Affair With My Boss

Affair With My Boss
Mencari Mami


__ADS_3

"Mami..!! Mami dimana..!" Noah telah berjalan keliling ruangan mencari sang mami, mau bertanyapun tak satupun orang yang berada di ruangan ini.. "Sebenarnya aku lagi dimana.." Noah benar-benar bingung harus berbuat apa, mana handphonenya udah kehabisan baterai karena dari tadi sibuk bermain game. Sebenarnya dia bukan anak yang cengeng, tapi kalau dihadapkan dengan situasi seperti ini rasa ia ingin menangis. Noah berjalan keluar sambil terus berteriak, diluar cukup banyak orang. "Kayaknya dia musti bertanya sama karyawan disini, mami kan datang ke tempat ini untuk bekerja.." hatinya mulai merasa agak sedikit tenang.


"Excuse me! Boleh aku bertanya?" Noah menyapa salah satu karyawan wanita disana.


"Tentu, mau bertanya apa adek kecil?" sambil berjongkok agar tinggi badan mereka seimbang, dia tersenyum dengan ramah.


"Kakak pernah lihat wanita ini?" Noah memperlihatkan foto Maminya, Noah memantau ekspresi kakak itu, sepertinya dia tidak tau apa-apa. Itu membuatnya semakin prustasi, tempat ini sangat baru baginya, dia sama sekali tidak mengenal siapapun.. Bagaimana mungkin mami meninggalkannya sendirian di tempat asing ini. "Huaa huaaa.." Noah menangis dengan kencang.


"Ssttt.. Anak pintar nggak boleh nangis.. Semua orang pada ngeliatin tuh. Aduh bisa berabe ini kalau lama-lama ngurusin anak kecil nangis, entar bisa dimarahin sama bos," batinnya musti cepat-cepat cari bantuan ini. "Nanti kakak bantuin cari maminya yah, tunggu disini sebentar.., kakak keruang informasi dulu, dan langsung beranjak pergi.


"Huaa huaaa..." tangisan Noah semakin kencang.


"Aduuuhhh.., Adek jangan nangis.., kakak cuma pergi sebentar."


"Tapi kakak aku mau ikut.. Jangan tinggalin aku sendirian disini." rengek Noah sambil berlari kearah kakak tadi dan mengusap air matanya.


Tanpa sengaja kepalanya menabrak seseorang, Noah berjalan mundur karena kepalanya terbentur. "Kamu siapa!" tanyanya bingung.


"Oohh.. Aku ini paman presdir, kamu siapa? Kenapa matanya sembab gitu?" Exel berjongkok untuk mengimbangi tinggi badan mereka. Anak itu memiliki mata yang indah, hidung dan bibirnya sangat mungil, "tampan sekali," pikirnya.


"Waduuh gawat ini, itu kan presdir.." fara agak sedikit berlari kearah anak kecil tadi. "Pres presdir.. Maafin saya.., ini adalah anak..."


"Anak kamu!" Lain kali jangan meninggalkan anak kecil sendirian ditengah keramaian seperti ini lagi." ucapan Exel cukup ketus.


"Bukan seperti itu Presdir.." Ini bukan anak saya, ta tapi.. Saya hanya ingin membantu dia mencari ibunya.." tenggorokannya tercekat menjelaskannya, karena presdir menatapnya dengan sorot mata yang tajam.


"Bicaralah yang jelas dihadapan presdir," asistennya langsung maju memperingatkan. Kalau anda ingin membantunya, kenapa barusan malah meninggalkannya sendirian disini.. Apa yang bisa dilakukan anak kecil seperti ini sendirian, seharusnya anda itu membawanya bersama."

__ADS_1


"Ii iya.. Pak, saya sangat bersalah.." Fara menundukkan wajahnya ketakutan, asisten presdir terkenal sangat galak dan juga kejam. "Apa ini adalah akhirnya karirnya," batinnya gemetar.


"Kemarilah.." Exel memanggil anak kecil tadi dengan lembut, yang dipanggil bersembunyi dibelakang karyawan yang barusan dimarahin Reno. "Nggak usah takut.. Biar paman bantuin nyariin orang tua kamu, paman yakin mereka akan lebih cepat ditemukan.." Exel kembali membujuknya dengan lembut, sepertinya bujukan Exel kali ini berhasil, dia berjalan perlahan tapi tiba-tiba berhenti.. Matanya menatap Reno dengan takut.


"Mundurlah.." Exel memberi perintah, agar Reno tidak membuat anak kecil takut lagi.


Dengan patuh Reno menjauh dari mereka. "Aku kan nggak ada niat ingin membuatnya takut.. Mau bantuin malahan," batinnya bingung.


"Mendekatlah.." Exel mengulurkan tangannya yang disambut oleh tangan mungilnya. Exel merasa ada perasaan hangat saat menyentuh tangan kecilnya, dia memeganginya seperti sebuah porselen yang berharga.


"Uncle.. Bisakah kamu menemukan Mamiku? Aku dan Mami orang baru disini, gimana kalau dia tersesat..!" Noah menatap pria dihadapannya dengan ekspresi memohon.


"Tentu. Uncle kan orang hebat, buktinya paman yang tadi itu bisa takut.." ucapnya bangga. Exel memegangi bahu mungilnya dengan hati-hati, perasaan ini sangat aneh. Sebenarnya siapa anak ini, Kenapa dia seakan berkaca ketika melihat anak di depannya ini.


"Sekarang ikut uncle dulu ke kantor.. Tungguin mami disana, nanti paman-paman ini semua yang akan mencari mami, kamu tenang aja."


"Coba tanya kakak yang ada di sebelah kamu itu, siapa sebenarnya uncle ini." Exel kembali berdiri dari posisi jongkoknya.


Noah menatap kakak yang tadi, dia kelihatan sangat pucat. "Apa yang terjadi dengan wajah kakak, apa kakak sakit?"


"Nggak.. Kakak baik-baik aja, nama kamu siapa?"


"Namaku Noah."


"Noah... Kaka harus bekerja, jadi sekarang Noah harus pergi dengan uncle presdir. Beliau orangnya sangat baik, dan juga pemilik tempat ini dan juga gedung yang ada disana." Tangan Fara menunjuk perusahaan yang berdiri Kokok di sebelah butik. "Jadi.. Noah bakalan aman disana, uncle presdir memilki asisten yang juga hebat, dia pasti bisa menemukan maminya Noah dengan segera."


Wajah Reno langsung memerah. "padahal dia habis dimarahi, sekarang malah muji-muji.. Penjilat" gumamnya pelan.

__ADS_1


"Kalau gitu bisa kita pergi sekarang?"


Noah langsung mengangguk patuh kearah Exel.


"Kamu! Ikut dengan kami.." titah Reno.


"Baik Pak, Fara mengikuti dengan cemas. Entah apa yang akan terjadi nanti, batinnya kalut.


***


"Noah..! Noah! Sayang kamu dimana!!" Ana berteriak dan mencari segala penjuru keberadaan sang anak, sampai ke bawah kolong meja, dibelakang lemari, dalam lemari dan kamar mandi. Nihil, anaknya menghilang. Air matanya mulai bersimbah.


Briana.. Tenanglah biar aku yang mencari dan bertanya pada seluruh karyawan disini, salah satu dari mereka pasti melihat Noah." Lewis bergegas mencari informasi, dan akhirnya mendapat kabar dari orang suruhan presdir kalau Noah ada bersama presdir.


"Syukurlah.. Lewis mendesah legah, sekretarisnya yang ceroboh itu, nanti akan dia urus. Yang penting sekarang jangan membuat panik Briana dan segera pergi menjemput Noah ke ruang Presdir.


"Lewis gimana?" Ana berjalan terburu-buru dan bertanya dengan penuh harap dengan matanya yang sembab.


Wanita itu kelihatan sangat rapuh kalau urusan anaknya, tidak tersisa sedikitpun keangkuhan diwajahnya yang cantik. Lewis terenyuh melihat semua itu, ingin rasanya dia memeluk dan memberi ketenangan padanya. Tapi tentu saja itu tidaklah pantas..


"Tenanglah.. Noah berada di tempat yang aman sekarang, biarkan aku yang menjemputnya kesana. Kamu tunggu saja disini..."


"Tidak. Aku mau ikut.. Aku nggak kan bisa tenang kalau hanya menunggu disini, aku juga mau berterima kasih sama orang yang telah menemukan anakku, entah apa yang akan terjadi padaku kalau Noah menghilang, Ana mengusap air matanya. Dia bersikeras pengen ikut, dia belum bisa merasa tenang sebelum melihat anaknya dengan mata kepalanya sendiri.


"Baiklah.." ucap Lewis pasrah. Rapikan riasanmu, kau kelihatan sangat kacau.. katanya tersenyum berusaha membuat Briana agar lebih rileks. Hari pertamanya disini, dia sudah mengalami hal yang mengejutkan, Lewis sangat marah membayangkan wajah sekretarisnya sekarang.


***

__ADS_1


Selamat membaca🤗🤗🤗


__ADS_2