Affair With My Boss

Affair With My Boss
Curiga


__ADS_3

"Braakk!! Periksa semua rekaman cctv!" Exel berteriak dengan sangat marah.


"Baik bos," Reno meraih ponselnya. Segera kalian ke sini sekarang!" Menghubungi bawahan Exel untuk membantu penyelidikan.


Exel menjambak rambutnya kesal, "aku berharap tidak melakukan apapun dengan perempuan itu."


Setelah menunggu cukup lama, tepat pukul 05:00 bawahan Exel berhasil mengungkapkan kejadian yang sebenarnya. "Ternyata dalang semua itu adalah si David sialan itu.


Exel dan beberapa orang bawahannya, menerobos masuk ke kamar bos Thailand brengsek itu. Berani-beraninya dia mengerjaiku, Exel langsung mecekik leher David tanpu ampun.


David tercekat, sangat sulit untuk bernapas. Baru saja mendapat kenikmatan bercinta dengan 2 wanita sekaligus. "Sekarang apa yang terjadi! Dia bisa mati kalau seperti ini dalam waktu yang lama. Le lepaskan!"


Akhirnya Exel melepaskan tangannya. Melihat Muka David yang telah pucat.


"Uhuk uhuk... Apa yang kau lakukan! Apa kau gila! Hos hos.." Sedikit lagi dia akan mati.


"Aku ingin membunuhmu keparat! Apa kau punya permintaan terakhir!" Exel menyeringai jahat.


"Aa apa maksudmu! David gelagapan melihat kemarahan Exel. "Dimana semua bawahanku!" Tidak satupun terlihat anak buahnya di kamar, padahal dia sedang dalam masalah besar.


"Anak buahmu! Mereka ada di luar, sedang tidur nyenyak," ucap Exel sambil menarik leher David kembali. Apa kau lupa kejadian tadi malam?" Exel menjentikkan tangannya dan Reno datang menghampirinya.


Reno memulai aksinya, sudut bibir David mulai berdarah. Sambil menjelaskan tangannya juga ikut bermain.


Para wanita penghibur berteriak ketakutan, dan sibuk menutupi tubuh telanjang mereka dengan baju di tangan.


"Kalian semua keluar! Jangan ada yang berani bicara, kalau sampai kejadian ini ada pihak luar yang tau.. kalian akan tau akibatnya!" Reno menekankan kata-katanya.


"Semua itu salah! Aku tidak pernah menyuruh orang untuk menjebakmu. David berteriak karena tangannya telah di ikat.

__ADS_1


Mulai hari ini kesepakatan kita di batalkan. Kau masih beruntung, karena kau salah satu orang penting di Thailand.. Kalau tidak kau tidak akan muncul lagi di muka bumi ini. Besok kalian semua akan berangkat, dan jangan menunjukkan mukamu lagi di hadapanku. Bawa dia!


Mr Exel, tolong lepaskan aku! Itu tidak benar, aku bisa jelasin." ucap David memohon, perusahaannya akan rugi besar jika Paradita Group membatalkan kontrak kerja sama mereka.


Dari samping Exel, Rara tersenyum sinis ke arah David." Sekarang kau tau akibatnya karena telah bermain denganku?" gumamnya dalam hati.


"Mr Exel, perempuan itu iblis! Kau jangan tertipu olehnya!" teriak David dari kejauhan, karena dia sudah di bawa pergi dengan mobil yang di kendarai ke tempat rahasia, sehingga suaranya tidak lagi terdengar oleh Exel.


Exel menatap Rara yang ada di sampingnya," Aku minta maaf, sudah salah paham tentangmu." Dia merasa bersalah, padahal dia juga korbannya di sini.


"Saya tidak menyalahkan bapak, kita berdua adalah korban. Saya berharap, apa yang terjadi tadi malam, bukan seperti yang saya pikirkan. Kalau iya, saya tidak akan sanggup lagi bertemu dengan anak saya... Hiks hiks," Rara terisak berpura-pura sedih di hadapan Exel. Dari sudut matanya dia melihat Exel yang sudah mulai percaya padanya.


"Uummm..., di kamar tidak ada cctv. Aku juga tidak tau persis seperti apa! Aku benar-benar tidak bisa mengingat apapun. Tapi, aku yakin kita gak ngelakuin apapun. Tenanglah..." Exel menepuk bahu Rara sekilas, cukup kesal karena tidak hati-hati tadi malam.


"Iya pak," Rara tersenyum manis. "Tapi aku sangat ingat dengan kejadian tadi malam," gumamnya.


Arini terbangun dari tidurnya dalam keadaan gelisah, barusan dia mimpi buruk tentang suaminya. "Ini udah pagi," pikirnya. Kenapa dia gak pulang?" Sambil ngucek-ngucek mata, dia keluar dari kamar.


"Kamu lanjutin aja," Arini duduk di kursi depan Riko sambil meraih teh yang telah di siapkan untuknya, ini adalah kebiasaannya setiap pagi, selalu minum teh. Dimana tuan?" tanyanya penasaran.


"Saya belum mendengar kabar dari tuan, apa ada sesuatu? Anda tidak apa-apa nona? Sepertinya kelihatan pucat."


"Aku tidak apa-apa, kau tidak perlu cemas." Arini menyesap habis teh yang ada di gelasnya.


"Tadi malam ada yang meninggalkan amplop ini di depan, jadi saya bawa masuk. Karena di situ tertera nama anda nona, saya tidak berani membukanya."


"Bawa ke sini!" titahnya.


Riko menyodorkannya amplop tersebut. Tapi, tanpa sengaja amplopnya terbuka dan isinya berserakan di lantai. Cukup lama dia memperhatikan, kemudian meraihnya dan meneliti satu persatu foto yang di pegangnya. Tangannya mulai gemetar, kepalanya pusing dan kakinya tidak bisa menahan tubuhnya, dia terjatuh.

__ADS_1


Buru-buru Riko menangkap nonanya yang akan jatuh, dan membawanya ke kamar.


"Nona, tenanglah.. Tuan memiliki banyak musuh, mungkin ini adalah salah satu taktik dari musuhnya." Riko berusaha menghibur dengan senyum licik tersungging di bibirnya.


"Hiks hiks.. Entahlah. Aku gak yakin itu kebohongan. Kenapa musti dia! Aku gak pernah menyangka mas Exel bisa setega itu, hiks hiks.." Arini terisak sambil memeluk bantal.


"Minumlah dulu nona! Kasian calon bayi anda, kalau terjadi apa-apa dengannya."


Arini tersadar, dia memiliki seseorang yang harus dia jaga dengan sepenuh hati. Dia tidak boleh stres, bisa berpengaruh terhadap janinnya. "Kamu benar," Arini meraih air minum yang di sodorkan Riko padanya. Dan itu adalah racun tanpa perasa.


Sudah 1 bulan Arini meminum racun yang di siapkan Riko untuknya, dan obat itu mulai ada efeknya, Arini mulai sering kelihatan stres. Riko menyunggingkan senyum karena tujuannya mulai dekat dan dia akan mendapatkan upah dari hasil kerjaannya.


Hari sudah mulai siang, akhirnya ada kabar dari Exel. Sebuah pesan masuk ke ponselnya di situ tertulis, "sayang hari ini aku bakalan pulang sore, tunggu aku dirumah yah..."


Arini meremas ponselnya, dia tidak boleh emosi harus bisa sabar, aku harus minta penjelasan dengannya dulu. Arini mutusin siang ini ke kantor suaminya ngantarin makan siang sekaligus meminta penjelasan dari foto tadi. Mungkin Riko ada benarnya, aku gak boleh berpikiran yang tidak-tidak.


Di kantor Exel dan Reno sedang sibuk melihat beberapa berkas kerja samanya dengan David, hari ini musti di selesaikan semuanya. "Jangan sampai kacau karena ulah pria itu," pikirnya.


"Permisi pak!" Rara datang membawakan coffee untuk Exel dan meletakkannya di atas meja. "Ini saya bawain coffee buat bapak."


Exel menoleh sekilas dan menenggak minuman yang ada di cangkirnya. "Terima kasih," ucapnya.


Rara memutar tubuhnya mengelilingi meja, dan berdiri di samping Exel. "Bapak sudah bekerja dari tadi malam, sebaiknya bapak istirahat sekarang. Biarkan kami semua yang membereskannya sekarang, kan sudah banyak juga yang bapak periksa dari tadi."


"Tidak perlu, aku harus teliti dalam masalah ini. Tidak boleh ada kesalahan apapun, kalau tidak, perusahaan bisa merugi."


"Baiklah kalau gitu, saya permisi." Rara pura-pura menyenggol coffee di meja Exel, sehingga menimpanya. "Aaahh, panaas!!" Rara berteriak kesakitan, dan menggosok pahanya basah.


"Kamu tidak apa-apa! Exel bertanya panik."

__ADS_1


"Sa saya tidak apa-apa... Saya permisi," ucapnya pura-pura malu. tapi tiba-tiba tubuhnya oleng dan berakhir di pelukan Exel. Roknya sobek hingga pangkal pahanya, posisi mereka sangat intim dengan tangan Exel, di pinggul Rara.


HaaiπŸ‘‹ jumpa lagi😁 maafkan udah bikin kalian penasaran dengan cerita ini. 😍😍😘😘


__ADS_2