukup penting disini, masalahnya dari tadi banyak yang menyapanya dengan sopan. Orangnya juga ramah, dan lumayan tampan. Ana menatap Lewis sekilas, yang ditatap langsung aja salah tingkah..
Ayo masuk keruanganmu.. Noah bisa tidur dulu disana, Lewis mendahului Ana memasuki kantornya yang baru.
Ruangannya ada di lantai empat, ternyata mereka menata ruangannya dengan sangat baik, gaya klasik yang selalu di sukainya semuanya ada di sini. Tempatnya cukup besar, dan memiliki ruangan kecil bisa digunakan untuk beristirahat. Ana berkeliling sambil memperhatikan sekitarnya, wajahnya menyunggingkan senyuman. Ana sangat puas, tempatnya yang nyaman untuk bekerja, dan dia juga tidak perlu khawatir kalau seandainya Noah mau ikut ke kantor bersamanya.
"Prita..!" Lewis memanggil seseorang.
"Iya Pak." jawabnya sopan.
"Kamu jagain anaknya bu Briana disini, saya mau mengajak beliau untuk berkeliling."
"Kalau di kantor ternyata wibawanya keluar juga, batin Ana. Ana dan Lewis berjalan beriringan, "koleksinya oke juga."
"Itu semua hasil rancangan Clara, dia memang bagus. Tapi perusahaan membutuhkan desain yang lebih berani dari pada ini, kamu bisa melihat sendiri kalau semuanya desainnya bersifat elegan, lembut tapi membosankan. Tidak semua orang menyukai karya seperti itu, ada beberapa orang menyukai sesuatu yang unik, sexy namun elegan.
Benar yang di katakan Lewis, Ana juga bisa memperhatikan hal itu, tapi dia pikir orang di Indonesia memang menyukai gaya busana seperti itu. Mereka memang nggak salah pilih, aku kan memang penyuka desain yang berani, pikirnya menyinggungkan senyum.
"Ada presdir." Tiba-tiba suasananya jadi ramai dan kikuk.
langkah Ana terhenti menyaksikan karyawan butik berbisik satu sama lain dan jadi sibuk merapikan pakaian mereka, "ada apa?" tanya Ana penasaran.
Sebentar ya.. Aku ke sana dulu, Lewis bergegas pergi meninggalkan Ana sendirian.
__ADS_1
Setelah itu masuklah beberapa orang berpakaian rapi. Yang paling menonjol pria yang paling depan, Ana memperhatikan orang itu dengan seksama. Posturnya proporsional, ternyata ada pria tampan juga disini, cukup menarik, batinnya tersenyum. Di sampingnya berdiri seorang wanita cantik nan seksi, penampilannya seperti seorang sekretaris. Pasti pria itu salah satu orang penting di perusahaan ini, nggak heran semua orang memperlakukannya dengan sangat hormat.
"Presdir.." Lewis menyapa sambil menundukkan wajahnya.
"Kamu managernya di sini?" Bagaimana dengan perkembangan butik akhir-akhir ini? Apa ada peningkatan penjualan? Saya dengar belakangan ini penjualan mengalami penurunan."
"Iya Pak, saya Lewis. Sesuai dengan laporan yang telah bapak ketahui, kami memang sedang mengalami kemunduran. Hal itu disebabkan oleh model pakaian yang tidak mengalami perubahan, mungkin disini pelanggan menjadi bosan dan jenuh."
"Apa solusi yang kalian tawarkan untuk mengatasi masalah ini?"
"Kami telah menadatangani kontrak dengan desainer dari Amerika..."
"Kamu pikir dengan mendatangkan desainer dari luar negeri semua bisa berubah, apa di sini kekurangan orang yang bisa kalian pekerjakan."
Maaf presdir.. Kami tau kualitas orang ini, dia adalah lulusan terbaik dari Universitas X dengan waktu yang sangat singkat, dia seorang jenius dan juga menjadi rebutan perusahan di mancanegara untuk bekerja sama, Tapi dia malah memilih perusahaan ini untuk menjalin kerja sama."
"Baiklah.. Saya kasih kalian waktu 1 bulan, kalau tidak berhasil pulangkan dia ke negaranya."
"Baik Presdir.." Lewis menatap punggung Presdir dengan legah.
Ana menepuk punggung Lewis dari belakang, yang membuatnya terperanjat. Ana terkekeh melihat tingkahnya, "ada apa? Kok mukanya pucat gitu?" Ana bukan nggak tau dengan apa yang di pikirkan Lewis, dia melihat kejadian barusan dengan jelas sambil sedikit bersembunyi. Malas aja menyapa presdir sombong itu, biar dia melihat karyanya dulu baru setelah itu bertemu dengannya, kita lihat apa dia masih bisa berkata angkuh kalau sudah melihat karyanya nanti.
"Briana.. Kamu ngagetin tau nggak." Lewis mengusap-usap dadanya. Yang barusan itu kamu udah dengar?"
Ana ngangguk-angguk..
"Kamu sama sekali nggak tersinggung dengan ucapan Presdir barusan?" Lewis kurang percaya dengan reaksi Ana barusan, padahal tadi dia sangat takut kalau seandainya Briana muncul dengan gayanya yang angkuh.
"Aku nggak masalah.. Tapi, heran aja kenapa kalian tidak memberitahu presdir sebelumnya atas kerja sama kita? Keberanian dari mana yang kalian dapatkan dengan menawarkan nominal kontrak yang cukup tinggi, bagaimana kalau aku tidak bisa memberikan apa yang diinginkan pelanggan.."
Kami mempertaruhkan karir untuk hal itu, tapi direktur yakin akan keberhasilan kamu nantinya. Jadi Briana mari kita bekerja sama mulai dari sekarang.."
__ADS_1
"Baiklah.." ucapnya mantap sambil menyambut uluran tangan Lewis.
assalamualaikum.. maaf lama updatenya, maklum.. lagi nggak ada mood aja. Kemaren-kemaren sama sekali nggak ada mood untuk menulis. maaf yah guysπ€π€ππ kasih komen bagus agar aku semangat lagiππ